Gus Ipang Wahid Dorong Santri Wajib Kuasai Komunikasi Digital

Ia ingin santri maupun kader muda NU membangun kemampuan komunikasi digital yang relevan dengan perkembangan zaman.

Diterbitkan 16 Mei 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan pola konsumsi informasi teknologi masyarakat telah mengubah wajah dakwah dan komunikasi publik secara total. Dahulu dakwah bertumpu pada mimbar dan panggung, kini perhatian masyarakat lebih banyak berada pada layar handphone.

Praktisi Komunikasi Politik, Irfan Asy'ari Sudirman Wahid, mengatakan, generasi muda saat ini hidup di era algoritma. Hal itu dapat dilihat dari media sosial, short video, podcast, hingga artificial intelligence (AI), mempengaruhi cara berpikir, berinteraksi, hingga cara masyarakat membentuk opini.

“Dunia ke depan akan bersandar pada media yang ada dalam genggaman tangan. Karena itu santri harus menguasai media dan komunikasi digital,” ujar pria yang kerap di sapa Gus Ipang Wahid pada kegiatan PMKNU Cirebon, bersama KH Imam Jazuli dan Gus Miftah yang turut menjadi bagian dari forum kaderisasi kepemimpinan NU, Sabtu (16/5/2026).

Gus Ipang Wahid menjelaskan, berdasarkan data BPS dan APJII, penetrasi internet Indonesia pada 2025 mencapai lebih dari 80 persen populasi. Penggunaan internet terbesar di dominasi dari Generasi Z dan milenial.

“Sebagian besar masyarakat mengakses internet melalui smartphone,” jelas Gus Ipang Wahid.

Gus Ipang Wahid menilai, kondisi tersebut membuat dakwah masa depan harus mampu hadir di ruang-ruang digital yang digunakan generasi muda sehari-hari. Hal itu dapat dimanfaatkan santri memberikan dakhwah kepada masyarakat melalui media teknologi.

“Kalau anak muda hari ini hidupnya di TikTok, Instagram, YouTube, podcast, dan short video, maka dakwah juga harus hadir di sana,” ucap Gus Ipang Wahid.

 

Tantangan Baru

Gus Ipang Wahid turut menyoroti tantangan baru di era digital seperti post-truth, echo chamber, deep fake, hingga manipulasi informasi berbasis algoritma yang dapat mempengaruhi persepsi publik secara masif.

“Santri tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, namun harus mampu menjadi produsen narasi dan konten yang sehat, positif, dan mencerahkan,” terang Gus Ipang Wahid.

Melihat hal tersebut, Gus Ipang Wahid meminta santri tidak menjadi penonton. Santri diharapkan dapat mengambil bagian dalam memberikan dakwah melalui media komunikasi digital.

“Santri harus jadi kreator, komunikator, sekaligus penjaga nilai di tengah banjir informasi,” ungkap Gus Ipang Wahid.

Gus Ipang Wahid melalui PMKNU, meminta kader muda NU memahami perubahan lanskap media.

“Kami ingin santri maupun kader muda NU membangun kemampuan komunikasi digital yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai, etika, dan tradisi pesantren,” pungkas Gus Ipang Wahid.