Kemenag: Spirit Kiai Wahab Hasbullah Relevan Perkuat Pesantren

Menag menekankan pentingnya meneladani pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam membangun pendidikan Islam yang moderat.

Diterbitkan 16 Mei 2026, 15:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir secara virtual dalam kegiatan bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI bertema The Mastermind of Movement: Mengupas Tuntas Seni Kepemimpinan Inklusif dan Dialektika Moderasi.

Menurut dia, bedah buku menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai salah satu tokoh penting pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus penggerak kebangsaan Indonesia.

“Jika dahulu KH. Abdul Wahab Hasbullah menggunakan organisasi dan diplomasi untuk menjaga bangsa, maka hari ini kita harus menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga kedaulatan bangsa serta martabat kemanusiaan,” ujar Menag secara daring di UIN Jurai Siwo Lampung, Sabtu (16/5/2026).

Menag pun menekankan pentingnya meneladani pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam membangun pendidikan Islam yang moderat, adaptif, dan relevan terhadap perkembangan zaman.

Selain itu, Menag juga menyampaikan, pesantren merupakan institusi pendidikan asli Indonesia yang telah teruji oleh zaman dan memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa serta mencetak kader pemimpin berjiwa nasionalisme dan keislaman. Karena itu, pemerintah saat ini tengah memperkuat kelembagaan pesantren melalui transformasi Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama.

"Langkah tersebut dilakukan agar pesantren tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga berkembang sebagai pusat inovasi, pemberdayaan ekonomi umat, dan institusi pendidikan yang mampu bersaing secara global," yakin Menag.

 

Kontribusi Pesantren

Senada dengan itu, Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menyampaikan, sejarah perjuangan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pesantren dan tokoh-tokoh besar seperti Kiai Wahab Hasbullah.

“Ketika berbicara tentang Indonesia dan pesantren, maka tidak lengkap jika tidak membicarakan Kiai Wahab Hasbullah. Beliau bukan hanya pendiri organisasi, tetapi juga pemikir kebangsaan yang menjaga keutuhan Indonesia melalui pendekatan keagamaan yang moderat,” kata Basnang.

Dia memastikan, warisan pemikiran Kiai Wahab masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan intoleransi, kekerasan, dan fragmentasi sosial di Indonesia saat ini.

Sementara itu, perwakilan keluarga besar KH. Wahab Hasbullah, Ita Rahmawati, menyebut Kiai Wahab sebagai “arsitek dialektika moderasi” yang mampu memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan dalam satu napas perjuangan.

“Kiai Wahab mengajarkan bahwa moderasi bukan berarti kehilangan pendirian, tetapi kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas,” ujarnya menutup.

 

Membangun Gerakan Sosial-Keagamaan

Sebagai informasi, bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah mengulas kepemimpinan Kiai Wahab melalui pendekatan The Mastermind of Movement, yang menggambarkan kemampuan beliau membangun gerakan sosial-keagamaan secara inklusif, strategis, dan visioner.

Diketahui, Kiai Wahab Hasbullah dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Ia juga berperan besar dalam perjuangan Komite Hijaz serta menggagas gerakan intelektual dan kebangsaan seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan.

Sebagai tuan rumah, Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, mengatakan forum tersebut menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali spirit perjuangan ulama pesantren dalam membangun Indonesia.

“Bedah buku ini bukan sekadar membaca sejarah tokoh, tetapi memahami bagaimana pemikiran Kiai Wahab Hasbullah menjadi fondasi moderasi, pendidikan, dan kecintaan terhadap NKRI. Spirit itulah yang penting diwariskan kepada generasi muda,” ujar Ida.

Total, 1.500 peserta hadir dari kalangan pesantren, akademisi, mahasiswa, organisasi keagamaan, dan pemerintah daerah. Forum tersebut juga diwarnai penguatan komitmen bersama dalam kampanye “Pesantren Stop Kekerasan” sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan pesantren yang aman, inklusif, dan humanis.