Bacaan Doa Iftitah Muhammadiyah dan NU, Lengkap Beserta Hukum dan Keutamaannya

Ketahui bacaan doa iftitah dalam salat lengkap beserta arti dan keutamaannya agar salatmu lebih khusyuk.

Diperbarui 25 November 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bacaan doa iftitah bagi setiap umat Islam tentu sudah tidak asing lagi. Bagaimana tidak, doa iftitah sendiri umumnya dibaca saat sedang menunaikan salat. Doa iftitah merupakan salah satu sunnah yang dilaksanakan dalam salat.

Meskipun tidak termasuk dalam rukun salat, doa ini sangat dianjurkan untuk ditunaikan oleh umat Islam. Sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah SAW, doa iftitah dapat dilafalkan dalam dua versi, yaitu doa iftitah pendek dan doa iftitah panjang. Selain itu, umat Islam juga sering melengkapi ibadahnya dengan amalan lain seperti doa setelah sholat fardhu maupun doa sujud syukur sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan perlindungan kepada Allah. Simak bacaan doa iftitah dalam salat lengkap beserta keutamaannya.

 

Bacaan Doa Iftitah

Berikut bacaan doa iftitah yang umum dilafalkan umat muslim di Indonesia. 

Bacaan Doa Iftitah dari Nahdlatul Ulama (NU)

1. Bacaan Doa Iftitah Pertama

َللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا

Allahu akbar, kabirau walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukrotaw washila

Artinya: "Allah maha besar, maha sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah, pujian yang sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan petang."

2. Bacaan Doa Iftitah Kedua

أنى وجهت وجهي للذى فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين

Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal arha hanifam muslimaw wa ma ana minal musyrikin

Artinya: "Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit dan bumi dalam keadaan lurus dan pasrah. Dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah."

3. Bacaan Doa Iftitah Ketiga

اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ

Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin la syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin.

Artinya: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan Semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya. dan begitulah aku diperintahkan dan aku dari golongan orang muslim."

Bacaan Doa Iftitah dari Muhammadiyah

1. Bacaan Doa Iftitah dan Artinya Pertama

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Allaahumma baa’id bainii wabainaa khotoo yaa ya kamaa baa ‘adta bainal masyriqi wal maghrib

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan di antara kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat."

2. Bacaan Doa Iftitah dan Artinya Kedua

اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَس

Allaahumma naqqinii minal khotoo yaa kamaa yunqqots tsaubul abyadhuu minaddanas

Artinya: "Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran."

3. Bacaan Doa Iftitah dan Artinya Ketiga

اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allaahummaghsil khotoo yaa ya bil maa i wats tsalji walbarod.

Artinya: "Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun."

 

Hukum, Syarat dan Waktu Mengamalkan Doa Iftitah

Hukum membaca doa iftitah dalam salat adalah sunnah. Itu artinya salat akan tetap sah walaupun umat Islam tidak membaca doa iftitah saat salat. Akan tetapi, doa iftitah juga sangat dianjurkan untuk dibaca. Hal ini lantaran doa iftitah memiliki segudang keutamaan dan pahala di dalamnya.  Selain membaca doa iftitah, umat Islam juga sering menunaikan amalan lain seperti doa sholat hajat untuk memohon pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Kitab Minhajul Muslim menjelaskan bahwa membaca doa iftitah termasuk sunnah ghairu muakkad, atau sunnah yang tidak terlalu ditekankan. Pandangan ini juga sejalan dengan pendapat para ulama Syafi’iyah.

Dalil tersebut diperkuat oleh hadits riwayat Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW biasa berdiam sejenak antara takbir dan bacaan Al-Fatihah, dan ketika ditanya, beliau menyebutkan bacaan doa iftitah.

Walaupun terdapat berbagai versi doa iftitah, Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Ashlu Shifati Shalaatin Nabiyyi shalallahahu 'alaihi wa sallam menyebutkan, doa iftitah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim merupakan yang paling shahih dari segi sanadnya. Itu menunjukkan pentingnya merujuk pada hadits-hadits yang sahih dalam praktik ibadah.

Syarat Sunah Doa Iftitah

Penting untuk umat Islam memahami syarat sunah doa iftitah. Adapun syarat sunnah melafalkan doa iftitah adalah sebagai berikut:

1. Salat Selain Salah Jenazah

Pada salat fardhu maupun salat sunnah atau salat jamaah, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa iftitah. Akan tetapi, jika mengerjakan salat jenazah maka doa iftitah tidak dilafalkan. 

2. Waktu yang Cukup

Sebagaimana diketahui, doa iftitah dilafalkan selepas takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Karena itu, waktu yang cukup untuk melafalkan doa iftitah yaitu sebelum membaca Al-Fatihah pada rakaat pertama salat. Apabila waktu dirasa tidak cukup, maka doa iftitah dapat tidak dibaca dan langsung membaca Al-Fatihah.

3. Khawatir Tertinggal Salat Jamaah

Apabila Anda sebagai makmum salat berjamaah telat, di mana Imam salat telah membaca surat, maka Anda dapat meninggalkan doa iftitah. Hal ini dinilai lebih baik dibanding dengan membaca doa iftitah dengan tergesa-gesa.

4. Makmum Tidak Menjumpai Imam Selain Posisi Berdiri

Apabila Anda sebagai makmum dalam shalat, tidak diperkenankan untuk menjumpai imam dalam posisi selain berdiri. Sehingga, jika Imam tengah mengerjakan ruku maupun sujud, maka Anda harus menunggu Imam untuk kembali berdiri sebelum dapat melanjutkan salat. Anda kemudian baru diperkenankan membaca doa iftitah.

Waktu yang Tepat Membaca Doa Iftitah dalam Salat

Umat Islam memahami bahwa doa iftitah dilafalkan pada awal mengerjakan salat. Atau lebih tepatnya selepas takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah. Posisi ini menjadi ketentuan umum dalam salat fardhu maupun sunnah.

Hal ini lantaran untuk memastikan setiap ibadah akan dimulai dengan mengagungkan Allah SWT. Selain berperan dalam salat fardhu, doa iftitah juga memiliki kedudukan istimewa dalam salat malam (qiyamul lail). 

Dalam sebuah riwayat, Aisyah r.a. menyampaikan bahwa Rasulullah SAW membuka salat malamnya dengan bacaan doa iftitah. Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa doa iftitah dianjurkan dibaca saat salat malam untuk menumbuhkan rasa khusyuk.

 

Keutamaan Doa Iftitah

Sebagai doa pembuka, doa iftitah memiliki begitu banyak keutamaan. Khususnya bagi umat Islam yang melakukan atau menunaikannya. Adapun keutamaan doa iftitah adalah sebagai berikut:

a. Pahala Amalan Sunnah

Hukum membaca doa iftitah dalam salat adalah sunnah alias tidak diwajibkan untuk dilafalkan saat salat. Sehingga, bagi umat Islam yang menunaikannya akan mendapatkan pahala lebih banyak. 

b. Diangkat oleh Malaikat

Saat umat Islam melafalkan doa iftitah dengan penuh harap dan khusyuk hanya kepada Allah SWT, para malaikat rupanya mendengarkan. Para malaikat ini juga akan menjadi saksi atas amal ibadah yang telah dilakukan oleh umat Islam. Kemudian, malaikat juga akan mendoakan kebaikan bagi setiap umat Islam yang membacanya. Bagi umat Islam yang membaca doa iftitah, para malaikat akan memintakan ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosanya.

c. Dibukanya Pintu Langit

Keutamaan doa iftitah lainnya adalah dibukanya pintu-pintu langit bagi umat Islam yang membacanya. Ini bahkan menjadi salah satu keutamaan dari doa iftitah yang paling menonjol. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.  Diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Ia mendengar Rasulullah SAW menyatakan kekaguman beliau terhadap bacaan "Allahu akbaru kabiro, walhamdulillahi katsiro wasubhanallahi bukrotan wa ashila" sebab doa ini mampu membuka pintu-pintu langit.

Bacaan Doa Iftitah Lainnya dalam Hadist

Rasulullah SAW mengajarkan beberapa versi doa iftitah yang bisa diterapkan oleh umat Islam. Di mana doa-doa iftitah ini sebagaimana diriwayatkan dalam sejumlah hadits. Adapun beberapa versi bacaan doa iftitah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

1. Doa Iftitah dari Aisyah RA:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

Subhanakalla humma wabihamdika watabarokasmuka wata’ala jadduka wala ilaha ghoiruka

Artinya: "Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau." (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ad-Daru Quthni)

2. Doa Iftitah dari Abu Said Al-Khudri RA (dengan sisipan Allahu Akbar Kabiro):

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

Subhanakalla humma wabihamdika watabarokasmuka wata’ala jadduka wala ilaha ghoiruka. Allahu Akbaru kabiro. A’udzubillahis sami’il alimi minas syaithonir rojim min hamzihi wanafkhihi wanaftsihi

Artinya: "Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Allah Maha Besar. Aku berlindung kepada Allah swt dari syaitan yang terkutuk, dari gurisannya, dari tiupannya dan dari hembusannya." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i)

3. Doa Iftitah dari Jabir RA:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ. وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Subhanakalla humma wabihamdika watabarokasmuka wata’ala jadduka wala ilaha ghoiruka. Wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawatiwal ardh, hanifan wama ana minal musyrikin, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin

Artinya: "Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku hadapkan wajahku kepada Allah Yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri dan aku bukan bagian dari orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu baginya dan dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku termasuk bagian dari orang-orang muslim." (HR. Al-Baihaqi)

4. Doa Iftitah dari Ibnu Umar RA (dengan Allahu Akbar Kabiro):

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Allahu akbaru kabiro, walhamdulillahi katsiro wasubhanallahi bukrotan wa ashila

Artinya: "Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang." (HR. Muslim)

5. Doa Iftitah dari Abu Hurairah RA:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allahumma ba’id baini wabaina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi walmaghrib. Allahumma naqqini minal khotoya kama yunaqqos tsaubul abyadhu minad danas. Allahummaghsil khothoyaya bilma’i was tsalji walbarodi

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari semua kesalahan sebagaimana Engkau mensucikan pakaian dari kotoran. Ya Allah, mandikanlah aku dengan air, salju dan embun." (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Doa Iftitah dari Ibnu Abbas RA (untuk shalat malam):

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيَّامُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ حَكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Allahumma lakal hamdu, anta nurus samawati wal ardh, walakal hamdu, anta qayyamus samawati wal ardh waman fihin, antal haq, waqaulukal haq, wawa’dukal haq, waliqa’ukal haq, waljannatul haq, wannaru haq, wassa’atu haq, allahumma laka aslamtu, wabika amantu, wailaika hakamtu, faghfirli ma qaddamtu wama akhkhartu wama asrartu wama a’lantu, antalladzi la ilaha illa anta

Artinya: "Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah pemberi cahaya langit-langit dan bumi. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau-lah pemelihara langit-langit dan bumi. Engkau adalah al-Haq (Dzat yang pasti wujudnya), janji-Mu benar, ucapan-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, dan hari kebangkitan itu benar (akan terjadi). Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku kembali, dan demi-Mu aku berdebat (terhadap para pengingkarmu), hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat dan yang belakangan kuperbuat, ampunilah apa yang aku rahasiakan dan apa yang kutampakkan. Engkaulah Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau." (HR. Ahmad)

7. Doa Iftitah dari Abu Salamah bin Abdurrahman RA (untuk shalat malam):

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allahumma rabba jibril wamika’il waisrafil, fathiris samawati wal ardh, ‘alimil ghaibi wasy syahadah, anta tahkumu baina ‘ibadika fima kanu fihi yakhtalifun, ihdini limakhtulifa fini minal haq bi idznika wainnaka latahdi ila shiratim mustaqim

Artinya: "Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus." (HR. Ibnu Majah)