Sukses

Abuba Luncurkan Menu Steak Nabati, Diklaim Pertama di Asia

Liputan6.com, Jakarta - Makin banyak restoran yang menyajikan hidangan berbasis nabati, satu yang terbaru adalah Abuba. Restoran yang mengusung steak sebagai menu utama itu baru saja meluncurkan menu plant-based steak alias steak berbahan nabati sejak awal Juni 2021.

Elzan Azis, Wakil Direktur Abuba Steak, beralasan menu steak tersebut diluncurkan lantaran semakin banyak orang yang mulai menyadari pola hidup sehat. "Dengan launching-nya Abuba Vegan-za ini semakin menguatkan posisi Abuba sebagai market leader in positivity changes pioneer in every aspect lives," ujarnya dalam talkshow virtual Abuba Vegan-za, Kamis, 17 Juni 2021.

Abuba mengklaim sebagai restoran pertama di Asia yang menawarkan menu whole-cut plant-based steak. Elzan mengungkapkan ada dua bahan utama yang digunakan dalam steak tersebut, yakni jamur shitake untuk bahan serupa daging sapi dan kedelai untuk bahan serupa daging ayam.

"Suatu kebanggaan Abuba steak bisa berkolaborasi dengan Green Rebel Foods sebuah perusahaan lokal yang mengedepankan gaya hidup sehat dan menjadi pemasok steak vegan untuk Abuba," sambung Elzan.

Selain steak, ada menu lain yang dihadirkan Abuba dalam rangkaian Abuba Vegan-za. Total delapan menu yang memanfaatkan daging nabati di dalamnya, empat di antaranya dilabeli sebagai vegetarian lacto ovo, yakni masih mengandung susu. Harganya di kisaran Rp60ribu hingga Rp100 ribu.

"Kita buat menu vegetarian yang affordable. Mahal atau murah itu relatif," imbuh Elzan.

 

 

 

2 dari 5 halaman

8 Bulan

Max Mandiaz, co-founder GreenRebel Foods, menerangkan butuh sekitar delapan bulan untuk membuat formulasi daging nabati tersebut. Tantangannya adalah membuat daging nabati memiliki tekstur dan rasa yang mendekati daging sapi asli. Dengan begitu, penyicipnya lebih beragam, mulai dari vegan hingga karnivora alias penyuka daging.

"Karena kita peduli sama kesehatan dan lingkungan, kita pengen bikin daging nabati yang clean, dan itu butuh banyak trial," ujar Max yang juga memiliki restoran vegan.

Untuk beefless, ia memanfaatkan jamur shitake, potein kedelai, garam laut, minyak kelapa, perasa vegan alami, dan tepung rumput laut. Dengan kandungan demikian, ia menyatakan daging nabati lebih aman dari daging asli karena tidak mengandung GMO (genetically modified organism). Di samping itu, daging nabati diklaim jauh lebih berkelanjutan karena bisa menghemat hingga 4.100 liter air dalam proses produksi.

"Ini juga bisa dibilang makanan sehat karena memiliki serat dan senyawa aktif. Maksudnya di sini adalah antioksidan. Kedelai itu mengandung isoflavon yang berfungsi sebagai antiinflamasi. Protein kedelai itu paling lengkap di antara protein nabati lainnya," sahut dia.

 

 

 

 

3 dari 5 halaman

Tidak Keluarkan HCA

Max menambahkan daging nabati relatif lebih aman saat diolah dengan proses pemasakan menggunakan suhu tinggi. Bila daging biasa mengeluarkan HCA saat dipanggang atau digoreng, daging nabati tidak demikian.

Dikutip dari laman cancer.gov, pembentukan HCA (heterocyclic amina) dan PAH (polycyclic aromatic hydrocarbons) sangat bervariasi tergantung jenis daging, metode memaasak dan tingkat kematangan (rare, medium, atau well done). Apapun jenis dagingnya, memasak daging dalam temperatur tinggi, di atas 300 derajat Fahrenheit atau 148 derajat Celcius, seperti memanggang atau menggoreng, atau memasak dalam waktu lama akan mudah menghasilkan HCA.

Sementara, metode memasak yang memungkinkan daging terpapar asap akan berkontribusi dalam pembentukan PAH. Baik HCA maupun PAH bisa merusak DNA jika kedua senyawa itu dimetabolisasi oleh enzim spesifik yang disebut bioaktivasi. Sejumlah penelitian menemukan bahwa aktivitas ensim ini dapat beragam tergantung perorangan, dan mungkin berkaitan dengan risiko kanker.

"Daging nabati tetap aman asal tidak menggantikan bahan makanan dari sayuran, atau tetap dimakan sayur dan buahnya," ujar Max.

4 dari 5 halaman

Diplomasi Indonesia via Jalur Kuliner

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: