Doa Tolak Hujan Teks Arab, Latin, dan Arti: Berlindung dari Musibah

Pahami berbagai bacaan doa tolak hujan dalam Islam, dari riwayat Nabi Muhammad SAW hingga Nabi Nuh AS. Ketahui pentingnya berdoa dan hukum pawang hujan.

Diterbitkan 24 September 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hujan adalah rahmat dari Allah SWT yang membawa kehidupan bagi seluruh makhluk di bumi. Namun, terkadang intensitas hujan yang tinggi dapat menimbulkan kekhawatiran dan potensi bencana alam.

Dalam ajaran Islam, terdapat anjuran untuk memanjatkan doa tolak hujan atau doa agar hujan berhenti ketika dirasa membawa kemudaratan. 

Mengutip dari buku Berdoa oleh Agus Mustofa (2009), dalam Islam, manusia diajarkan untuk meminta pertolongan dalam setiap situasi atau keadaan kepada Allah Swt. Termasuk ketika seseorang ingin cuaca hujan berhenti dan berganti menjadi cuaca yang cerah. 

Berikut Liputan6.com ulas doa lengkapnya melansir dari buku Pemetaan dan Pemanfaatan Teks Terjemahan Al-Qur’an sebagai Materi Ajar oleh Markhamah, dkk. dan buku Sukses Dunia-Akhirat Dengan Doa-Doa Harian oleh Mahmud Asy-Syafrowi., Rabu (24/9/2025).

Bacaan Doa Tolak Hujan dari Berbagai Riwayat

Dalam Islam, terdapat beberapa bacaan doa yang dapat dipanjatkan ketika ingin memohon agar hujan berhenti atau dialihkan, serta doa-doa terkait hujan lainnya. Doa-doa ini bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW dan ayat-ayat Al-Qur'an.

  1. Doa dari Anas bin Malik (untuk mengalihkan hujan)

    Doa ini dipanjatkan ketika hujan dirasa terlalu lebat dan berpotensi menimbulkan bahaya, memohon agar hujan dialihkan ke tempat yang lebih membutuhkan. Doa ini diriwayatkan dalam HR Bukhari Muslim.

    اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَ

    Arab latin: Allahumma haawalaina wa laa 'alaina. Allahumma 'alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari.

    Artinya: "Ya Allah, turunkan lah hujan di sekitar kami, bukan yang untuk merusak kami. Ya Allah, turunkan lah hujan ke dataran tinggi, sebagian anak bukit, perut lembah, dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan."

  2. Doa dari Abu Daud dari Utsman bin Affan RA (untuk terhindar dari bahaya)

    Doa ini dapat dipanjatkan agar terhindar dari segala bahaya yang mungkin terjadi saat hujan. Doa ini diriwayatkan dalam HR Abu Daud.

    بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Arab latin: Bismillahilladzi la yadhurru ma'asmihi syaiun fillardhi wala fissamai wahuwassami'ul 'alim.

    Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang dengan sebab nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan (mendatangkan mudharat), dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

  3. Doa Nabi Nuh a.s. (agar hujan berhenti)

    Doa ini merupakan penggalan ayat Al-Qur'an yang mengisahkan berhentinya banjir pada masa Nabi Nuh a.s. yang terdapat dalam QS. Hud ayat 44.

    وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

    Arab latin: Waqil ya 'ard ablaei ma'ak waya sama' 'aqliei waghid alma' waqudi al'amr wastawat ealaa aljudii ۖ waqil buedan lilqawm alzaalimin.

    Artinya: "Dan difirmankan: 'Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,' dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: Binasalah orang-orang yang zalim."

  4. Doa agar Langit Cerah dan Tidak Hujan (setelah hujan reda)

    Doa ini dibaca sebagai ungkapan syukur setelah hujan berhenti. Doa ini diriwayatkan dalam HR Bukhari dari Zaid bin Khalid.

    مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِةِ

    Arab latin: Muthirnaa bi fadh-lillaahi wa rahmatih.

    Artinya: "Dicurahkannya hujan ini kepada kami atas karunia dan rahmat Allah."

  5. Doa Ketika Hujan Sedang (memohon hujan yang bermanfaat)

    Meskipun bukan doa tolak hujan secara langsung, doa ini adalah permohonan agar hujan yang turun membawa manfaat. Doa ini diriwayatkan dalam HR Bukhari dari Aisyah.

    اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

    Arab latin: Allahumma shoyyiban nafi’an.

    Artinya: "Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang memberi manfaat."

Doa Saat Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang

Hujan yang disertai fenomena alam ekstrem seperti petir dan angin kencang dapat menimbulkan rasa takut dan kekhawatiran akan bahaya. Dalam situasi demikian, Islam mengajarkan beberapa doa untuk memohon perlindungan dan ketenangan kepada Allah SWT.

  1. Doa Ketika Terjadi Hujan Petir

    Ketika mendengar suara petir, umat Muslim dianjurkan untuk membaca doa ini sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT dan permohonan perlindungan. Doa ini diriwayatkan oleh Imam Malik.

    سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

    Arab latin: Subhaanalladzii yusabbihur ro’du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatih.

    Artinya: "Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya."

  2. Doa Perlindungan dari Petir (dari Abdullah bin Umar dan Umar bin Al-Khattab r.a.)

    Doa ini dipanjatkan untuk memohon agar tidak ditimpa murka atau azab Allah SWT saat terjadi petir. Doa ini diriwayatkan dalam HR At-Tirmidzi.

    اللَّهُمَّ لاَ تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلاَ تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ

    Arab latin: Allahumma la taqtulna bi-ghadobika, wa-la tuhlikna bi-’adhabika, wa-’afina qabla dhalik.

    Artinya: "Ya Allah, jangan bunuh kami dengan murka-Mu, dan jangan hancurkan kami dengan hukuman-Mu, dan maafkan kami sebelum itu."

  3. Doa Ketika Hujan dan Angin Kencang

    Angin kencang yang menyertai hujan dapat menyebabkan berbagai musibah. Doa ini memohon kebaikan dari angin dan berlindung dari kejahatannya. Doa ini diriwayatkan dalam HR Muslim.

    اَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَمَا اُرْسِلَتْ بِهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّمَا اُرْسِلَتْ بِهِ

    Arab latin: Allaahumma inni as-aluka koirohaa wa khoiro maa fiiha wa khoiro maa ursilat bih. Wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih.

    Artinya: "Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya."

Hujan sebagai Waktu Mustajab untuk Berdoa

Dalam ajaran Islam, turunnya hujan seringkali dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab atau sangat dianjurkan untuk berdoa. Hal ini karena hujan identik dengan rahmat, rezeki, dan kehidupan yang diturunkan langsung dari langit oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, momen turunnya hujan menjadi kesempatan emas bagi umat Muslim untuk memanjatkan segala hajat dan permohonan kepada Sang Pencipta, termasuk doa tolak hujan jika dirasa perlu.

Imam Syafi'i, melalui kitab al-Umm, menegaskan pentingnya keyakinan terhadap karunia Allah SWT saat hujan turun. Beliau menuliskan bahwa, "Barang siapa berkata, 'Hujan turun berkat karunia Allah SWT dan rahmat-Nya,' maka itu merupakan bentuk keimanan kepada Allah SWT. Sebab, ia tahu bahwa tidak ada yang mampu menurunkan hujan dan memberi, kecuali Allah SWT semata."

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa hujan adalah manifestasi langsung dari kekuasaan dan kasih sayang Allah, sehingga berdoa pada waktu tersebut memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Beberapa hadis Nabi Muhammad SAW juga menguatkan bahwa waktu turun hujan adalah saat doa-doa diperkenankan. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Syafi'i menyebutkan, "Berdoalah pada waktu doa-doa diperkenankan Tuhan, yakni pada saat berjumpa dengan pasukan musuh, ketika akan melaksanakan sholat, dan ketika turun hujan."

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Hakim menyatakan, "Dua doa yang tidak akan ditolak, doa ketika adzan, dan doa ketika hujan turun." Ini menunjukkan bahwa Allah SWT membuka pintu rahmat-Nya lebih lebar pada waktu-waktu tersebut, termasuk saat hujan.

Selain memanjatkan doa-doa khusus terkait hujan, umat Muslim juga dianjurkan untuk beristighfar (memohon ampunan) saat hujan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Nuh ayat 10-12:

"Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'" 

Hukum Pawang Hujan dalam Islam

Fenomena pawang hujan, yang dipercaya dapat mengendalikan atau menggeser hujan, seringkali menjadi perdebatan dalam perspektif Islam. Dalam Islam, keyakinan bahwa ada manusia yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan hujan secara independen dari kehendak Allah SWT adalah hal yang bertentangan dengan prinsip tauhid (keesaan Allah).

Hujan sepenuhnya adalah kuasa Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Fathir ayat 2: "Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." 

Oleh karena itu, umat Islam dilarang meyakini bahwa pawang hujan adalah seorang pengendali hujan.

Jika seorang pawang hujan melakukan ritual atau doa, hal tersebut harus dipahami sebagai upaya memohon kepada Allah SWT, bukan sebagai tindakan yang memiliki kekuatan intrinsik untuk mengubah cuaca. Keyakinan bahwa pawang hujan memiliki kekuatan supranatural untuk mengendalikan hujan dapat mengarah pada syirik, yaitu menyekutukan Allah SWT, yang merupakan dosa besar dalam Islam.

Dalam riwayat Ibn Mas'ud RA, disebutkan bahwa Nabi SAW jika berdoa kepada Allah SWT, beliau berdoa tiga kali, dan jika memohon kepada Allah SWT, beliau memohon tiga kali. Ini menunjukkan bahwa berdoa adalah bentuk permohonan yang tulus dan berulang kepada Allah, bukan praktik yang mengandalkan kekuatan manusia.

Jika pawang hujan berdoa, maka doanya adalah permohonan kepada Allah, bukan karena ia memiliki kekuatan khusus.

 

FAQ

1. Apa itu doa tolak hujan dalam Islam?

Doa tolak hujan adalah permohonan kepada Allah SWT agar hujan yang turun tidak menimbulkan kemudaratan atau dialihkan ke tempat yang lebih membutuhkan.

2. Mengapa doa tolak hujan penting?

Selain untuk menghindari bencana, doa ini menunjukkan pengakuan atas kekuasaan Allah SWT dan bentuk tawakal seorang Muslim.

3. Kapan waktu yang mustajab untuk berdoa terkait hujan?

Waktu turunnya hujan dianggap mustajab untuk berdoa, karena hujan identik dengan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT.

4. Apa hukum pawang hujan dalam Islam?

Islam melarang meyakini pawang hujan memiliki kekuatan untuk mengendalikan hujan. Semua doa atau ritual hanya sah jika dipanjatkan kepada Allah SWT.

5. Adakah doa khusus saat hujan disertai petir atau angin kencang?

Ya, terdapat doa untuk memohon perlindungan dari petir dan angin kencang, memohon kebaikan dan berlindung dari kejahatannya.

6. Bagaimana membaca doa setelah hujan reda?

Doa ucapan syukur dapat dipanjatkan, seperti: "Muthirnaa bi fadh-lillaahi wa rahmatih" (Dicurahkannya hujan ini atas karunia dan rahmat Allah).

7. Apakah manusia bisa menghentikan hujan sendiri?

Tidak, hujan sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT. Manusia hanya diperkenankan berdoa memohon agar hujan membawa manfaat atau dijauhkan dari bahaya.