Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan jauh (safar) menjadi hal umum di era modern. Mudik, silaturahmi atau kepentingan lain dalam jarak cukup jauh begitu mudah dengan perkembangan teknologi transportasi masa kini. Bagi umat Islam, penting untuk mengetahui doa shalat safar.
Merujuk Buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah shalat safar, yaitu shalat sunnah yang dilakukan sebelum melakukan perjalanan jauh, termasuk safar haji atau umrah.
Advertisement
Disebutkan dalam hadits: "Sungguh, Nabi Muhammad saw tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan shalat dua rakaat (HR Anas bin Malik).
Dalam kitab Fathul Bari (2/75), Ibnu Hajar memuat hadis ini dan menyebutkan bahwa shalat dua rakaat ketika tiba atau meninggalkan suatu tempat adalah sunnah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Namun, sebagian ulama menilai hadis ini ada kelemahan dalam sanadnya, tetapi banyak riwayat yang menguatkannya.
Doa Shalat Safar: Bacaan Niat, Tata Cara dan Kesunnahannya
Untuk melaksanakan shalat safar, seorang muslim harus mengetahui bacaan niat shalat safar. Sebab, inilah awal dalam rukun yang menentukan sah tidaknya shalat tersebut.
Berikut ini adalah bacaan niat shalat safar yang dibaca:
أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Ushalliî sunnatas safari rak’ataini lillâhi ta’âla
Artinya: Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’âla.
Advertisement
Tata Cara Shalat Safar dan Kesunnahannya
Merujuk Buku Tuntunan Sholat Lengkap Dzikir dan Doa-Doa Mustajabah karya Ustadz Abu Quro, pelaksanaan shalat Safar tidak jauh berbeda dengan shalat sunnah lainnya, meliputi syarat sah dan rukun sholat.
Sebelum sholat seseorang harus berwudhu terlebih dahulu, menutup aurat.
Berikut ini Tata Cara Shalat Safar merujuk Rukun Shalat dalam Kitab Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Samir Al-Hadhrami:
Rukun dan tata cara salat 2 rakaat
- Rakaat pertama
- Niat: Niat di dalam hati untuk salat yang akan dikerjakan, misalnya salat Dzuhur 2 rakaat.
- Takbiratul Ihram: Mengangkat tangan sambil mengucapkan "Allahu Akbar" untuk memulai salat.
- Berdiri: Berdiri tegak jika mampu.
- Membaca Fatihah: Membaca surat Al Fatihah setelah takbiratul ihram (dan doa iftitah jika disunnahkan).
- Rukuk: Melakukan rukuk dengan membaca "Subhana rabbiyal adhim" tiga kali.
- I'tidal: Berdiri tegak setelah rukuk dengan membaca "Sami'allahu liman hamidah".
- Sujud: Melakukan sujud dua kali dengan membaca "Subhana rabbiyal a'la".
- Duduk di antara dua sujud: Duduk sejenak sambil membaca doa.
- Thuma'ninah: Berdiam sejenak (tenang) di setiap gerakan seperti rukuk, i'tidal, dan sujud.
Rakaat kedua
- Bangkit dari sujud: Setelah selesai duduk di antara dua sujud, bangkit kembali untuk melanjutkan ke rakaat kedua.
- Membaca Fatihah: Membaca surat Al Fatihah kembali.
- Rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud: Lakukan seperti pada rakaat pertama.
- Tasyahud akhir: Setelah sujud terakhir di rakaat kedua, duduk untuk membaca tasyahud akhir.
- Salam: Mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri untuk mengakhiri shalat.
- Niat: Berniat dalam hati untuk melaksanakan shalat sunnah safar dua rakaat.
Catatan penting:
Merujuk Al-Majmu, Imam Nawawi menganjurkan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama setelah surat Al-Fatihah, dan surat Al-Ikhlas pada Rakaat kedua setelah Surat Al-Ikhlas.
Dasar Kesunnahan Surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam Shalat Safar
Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan, bahwa bacaan surah setelah Al-Fatihah dalam sholat sunnah tidak ditentukan, tetapi dianjurkan mengikuti bacaan sunnah Nabi SAW, yaitu Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam dua rakaat sunnah.
“Disunnahkan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua, baik dalam shalat sunnah maupun fardhu dua rakaat,” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab)
Dasarnya adalah hadis berikut ini:
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika shalat dua rakaat di perjalanan (safar), beliau membaca pada rakaat pertama:قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَdan pada rakaat kedua:قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ.” (HR. Tirmidzi no. 546; beliau berkata: “Hasan shahih,” juga diriwayatkan oleh Nasa’i no. 992, dan Ibnu Majah no. 1157)
Dalam riwayat Abu Hurairah RA:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ: {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} وَ {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ}
Artinya: "Rasulullah SAW pada dua rakaat sebelum Subuh membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas. (HR Muslim: 726; Abu Dawud: 1256; Nasai: 945; Ibnu Majah: 1148)
dan Hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud RA:
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَا أُحْصِي مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ, وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ بِـ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} وَ {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ}
Artinya: Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: Tidak terhitung aku mendengar Rasulullah saw. setelah Maghrib dan sebelum Subuh pada dua rakaatnya membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas. (HR Tirmidzi: 431; Ibnu Majah: 1166; Thabrani dalam Ausath: 5767; Abu Ya’la dallam Musnad: 5049)
Advertisement
Doa setelah Shalat Safar
Tidak ada doa secara khusus setelah pelaksanaan shalat safar. Kita bisa berdoa sesuai keperluan masing-masing. Hanya saja, yang terpenting dalam doa ini adalah memohon pertolongan, taufiq, hidayah, keselamatan, dan kesehatan selama bepergian. Merujuk Al-Maj'mu, setelah shalat dua rakaat selesai, dianjurkan membaca Doa-doa berikut ini:
1. Ayat Kursi
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Artinya: Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung (QS al-Baqarah: 255).
Keuntungan membaca ayat Kursi di atas, sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar lin Nawawi, adalah keselamatan selama perjalanan dan tidak akan tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan sampai ia selesai dari perjalanannya (Imam Nawawi, al-Adzkar lin Nawawi, [Bairut: Darul Minhaj, 2010], h. 216).
2. Membaca Surat Quraisy
لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ
Artinya: Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (sehingga mendapatkan banyak keuntungan), maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut (QS Quraisy: 1-4).
Menurut Imam Nawawi, dua bacaan di atas sangat penting untuk dibaca setelah melakukan shalat sunnah safar, keduanya mempunyai keberkahan yang sangat besar dalam hal apa pun, keberkahan itu tidak terbatas oleh waktu dan keadaan.
3. Doa Setelah Shalat Safar
Imam Nawawi menganjurkan membaca doa berikut:
اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ
Artinya: Ya Allah, hanya kepada-Mu aku meminta tolong, hanya kepada-Mu aku berpasrah. Tuhanku, tundukkanlah bagiku segala kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkan urusanku. Ya Allah, aku meminta penjagaan dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku, dan semua yang telah Kauberikan kepadaku, baik kebaikan ukhrawi maupun duniawi. Lindungilah kami dari segala kejahatan, wahai Dzat Yang Mahapemurah. Pada bacaan doa di atas, ia dianjurkan untuk memulai dan mengakhirinya dengan bacaan tahmid (alhamdulillah) disertai dengan bacaan shalawat kepada Rasulullah saw.
4. Doa saat Hendak Berangkat
Setelah doa tersebut selesai, dan hendak pergi, ia dianjurkan membaca doa yang biasa Rasulullah baca sebelum berangkat bepergian, yaitu:
اَللهم إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ أَعْتَصَمْتُ، اَللهم اكْفِنِيْ مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ لَهُ، اَللهم زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَوَجِّهْنِيْ لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ
Artinya: Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap dan hanya kepada-Mu aku berlindung. Tuhanku, cukupilah aku dari segala yang membuatku bimbang dan segala yang tidak kubimbangkan. Tuhanku, bekalilah diriku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan hadapkan diriku pada kebaikan di mana saja aku menghadap (Imam Nawawi, al-Adzkar lin Nawawi, 2010, halaman 217).
Waktu Pelaksanaan Shalat Safar
Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab menyatakan, shalat safar hanya disunnahkan bagi orang-orang yang hendak bepergian, dan boleh dilakukan di waktu apa pun.
Dalam artikel berjudul 'Tata Cara Shalat Safar saat Hendak Bepergian' Ustadz Sunnatullah menjelaskan, waktu pelaksanaan shalat sunnah safar cukup fleksibel, yakni bisa dilaksanakan di waktu apapun dan kapan pun.
"Artinya, ia boleh melakukan di malam hari maupun siang hari," tulis Sunnatullah mengutip pendapat Imam An-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarhil Muhadzdzab.
Shalat safar dilakukan sebagai wujud permohonan seorang hamba kepada Tuhan-Nya agar diberikan hidayah, pertolongan, dan keselamatan selama perjalanan.
Advertisement
Keutamaan Shalat Safar
Berikut adalah keutamaan-keutamaan shalat safar (shalat dua rakaat sebelum perjalanan) menurut penjelasan para ulama dan sumber-sumber klasik maupun kontemporer:
1. Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad saw
Nabi Muhammad saw dikenal melakukan shalat dua rakaat sebelum memulai perjalanan (safar). Hal ini diriwayatkan dalam beberapa hadis, di antaranya dari Anas bin Malik. Orang yang melakukannya berarti menghidupkan dan meneladani sunnah Nabi.
2. Memohon Perlindungan dan Keberkahan
Shalat safar sebelum perjalanan merupakan bentuk permohonan perlindungan kepada Allah dari segala bahaya, marabahaya, dan gangguan selama perjalanan, serta memohon agar perjalanan diberi keberkahan dan kemudahan.
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan, shalat ini dianjurkan sebagai bentuk meminta penjagaan Allah atas diri, keluarga, dan harta yang ditinggalkan.
3. Mendapatkan Pahala Shalat Sunnah
Shalat safar dua rakaat termasuk dalam shalat sunnah yang berpahala besar, terutama karena dilakukan pada waktu-waktu penting (yakni sebelum keluar rumah untuk safar).
Setiap shalat sunnah merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah, dan menjadi sebab diampuni dosa-dosa kecil.
4. Menentramkan Hati dan Menguatkan Niat Baik
Shalat safar sebelum perjalanan menentramkan hati musafir, memperkuat niat baik, serta menjadi momen introspeksi dan tawakkal kepada Allah sebelum menghadapi perjalanan yang penuh risiko.
5. Menjadi Sebab Dikabulkannya Doa
Shalat safar diiringi dengan doa safar, dan waktu menjelang safar adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Dengan shalat dua rakaat dan berdoa, seseorang lebih dekat kepada dikabulkannya permintaan.
6. Dicatat Sebagai Amalan Kebaikan
Setiap kebaikan yang dilakukan sebelum memulai aktivitas besar seperti safar, termasuk shalat, akan dicatat sebagai amal saleh yang bermanfaat di dunia dan akhirat.
People Also Ask
1. Apa doa salat safar?
Doa shalat Safar: Tuhanku, tundukkanlah bagiku segala kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkan urusanku.
2. Sholat safar baca surat apa?
Niat: Berniat dalam hati untuk melaksanakan shalat sunnah safar dua rakaat. Pelaksanaan Shalat: Rakaat pertama: Membaca surat Al-Fatihah, lalu surat Al-Kafirun. Rakaat kedua: Membaca surat Al-Fatihah, lalu surat Al-Ikhlas.
3. Bagaimana bunyi doa safar?
Arab latin: Allaahumma hawwin 'alainaa safaranaa hadzaa wathwi 'annaa bu'dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl. Artinya: "Ya Allah, mudahkanlah kami bepergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya.
4. Doa safar dibaca kapan?
Doa ini singkat tapi memiliki makna yang dalam. Bisa dibaca kapan saja selama perjalanan, terutama saat memasuki tempat asing, gelap, atau saat hati merasa tidak tenang. Doa ini menjadi sebuah bentuk ikhtiar spiritual agar perjalanan tetap aman dan dijauhkan dari mara bahaya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308116/original/010825900_1785129339-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T121435.797.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321375/original/053314000_1786440887-cek_fakta_-_cpns_menpan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312818/original/023895500_1785560927-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_12.01.08.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5134529/original/089698800_1739622825-20250215-Prabowo-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5380782/original/010405500_1760432989-Sholat_Berjamaah_dengan_Qunut.jpg)