Sukses

Pakar Kerajaan: Autobiografi Pangeran Harry Bisa Perbesar Perpecahan di Keluarga Kerajaan Inggris

Liputan6.com, Jakarta - Kisah Pangeran Harry yang dikemas dalam autobiografi sangat dinantkan, sekaligus akan menjadi bencana besar untuk pihak yang namanya diseret. "Konsekuensi dari ini akan jauh jangkauannya dan mungkin sangat merusak," kata penulis kerajaan Richard Fitzwilliams kepada Daily Mail setelah nama buku, "Spare" dan tanggal perilisan, 10 Januari 2023, diumumkan.

Menurut Fitzwilliams, judulnya "sensasional" dan "menyiratkan bahwa (Harry) tidak dihargai atau ... bahwa dia tidak merasa berada di pusat peristiwa." Mengutip Page Six, Sabtu, 29 Oktober 2022, dalam siaran persnya Penguin Random House menggambarkan isi autobiografi Duke of Sussex sebagai "kejujuran tak tergoyahkan," yang menurut Fitzwilliams membuat Istana Buckingham sangat prihatin, terutama karena ini adalah bulan-bulan awal pemerintahan Raja Charles III.

"Tidak diragukan lagi akan ada wawancara, serialisasi, dan spekulasi tanpa akhir tentang autobiografi ini," kata Fitzwilliams.

Menurutnya, pangeran berusia 38 tahun itu seharusnya menunggu bertahun-tahun untuk menceritakan kisahnya. "Bahkan Edward VIII, saat itu Duke of Windsor, menunggu sampai tahun 1951 sebelum ‘A King’s Story’ diterbitkan," sebutnya lagi. 

Mark Borkowski, seorang penulis dan pakar publisitas, menggemakan sentimen Fitzwilliams. Ia memprediksi perpecahan di dalam keluarga kerajaan Inggris akan membesar.

"Pembalasan Charles dapat mencakup tidak memberikan gelar pangeran dan putri mereka kepada anak-anak mereka, dan bahkan mencabut gelar Duke dan Duchess of Sussex mereka sendiri," kata Borkowski tentang Harry, istri Meghan Markle dan anak-anak pasangan itu. 

Borkowski juga setuju bahwa keluarga kerajaan kemungkinan akan mengalami "Natal yang gugup ... karena mereka mengantisipasi yang terburuk." "Untuk raja baru, yang masih merencanakan penobatannya, ini tidak mungkin terjadi pada waktu yang lebih buruk."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Khawatir Singgung Permaisuri

Upacara penobatan resmi Charles akan berlangsung pada 6 Mei 2023, tanggal yang diduga oleh banyak pengguna media sosial dipilih dengan sengaja sebagai penghinaan terhadap putra dan menantunya. "Jadi, Raja Charles telah menetapkan Penobatannya untuk 6 Mei tahun depan.. di mana cucunya, Pangeran Archie dari Sussex ulang tahun ke-4." 

Awal bulan ini, Tom Bower, penulis buku "Revenge: Meghan, Harry and the War Between the Windsors," mengatakan kepada Page Six bahwa kerabat Harry sangat khawatir akan dampak publikasi autobiografi adik Pangeran William itu. Dia menggambarkannya sebagai bom waktu.

Charles juga dikabarkan akan melarang Harry menghadiri penobatannya jika buku putra bungsunya itu mengkritik Permaisuri Camilla. "Adalah satu hal bagi Harry untuk menyerang Charles. Tetapi jika Harry memaksanya untuk memilih, dengan memasukkan Camilla dalam bukunya, saya tidak ragu dia akan memilih Camilla," kata seorang sumber baru-baru ini kepada Daily Beast, menambahkan bahwa raja baru itu sangat protektif terhadap istri keduanya. 

 

3 dari 4 halaman

Tentang Autobiografi

Autobiografi Pangeran Harry berjudul "Spare" itu terdiri dari 416 halaman. Di dalamnya akan mengulas ingatan Harry tentang pemakaman Putri Diana pada 1997, ketika ia yang masih berusia 12 tahun itu berjalan di belakang peti mati ibunya. Judul yang berarti 'senggang' itu tampaknya mengacu pada peran yang dirasakan Harry dalam keluarga kerajaan, di mana dia dan istrinya Meghan, Duchess of Sussex mundur sebagai anggota kerajaan.

Pasangan tersebut telah pindah ke AS dan bekerja untuk membuat diri mereka mandiri secara finansial dengan menandatangani sejumlah kesepakatan bisnis. Pasangan juga mengungkapkan beberapa ketegangan dengan Pangeran William dan ayahnya, Raja Charles III. "Untuk Harry, ini adalah kisahnya akhirnya," kata penerbit Penguin Random House.

"Dengan kejujurannya yang tak tergoyahkan, Spare adalah publikasi penting yang penuh dengan wawasan, pemeriksaan diri, dan kebijaksanaan yang diperoleh dengan susah payah tentang kekuatan cinta yang abadi atas kesedihan," ia menambahkan. 

Pangeran Harry sebelumnya mengumumkan pembuatan buku itu pada Juni 2021 dan awalnya akan diterbitkan akhir 2022. Perilisannya diundur setelah Kerajaan Inggris kehilangan Ratu Elizabeth II yang meninggal pada 8 September 2022. Kejadian tersebut mempertemukan kembali Harry dengan keluarganya dalam menghadiri sejumlah acara peringatan termasuk pemakaman kenegaraannya di London.

4 dari 4 halaman

Untuk Kegiatan Amal

Tak begitu jelas apakah Harry memperbarui buku itu untuk merujuk kematian mendiang raja dan masa berkabung yang mengikutinya. Harry disebut akan menyumbangkan hasil penjualan buku itu ke beberapa badan amal.

Menurut keterangan penerbit, Pangeran Harry menyumbangkan 1,5 juta dolar atau setara Rp23,3 miliar untuk Sentebale, sebuah kelompok yang mendukung anak-anak yang terkena HIV/AIDS di Lesotho dan Botswana. Hal ini menyusul dukungannya untuk tujuan yang terkait erat dengan mendiang ibunya, Putri Diana.

Pangeran Harry juga telah menjanjikan 300 ribu poundsterling atau setara Rp5,4 miliar badan amal Inggris WellChild, yang mendukung anak-anak dengan penyakit serius. Belum diketahui apakah isi buku itu akan menenangkan atau memperburuk hubungan kompleks Harry dengan keluarga kerajaan lainnya.

Sebelumnya pada wawancara podcast tahun lalu, Harry mengatakan dia terjebak dalam siklus "rasa sakit dan penderitaan" di keluarganya dan mengisyaratkan bahwa dia sangat kritis terhadap cara ayahnya, Charles, membesarkannya. "Dalam hal mengasuh anak, jika saya mengalami beberapa bentuk rasa sakit atau penderitaan karena rasa sakit atau penderitaan yang mungkin dialami ayah atau orang tua, saya akan memastikan bahwa saya memutus siklus itu hingga saya tidak menyebarkannya,” sebut Harry kepada Dax Shepard, aktor dan pembawa acara podcast "Armchair Expert".

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS