Sukses

Kontroversi Puisi Esai Denny JA, Eko Tunas: Puisi Esai Bukan Genre Baru

Liputan6.com, Jakarta Perdebatan panjang di media sosial soal klaim puisi esai Denny JA sebagai genre baru sastra, serta angkatan puisi esai sebagai angkatan baru sastra Indonesia tengah hangat diperbincangkan publik sastra.

Pada Jumat, 16/2/2018, perdebatan tersebut akhirnya dibawa ke ranah terbuka. Acara debat tersebut khusus mendatangkan nama-nama besar yang bersinggungan langsung soal fenomena angkatan puisi esai. Narudin Pituin dan Krt Agus Nagoro dari sisi pro. Kemudian Eko Tunas dan Saut Situmorang dari sisi kontra.

3234319

Menurut Isti Nugoroho selaku penyelenggara debat sastra tersebut, ini merupakan pertama kalinya debat yang terjadi di media sosial dan membahas soal kontroversi di dunia sastra, dibawa ke ranah debat terbuka.

“Ini sudah ramai di medsos sejak 2015 lalu, ditambah Koran Tempo memuat dua esai soal puisi esai. Maka kami bersama teman dari Yayasan Guntur berinisiatif mengadakan debat sastra ini,” kata Isti Nugroho.

Bertempat di Jalan Guntur 49, Jakarta Selatan, debat tersebut dihadiri oleh banyak publik sastra yang memang menaruh perhatian besar pada fenomena ini. Terlebih pada dua sosok yang ditunggu-tunggu, yakni Saut Situmorang dan Narudin Pituin.

Debat yang dimulai pukul 16.00 tersebut berlangsung ketat, meski pada mulanya sempat muncul kekhawatiran sebab Narudin pada pukul tersebut belum juga datang.

1 dari 4 halaman

Jalannya Debat

Pada kesempatan pertama dalam debat tersebut, Krt Agus Nagoro menyampaikan soal proses kreatifnya. Ia tertarik menulis puisi esai karena menurutnya, puisi esai memiliki elastisitas yang luar biasa.

“Ini yang dulu diperjuangkan oleh teman-teman angkatan 80-an, sastra kontekstual, Bung Eko Tunas, Bung Simon, dan teman-teman yang lain,” katanya.

Maka, ia pun mengikuti gerakan menulis puisi esai yang diadakan serempak di seluruh Indonesia. Karena keikutsertaannya itulah, Agus mendapat protes dari teman-teman penyair di Semarang dan Yogyakarta.

Eko Tunas yang diberikan kesempatan kedua untuk menyampaikan pendapatnya, mengatakan bahwa puisi esai bukanlah genre baru. Ia menyoroti bagaimana upaya Denny JA yang berusaha menghakpatenkan puisi esai dapat berbahaya dan membawanya ke ranah hukum.

Menurutnya, puisi esai yang diklaim sebagai milik Denny JA sudah ada sejak tahun 1983, bahkan sudah ada sejak tahun 1952. “Di dalam majalah Zenith tahun 52, penyair kelahiran Boyolali, namanya P Sengojo itu sudah menulis puisi sepanjang 20 halaman,” kata Eko Tunas.

Ia menambahkan bahwa menjelang tahun 1966, Sapardi Djoko Damono menulis surat kepada HB Jassin tentang puisi esai. “Di situ jelas-jelas Sapardi menyebut puisi esai. Cuma dalam hal ini, esainya diberi tanda petik. Waktu itu Sapardi mengatakan puisi ya puisi, esai ya esai, tidak bisa digabungkan, karena pada waktu itu ada kecenderungan pembentukan angkatan 66 banyak puisi yang cenderung berpikir,” jelas Eko.

Ditambahkan olehnya, tahun 83 ada nama Simon HT yang juga menulis puisi esai. Eko Tunas bahkan mengaku bahwa dirinya adalah saksi. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa puisi-puisi milik Emha Ainun Najib dan Rendra juga memiliki kecenderungan seperti puisi Simon.

“Jadi, puisi esai itu bukan milik Denny JA,” kata Eko Tunas dengan lantang. “Itu kesalahan yang bukan main. Bagaimana mungkin dengan persoalan bahasa, rima, linguistik yang belum selesai, mau menulis puisi esai?”

 

 

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

Debat semakin riuh saat Narudin Pituin menjelaskan soal fenomena puisi esai yang menjadi kontroversi. Ia membenarkan bahwa angkatan puisi esai merupakan angkatan baru dalam kesusastraan.

“Sebab, 170 penulis puisi esai dari 34 provinsi baik penyair dan nonpenyair telah melakukan gerakan yang sangat besar, dan itu dilakukan secara serempak. Ada pencetusnya yaitu Denny JA dan ada founding fathers dan mothers-nya.” kata Narudin.

Narudin menambahkan bahwa teknik marketing yang dilakukan Denny JA merupakan teknik baru dalam dunia sastra. Publik sastra masih awam soal ini, sehingga banyak yang tercengang dengan teknik tersebut.

“Denny JA saya katakan bukan seorang kapitalis. Kalau ada seorang penyair dibayar 5 juta, itu masih kecil. Kita dapat membayar lebih dari itu. Asalkan uang itu bukan milik pemerintah, pabrik rokok, atau uang haram,” kata Narudin.

Kesempatan terakhir diberikan kepada Saut Situmorang untuk memberikan argumentasinya. Seniman berambut gimbal tersebut lebih menyoroti esai yang ditulis oleh Denny JA di Koran Tempo. Salah satunya, ia mempertanyakan posisi Denny JA yang seorang entrepreneur.

“Bagaimana mungkin bisa mengharapkan sebuah esai yang penuh kesadaran sejarah dan teori sastra dari seseorang yang cuma tertarik dengan dunia bisnis demi mengeruk keuntungan finansial? Bagaimana mungkin bisa mengharapkan seseorang yang cuma promotor industri hiburan untuk paham apa itu seni, apa itu sastra?” kata Saut.

Ia juga menyoroti bagaimana Denny JA masih awam soal puisi esai yang merupakan historical fiction, bahwa puisi esai adalah novel pendek yang dipuisikan. “Hanya seseorang yang sama sekali buta sastra yang akan membuat pernyatan-pernyataan tersebut,” kata Saut.

3 dari 4 halaman

Tanggapan Publik Sastra

Penyair Kurnia Effendi yang datang ke acara tersebut mengatakan, fenomena klaim angkatan puisi esai Denny JA ini merupakan gerakan yang menjadi ramai karena juga ada peran dari sisi kontranya.

“Gerakan menjadi heboh itu bukan hanya mendapatkan lawan yang seimbang, tapi juga yang lebih tinggi dari gerakan tersebut,” kata Kurnia kepada Liputan6.com.

Menurutnya, apa yang terjadi ini merupakan yang diharapkan oleh pencetusnya. “Seharusnya publik sastra membiarkan gerakan ini, diabaikan saja. Kalau ditanggapi terus, ini akan memanjang, dan itu yang diharapkan oleh Denny JA,” katanya.

Penikmat dan pengamat sastra yang juga turut hadir, Setyo A. Saputro mengatakan bahwa klaim genre baru ini menggunakan cara yang berbeda dari sebelumnya.

“Seperti Bang Saut bilang tadi, sebuah genre itu kan muncul karena ada banyak epigon, ada banyak yang mengikuti genre tersebut. Ini memang banyak yang mengikuti, tapi kan mereka ini dibayar untuk menulis seperti itu,” kata Setyo.

Menurutnya, cara tersebut merupakan cara yang dipakai politikus atau pebisnis untuk meraih sesuatu. Namun, cara tersebut tidak pantas dilakukan dalam ranah kesenian dan kebudayaan. Alasannya, menurut Setyo, kebudayaan bergerak tidak dengan paksaan seperti itu, melainkan dengan cara yang alami.

Setyo juga mengatakan bahwa debat sastra ini merupakan fenomena yang menarik dan langka. “Ini belum pernah terjadi di Indonesia, sampai-sampai meluber ke jalanan. Namun sayangnya, Denny JA sendiri tidak hadir. Harusnya ya dia datang, face to face dengan publik sastra,” kata Setyo.

Artikel Selanjutnya
Generasi Milenial Jauh dari Buku, Ini Kata Maestro Sastra
Artikel Selanjutnya
Tolak Denny JA, Pegiat Sastra Datangi Balai Bahasa Jawa Barat