Dalil Asmaul Husna dalam Al-Qur'an dan Hadis serta Penjelasannya

Dalam Hadis, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa Asmaul Husna berjumlah 99

Diterbitkan 15 September 2025, 06:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asmaul husna (الأسماء الحسنى - al-asmā’ al-ḥusnā) adalah nama-nama Allah yang indah. Dalil Asmaul Husna terdapat dalam Al-Qur'an maupun hadis.

Secara bahasa Asma berarti nama (penyebutan) dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi Asmaul Husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.

Sementara, dalam KBBI asmaulhusna diartikan nama-nama yang baik yang dimiliki Allah Swt. yang terdapat di dalam Al-Qur'an, jumlahnya 99 nama (seperti Arrahman, Arrahim).

Selain perbedaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlahnya, ada yang menyebut jumlahnya 99, 100, dan bahkan lebih dari itu. Hanya saja, dalam Hadis, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa Asmaul Husna berjumlah 99.

Artinya, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Berikut ini adalah dalil Asmaul Husna di dalam Al-Qur'an dan hadis, serta penjelasannya. Dalam artikel ini juga memuat daftar Asmaul Husna.

 

1. Dalil Asmaul Husna QS. Al-A‘raf [7]: 180

Dikutip dari Buku Khasiat & Fadhilah 99 Asma'ul Husna: Nama-nama Indah Allah SWT karya Umar Faruq, berikut dalil Asmaul Husna dalam Al Quran:

QS. Al-A‘raf [7]: 180

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Latin: Wa lillāhil-asmā’ul-ḥusnā fad‘ūhu bihā wa dharul-ladzīna yulḥidūna fī asmā’ih, sayujzawna mā kānū ya‘malūn.

Artinya: “Dan hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Dalam Buku Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an (Tafsir Thabari), Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. menegaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk berdoa dengan menyebut nama-nama Allah, bukan dengan nama yang lain.

Menurut dia, “Menyimpang dalam nama-nama Allah” berarti mengubah nama Allah menjadi untuk selain-Nya, seperti menamai berhala dan menolak sifat-sifat Allah yang terkandung dalam nama-Nya. Menurut al-Ṭabarī, ini adalah ayat yang menjadi dasar dalam ilmu Asmaul Husna.

Sementara, dalam Tafsir al-Qur'ân al-Adzhīm (Tafsir Ibnu Katsir), Ismail Ibn Kathir ad-Dimasyqi menjelaskan, bahwa Asmaul Husna adalah nama-nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan, keagungan, kebesaran, dan kemuliaan-Nya.

Manusia diperintahkan untuk berdoa dengan nama-nama tersebut, misalnya berdoa dengan menyebut Yā Raḥmān irḥamnī (Wahai Yang Maha Pengasih, sayangilah aku).

Tentang larangan “yulḥidūna fī asmā’ih” (menyimpang dalam nama-nama Allah), Ibn Kathir menafsirkan sebagai menggunakan nama Allah untuk syirik, atau menamai berhala dengan nama Allah, misalnya orang musyrik menamakan berhala mereka al-Lāt dari kata al-Ilāh, atau al-‘Uzzā dari kata al-‘Azīz.

2. Dalil Asmaul Husna QS. Thaha [20]: 8

 اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

Latin: Allāhu lā ilāha illā huwa, lahul-asmā’ul-ḥusnā.

Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, milik-Nya nama-nama yang indah.”

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah ayat ini merupakan penegasan Tauhid. Quraish Shihab menafsirkan ayat ini sebagai penguatan kembali prinsip dasar Islam, yaitu tiada Tuhan selain Allah. Ayat ini hadir di tengah uraian tentang pengutusan Nabi Musa, untuk menekankan bahwa seluruh risalah para nabi berpangkal pada tauhid. Makna Asmaul Husna

“Asmaul Husna” menurut beliau adalah nama-nama Allah yang indah dan agung, yang tidak sekadar menjadi sebutan, tetapi mengandung sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Nama-nama itu bukan hanya untuk diketahui, melainkan juga untuk diamalkan dan diteladani sesuai kemampuan manusia.

Misalnya: Allah Maha Pengasih (ar-Raḥmān), maka manusia dituntut punya kasih sayang. Allah Maha Adil (al-‘Adl), maka manusia dituntut berlaku adil.

Quraish Shihab juga menjelaskan, Asmaul Husna adalah sarana berdoa. Doa akan lebih bermakna jika disesuaikan dengan nama Allah yang relevan. Misalnya berdoa memohon ampun dengan nama al-Ghafūr, memohon rezeki dengan nama ar-Razzāq, memohon hidayah dengan nama al-Hādī.

Quraish Shihab juga menekankan bahwa Asmaul Husna menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sarana pendidikan akhlak. Dengan mengenal nama-nama Allah, seorang Muslim akan lebih mengenal Tuhannya, sekaligus menumbuhkan sifat-sifat mulia dalam dirinya.

3. Dalil Asmaul Husna QS. Al-Hasyr [59]: 22–24

 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (٢٢) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)

Latin: Huwallāhul-ladzī lā ilāha illā huwa, ‘ālimul-ghaibi wasy-syahādah, huwar-raḥmānur-raḥīm (22). Huwallāhul-ladzī lā ilāha illā huwa al-Malikul-Quddūsu as-Salāmu al-Mu’minu al-Muhaiminu al-‘Azīzu al-Jabbāru al-Mutakabbir, subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn (23). Huwallāhul-Khāliq, al-Bāri’, al-Muṣawwir, lahul-asmā’ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahu mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm (24).

Artinya: “Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dia Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Memberi Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Agung; Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Dalam Tafsir al-Mishbah, Prof KH Quraish Shihab menekankan bahwa ayat ini adalah kumpulan paling lengkap dari nama-nama Allah dalam satu rangkaian. Ayat ini menunjukkan Allah dekat dan sekaligus agung: Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, tapi juga Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Nama-nama ini berfungsi sebagai pendidikan spiritual. Manusia belajar meneladani nilai kasih, keadilan, dan kebijaksanaan dari Allah, tanpa menyamakan diri dengan-Nya.

Sementara, penutup ayat menegaskan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada Allah, sehingga manusia yang berakal mestinya lebih tunduk dibanding makhluk lain.

Dalil Asmaul Husna dalam Hadis

1. Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ".

Latin: ‘An Abī Hurairata, qāla: Qāla Rasūlullāh ﷺ: “Inna lillāhi tis‘atan wa tis‘īna isman, mi’atan illā wāḥidan, man aḥṣāhā dakhala al-jannah.”

Artinya: Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu; siapa yang menghitung (menghafal, memahami, dan mengamalkannya) akan masuk surga.” (HR. al-Bukhari no. 2736, Muslim no. 2677).

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa “menghitung” di sini bukan sekadar hafalan, melainkan menghafal Asmaul Husna, memahami maknanya, mengamalkannya sesuai konteks ibadah dan akhlak.

Dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Imam al-Qurthubi mengungkapkan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya.

Adapun Quraish Shihab dalam al-Misbah dalam Buku Membumikan Al-Qur’an menjelaskan bahwa mengenal Asmaul Husna adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah. Nama-nama itu adalah sarana memahami sifat-Nya agar manusia semakin tunduk dan meneladani nilai yang terkandung di dalamnya. 

2. Hadis Doa Nabi SAW dengan Asmaul Husna

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

Latin: Allāhumma innī as’aluka bikulli ismin huwa laka, sammayta bihi nafsaka, aw anzaltahu fī kitābika, aw ‘allamtahu aḥadan min khalqika, aw ista’tsarta bihi fī ‘ilmi al-ghaibi ‘indaka, an taj‘ala al-Qur’āna rabī‘a qalbī, wa nūra ṣadrī, wa jalā’a ḥuznī, wa dhahāba hammī.

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghapus kegelisahanku.” (HR. Ahmad no. 3704, Ibnu Hibban, dishahihkan oleh al-Albani).

Hadis ini menunjukkan bahwa nama Allah lebih dari 99, ada yang Allah simpan khusus dalam ilmu ghaib-Nya. Doa ini dipakai Nabi untuk mengajarkan umat agar memohon dengan menyebut Asmaul Husna yang dengan hajatnya.

Hal itu seperti dijelaskan oleh Quraish Shihab juga menjelaskan, Asmaul Husna adalah sarana berdoa. Doa akan lebih bermakna jika disesuaikan dengan nama Allah yang relevan. Misalnya berdoa memohon ampun dengan nama al-Ghafūr, memohon rezeki dengan nama ar-Razzāq, memohon hidayah dengan nama al-Hādī.

3. Hadis tentang Doa dengan Nama Allah “al-A‘ẓam” (Nama Teragung)

Dari Anas bin Malik, Nabi ﷺ mendengar seorang lelaki berdoa:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّي، ثُمَّ دَعَا فَقَالَ:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ

فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ، الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

Artinya: Dari Anas bin Malik ra., ia berkata bahwa ia pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ. Lalu ada seorang lelaki shalat, kemudian ia berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, karena bagi-Mu segala pujian. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (Engkau) Maha Pemberi Karunia, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya, wahai Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri (mengatur segala sesuatu).”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

“Sungguh, ia telah berdoa kepada Allah dengan menyebut Nama-Nya Yang Maha Agung. Jika Allah dipanggil dengan nama itu, Dia akan menjawab, dan jika diminta dengan nama itu, Dia akan memberi.”

Hadis ini menunjukkan adanya nama Allah yang paling agung (al-ism al-a‘ẓam). Doa yang disertai dengan nama itu lebih mustajab. Para ulama berbeda pendapat tentang nama tersebut, di antaranya Allāh, al-Ḥayy al-Qayyūm, Dzūl-Jalāli wal-Ikrām.

4. Hadis Perintah Berdoa dengan Asmaul Husna

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى

Artinya: “Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dengan Asmaul Husna.” (HR. Abu Dawud no. 1493, Ibnu Majah no. 3858).

Hadis ini selaras dengan QS. Al-A‘raf [7]: 180 → “Maka berdoalah kepada-Nya dengan Asmaul Husna.”Doa akan lebih bermakna jika disesuaikan dengan sifat Allah yang terkandung dalam nama-Nya.

Daftar Asmul Husna: 99 Nama Allah yang Indah

Berikut ini daftar 99 Asmul Husna:

  1. ٱلله (Allah) – Allah – Nama yang Maha Agung
  2. ٱلرَّحْمَٰن (Ar-Raḥmān) – Yang Maha Pengasih
  3. ٱلرَّحِيم (Ar-Raḥīm) – Yang Maha Penyayang
  4. ٱلْمَلِك (Al-Malik) – Yang Maha Merajai
  5. ٱلْقُدُّوس (Al-Quddūs) – Yang Maha Suci
  6. ٱلسَّلَام (As-Salām) – Yang Maha Memberi Kesejahteraan
  7. ٱلْمُؤْمِن (Al-Mu’min) – Yang Maha Memberi Keamanan
  8. ٱلْمُهَيْمِن (Al-Muhaymin) – Yang Maha Memelihara
  9. ٱلْعَزِيز (Al-‘Azīz) – Yang Maha Perkasa
  10. ٱلْجَبَّار (Al-Jabbār) – Yang Maha Perkasa dan Memaksa
  11. ٱلْمُتَكَبِّر (Al-Mutakabbir) – Yang Maha Megah
  12. ٱلْخَالِق (Al-Khāliq) – Yang Maha Pencipta
  13. ٱلْبَارِئ (Al-Bāri’) – Yang Maha Melepaskan (Membuat dari tiada)
  14. ٱلْمُصَوِّر (Al-Muṣawwir) – Yang Maha Membentuk rupa
  15. ٱلْغَفَّار (Al-Ghaffār) – Yang Maha Pengampun
  16. ٱلْقَهَّار (Al-Qahhār) – Yang Maha Mengalahkan
  17. ٱلْوَهَّاب (Al-Wahhāb) – Yang Maha Pemberi
  18. ٱلرَّزَّاق (Ar-Razzāq) – Yang Maha Pemberi Rezeki
  19. ٱلْفَتَّاح (Al-Fattāḥ) – Yang Maha Membuka jalan
  20. ٱلْعَلِيم (Al-‘Alīm) – Yang Maha Mengetahui
  21. ٱلْقَابِض (Al-Qābiḍ) – Yang Maha Menyempitkan
  22. ٱلْبَاسِط (Al-Bāsiṭ) – Yang Maha Melapangkan
  23. ٱلْخَافِض (Al-Khāfiḍ) – Yang Maha Merendahkan
  24. ٱلرَّافِع (Ar-Rāfi‘) – Yang Maha Meninggikan
  25. ٱلْمُعِز (Al-Mu‘izz) – Yang Maha Memuliakan
  26. ٱلْمُذِلّ (Al-Mudhill) – Yang Maha Menghinakan
  27. ٱلسَّمِيع (As-Samī‘) – Yang Maha Mendengar
  28. ٱلْبَصِير (Al-Baṣīr) – Yang Maha Melihat
  29. ٱلْحَكَم (Al-Ḥakam) – Yang Maha Menetapkan hukum
  30. ٱلْعَدْل (Al-‘Adl) – Yang Maha Adil
  31. ٱللَّطِيف (Al-Laṭīf) – Yang Maha Lembut
  32. ٱلْخَبِير (Al-Khabīr) – Yang Maha Mengetahui rahasia
  33. ٱلْحَلِيم (Al-Ḥalīm) – Yang Maha Penyantun
  34. ٱلْعَظِيم (Al-‘Aẓīm) – Yang Maha Agung
  35. ٱلْغَفُور (Al-Ghafūr) – Yang Maha Pengampun
  36. ٱلشَّكُور (Asy-Syakūr) – Yang Maha Mensyukuri (Memberi balasan kebaikan)
  37. ٱلْعَلِيّ (Al-‘Aliyy) – Yang Maha Tinggi
  38. ٱلْكَبِير (Al-Kabīr) – Yang Maha Besar
  39. ٱلْحَفِيظ (Al-Ḥafīẓ) – Yang Maha Memelihara
  40. ٱلْمُقِيت (Al-Muqīt) – Yang Maha Pemberi kecukupan
  41. ٱلْحَسِيب (Al-Ḥasīb) – Yang Maha Membuat perhitungan
  42. ٱلْجَلِيل (Al-Jalīl) – Yang Maha Mulia
  43. ٱلْكَرِيم (Al-Karīm) – Yang Maha Pemurah
  44. ٱلرَّقِيب (Ar-Raqīb) – Yang Maha Mengawasi
  45. ٱلْمُجِيب (Al-Mujīb) – Yang Maha Mengabulkan
  46. ٱلْوَاسِع (Al-Wāsi‘) – Yang Maha Luas
  47. ٱلْحَكِيم (Al-Ḥakīm) – Yang Maha Bijaksana
  48. ٱلْوَدُود (Al-Wadūd) – Yang Maha Pengasih dan Penyayang
  49. ٱلْمَجِيد (Al-Majīd) – Yang Maha Mulia
  50. ٱلْبَاعِث (Al-Bā‘ith) – Yang Maha Membangkitkan
  51. ٱلشَّهِيد (Asy-Syahīd) – Yang Maha Menyaksikan
  52. ٱلْحَقّ (Al-Ḥaqq) – Yang Maha Benar
  53. ٱلْوَكِيل (Al-Wakīl) – Yang Maha Pemelihara
  54. ٱلْقَوِيّ (Al-Qawiyy) – Yang Maha Kuat
  55. ٱلْمَتِين (Al-Matīn) – Yang Maha Kokoh
  56. ٱلْوَلِيّ (Al-Waliyy) – Yang Maha Melindungi
  57. ٱلْحَمِيد (Al-Ḥamīd) – Yang Maha Terpuji
  58. ٱلْمُحْصِي (Al-Muḥṣī) – Yang Maha Menghitung
  59. ٱلْمُبْدِئ (Al-Mubdi’) – Yang Maha Memulai
  60. ٱلْمُعِيد (Al-Mu‘īd) – Yang Maha Mengembalikan
  61. ٱلْمُحْيِي (Al-Muḥyī) – Yang Maha Menghidupkan
  62. ٱلْمُمِيت (Al-Mumīt) – Yang Maha Mematikan
  63. ٱلْحَيّ (Al-Ḥayy) – Yang Maha Hidup
  64. ٱلْقَيُّوم (Al-Qayyūm) – Yang Maha Berdiri Sendiri
  65. ٱلْوَاجِد (Al-Wājid) – Yang Maha Menemukan
  66. ٱلْمَاجِد (Al-Mājid) – Yang Maha Mulia
  67. ٱلْواحِد (Al-Wāḥid) – Yang Maha Esa
  68. ٱلْأَحَد (Al-Aḥad) – Yang Maha Tunggal
  69. ٱلصَّمَد (As-Ṣamad) – Yang Maha Dibutuhkan
  70. ٱلْقَادِر (Al-Qādir) – Yang Maha Kuasa
  71. ٱلْمُقْتَدِر (Al-Muqtadir) – Yang Maha Menentukan
  72. ٱلْمُقَدِّم (Al-Muqaddim) – Yang Maha Mendahulukan
  73. ٱلْمُؤَخِّر (Al-Mu’akhkhir) – Yang Maha Mengakhirkan
  74. ٱلأوَّل (Al-Awwal) – Yang Maha Awal
  75. ٱلآخِر (Al-Ākhir) – Yang Maha Akhir
  76. ٱلظَّاهِر (Aẓ-Ẓāhir) – Yang Maha Nyata
  77. ٱلْبَاطِن (Al-Bāṭin) – Yang Maha Tersembunyi
  78. ٱلْوَالِي (Al-Wālī) – Yang Maha Menguasai
  79. ٱلْمُتَعَالِي (Al-Muta‘ālī) – Yang Maha Tinggi
  80. ٱلْبَرّ (Al-Barr) – Yang Maha Dermawan
  81. ٱلتَّوَّاب (At-Tawwāb) – Yang Maha Penerima tobat
  82. ٱلْمُنْتَقِم (Al-Muntaqim) – Yang Maha Pemberi balasan
  83. ٱلْعَفُوّ (Al-‘Afūww) – Yang Maha Pemaaf
  84. ٱلرَّؤُوف (Ar-Ra’ūf) – Yang Maha Pengasih
  85. مَالِك ٱلْمُلْك (Mālik al-Mulk) – Yang Maha Penguasa Kerajaan
  86. ذُو ٱلْجَلَال وَٱلْإِكْرَام (Dhūl-Jalāli wal-Ikrām) – Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan
  87. ٱلْمُقْسِط (Al-Muqsiṭ) – Yang Maha Adil dalam keputusan
  88. ٱلْجَامِع (Al-Jāmi‘) – Yang Maha Mengumpulkan
  89. ٱلْغَنِيّ (Al-Ghaniyy) – Yang Maha Kaya
  90. ٱلْمُغْنِي (Al-Mughnī) – Yang Maha Memberi Kekayaan
  91. ٱلْمَانِع (Al-Māni‘) – Yang Maha Mencegah
  92. ٱلضَّار (Aḍ-Ḍārr) – Yang Maha Memberi Derita
  93. ٱلنَّافِع (An-Nāfi‘) – Yang Maha Memberi Manfaat
  94. ٱلنُّور (An-Nūr) – Yang Maha Bercahaya
  95. ٱلْهَادِي (Al-Hādī) – Yang Maha Memberi Petunjuk
  96. ٱلْبَدِيع (Al-Badī‘) – Yang Maha Pencipta Indah tanpa contoh
  97. ٱلْبَاقِي (Al-Bāqī) – Yang Maha Kekal
  98. ٱلْوَارِث (Al-Wāriṯ) – Yang Maha Pewaris
  99. ٱلرَّشِيد (Ar-Rashīd) – Yang Maha Pandai memberi petunjuk benar

People also Ask:

1. Apa saja dalil tentang Asmaul Husna?

QS. Al-A'raf 7 Ayat 180

Artinya: Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.

2. Apa dalil Asmaul Husna al-Alim?

Dalil untuk asmaul husna "Al-'Alim" (Maha Mengetahui) banyak terdapat dalam Al-Qur'an, di antaranya adalah Surah Al-Baqarah ayat 29 yang menyebutkan bahwa Allah mengetahui segala yang ada di bumi, dan Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menyatakan bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.

3. Kenapa Asmaul Husna hanya 99 tidak 100?

Asmaul Husna berjumlah 99 adalah jumlah yang paling populer dan menjadi dasar dalam hadis Nabi Muhammad SAW, yang menyebutkan bahwa Allah memiliki 99 nama dan siapa yang menghafalnya akan masuk surga. Meskipun demikian, jumlah nama-nama Allah tidak terbatas hanya 99 nama, karena masih ada nama-nama lain yang hanya diketahui oleh Allah SWT sendiri, yang diisyaratkan dalam doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

4. Dalil itu apa?

Dalil adalah suatu bukti, argumen, alasan, atau petunjuk yang digunakan untuk mendukung atau membuktikan suatu pendapat, pernyataan, atau keyakinan, terutama dalam konteks hukum dan agama Islam. Kata ini berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti "petunjuk" atau "menunjukkan". Dalam Islam, dalil berfungsi sebagai sumber hukum untuk menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, yang bisa berupa ayat Al-Qur'an, hadis Nabi Muhammad SAW, atau penalaran akal.