Sukses

Viral, Ada Helm Berbentuk Tabung Gas 3 Kg di Yogyakarta

Liputan6.com, Jakarta
Yogyakarta memang gudang orang-orang kreatif dan inovatif, salah satunya adalah Agung Budi Triyono, seorang kreator helm tabung gas 3 kilogram yang viral belakangan ini. 
 
Agung saat ditemui awak Liputan6.com beberapa waktu lalu mengatakan, ide konyol membuat helm tabung gas melon awalnya muncul karena dirinya tak punya pekerjaan alias menganggur. 
"Nganggur gawe opo yo, lihat orang bawa tabung gas kayaknya bisa ini, akhirnya bikin," ungkap Agung di workshopnya yang ada di Jalan Tentara Zeni Pelajar No 8, Bumijo, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Agung yang sudah sejak 2012 berprofesi sebagai kreator helm menjelaskan, pembuatan helm tabung gas 3 kilogram ini sudah dilakukannya sejak 6 bulan lalu.
"Memang gak detail tapi orang liat bentuknya aja sudah tau itu tabung gas," katanya.
 
Walaupun ia sudah membuat helm unik ini ia mengaku tidak senantiasa memakainya tiap hari. Sebab ia tidak cukup mental untuk menggunakannya di jalan.
 
"Adik saya makai pas tahun baru dia pinjem motor sama helm saya gak tau dia pakai helm itu, pas dia pulang dia cerita dia jadi orang terkenal karena banyak yang mau foto dengan helm itu," ujarnya.
Hingga saat ini beberapa order sudah masuk ke tempatnya untuk dibuatkan helm serupa. Walaupun belum banyak ia mengaku senang idenya dapat dihargai.  
"Sudah ada yang mesen helmnya ini baru tiga pesanan," ujarnya.
 
Ia mengaku walaupun terlihat tidak standar namun ia mengaku menggunakan bahan bahan yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Ia hanya menambahkan bagian atas helm agar mirip dengan tabung gas 3 kg itu.
 
"Bahannya itu dari helm yang ada kita cat dan tulisannya sama cuma bagian atasnya kita tambahi itu belum mirip masih perlu diperhalus lagi," katanya. 
 
 
1 dari 3 halaman

Bisa Dipesan Online

Ia mengaku pemesanan helm yang masuk ketempatnya kebanyakan via online. Kota besar seperti Bandung, Jakarta dan Sumatra sering memesan helm unik darinya.
 
"Ada yang pesen online juga dari Yogyakarta ada, pesan via online ambilnya langsung ke workshop. Lainya dikirim langsung kalo luar kota," katanya.
 
 Ia mengaku pesanannya 80 persen online dan 20 persen offline. Menurutnya online saat ini menguasai pemesanan helm dengan ciri khas unik ala Gung's Helm Retro.
 
"Ada dari Aceh, Sulawesi kalo luar negeri saya sampai Malaysia," katanya.
 
Memesan helm sesuai kreasi Gung's Helm Retro bisa sesuai dengan keinginan mulai dari half face ataupun full face. Setelah memilih bentuk helm kemudian pemesan bisa saling memberikan ide dalam helm tersebut.
 
"Kalo minta cakil itu full face ya makanya saya kasih pilihannya macemnya ada yang tipe tipe moncong babi, simpson, cakil, dll," ujar manyan mahasiswa hukum ini.
 
Agung mengaku senang jika saat order online ataupun datang langsung ke tempat workshopnya pemesan sudah memiliki ide di helmnya. Sehingga ia dapat mengerjakan helm yang penuh dengan kreasi daripada hanya memesan helm polos.
 
"Saya paling seneng itu dia punya design sendiri, grafisnya gini nanti ditambahi apa. Mengerjakan helm polos itu seneng ga senang. Senengnya gampang tinggal cat udah jadi, ga senengnya helmnya tidak ada ciri khasnya," katanya. 
 
Helm yang dibuat ditempatnya adalah helm yang unik dan berciri khas. Dua faktor itu menurutnya harus menjadi pedoman pemesan dan dirinya, karena helm itu represntasi pemilik.
 
"Kaya helm saya itu sederhana tapi sak Indonesia raya saya yang punya saya. Gak ada kan tulisan 'Maaf saya sudah menikah' unik kan," katanya.
 
Agung mengaku yang membuatnya berbeda adalah kreasinya handmade mulai dari bahan hingga finishing. Produk handmade inilah yang saat ini mulai digemari masyarakat di berbagai daerah.
 
"Gak ada yang makai alat teknologi modern, semua manual. Kalo saya liat kesini orang lebih menghargai karya handmade," katanya.
 
Selain kreasi ide unik menurutnya yang membuat Gungs Helm Retro berbeda adalah teknik lettering di helm. Walaupun tulisan yang ditorehkan ke helm sama namun setiap pembuat helm memiliki ciri khas sendiri.
 
"Main lettering itu tidak bisa dikejar karena saya nunggu mood kalo dipaksakan nanti hasilmnya jelek. lettering itu seni main tulisan, Paling susah pakai kuas. Saya pakai kuas," katanya. 
 
Ia menyebut setiap ada pesanan ia membutuhkan waktu sekitar 2 minggu untuk menyelesaikan proyek itu. Sementara saat ini rata rata setiap bulannya ia mendapat 10 pesanan.
 
"Saya bertiga aja, sekarang sebulan ngerjain ya sepuluh sudah banyak," katanya.
 
Ia menyebut bisnis membuat helm di Yogyakarta dan Indonesia mulai ramai. Sehingga banyak artis juga pesan helm langsung ke tempatnya.
 
"Beberapa artis Derbi Romero, Lembu club eightis terakhir ini si sella gitaris kotak. Sella itu sukanya full face helmnya," katanya.
 
Jumlah helm yang dibuatnya saat ini sudah mencapai ribuan mulai dari yang polos hingga kreasi unik. Namun ia menegaskan hasil helm yang dibuatnya mengedepankan keselamatan dan kualitas terbaik.
 
"Saya seneng motor jadi saya pikirnya safety. Saya cat standar tapi pernis saya harus bagus karena pernis jelek catnya pasti jelek. Kalo pernis bagus hasilnya pasti bagus. Kualitas ini," paparnya.
 
Ia mengaku banyaknya pengusaha pembuat helm sejenis dirinya tidak berpengaruh pada kualitas helm yang dibuat. Sebab pemain bisnis ini sudah menurunkan harga pembuatan helm yang diiringi kualitas helm tersebut.
 
"Karena ya itu banyak pemain tapi ya mereka yang penting laku ada yang jual 300 ribu. Sekarang ada pemain baru harganya mulai banyak yang murah tapi saya bertahan dengan kualitas bagus," katanya.
 
Agung mengaku untuk membuat satu helm di tempatnya membutuhkan biaya mulai dari Rp 250 hingga 900 ribu.  Harga yang cukup mahal ini sudah sesuai dengan kualitas yang didapat pemesan karena ada bahan yang diambil dari luar negeri.
  
"Ada bahan dari malaysia kalo indoensia bahannya beda saya jual 250 mereka bilang mahal ya gak apapa  kalo saya mending sekali beli tapi awet. Soalnya kalo pakai produk dalam negeri itu beda kualitas," katanya.
 
 
 
2 dari 3 halaman

Awal Usaha

 
Gung's Helm Retro berawal saat dirinya yang pencari barang rongsokan diajak temannya ke pasar loak di Yogyakarta. Saat itu ia melihat helm Chip yang masih dalam kondisi bagus dan dibelinya dengan harga 20 ribu.
 
"Saya bawa pulang saya kompoun saya bikin dalemnya, saya jual buka harga 150 ribu belum ongkir saya seneng banget habis itu saya tiap malam saya keluar nyari helm," katanya.
 
Tidak hanya helm ia pun juga mencari handphone jadul di berbagai pasar loak maupun pasar tradisional di Yogyakarta. Melalui proses yang sama ia pun mulai tertantang untuk berkreasi membuat helm sendiri.
 
"Setiap kali ada pasaran pasar pon atau pahing tiap pagi saya masti dateng ksaya nyarinya helm jadul sama handphone jadul. setelah punya nama akhirnya banyak tantangan masuk 2012 akhir saya mulai usaha ini," katanya.
 
Saat ini ia merasa tertantang dengan permintaan para pembeli helmnya. Namun ada satu permintaan yang belum bisa ia penuhi karena kesulitan tinggi dengan metode prinstripe.
 
"Printstripe itu saya belum bisa karena kanan kirinya harus simetris,saya coba 2 bulan saya gak bisa saya taruh berarti saya ga bisa. Tingkat kesulitan tidak boleh salah. Printripe itu salah pasti keliatan karena harus simetris," katanya.
 
Tantangan para klien ini awalnya ditakuti dirinya sebab ia tidak memiliki dasar kelimuan dibidang handmade helm. Namun ia terus mengasah kemampuannya agar dapat memnuhi tantangan para kliennya.
 
"Tantangannya klien minta warna ini dan bentuk ini saya takut karena saya ga da ngajarin. Sebelum berani pernis saya takut itu. pada akhirnya iseng berani berani sampai sekarang," katanya.
Tantangan yang dihadapi saat memebsarkan usaha bisnis ini berliku liku. Sebab bau cat dan debu cat ini tidak semua warga menerima, sehingga ia harus pindah pindah tempat workshop.
"2013 saya disini awalnya disitu nyewa tanah kendala saya tempat pertama di satu sempat pada nggersulo (mengeluh) dengan bau lalu ketempat simbah ditengah kampung deket buat roti dikeluhkan juga akhirnya pindah kesini," katanya.
 
Perjalanan hidup membuat helm membuat Agung paham bahwa manusia memiliki kesempatan untuk menuangkan cirikhasnya kedalam benda. Karena cirikhas itu yang akan dikenang orang diliangkungan dia berada.
 
"Arti helm sebuah seni bisa jadi cirikhas media yang bisa kita ulas banyak dari satu helm saya ada berapa karya ada ukir, letteringnya busa dalam bisa diekspose itu karya seni," katanya. 
Artikel Selanjutnya
Helm Mirip Tabung Gas Melon, Agung Curi Perhatian di Yogya