Sukses

Lebih dari 1.400 Lumba-Lumba Mati dalam Pembantaian Massal di Kepulauan Faroe

Liputan6.com, Jakarta - Sekitar 1.400 lumba-lumba bersisi putih dibunuh di Kepulauan Faroe, negara kecil yang masih termasuk dalam wilayah Kerajaan Denmark ini. Jumlah tersebut mencatatkan rekor tertinggi selama musim perburuan yang mengerikan itu.

Kumpulan lumba-lumba tersebut didorong dari tengah laut ke daerah sempit di pinggir laut (di antara tebing atau bukit terjal) wilayah Atlantik Utara pada Minggu, 12 September 2021. Perahu menggiring mereka ke perairan dangkal di pantai Skalabotnur di Eysturoy, kemudian dibantai dengan pisau secara massal. Lalu, tubuh lumba-lumba ditarik ke darat dan dibagikan kepada penduduk setempat untuk dikonsumsi.

Dilansir dari CNN, 15 September 2021, dalam rekaman perburuan, lumba-lumba terlihat meronta-ronta di perairan dangkal yang memerah karena darah saat ratusan orang menonton dari pantai. Dikenal sebagai grind (atau Grindadrap dalam bahasa Faroe), perburuan mamalia laut, terutama paus dan lumba-lumba, adalah tradisi yang telah dipraktikkan selama ratusan tahun di negara kecil itu.

Pemerintah setempat mengatakan rata-rata sekitar 600 paus pilot ditangkap setiap tahun. Menurut data yang disimpan oleh Kepulauan Faroe, penduduk pulau itu biasanya membunuh hingga 1.000 mamalia laut setiap tahun.

Pembantaian lumba-lumba pada 12 September 2021 itu dikhawatirkan akan menghidupkan kembali diskusi yang bisa mengancam tradisi kuno tersebut.  Menurut mereka yang mendukung, perburuan itu adalah cara berkelanjutan untuk mengumpulkan makanan dari alam dan bagian penting dari identitas budaya Faroe.

Di sisi lain, aktivis hak-hak hewan telah lama tidak setuju dan menganggap pembantaian itu kejam dan tidak perlu. Skala pembunuhan di Pantai Skalabotnur mengejutkan banyak penduduk setempat bahkan menuai kritik dari kelompok-kelompok yang terlibat dalam praktik tersebut.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Pro dan Kontra

Lumba-lumba bersisi putih dan paus pilot yang juga sering diburu di Faroe, memang bukan spesies yang terancam punah. Setiap tahun, penduduk di Kepulauan Faroe akan membawa kawanan mamalia terutama paus pilot ke perairan dangkal. Lalu, mamalia malang itu akan ditikam sampai mati.

Menurut organisasi lingkungan Sea Shepherd dalam sejarah perburuan di kawasan tersebut, jumlah ini yang terbesar dalam sejarah Faroe. Jumlah lumba-lumba atau paus pilot yang dibantai sebanyak 1.200 terjadi pada 1940.

Sejak 1980-an Sea Shepherd telah mengkritik dan berjuang untuk menghentikan pembantaian cetacea tersebut. Perburuan ini juga telah menimbulkan pro dan kontra di Kepulauan Faroe.

3 dari 4 halaman

Dilaporkan ke Polisi

Menurut penduduk setempat yang berbagi video dan foto dengan Sea Shepherd, perburuan ini melanggar beberapa peraturan Faroe yang mengatur Grind. Pertama, pihak distrik setempat tidak pernah diberitahu dan karena itu tidak pernah mengizinkan perburuan.

Kedua, banyak peserta perburuan tidak punya lisensi yang diperlukan di Kepulauan Faroe. Karena untuk kegiatan ini ada pelatihan khusus tentang cara membunuh paus pilot dan lumba-lumba dengan cepat. Namun, rekaman menunjukkan banyak lumba-lumba masih hidup dan bergerak bahkan setelah terlempar ke darat.

Ketiga, beberapa foto menunjukkan banyak lumba-lumba telah terkena baling-baling, yang bisa mengakibatkan kematian yang lambat dan menyakitkan. Menurut penduduk setempat, perburuan telah dilaporkan ke polisi Faroe.

Bjorg Jacobsen dari Kepolisian Faroe sebelumnya sudah mengatakan pada CNN bawah perburuan lumba-lumba itu termasuk legal, tapi dia tidak memberikan komentar lebih lanjut tentang kejadian di pantai tersebut.

4 dari 4 halaman

Imbauan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Pandemi Covid-19