Sukses

Turis Asing Kembali ke Jepang, Lebih dari 1.300 Orang Ajukan Visa

Liputan6.com, Jakarta - Kekhawatiran para wisatawan seputar pandemi COVID-19 tampaknya mulai berkurang. Salah satunya dibuktikan dengan 1.300 orang setidaknya mendaftar untuk bepergian ke Jepang dengan tur berpemandu.

Peningkatan itu terjadi sejak Negeri Sakura membuka kembali pengajuan visa bagi turis asing, baru-baru ini, menurut lembaga pemerintah setempat, seperti dilansir dari Japan Today, Sabtu, 18 Juni 2022. Koichi Wada, Kepala Badan Pariwisata Jepang, mengatakan bahwa lebih dari 300 aplikasi telah diterima untuk bulan ini, dengan sekitar seribu aplikasi mulai Juli 2022 dan seterusnya.

"Kelompok pertama (turis asing yang tiba di Jepang) terdiri dari sejumlah kecil orang," ia mengatakan tanpa mengungkap kebangsaan wisatawan mancanegara dalam kelompok yang dimaksud.

Wada berharap catatan turis asing yang masuk ke Jepang perlahan naik, dengan sebagian besar kedatangan berasal dari negara-negara Asia Tenggara. Ia juga menyebut Korea Selatan dan Amerika Serikat sebagai asal turis asing lainnya yang diandalkan.

Terlepas dari pelonggaran aturan terkait pandemi COVID-19, turis asing yang masuk ke Jepang tetap diminta mematuhi langkah-langkah pencegahan infeksi, termasuk memakai masker. Mereka juga diwajibkan mengambil asuransi kesehatan sebagai tindakan antisipasi jika tertular COVID-19 selama berada di negara itu.

Operator paket wisata wajib menjelaskan pada pelanggan bahwa mereka mungkin tidak dapat melakukan perjalanan jika tidak mengikuti pedoman. Agen perjalanan perlu memasukkan informasi perjalanan wisatawan, seperti nama, nomor paspor, dan tempat tinggal mereka di situs web pendaftaran imigrasi negara tersebut sebelum mengajukan dan memperoleh visa.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Mulai Terima Turis Asing

Pemerintah Jepang memulai kembali prosedur penerimaan turis asing pada 10 Juni 2022. Mereka mengambil langkah awal untuk meningkatkan pariwisata inbound untuk kali pertama dalam sekitar dua tahun terakhir.

Relaksasi aturan ini terbatas untuk orang-orang dari 98 negara dan wilayah yang dianggap berisiko rendah untuk penularan virus corona. Beberapa negara itu termasuk Amerika Serikat, Inggris, Cina, Korea Selatan, Indonesia, dan Thailand.

Jepang nantinya perlahan-lahan menaikkan batas jumlah pengunjungnya. Baru-baru ini, mereka menggandakannya jadi 20 ribu pada 1 Juni 2022.

Sebelum pandemi, negara itu menargetkan 40 juta pengunjung asing pada 2020. Tahun itu, Jepang awalnya dijadwalkan jadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade, yang kemudian baru bisa berlangsung tahun lalu dengan segudang pembatasan demi mencegah transmisi COVID-19. 

Pemerintah Jepang belum mengindikasikan kapan akan mulai mengizinkan pelancong individu lagi. Dikatakan keputusan yang tepat akan dibuat pada relaksasi lebih lanjut berdasarkan faktor-faktor tertentu, termasuk situasi infeksi virus di dalam dan luar negeri.

 

3 dari 4 halaman

Aturan untuk Turis Asing

Strait Times melaporkan, turis asing juga masih perlu menaati peraturan lain selama berada di Jepang. Beberapa di antaranya, seperti wajib memakai masker, mempunyai asuransi kesehatan swasta, dan didampingi selama mereka tinggal dengan agen perjalanan.

"Pemerintah Jepang hanya mengizinkan pengunjung dengan paket wisata selama fase pertama pembukaan kembali," Badan Pariwisata Jepang (JTA) menegaskan.

Selain itu, pemandu agen perjalanan yang menemani pengunjung harus memastikan mereka memakai masker. Bahkan, pemakaian masker harus tetap berlanjut saat berbicara dalam jarak dekat dan di luar ruangan.

"Pemandu wisata harus sering mengingatkan peserta tur tentang tindakan pencegahan infeksi yang diperlukan, termasuk (kapan) memakai dan melepas masker (seperti saat makan dan minum), di setiap tahap tur,” kata JTA melalui keterangannya.

Sebelumnya, Jepang telah memberlakukan aturan perbatasan paling ketat di dunia selama pandemi COVID-19. Mereka melarang masuknya hampir semua non-penduduk. Namun seiring kebijakan di negara-negara lain, Negeri Matahari Terbit juga mengambil langkah serupa. (Natalia Adinda)

 

4 dari 4 halaman

Tidak Disetujui Sebagian Orang Jepang

Pelonggaran aturan masuk untuk turis asing itu nyatanya tidak disambut baik sebagian orang Jepang. Mereka tidak berharap menyambut kembali wisatawan mancanegara, menurut CNBC. Pada 2019, Jepang menyambut 32 juta turis, sehingga terjadi overtourism di beberapa lokasi.

Dai Miyamoto, pendiri biro perjalanan Jepang, Japan Localised, mengatakan bahwa di kota yang kaya akan budaya seperti Kyoto, banyak turis asing di kota itu yang bersikap kasar pada penduduk setempat dan berbicara dengan lantang. Karena itu, penduduk setempat jadi menghargai "keheningan" yang telah kembali selama pandemi, tambahnya.

Pernyataan ini disepakati Lee Xian Jie, kepala pengembang perusahaan tur lainnya, Craft Tabby. Ia menyoroti bahwa "banyak orang" cukup kecewa dengan pariwisata massal di Kyoto. Orang Jepang sekarang jadi menghargai situasi saat ini, tambahnya, dengan mengatakan, "Rasanya seperti Kyoto 20 tahun lalu. Kyoto tua yang baik."

The New York Times lebih lanjut mengutip jajak pendapat yang dilakukan outlet media Jepang, NHK. Tercatat di sana bahwa lebih dari 65 persen responden menyetujui tindakan perbatasan saat ini atau percaya bahwa aturan tersebut justru harus diperkuat.

Miyamoto mengatakan, banyak agen tur Jepang telah beralih ke pariwisata domestik, dengan sedikit orang Jepang yang bepergian ke luar negeri. Agen tur sekarang melayani permintaan domestik untuk pengalaman luar ruangan, seperti berkemah dan berendam di onsen.

Menurut Badan Pariwisata Jepang, bahkan sebelum pandemi, konsumsi pariwisata domestik di Jepang melebihi volume pariwisata internasional. Pada 2019, konsumsi pariwisata domestik mencapai 21,9 triliun yen. Sebagai perbandingan, konsumsi pengunjung internasional mencapai 4,81 triliun yen untuk tahun yang sama.

Selain itu, mengingat pengeluaran wisatawan asing berkontribusi kurang dari lima persen produk domestik bruto Jepang secara keseluruhan, tidak mengherankan bahwa pemerintah telah memprioritaskan industri lain dan perbatasan tetap ditutup, Shintaro Okuno, mitra dan ketua perusahaan konsultan bisnis Bain & Company Jepang, mengatakan.