Sukses

6 Fakta Menarik Aceh Tamiang yang Punya Bukit Sampah Purba

Liputan6.com, Jakarta - Berada di Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Tamiang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, dan Selat Malaka di sebelah utara. Sementar di sebelah timur, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Selat Malaka; Kabupaten Langkat dan Kabupaten Gayo Lues di sebelah selatan; serta Kabupaten Gayo Lues di sebelah barat.

Luas wilayah Aceh Tamiang 1.957,02 kilometer persegi yang terbagi menjadi 12 kecamatan. Jumlah penduduk kabupaten ini tercatat 294.356 jiwa, pada 2020, dengan proporsi penduduk laki-laki sebanyak 149.263 jiwa dan penduduk perempuan 145.093 jiwa.

Tamiang dulunya merupakan kerajaan dengan puncak kejayaan diraih di bawah kepemimpinan Raja Musa Sedia yang memerintah pada 1330--1366 M. Ketika masa Kesultanan Aceh, kerajaan ini mendapatkan Cap Sikerung (cap kerajaan) dari Sultan Aceh Darussalam dan mendapat hak tumpang gantung. 

Tentunya, masih banyak fakta menarik lainnya dari kabupaten ini. Simak enam fakta menarik dari Kabupaten Aceh Tamiang yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Asal-usul Nama Kabupaten

Menurut data sejarah dan kepercayaan masyarakat, Tamiang berasal dari kata Te-Miyang atau Da-Miyang, yang dapat diartikan sebagai tidak kena gatal atau kebal terhadap gatal dari miang bambu. Asal-usul nama ini berasal dari kisah Raja Tamiang yang bernama Pucook Sulooh yang ditemukan di rumpun bambu betong.

Dalam istilah Tamiang, betong disebut sebagai bulooh. Raja Tamiang saat itu mengambil bayi tersebut dan diberi gelar Pucook Sulooh Raja Temiyang, yang berarti seorang raja ditemukan di rumpun rebong tetapi tidak gatal-gatal.

2. Pulau Kuala Ketapang

Pulau Kuala Ketapang terletak di Kecamatan Bendahara, tepatnya di Desa Sungai Iyu. Pulau ini merupakan salah satu objek wisata utama di Kabupaten Aceh Tamiang.

Pantai ini memiliki panjang bibir pantai kurang lebih tiga kilometer. Pemandangan pantai ini masih asri karena banyak masyarakat yang belum mengetahui pantai ini. Pemerintah daerah mengusahakan untuk memperbaiki akses jalan menuju pantai.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

3. Bukit Kerang

Bukit Kerang berada di tengah-tengah area perkebunan kelapa sawit di Desa Masjid, Kecamatan Bendahara. Situs seluas 25x20 meter persegi ini merupakan gundukan kulit kerang atau remis dengan ketinggian mencapai 4,5 meter.

Bukit ini juga dikenal dengan istilah kjokkenmoddinger yang berarti sebagai sampah dapur. Situs yang merupakan zaman peninggalan budaya manusia purba zaman mezolithikum atau zaman batu pertengahan merupakan tumpukan sampah sisa makanan manusia purba, terutama kerang.

Di sekitar situs ditemukan pula pebble-tool, yakni sebuah batu berbentuk lonjong pipih yang dipangkas salah satu ujung batu. Alat ini sering disebut sebagai Kapak Sumatera. Penemuan pebble-tool membuktikan rute migrasi dari Vietnam dan sampai di pesisir Sumatera Utara dan menetap di sini.

4. Pemandian Gunung Pandan

Pemandian Gunung Pandan merupakan objek wisata unggulan dari Aceh Tamiang. Pemandian yang berada di Desa Selamat, Kecamatan Tenggulun ini merupakan tempat pemandian alam terbuka dengan pemandangan indah.

Air sungai yang mengalir di pemandian ini tergolong cukup deras. Untuk mencapai ke pemandian ini, dapat menyusuri jalanan yang terjal dan berbatu. Sepanjang perjalanan menuju lokasi pemandian, pengunjung bisa menikmati alam yang hijau.

 

3 dari 4 halaman

5. Bubur Pedas

Bubur pedas merupakan makanan dari Suku Melayu. Karena Suku Tamiang di Aceh merupakan bagian dari etnis Melayu, mereka juga mengonsumsi hidangan ini.

Sesuai dengan namanya, bubur ini bercita rasa pedas. Biasanya, bubur ini dihidangkan ketika bulan Ramadan, acara menyambut para tamu, dan acara Kenduri. Bubur Pedas di Aceh Tamiang memiliki makna keberkahan (sempene).

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Bubur Pedas yaitu umbi-umbian, seperti ubi kayu dan labu kuning, yang bermanfaat untuk memperlancar metabolisme tubuh. Kemudian, dapat ditambahkan dengan kepiting dan ikan asin.

6. Tari Tradisional

Salah satu tari tradisional yang berada di Aceh Tamian bernama Tari Ula Ula Lembing. Tarian ini dilakukan dengan cara membentuk formasi lingkaran menyerupai ulat dengan gerakan lincah dan dinamis.

Biasanya, Tari Ula Ula Lembing ditarikan oleh 12 orang yang ditarikan memutari panggung seperti layaknya seekor ular. Selain menari, tarian ini juga memadukan nyanyi untuk melengkapi pertunjukkan seni. (Gabriella Ajeng Larasati)

4 dari 4 halaman

Cara Generasi 90an Jalani Liburan