Sukses

Bhutan Segera Sambut Turis Asing untuk Pertama Kali Sejak Pandemi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Bhutan akan kembali membuka perbatasan mereka untuk turis asing mulai September 2022. Pelonggaran aturan ini berlaku untuk pertama kali dalam lebih dari dua tahun sejak pandemi COVID-19 dimulai, melansir CNN, Jumat, 1 Juli 2022.

Terjepit di antara China dan India, negara dengan keindahan alam memesona dan budaya Buddhis kuno ini mengambil langkah awal yang drastis dan melarang pariwisata, yang merupakan sumber pendapatan utama, pada Maret 2020 ketika kasus COVID-19 pertama terdeteksi di sana.

Monarki konstitusional yang berpenduduk kurang dari 800 ribu jiwa ini telah melaporkan kurang dari 60 ribu infeksi dan mencatat 21 kematian selama krisis kesehatan global. Tapi, ekonomi diperkirakan senilai 3 miliar dolar AS berkontraksi dalam dua tahun fiskal terakhir, mendorong lebih banyak orang ke dalam kemiskinan.

Dewan Pariwisata Bhutan (TCB) mengatakan, wisatawan mancanegara akan diizinkan masuk mulai 23 September 2022. Namun, mereka akan dikenakan Biaya Pembangunan Berkelanjutan sebesar 200 ribu dolar AS (sekitar hampir Rp3 juta) per turis per malam, naik dari 65 dolar AS (sekitar Rp972 ribu) yang telah berlaku selama tiga dekade.

Para pejabat mengatakan, biaya pajak baru akan mengimbangi dampak karbon wisatawan. "COVID-19 telah memungkinkan kami untuk mengatur ulang, memikirkan kembali bagaimana sektor ini dapat terstruktur dan dioperasikan dengan baik, sambil menjaga jejak karbon tetap rendah," Tandi Dorji, ketua TCB dan menteri luar negeri negara itu, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Revisi Standar untuk Penyedia Layanan Perjalanan

Pihak berwenang mengatakan, Bhutan telah merevisi standar penyedia layanan perjalanan, seperti hotel, pemandu, operator tur, dan pengemudi. Pariwisata mempekerjakan 50 ribu orang dan rata-rata menyumbang sekitar 84 juta dolar AS per tahun dalam bentuk devisa langsung selama tiga tahun sebelum pandemi COVID-19.

Bhutan dibuka untuk turis kelas atas pada 1974 ketika menerima 300 pengunjung. Jumlahnya melonjak jadi 315.600 pada 2019, naik 15,1 persen dari tahun sebelumnya, menurut data TCB. Operator tur mengatakan, pengunjung akan bebas memilih operator mereka sendiri dan merencanakan perjalanan, sebelumnya mereka hanya dapat memilih berdasarkan paket yang ditawarkan operator mereka.

Sangay Phuntso, yang menjalankan perusahaan Always Bhutan Travel di ibu kota Thimphu, mengatakan bahwa kenaikan biaya pajak tersebut mungkin menghalangi sebagian orang, tapi tidak bagi pengunjung yang lebih kaya. "Mereka yang bisa berbelanja dipersilakan," kata Phuntso. "Kami sangat bersemangat."

Pada 1970-an, saat mulai membuka diri terhadap pariwisata, Bhutan menetapkan "Indeks Bruto Kebahagiaan Nasional." Sebuah badan nasional ditugaskan untuk secara berkala mensurvei orang-orang Bhutan tentang sembilan "bidang utama" kebahagiaan.

3 dari 4 halaman

Uji Coba Pembukaan Kembali

Masuk dalam perhitungannya adalah kesejahteraan psikologis, kesehatan, pendidikan, pemerintahan yang baik, ekologi, penggunaan waktu, vitalitas masyarakat, budaya, dan standar hidup. Pemerintah harus mempertimbangkan faktor-faktor ini ketika menyusun undang-undang atau kebijakan baru.

Larangan kantong plastik yang baru populer dalam beberapa tahun di banyak negara sudah lebih dulu diterapkan di Bhutan pada 1999. Tembakau juga ilegal, jadi Bhutan menyebut dirinya sebagai negara bebas rokok pertama di dunia.

"Bhutan adalah hadiah dari persembahan yang sempurna," kata Fran Bak, satu-satunya pelancong yang diizinkan berada di Bhutan sejak pandemi COVID-19.

Co-founder MyBhutan, Matt DeSantis, adalah salah satu dari sedikit orang asing yang hidup sebagai ekspat jangka panjang di Bhutan. Berasal dari Connecticut, ia bertemu Pangeran Jigyel Ugyen Wangchuck ketika sama-sama bersekolah di Choate Rosemary Hall dan menjalin persahabatan seumur hidup di lapangan basket.

DeSantis memakai "banyak topi," dalam hal ini, perusahaan teknologinya bekerja untuk mendigitalkan semua peninggalan budaya Bhutan dan, karena kurangnya kedutaan AS di sana, ia berperan sebagai "penjaga," hal yang paling dekat dengan duta besar AS.

Ia berperan penting dalam membawa Bak kembali ke Bhutan sebagai uji coba pembukaan kembali negara itu. "Akhirnya, tiga pihak yang harus memberikan persetujuan (untuk visa Bak) adalah dewan pariwisata, departemen imigrasi, dan satgas COVID-19," jelasnya.

4 dari 4 halaman

Penerima Visa Pertama

Meski pemerintah Bhutan mengatakan bahwa visa turis dapat diberikan berdasarkan kasus per kasus, Bak adalah penerima visa pertama sejak Maret 2020, dan sejauh ini, satu-satunya permohonan yang dikabulkan. Namun, untuk sampai ke Bhutan, ia harus melewati serangkaian rintangan.

Bak berurusan dengan beberapa penerbangan yang dibatalkan atau dialihkan, serangkaian personel bandara yang tidak tahu dokumen mana yang ia perlukan, dan serangkaian tes COVID-19. Bak juga menghabiskan 21 hari karantina hotel, sebelum mengakhirinya dengan kembali menjalani tes COVID-19. Namun, Bak percaya semua masalah itu sepadan.

"Tidak sampai saya tiba di sini, saya menyadari bahwa saya sedang membuat sejarah," katanya.

"Saya tidak menyangka mendapat pesan dari orang-orang yang menyambut saya dan berterima kasih pada saya karena datang ke negara ini. Itu membuat saya berlutut," tambahnya. Media lokal menampilkan kedatangan Bak di Bhutan seperti cara mereka meliput seorang pejabat tinggi yang berkunjung di masa pra-pandemi.