Sukses

Asal Mula Istilah Crazy Rich Jadi Populer

Liputan6.com, Jakarta - Crazy Rich tidak lagi jadi istilah asing, terutama di jagat maya. Sebutan ini umumnya mengarah pada figur, individu maupun grup, yang dinilai tajir melintir. Crazy Rich bahkan sudah jadi citra sebagian orang di media sosial, kendati tidak semuanya bisa dipercaya jika melihat rekam jejak kasus-kasus hukum yang belakangan mencuat.

Crazy Rich mulai populer berkat novel bestselling berjudul Crazy Rich Asians karya Kevin Kwan, yang popularitasnya diteruskan dengan perilisan film dengan judul yang sama. Melansir Variety, Jumat (1/7/2022), ceritanya berpusat pada Rachel Chu (Wu) dan pacarnya, Nick Young (Golding).

Jalan ceritanya mulai menggelitik ketika Nick membawa Rachel ke negara asalnya, Singapura, untuk menghadiri pernikahan mewah sahabatnya. Rachel segera mengetahui bahwa profesornya yang rendah hati adalah anggota salah satu keluarga terkaya di Asia Tenggara.

Terlepas dari pujian kritis dan kesuksesan box office, beberapa kritikus mencela Crazy Rich Asians karena "tidak sepenuhnya demikian bagi semua orang Asia." Ada keluhan bahwa film tersebut tidak mewakili keragaman sebenarnya dari Asia Tenggara atau Asia maupun pengalaman orang Asia-Amerika.

Sebagaian besar berlatar di Negeri Singa, dengan liburan akhir pekan yang mewah ke surga perjudian dan pulau-pulau surga tropis, dramatisasi Kwan tampaknya tidak dapat dipercaya. Karakter dalam ceritanya menggunakan jam tangan Rolex antik terlangka, mengendarai Maserati, dan bersosialisasi dengan keluarga kerajaan dunia.

Meski detail yang menarik perhatian mungkin tampak seperti hiperbola, Kevin Kwan telah mengatakan sebelumnya bahwa karakter novel "benar-benar" terinspirasi orang-orang nyata. Lingkungan yang "dipenuhi uang" tempat mereka tinggal juga didasarkan pada sesuatu yang nyata.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Terinspirasi Kejadian Nyata

TIME pun mendukung narasi itu dengan melaporkan, menurut WealthInsight, sebuah perusahaan data yang mengumpulkan informasi tentang orang kaya di dunia, satu dari 34 orang di Singapura adalah jutawan. Kendati, tentu saja, masyarakat Singapura berisi lebih dari sekadar dunia kaya yang digambarkan dalam buku. 

Itu menjadikannya negara paling padat jutawan ke-6 di dunia dan teratas di seluruh Asia. "Arketipe ada di sana (cerita Crazy Rich Asians) dan jelas dilebih-lebihkan, tapi banyak yang benar," kata Michelle Chang, seorang yang lahir dan besar di Singapura yang bersekolah di salah satu sekolah top yang dirujuk dalam novel. "Saya tidak bisa berhenti membacanya karena saya mengenal orang-orang ini."

Awal pergerakan ekonomi negara itu, TIME melanjutkan, melambung jauh pada awal abad ke-19, ketika persaingan perdagangan di Asia sangat sengit, dan Inggris berusaha melindungi kepentingan mereka di Timur dari campur tangan Belanda. Bagi mereka, Singapura tampak seperti tempat yang sempurna untuk "berkemah."

Pada 1819, Inggris mendarat di dekat muara sungai Singapura dan merundingkan perjanjian dengan penguasa lokal untuk membuat kota pelabuhan besar yang baru. "Jelas bagi pejabat kolonial bahwa Singapura harus jadi titik perdagangan trans-Pasifik, karena lokasi geografisnya," kata Yi Li, seorang pengajar di Sekolah Studi Oriental dan Afrika di London.

Ia menambahkan, "Itu benar-benar dilihat sebagai tempat untuk mendirikan markas dan operasi, yang kemudian menarik banyak pedagang kaya."

3 dari 4 halaman

Tidak Didominasi Satu Kelompok

Selama periode itu, Singapura, bersama Pulau Penang di Malaysia, jadi pusat bagi para migran yang mencari kekayaan dari sumber daya yang kaya di seluruh Asia Tenggara, khususnya di industri pertambangan timah dan karet. Migran ini sering datang dari Cina selatan, beberapa membawa koneksi perdagangan global karena keterlibatan mereka dengan perdagangan teh Eropa, yang telah dimulai seabad sebelumnya.

Bisnis jadi lebih mudah di Singapura, karena upaya Inggris untuk merangsang perdagangan, modal, dan industri di kota itu merupakan faktor penarik bagi pekerja Tiongkok yang ambisius dan pedagang yang ingin melepaskan diri dari iklim politik dan sosial yang bergejolak di tanah air mereka saat itu.

”Gelombang (imigrasi) yang sangat besar terjadi antara tahun 1840 dan 1940," kata Seng Guo-Quan, Asisten Profesor Sejarah di National University of Singapore, "Ketika diperkirakan 20 juta migran meninggalkan China, terutama untuk (pergi ke) Asia Tenggara."

Meski populasi Singapura sekarang sebagian besar berasal dari Cina, dan keluarga Cina adalah yang sebagian besar ditampilkan dalam Crazy Rich Asians, para imigran itu tidak sendirian."Orang Cina bukan satu-satunya kelompok," jelas Seng.

Ia menyambung, "Pedagang dan pemilik tanah Arab, rentenir Chettiar India, pengusaha pangeran Melayu, dan kelompok elit profesional multi-ras berpendidikan Barat muncul di masyarakat kolonial akhir."

4 dari 4 halaman

Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru

Salah satu fitur yang berulang dalam serial Crazy Rich Asians adalah perbedaan, dan terkadang ketegangan, antara "orang kaya lama dan orang kaya baru." Tren serupa tampaknya juga terjadi di Singapura, yang telah membangun reputasi sebagai salah satu pusat keuangan paling kuat di dunia.

"Di mana kekayaan generasi pertama lebih bersifat kewirausahaan, kekayaan jadi gaya hidup alih-alih aspirasional untuk generasi kedua dan ketiga," kata Evrard Bordier, Managing Partner dan CEO di bank swasta Bordier & Cie. "Mereka mungkin ingin mengonsumsi, atau jadi pencari pengalaman, hidup melalui perjalanan, anggur, dan seni yang bagus."

Di film, ini disimbolkan dalam adegan pembelian karya seni senilai 195 juta dolar AS hampir tidak mengurangi kekayaan satu keluarga. Seperti bank swasta lain yang berurusan dengan uang elit Singapura, Bordier memiliki aturan ketat untuk diikuti: tidak ada klien dengan kekayaan bersih kurang dari 2 juta dolar AS.

"Konsumen ingin melihat di mana peragaan busana Gucci atau Chanel berikutnya, dan mereka ingin membeli barang-barang yang sulit diperoleh," kata Bordier, mencerminkan sikap yang lazim di antara beberapa karakter dalam novel Kwan.

Sektor elit Singapura ini juga tampaknya lebih bersedia untuk terlibat dengan media dan mengambil kepribadian yang lebih publik melalui platform media sosial mereka sendiri, juga seperti digambarkan dalam novel dan film tersebut.