Liputan6.com, Jakarta - Ungkapan “Sepi ing pamrih, rame ing gawe dalam ajaran Sunan Kalijaga” merupakan falsafah hidup yang sarat makna spiritual dan sosial. Ajaran ini mengajarkan pentingnya bekerja dengan tulus dan penuh dedikasi tanpa mengharapkan balasan materi atau pujian dari manusia.
Dalam filosofi Sunan Kalijaga, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” menjadi panduan moral untuk membangun kehidupan yang harmonis, selaras antara hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesama. Prinsip ini mencerminkan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga melalui pendekatan budaya Jawa.
Secara harfiah, “sepi ing pamrih” bermakna menenangkan hati dari pamrih duniawi, sementara “rame ing gawe” berarti giat dan bersemangat dalam bekerja. Dua unsur ini membentuk keseimbangan antara keheningan batin dan gerak aktif dalam kehidupan sosial.
Advertisement
Filosofi ini juga berkaitan erat dengan konsep memayu hayuning bawana—yakni usaha untuk memperindah dan menyejahterakan dunia. Bekerja bukan semata untuk diri sendiri, melainkan demi kebaikan bersama.
Makna Ketulusan dalam Ajaran Jawa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4297681/original/061257900_1674226530-shutterstock_1015402234.jpg)
“Sepi ing pamrih” mengajarkan agar seseorang bekerja dengan keikhlasan penuh. Tidak mencari nama, jabatan, ataupun imbalan. Justru dengan menahan diri dari ambisi pribadi, seseorang dapat menumbuhkan ketenangan batin yang sejati.
Sementara “rame ing gawe” mendorong semangat gotong royong. Nilai ini menjadi pondasi sosial masyarakat Jawa yang menghargai kebersamaan dan kerja kolektif.
Dalam masyarakat tradisional, nilai-nilai ini diwujudkan melalui praktik kerja bakti, tolong-menolong, dan sikap hormat terhadap sesama tanpa pamrih. Semua dilakukan demi kemaslahatan bersama.
Budayawan Agus Warianto menjelaskan bahwa pepatah ini mendidik orang Jawa agar bekerja giat tanpa pamrih berlebihan. “Pamrih yang berlebihan bisa mendorong seseorang menghalalkan segala cara,” ujarnya dalam salah satu diskusi budaya di Solo.
Advertisement
Keterkaitan dengan Ajaran Islam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374406/original/051837800_1679988684-rachid-oucharia-2d1-OSHkHXM-unsplash.jpg)
Sunan Kalijaga menyampaikan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal. “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” sejatinya adalah penerapan konsep ikhlas sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Dalam kitab Qut al-Qulub, Syekh Abu Thalib al-Makki menulis, “Inti amal adalah niat yang ikhlas. Amal tanpa ikhlas ibarat kelapa tanpa isi, raga tanpa nyawa.” Ajaran ini sejalan dengan nilai yang diajarkan Sunan Kalijaga.
Ikhlas menjadi roh dari setiap amal. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun tidak bernilai di sisi Allah. Karena itu, Sunan Kalijaga menanamkan ajaran ini agar masyarakat tidak bekerja hanya demi penilaian manusia.
Budayawan Bambang Supriyono menambahkan, “Ikhlas adalah beramal tanpa berharap apa pun selain ridha Allah. Konsistensi niat harus ada sebelum, selama, dan sesudah beramal.”
Implementasi Sosial dan Spiritualitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4830372/original/038035000_1715592365-quran-being-held-hands-close-up.jpg)
Dalam konteks sosial, ajaran ini menginspirasi sikap dermawan, toleran, dan rendah hati. Orang yang “sepi ing pamrih” tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain.
Sedangkan mereka yang “rame ing gawe” aktif membantu dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Sikap ini menjadikan komunitas Jawa dikenal dengan budaya guyub rukun.
Dalam praktik keseharian, ajaran ini tampak pada perayaan adat, kegiatan sosial, hingga tata laku kerja yang mengutamakan hasil bersama daripada keuntungan pribadi.
Prinsip ini juga mendorong masyarakat untuk bekerja tanpa menunggu imbalan—selama hal itu memberi manfaat dan kemaslahatan.
Advertisement
Nilai Filosofis dan Keagamaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4296406/original/040935300_1674128669-shutterstock_1531607876.jpg)
Ayat dalam Q.S. Asy-Syura ayat 20 menegaskan makna ajaran tersebut:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari dunia, namun di akhirat ia tak memperoleh bagian.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa orientasi hidup harus mengarah kepada Allah, bukan sekadar duniawi. Sunan Kalijaga mengajarkan agar umatnya menanamkan niat lillahi ta’ala dalam setiap amal.
Dengan begitu, bekerja dan berbuat baik menjadi bagian dari ibadah, bukan sekadar rutinitas sosial. Inilah wujud nyata dari rame ing gawe yang tidak lepas dari sepi ing pamrih.
Ajaran ini terus diwariskan melalui tembang Jawa, seperti “Lir Ilir” dan “Ilir-Ilir,” yang sarat pesan spiritual untuk membangkitkan semangat bekerja dan beribadah dengan tulus.
Warisan Sunan Kalijaga dalam Kehidupan Modern
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4546777/original/017676800_1692679386-21560074_6479354.jpg)
Nilai “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” tetap relevan di era modern. Di tengah budaya kompetitif dan materialistis, ajaran ini mengingatkan manusia untuk kembali kepada ketulusan.
Dalam dunia kerja, semangat ini bisa diterapkan dengan menjunjung etika, integritas, dan tanggung jawab sosial. Setiap profesi, sekecil apa pun, memiliki nilai jika dilakukan dengan ikhlas.
Dalam kehidupan masyarakat, ajaran ini juga menjadi pedoman untuk mencegah sikap individualistik yang makin marak. Kerja sama dan kepedulian sosial perlu ditumbuhkan kembali.
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe dalam ajaran Sunan Kalijaga” bukan sekadar pepatah Jawa, melainkan panduan spiritual yang membentuk karakter manusia paripurna—tulus dalam niat, giat dalam amal.
Selama manusia masih berpegang pada ajaran ini, maka kehidupan akan tetap seimbang: hati yang tenang, masyarakat yang rukun, dan dunia yang damai.
Advertisement
People Also Talk
1. Apa arti sebenarnya dari “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”?Artinya adalah bekerja dengan tulus tanpa pamrih, namun tetap aktif dan giat dalam berbuat kebaikan.
2. Siapa yang memperkenalkan ajaran ini?Ajaran ini diasosiasikan dengan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Sanga yang terkenal menggunakan budaya Jawa sebagai media dakwah.
3. Bagaimana kaitannya dengan ajaran Islam?Filosofi ini mencerminkan nilai keikhlasan (ikhlas) dan kerja keras yang diajarkan dalam Islam.
4. Apa manfaat menerapkan ajaran ini di masa kini?Ajaran ini membantu membentuk pribadi yang tulus, beretika, dan memiliki tanggung jawab sosial tinggi.
5. Bagaimana cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari?Dengan meniatkan setiap pekerjaan karena Allah, bekerja dengan jujur, dan memberi manfaat bagi orang lain tanpa berharap balasan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5567468/original/050020200_1777282004-cek_fakta_alsintan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4536545/original/069114500_1691974925-cek_fakta_satir_ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299087/original/053914000_1784192454-cek_fakta_-_Sherly_Tjoanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4691763/original/031604000_1702982141-Serangan_macan_tutul_melukai_tiga_orang_di_Guwahati-AP__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298224/original/042744300_1784155877-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4887995/original/062540200_1720596126-AP24190447290414.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264050/original/062227400_1782063258-063_2282639788.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298238/original/090944000_1784161387-messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4893064/original/098068400_1721122752-FotoJet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297435/original/065011900_1784091222-000_C27U8NQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298223/original/011449900_1784155410-063_2286282854.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288267/original/024620600_1783308427-eng10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5936533/original/005039500_1778833892-063_2276293040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298567/original/084606300_1784174337-000_C2B89X9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298444/original/012761000_1784171006-Argentina_s_Leandro_Paredes__5__falls_as_he_battles_for_the_ball_with_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6467310/original/074652300_1779329364-perayaan-tahun-baru-islam-jawa-di-surakarta-kembali-beda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3214081/original/074063100_1597893428-ramadan-2366301_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258005/original/098217100_1781274255-a02bde8a-5408-4394-96ba-968c51077929.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5210970/original/079171200_1746521381-4030a27f-cf92-4a92-baa9-034b02eeb77e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5507757/original/Rinnai_RI-301S_dan_RI-511C_karena_Teknologi_Pembakaran_Efisien_Rinnai_menjadi_salah_satu_merek_yang_konsisten_masuk_daftar_rekomendasi_2026._Model_RI-301S_dan_RI-511C_dikenal_memiliki_burner_berku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4837148/original/057742900_1716182391-haji.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5933770/original/078360100_1778831227-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5147777/original/080836800_1740973885-cac3366a-77d9-4654-a09b-f2ed915290f9.jpg)