Sukses

Kuliner Malam Jumat: Rela Berdesakan dan Antre demi Semangkuk Sop Kambing

Liputan6.com, Jakarta - "Dulunya saya kerja. Dari 1965 sampai 1980 baru saya keluar. Pada 1984 saya berdikari," ujar Haji Thabrani, pemilik Kedai Estu Rame, yang menjual sop kambing dan satai kepada Liputan6.com di kedainya di Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Berbekal pengalaman bekerja warung sop kambing di kawasan Roxy, Jakarta Barat, lelaki berusia 67 tahun yang akrab disapa Pak Haji ini membuka usaha yang sama.

Awal membuka warung sop dan sate, Thabrani sempat mengalami jatuh bangun. Hingga akhirnya ia membuka di Tebet, Jakarta Selatan, sejak 1996. Seiring waktu berjalan, usahanya pun berkembang hingga saat ini.

"Alhamdulillah, sampai sekarang begini keadaanya. Tempatnya dari dulu nggak berubah," ujar lelaki yang sempat bekerja sebagai karyawan rumah makan di kawasan Kota, Jakarta Barat.

Kedai ini sering dikunjungi para politisi hingga selebritas. Mereka harus rela berdesak-desakan dan antre untuk merasakan kenikmatan sop kambing di kedai ini.

"Banyak, tapi saya nggak begitu kenal mereka. Yang tahu itu anak-anak (karyawan) saya," ujar Thabrani.

Meski usahanya kian maju, Thabrani tak berniat untuk mengembangkannya. Ia tak mau aji mumpung. Ia hanya ingin mengelola usaha di satu tempat saja.

"Kalau buka cabang dan dapurnya lain, itu repot. Repot itu mengenai rasa sop kambing-nya, karena nggak sama seperti ini," ujar lelaki yang memakai peci dan kacamata ini.

2 dari 3 halaman

Tak Bau dan Amis

Berbeda dengan kedai warung sop kambing lain, Thabrani punya resep khusus. Selain susu, ia juga mencampur kuah sopnya dengan rempah-rempah. Seperti pala, kayu manis, dan lain-lain. Campuran itu yang membuat aroma kuah sopnya terasa sangat kuat.

"Bisa dibandingkan dengan yang lain ya," kata Thabrani.

Hal senada diungkapkan salah seorang pembali, Octaviza. Meski bahannya sama dengan sop kambing lain, tapi rasanya berbeda.

"Nggak amis. Nggak bau (perengus). Itu yang membuat sop kambing di sini ramai didatangi pembeli. Ramai banget," kata Octaviza.

Lelaki berkumis ini telah lama berlangganan sop kambing di Kedai Estu Rame. Sering ia harus antre sambil berdiri karena pembelinya cukup banyak.

"Yang antre itu bukan satu dua orang, tapi ramai juga. Karena suka, menunggu sedikit dan antre jadi nggak masalah," kata Octaviza.

Sejauh ini, Thabrani mematok harga seporsi sop Rp65 ribu dan sepiring nasi Rp5 ribu. Octaviza tak masalah dengan harga tersebut karena harganya sebanding dengan citarasa sop kambingnya.

"Nggak masalah soal harga, karena rasanya sebanding," tutur Octaviza.

Setiap hari Kedai Estu Rame menghabiskan 40 kepala kambing pasangan dengan kaki. Sementara untuk sate, mereka menghabiskan dua ekor kambing.

“Yang paling ramai di sini itu malam Jumat, malam Senin juga ramai," ungkap Efendi, karyawan Kedai Estu Rame. "Di sini itu kami hanya pakai kepala dan kaki saja. Sehari kami pakai 40 kepala pasangan dengan kaki," sambungnya.

 

Kami menerima kontribusi konten untuk rubrik Kuliner Malam Jumat, yaitu tempat kuliner cukup dikenal, punya ciri khas, dan masih buka pada malam hari. Konten harus berupa tulisan, foto, dan video berdurasi sekitar tiga menit.

Tulisan berupa cerita mendalam tentang tempat kuliner malam yang diangkat sekitar 1.000 sampai 1.500 kata, foto minimal lima buah, dan video. Format konten video bisa dilihat dari video Kuliner Malam Jumat yang sudah ditayangkan.

Hasil liputan dikirim ke email: dinny.mutiah@kly.id. Tersedia hadiah menarik bagi karya terpilih. Untuk pertanyaan lebih detil tentang konten liputan Kuliner Malam Jumat, bisa ditanyakan melalui alamat e-mail yang sama.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading