Sukses

Cerita Akhir Pekan: Plus Minus Kerja dari Rumah di Tengah Krisis Corona COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta rakyat Indonesia untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Seruan tersebut tak lain sebagai upaya pencegahan penyebaran pandemi corona COVID-19 di Tanah Air.

Seiring dengan pernyataan Jokowi itu, seruan seperti "Di Rumah Aja" hingga "Work From Home" (WFH) atau "Kerja dari Rumah" pun tiada henti disampaikan oleh banyak pihak yang membanjiri dunia maya.

Tak sedikit pula perusahaan yang telah memberlakukan Kerja dari Rumah kepada para staf dan karyawannya. Di sisi lain, tak dapat dipungkiri ada plus dan minus yang dirasakan oleh mereka yang menjalankan tugas dari rumah.

Satu di antaranya adalah seorang karyawan swasta di Jakarta, Fitri Andiani. Ia menyampaikan, kantor tempatnya bekerja tak sepenuhnya menjalankan Kerja dari Rumah karena split team.

"Cuma karena job desc gue enggak butuh banyak koordinasi tatap muka, gue dari Selasa, 17 Maret memutuskan untuk kerja di rumah di luar jatah WFH yang dibagi dari kantor," kata Fitri kepada Liputan6.com, Jumat, 20 Maret 2020.

Plus dari WFH yang dirasa Fitri tentunya tak lain dapat meminimalisir kekhawatiran terpapar virus corona COVID-19 di tempat umum. "Dalam keadaan kayak gini apalagi gue masih naik transportasi umum mulai dari KRL sampai ojek online," tambahnya.

"Minusnya paling kadang bosan karena minim interaksi sama orang lain, kalau di kantor kan di meja kerja ada ngobrolnya, sambil makan siang ada bercandanya. Lain-lainnya sih berjalan as usual aja," ungkap Fitri.

Tak dipungkiri Fitri, distraksi saat bekerja dari rumah terkadang menghampiri. Namun baginya, distraksi itu justru dapat membuatnya mengalihkan bosan karena hanya menatap layar laptop, minim interaksi, dan menikmatinya sebagai "hiburan".

"Kalau bosan pas lagi WFH ya kayak di kantor saja, diselingin sama (nonton) YouTube, buka-buka media sosial," tutupnya.

2 dari 4 halaman

Kata Mereka yang WFH

Kisah berbeda datang dari karyawan swasta lainnya, Regina Novanda. Kantor agensi tempatnya bekerja di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, telah menerapkan WFH sejak 17 hingga 27 Maret 2020.

"Plusnya WFH lebih santai, bisa sambil mengerjaka aktivitas lainnya. Enggak fokus ke kerjaan melulu, enggak pusing mikirin makan apa hari ini, dan pastinya hemat ongkos," jelas Regina kepada Liputan6.com, Jumat, 20 Maret 2020.

Sedangkan minusnya, soal diskusi dengan rekan kerja melalui telepon, pesan teks, atau panggilan video yang disebutnya kurang efektif dan lebih nyaman dengan bertatap langsung.

"Minusnya, jam kerjanya jadi lebih panjang karena enggak ada titik udahnya. Kalau WFH godaan buat rebahan, lihat media sosial atau nonton. Belum lagi sedikit-sedikit dipanggil orangtua," lanjutnya.

Kendati demikian, ia memiliki cara tersendiri untuk mengusir rasa bosan yang terkadang melanda saat WFH. "Kalau bosan menghubungi teman saja, kerja sambil cerita, sambil nonton, masak, main media sosial," tutupnya.

Pengalaman saat WFH juga dibagikan oleh karyawan swasta di Jakarta, Michelle Pangestu. Adapun kerja dari rumah diberlakukan kantornya sejak Kamis, 19 Maret 2020 karena menerapkan sistem grup untuk pekerja.

"Plusnya (WFH) lebih banyak waktu di rumah dan mengurangi interaksi serta penyebaran virus. Minusnya, jadi lupa jam makan siang karena kerja lebih fleksibel dan koordinasi denga kolega agak lebih sulit karena tidak bertatap muka," kata Michelle kepada Liputan6.com, Sabtu, 21 Maret 2020.

Lingkungan di rumah dikatakan Michelle kurang kondusif untuk bekerja. Maka dari itu, terkadang ia mengalihkan hal tersebut dengan menonton dan YouTube-an.

3 dari 4 halaman

Alasan Pelaku Usaha Tetap Buka

Di tengah penerapan WFH, para pelaku usaha tetap menjalankan bisnis dengan beberapa alasan di baliknya. Satu di antaranya adalah Aftermorning Burgerbar yang berlokasi di Kuningan, Jawa Barat.

"Indikator (tetap buka) ada banyak, pertimbangannya paling penting untuk retailer kebanyakan tetap jalan untuk usahanya karena butuh cash flow," kata Antonius Anang, Co-Founder Aftermorning Burgerbar kepada Liputan6.com, Kamis, 19 Maret 2020.

Kendati demikian Anang melanjutkan, sembari melihat perkembangan, ia dan rekan-rekannya bisa saja menutup usaha mereka jika kondisi dirasa kian parah terkait corona COVID-19.

"Tingkat krisis kalau sudah fatal pasti tutup, kita enggak mau ambil risiko. Tetap pencegahannya buat orang dine-in disediakan hand sanitizer, wastafel dengan sabun, yang kerja memakai masker dan sarung tangan," lanjut Anang.

Di sisi lain, krisis corona COVID-19 turut berdampak pada penjualan yang sebutkan Anang menurun sekitar 40--50 persen. Adapun penurunan terjadi mulai minggu kedua Maret 2020.

"Traffic turun karena orang lebih banyak di rumah. Hal itu disiasati dengan memberi promo free delivery service. Kita bikin promo yang lebih agresif dari sisi harga juga marketing," tutupnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Melihat Hijaunya Yulin, Kota Hutan di China