Makan Bergizi Perlu Dilengkapi Standar Kecukupan Gizi Makro

Makan bergizi perlu dilengkapi dengan contoh resep masakan yang disusun berdasarkan angka kecukupan gizi makro

Diperbarui 16 Mei 2025, 09:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Surabaya Dosen Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Paramita Viantry menyebutkan kondisi permasalahan gizi di Indonesia beragam.

Beberapa diantaranya ialah meliputi kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, serta kelebihan berat badan atau obesitas.

“Program MBH merupakan upaya untuk meningkatkan status gizi masyarakat melalui perluasan akses terhadap makanan bergizi seimbang, serta pemenuhan kebutuhan energi, zat gizi makro dan mikro,” ucap Paramita saat soasialisasi MBG di Surabaya, Selasa (13/5/2025).

Menurutnya, program MBG mengacu pada standar gizi, standar makanan, prinsip umum keamanan pangan. Dilengkapi dengan contoh resep masakan yang disusun berdasarkan angka kecukupan gizi makro untuk setiap kelompok sasaran. 

Penyusunannya dilakukan dengan menerapkan prinsip gizi seimbang dan memanfaatkan pangan lokal. Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina menyampaikan tujuan program MBG diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi generasi mendatang, khususnya dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. 

“Mari kita dukung dan sukseskan program ini bersama Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bagian dari upaya bersama mewujudkan Generasi Emas 2045 yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi,” tutur Arzeti.

Tenaga Ahli BGN Imam Bachtiar Farianto juga memastikan bahwa makanan yang disajikan sudah sesuai dengan standar gizi yang ditetapkan termasuk kebutuhan akan protein, vitamin, mineral, dan energi yang mencukupi. 

Peluang

“Menu makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disusun berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan standar gizi yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional, guna memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi secara optimal bagi setiap penerima manfaat,” ujarnya.

Bukan hanya gizi, program MBG juga dirancang untuk membuka peluang kerja bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Tenaga operasional dapur direkrut dari warga setempat, sehingga keberadaan SPPG tidak hanya berkontribusi pada peningkatan status gizi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi komunitas sekitar.

“Saat ini, telah beroperasi delapan SPPG di Kota Surabaya. Jumlah ini diharapkan terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap program ini,” ungkap Imam.