Sukses

Penakut Dilarang Datang ke Museum Viking Denmark Sendirian

Liputan6.com, Aarhus - Terlontar dari mulut Imesh untuk mengunjungi Museum Viking di Aarhus, kota terbesar kedua di Denmark setelah Copenhagen. Imesh adalah salah seorang pemimpin redaksi media daring yang beralamat di Jati Murni, Jakarta Selatan.

Ide ini sendiri muncul di dalam perjalanan pulang menuju hotel, setelah para awak media, termasuk dari Liputan6.com dan peternak dari Indonesia selesai mengikuti serangkaian kegiatan yang lumayan menguras otak.

Gerombolan Arla fam trip menyebut Imesh sebagai 'ketua geng'. Bagaimana tidak? Ibu dua orang anak ini yang paling getol memberikan daftar tempat wajib dikunjungi pada H-1 menuju Denmark.

Rombongan tiba di Denmark pada Sabtu tengah malam, 6 April 2019. Kami tidak terus ke Aarhus, tetapi singgah dahulu di Copenhagen. Baru pada Minggu sore, 7 April 2019, kami pindah tempat.

 

 

Tidak banyak tempat yang bisa kami datangi selama 12 jam di Copenghagen. Selain masih meraba-raba jalanan di sana, banyak tempat yang memang tutup atau buka setengah hari. Berdasarkan informasi yang diperoleh, rata-rata toko atau apa pun tempat yang bisa dikunjungi publik baru buka setelah pukul 12.00 siang.

Tak mau nasib yang sama terulang saat di Aarhus, saya, Imesh, dan Ana sepakat mencuri waktu mengunjungi sejumlah lokasi menarik di tengah kegiatan. "Kita di Copenghagen enggak sempat ke Legoland, di sini setidaknya kita harus ke Museum Viking," kata Imesh.

Alhasil, kami memutuskan untuk tidak pulang ke hotel setelah kunjungan media ke Arla Innovation Centre di Agro Food Park 19, 8200 Aarhus, melainkan jalan-jalan di pusat kota. Salah satu yang kami kunjungi adalah Museum Viking.

2 dari 3 halaman

Menuju Museum Viking

Imesh meminta kepada supir supaya melewati jalan yang memudahkan kami sampai ke Museum Viking. Supir mengangguk. Dia dengan senang hati mengabulkannya.

Tidak terasa tahu-tahu bus sudah berhenti di perempatan jalan dekat gereja Katedral Aarhus. Rumah ibadah yang dalam bahasa Denmark adalah Aarhus Domkirke ini menjadi patokan saya, Imesh, dan Ana menuju tempat itu.

Suhu pada Senin sore, 8 April 2019, dingin sekali. Yang berhasil membuat tangan kami membeku. Astaga! Di ponsel, sih, katanya suhu hari itu adalah dua derajat celcius. Sungguh kami tak percaya. Dugaan kami suhunya lebih kecil dari yang kami lihat itu.

Dari tempat kami diturunkan, saya, Imesh, dan Anna menyebrang ke arah geraja Katedral. Dari informasi yang terpampang di peta (map) letak Museum Viking tidak jauh. Bahkan tidak sampai satu kilometer.

"Sedikit lagi," kata Imesh. Matanya sibuk melirik peta yang ada di ponselnya.

"Benar, enggak? Jangan-jangan masih jauh," Ana mulai ragu.

"Benar!," Imesh menjawab. Namun, ada sedikit keraguan yang mendadak muncul,"Ini kita sudah berdiri di titiknya. Tapi mana ya museumnya?."

Dia yakin bahwa kami tidak kesasar. Guna meyakinkan saya dan Anna, Imesh lalu bertanya kepada penduduk lokal yang melintas. Seorang perempuan berambut panjang. Kalau dilihat dari dandanannya, dia adalah mahasiswi yang baru pulang kuliah.

Kayaknya Imesh salah orang. Dari gesturnya, perempuan itu sepertinya tidak tahu keberadaan Museum Viking yang kami cari. Dia malah menyarankan kami supaya berjalan agak ke depan lagi, lalu belok ke kana.

Ternyata, oh, ternyata, Museum Viking ini berada persis di sebelah kanan tempat kami berdiri.

"Itu dia museumnya," kata saya.

Kami sama sekali tidak menyadari kalau gedung kecil, yang sebenarnya lebih mirip kantor pemesanan tiket pesawat, adalah museum yang ingin kami tuju. Habis, penandanya bertuliskan Vikingmuseet bukan Museum Viking. Manalah kami sadar.

 

 

"Masih buka?," Anna bertanya. Bukan apa-apa. Takutnya sama kaya toko-toko di Copenhagen yang mesti tutup pukul 17.00 atau pukul 18.00. Ditambah pula saat kami masuk, seperti tak ada kehidupan di dalamnya.

Museum Viking ini berada di bawah tanah gedung perkantoran yang kami tak tahu apa. Ada sepuluh anak tangga untuk menuju ke sana. Kantornya sendiri sudah sepi tak ada penghuni sehingga kami bingung mau bertanya ke siapa.

Di mana harus membeli tiket masuknya saja kami tak tahu. Barulah setelah berada di dalam museum, kami tahu harus beli di mana.

 

Kurang lebih sepuluh langkah dari pintu masuk, berdiri sebuah mesin untuk para pengunjung membeli tiket masuk. Merasa aneh, tidak? Saya sendiri merasa ada yang janggal. Bukannya kalau beli tiket masuk itu di luar, ya? Ini mengapa malah di dalam?

Anehnya lagi, tak ada satu pun penjaga. Hanya ada sambutan Selamat Datang menggunakan bahasa Denmark yang keluar dari pengeras suara. Kami terkejut dan nyaris ngibrit mendengar suara tapi tak ada rupa.

Saya, Imesh, dan Anna berusaha menjadi turis yang jujur. Imesh coba membeli tiket di mesin itu. Harga tiketnya sebesar 30 Danish Krone (Rp 45 ribu).

Namun, kami tidak jadi beli tiket lantaran mengalami kendala begitu masuk ke proses pembayaran. Imesh kesulitan memasukkan uang kertas sesuai nominal yang tercantum, tapi kami tetap melihat-lihat isi dari Museum Viking.

"Siapa tahu nanti ada penjaganya. Kalau ada, kita kasih cash aja," kata Imesh. Saya dan Anna setuju.

 

3 dari 3 halaman

Koleksi Museum Viking

Menurut Liputan6.com, museum di Jalan Sankt Clemens Torv ini tidak lebih luas dari Museum Ondel-Ondel yang ada di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Sebenarnya, Museum Viking tersebar di sejumlah negara di Eropa. Paling besar dengan koleksi paling lengkap tentu saja ada di Norwegia.

Museum Viking pada dasarnya adalah tempat bersejarah mengenai Viking Age Aarhus secara umum. Di dalamnya ada replika rumah penduduk sebagai bukti bahwa dulu di Aarhus pada zaman dahulu juga memiliki desa viking. Ada pula Viking Age Runestone dan penggalan tubuh manusia tanpa kepala yang membuat kami bergidik. 

Saran dari Liputan6.com bagi kamu yang mungkin berencana berlibur di Aarhus dan ingin main ke tempat ini, sebaiknya pergi beramai-ramai, terutama buat kamu yang penakut. Tempat ini akan membuatmu jadi tidak nyaman. 

Alasan lain harus pergi ramai-ramai, untuk memberi tanda bahwa sedang ada pengunjung. Kan enggak lucu kalau tiba-tiba dikunci dari luar dan kamu terjebak di dalamnya.

Usahakan pula untuk tidak datang terlalu sore. Biar suasananya tidak terlalu seram, karena masih ada karyawan yang bekerja di perkantoran lantai atas. Itu pun kalau memang benar tempat tersebut benar-benar kantor.

Inilah sejumlah koleksi yang ada di Museum Viking:

Loading
Artikel Selanjutnya
Ini Alasan Trump Ngebet Ingin Beli Greenland dari Denmark
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Ingin Beli Greenland, PM Denmark: Rencana yang Absurd