Sukses

Dengarkan Suara Hujan Jadi Rahasia Tidur Nyenyak?

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi yang bisa berubah sangat cepat di masa pandemi COVID-19, disadari atau tidak, acap kali mengganggu tidur. Stres yang melanda selama kondisi serba tak pasti nyatanya tak semata membuat jam tidur mundur, namun juga memengaruhi kualitas istirahat.

Padahal, di sisi lain, tidur cukup yang berkualitas merupakan kunci dalam menjaga kebugaran tubuh, di samping memerhatikan asupan sehari-hari dan merawat kesehatan mental. Berbagai upaya untuk mengembalikan kualitas tidur pun dilakukan, termasuk mendengarkan suara hujan.

"Apa pun yang berkaitan dengan air langsung 'mengirim' saya ke tempat nostalgia dan kenyamanan," kata penulis asal Kanada, Hannah Johnson, yang tumbuh dengan mendengarkan kaset suara ikan paus milik neneknya dan menghabiskan musim panas di pantai-pantai Nova Scotia, melansir laman Vogue US, Kamis, 14 Januari 2021.

Selama penguncian wilayah akibat krisis kesehatan global, ketika Johnson mulai mengalami lebih banyak serangan insomnia dari biasanya, ia mulai mendengarkan suara alam yang berpusat pada air untuk membantu menjernihkan pikiran. Juga, memadamkan kerinduan akan liburan.

Di antara lagu-lagu topnya adalah "Suara Badai Petir" dan "Suara Hujan yang Menenangkan di Glastonbury" oleh Stardust Vibes, duo ibu-anak yang menghasilkan rekaman suara alam dan musik relaksasi.

"Kadang-kadang saya akan memutar musik latar perapian yang berderak, atau jalur hujan badai di pantai yang membuat saya merasa tak ada amukan pandemi dan saya sedang berlibur akhir pekan di sebuah pondok terpencil di suatu tempat," jelasnya.

Sementara, direktur digital V Magazine, Mathias Rosenzweig, menemukan kenyamanan serupa dalam suara alam, namun tak sembarang soundscape hujan yang didengarkan. "Secara harfiah, saya telah menghabiskan waktu berjam-jam mencoba menemukan soundtrack hujan yang sempurna," kata Rosenzweig.

"Itu harus memiliki nada yang tepat, 'volume' hujan yang tepat, dan konsisten, tanpa semburan kilat yang tiba-tiba dan yang lainnya untuk merusak suasana atau mengagetkan saat saya menuju ke alam mimpi," sambungnya soal melodi penghantar tidur.

2 dari 4 halaman

Tanggapan Ahli

Dr. Shelby Harris, spesialis pengobatan perilaku tidur mengatakan, "Hujan dapat diprediksi, menenangkan, stabil, dan tak mengancam." Menurut Harris, suara hujan yang stabil membantu otak tertidur, memblokir suara dari luar, dan sering kali menyebabkan keadaan lebih meditatif sehingga menghasilkan relaksasi.

Meski mirip dengan dengungan white noise, suara hujan sebenarnya dianggap sebagai noise merah muda yang dengan cepat jadi noise baru. "White noise terdiri dari spektrum besar dari semua frekuensi yang dapat didengar oleh telinga manusia," jelas Harris.

"Sebaliknya, derau merah muda, meski serupa dalam suara derau putih dengan derau 'wus' konsisten yang memblokir derau eksternal, memiliki frekuensi lebih rendah. Pada dasarnya, ini lebih dalam daripada derau putih," tambahnya.

Walau ada penelitian terbatas tentang kebisingan merah muda, studi Perpustakaan Kedokteran Nasional menemukan bahwa itu membuat tidur lebih nyenyak dan secara dramatis meningkatkan memori pada orang dewasa yang lebih tua.

Sementara soundtrack hujan jadi andalan waktu tidur bagi banyak orang, tak mengherankan jika peningkatan minat tampak selama pandemi. "Tingkat stres tinggi. Kita memiliki pikiran yang aktif dan itu sulit untuk diredam," kata Harris.

"Kadang-kadang kembali ke alam dengan suara yang stabil, berulang-ulang, dan tak mengancam dapat membantu menenangkan otak yang aktif," ucapnya. "Karena kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk terjaga, rekaman hujan juga dapat membantu memblokir suara-suara lain yang mengancam tidur."

3 dari 4 halaman

Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: