Liputan6.com, Jakarta - Nama asli Abu Bakar As Siddiq Adalah Abdullah bin Utsman. Ini adalah fakta yang mungkin belum banyak diketahui oleh sebagian orang. Beliau merupakan salah satu sahabat terkemuka Nabi Muhammad SAW dan khalifah pertama dalam sejarah Islam.
Panggilan "Abu Bakar" sendiri merupakan kuniyah atau panggilan kehormatan yang diberikan kepadanya. Julukan "Ash-Shiddiq" juga disematkan langsung oleh Rasulullah SAW karena keteguhan dan kepercayaannya yang luar biasa.
Menurut Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya Abu Bakar Ash-Shiddiq: Syakhshiyatu Wa 'Asruhu, nama asli Abu Bakar Ash Shiddiq Adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi.Â
Advertisement
Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Jumat (22/8/2025).
Nama Asli Abu Bakar As Siddiq Adalah
Nama asli Abu Bakar As Siddiq Adalah Abdullah bin Utsman. Beliau juga dikenal dengan nama lengkap Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi.
Sebelum memeluk Islam, nama beliau adalah Abdul Ka'bah, yang kemudian diganti oleh Rasulullah SAW menjadi Abdullah, seperti disebutkan dalam El-Dusturie: Jurnal Hukum dan Perundang-undangan oleh Rifda Zulfia dan Dzulkifli Hadi Imawan.
Panggilan "Abu Bakar" merupakan kuniyah atau panggilan kehormatan yang berasal dari kata "Al-Bakr". Kata ini berarti unta muda dan kuat. Masyarakat Arab sering menyebut "Bakr" sebagai nenek moyang kabilah besar, sebagaimana dijelaskan dalam buku Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Ali Ath-Thanthawi.
Julukan "Ash-Shiddiq" diberikan langsung oleh Rasulullah SAW kepada Abu Bakar karena beliau selalu membenarkan dan mempercayai Nabi Muhammad SAW. Julukan ini juga disebutkan dalam sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah SAW menyebut Abu Bakar sebagai "seorang Shiddiq" saat berada di Bukit Uhud. Selain itu, Abu Bakar juga memiliki julukan lain seperti "Al-'Atiq", yang berarti hamba yang dimerdekakan dan dibebaskan Allah dari neraka.
Nasab Abu Bakar Ash-Shiddiq bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakek keenam, yaitu Murrah bin Ka'ab. Beliau berasal dari keturunan suku Taim ibn Murrah bin Ka'ab, yang jika ditarik garis ke atas, akan bertemu dengan keluarga Nabi Muhammad SAW dalam darah Adnan, menurut Sirah wa Hayah Ash-Shiddiq karya Majdi Fathi As-Sayyid.
Advertisement
Biografi Singkat Abu Bakar As-Siddiq
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3112743/original/076840400_1587956308-20200427-Masjid-Agung-Sanaa-5.jpg)
Abu Bakar lahir di Makkah sekitar tahun 573 M, dua tahun setelah peristiwa Tahun Gajah. Beliau dikenal sebagai individu dengan perilaku terpuji dan kemampuan menjaga kehormatan diri. Bahkan, beliau tidak pernah mengonsumsi minuman keras pada masa Jahiliyah, seperti yang dicatat dalam SEJARAH PERADABAN ISLAM oleh Syamruddin Nasution.
Beliau merupakan pria pertama yang memeluk Islam. Setelah masuk Islam, Abu Bakar mengarahkan perhatiannya pada upaya menyebarkan ajaran Islam bersama Nabi Muhammad SAW. Banyak orang Arab yang memeluk Islam berkat peran Abu Bakar As-Siddiq.
Abu Bakar dikenal cerdas dan berwawasan luas, serta memiliki sifat lembut dalam bertutur kata dan sopan dalam bertindak.
Beliau juga sangat dermawan, rela mengeluarkan hartanya untuk membela kaum Muslimin yang tertindas di Mekkah, seperti yang diuraikan dalam jurnal BUNAYYA, Vol I No. 4 Oktober-Desember 2020 oleh Haidar Putra Daulay, Zaini Dahlan, dan Sri Suharti. Salah satu contoh kedermawanannya adalah ketika beliau menebus Bilal bin Rabah dari majikannya.
Melalui perantara Abu Bakar, banyak penduduk Mekkah yang menyatakan diri masuk Islam, termasuk Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Saad bin Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Ubaidillah bin Jarrah. Mereka dikenal sebagai Assabiqunal Awwalum, yaitu golongan orang-orang yang pertama memeluk Islam, menurut Sejarah Kebudayaan Islam oleh Miftahul Ula, dkk.
Proses Terpilihnya Abu Bakar Sebagai Khalifah
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, umat Muslim dihadapkan pada masalah besar mengenai siapa yang akan menggantikan posisi beliau sebagai pemimpin.
Nabi Muhammad SAW tidak memberikan petunjuk jelas mengenai penggantinya, sehingga masalah ini diserahkan kepada umat Islam untuk menentukannya, seperti dijelaskan dalam PERADABAN ISLAM PASCA NABI SAW: Studi Kepemimpinan Abu Bakar Dan Umar Perspektif Good Governance oleh Nasrulloh dan Akhmad Roja Badrus Zaman.
Dalam kondisi kekacauan pasca wafatnya Nabi, Abu Bakar tampil untuk meluruskan pemahaman umat dengan membacakan QS. Ali Imran ayat 144.
Kelompok Anshar secara independen berkumpul di Saqifah Bani Saidah untuk berdiskusi tentang siapa dari golongan mereka yang akan menjadi pengganti Nabi Muhammad SAW. Ketika Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah mengetahui pertemuan tersebut, mereka segera menuju ke Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakar mengusulkan agar pemimpin baru diambil dari kalangan Muhajirin, dengan alasan bahwa mereka lebih dulu memeluk Islam dan berjuang bersama Nabi.
Meskipun awalnya ada penolakan dari Anshar yang mengusulkan dua pemimpin dari kedua kelompok, Abu Bakar menolak usulan tersebut karena potensi perpecahan. Beliau mengingatkan hadits Nabi yang menyatakan "Pemimpin berasal dari orang Quraisy."
Abu Bakar kemudian menyarankan Umar bin Khattab sebagai khalifah, namun Umar menolak dan berpendapat bahwa Abu Bakar sendirilah yang layak. Akhirnya, Abu Bakar terpilih sebagai pemimpin atas rekomendasi dari Umar bin Khattab, dan semua yang hadir memberikan bai'at sebagai bentuk pengakuan atas kepemimpinannya, seperti disebutkan dalam SEJARAH PERADABAN ISLAM oleh Syamruddin Nasution.
Advertisement
Kebijakan Politik Abu Bakar As-Siddiq
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4637084/original/096773700_1699244185-pexels-alena-darmel-8164752.jpg)
Pada masa kepemimpinan Abu Bakar, wewenang legislatif, eksekutif, dan yudikatif masih terpusat pada khalifah.
Sebagai negara yang baru terbentuk, pemerintahan Abu Bakar dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk upaya pemisahan agama dan negara Islam yang dipicu oleh gerakan pemurtadan dan nabi-nabi palsu seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Al-Aswad Al-Insi Al-Kadzdzab, dan Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi, menurut Khulafah Al- Rasyidun: Menelaah Kepemimpinan Abu Bakar Al-Shiddiq oleh Ahmad Yani.
Selain itu, terjadi penolakan oleh beberapa suku terhadap kewajiban membayar zakat, dan wilayah perbatasan kaum Muslim juga menghadapi ancaman dari kerajaan Romawi dan Persia. Meskipun demikian, Abu Bakar mampu mengatasi masalah tersebut dengan bijaksana dan mengambil ijtihad politik untuk menegakkan negara. Beliau berhasil mengukuhkan kedudukan politik dalam negeri secara gemilang, sebagaimana dijelaskan dalam Sejarah Peradaban Islam oleh Zaki Fuad.
Salah satu kebijakan penting adalah pengiriman pasukan Usamah ibn Zaid ke Syiria, yang sebelumnya telah direncanakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Meskipun banyak sahabat yang tidak setuju karena kondisi internal yang tidak stabil, Abu Bakar tetap mengirimkan pasukan tersebut, yang akhirnya meraih kemenangan dan memberikan pandangan positif terhadap kekuatan Islam, seperti diulas dalam SISTEM DEMOKRASI DAN KEKHILAFAAN DALAM SYARIAT ISLAM oleh Ogi Habibi.
Abu Bakar juga memberantas pembangkang zakat yang menunjukkan keengganan untuk memenuhi kewajiban tersebut, bahkan ada yang menganggap pembayaran zakat mirip dengan upeti yang tidak berlaku lagi setelah kepergian Rasulullah.
Beliau membentuk sebelas pasukan untuk mengembalikan keamanan dan stabilitas daerah yang ditentukan, termasuk menumpas nabi-nabi palsu seperti al-Aswad al-'Ansi, Tulaiha, Sajah binti al-Harits, dan Musailamah al-Kazzab. Perang Riddah yang dilancarkan Abu Bakar sangat signifikan dalam sejarah Islam, karena berhasil mencegah kembalinya pola hidup pra-Islam.
Sistem Pemerintahan dan Administrasi di Masa Abu Bakar
Dalam menjalankan pemerintahannya, Abu Bakar menerapkan model pemerintahan yang memiliki ciri-ciri monarki, mirip dengan sistem kerajaan, dengan dirinya sebagai khalifah atau kepala pemerintahan.
Namun, perbedaannya dengan monarki modern adalah bahwa pewarisan jabatan berdasarkan garis keturunan tidak berlaku dalam pemerintahan Abu Bakar, seperti yang dijelaskan dalam Tinjauan Sejarah Terhadap Dinamika Dan Sistem Pemerintahan oleh Maruli Tumangger. Beliau menunjuk Umar bin Khattab, yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, sebagai khalifah pengganti.
Pada masa pemerintahannya, meskipun sistemnya masih sederhana, Abu Bakar berusaha untuk mengintegrasikan tiga cabang kekuasaan:
- eksekutif,
- legislatif, dan
- yudikatif.
Abu Bakar sendiri bertanggung jawab langsung atas lembaga eksekutif sebagai khalifah dan pemimpin umat Islam. Untuk tugas-tugas di ranah yudikatif, Abu Bakar mempercayakan kepada para sahabat, seperti Umar bin Khattab yang ditunjuk sebagai Qadhi di Madinah untuk menyelesaikan berbagai perkara hukum.
Berbagai tugas lainnya juga didelegasikan oleh Abu Bakar; Abu Ubaidah ditugaskan untuk mengurus Baitul Mal, sementara Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan Zaid bin Tsabit bertugas sebagai sekretaris tanpa bayaran.
Beliau juga menunjuk beberapa individu sebagai pemimpin pemerintahan di kota-kota tertentu, seperti Uttab bin Usaid di Mekkah dan Khalid bin Walid sebagai komandan utama pasukan penakluk wilayah Syam, menurut ADMINISTRASI DALAM PEMERINTAHAN ISLAM oleh Marwan Gultom.
Dalam aspek legislatif, Abu Bakar memperkenalkan sistem syura (musyawarah), meskipun berbeda dari Nabi Muhammad SAW yang keputusannya bersifat mutlak. Dalam menghadapi keputusan mendesak, beliau kerap memanggil individu yang berkompeten untuk memberikan pandangan mereka, sehingga dianggap sebagai pelopor dalam membangun dasar-dasar pemerintahan Kekhalifahan Islam yang berlandaskan pada sistem syura.
Praktik ekonomi sosialis Abu Bakar sejalan dengan Nabi, di mana pendapatan dari zakat dan sedekah dikumpulkan di Baitul Mal dan digunakan untuk berbagai kebutuhan, dengan sisa dana dibagi secara adil kepada seluruh masyarakat.
Advertisement
Ijtihad dan Dinamika Sosial Hukum Islam Abu Bakar As-Siddiq
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3983389/original/081067100_1648974940-000_327H9G2.jpg)
Dalam mengemban tanggung jawab pemerintahan, Abu Bakar dihadapkan pada berbagai tantangan yang sebelumnya belum pernah muncul, mendorongnya untuk memecahkan setiap masalah dengan menggunakan prinsip ijtihad.
Rasulullah SAW sendiri telah memberikan contoh ijtihad, sehingga pada masa kepemimpinan Abu Bakar, muncul banyak ijtihad baru terkait masalah-masalah agama yang belum pernah dihadapi pada zaman Rasulullah SAW, seperti yang diungkapkan dalam Sejarah Peradaban & Dinamika Sosial Intelektual Hukum Islam Periode RASULULLAH & AL-KHULAFA AL-RASYIDIN oleh Dzulkifli Hadi Imawan.
Faktor-faktor seperti ekspansi wilayah, interaksi budaya yang beragam, serta munculnya berbagai macam fitnah turut berperan dalam menghadirkan tantangan-tantangan tersebut.
Salah satu ijtihad Abu Bakar adalah dalam menentukan pengganti Nabi Muhammad SAW. Beliau berijtihad bahwa penunjukan dirinya sebagai khalifah adalah hasil dari perdebatan yang didasarkan pada akal, mengingat Nabi pernah menunjuknya sebagai imam shalat saat beliau sakit, menurut IJTIHAD PERSPEKTIF SOSIO HISTORIS oleh Ainul Mardhiah dan Hasbi Umar.
Dalam kasus warisan seorang nenek, Abu Bakar berkonsultasi dengan para sahabat dan memutuskan untuk memberikan seperenam dari harta warisan, setelah dikuatkan oleh kesaksian yang merujuk pada pernyataan Nabi. Abu Bakar juga menunjukkan komitmen kuat terhadap perkembangan hukum Islam dengan membebaskan budak yang mengalami perlakuan buruk karena memeluk Islam, seperti Bilal ibn Rabah, seperti yang dibahas dalam PENGARUH FAKTOR-FAKTOR SOSIAL TERHADAP IJTIHAD ABU BAKAR AL-SHIDDIQ oleh Ali Hamzah.
Beliau mendirikan Bait al-Mâl, sebuah lembaga keuangan yang dikelola oleh Abu ’Ubaidah, untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan memenuhi tanggung jawab sosial. Terkait pemberontakan individu yang murtad atau enggan membayar zakat, Abu Bakar memutuskan untuk memerangi dan menjatuhkan hukuman mati bagi mereka yang menolak membayar zakat, meskipun tidak ada ketentuan hukum spesifik dalam nash untuk kasus tersebut.
Dalam memberlakukan istinbath hukum, Abu Bakar menggunakan metode yang bervariasi:
- mencari petunjuk dalam Al-Qur'an,
- Sunnah,
- bertanya kepada sahabat, atau
- bermusyawarah.
Kesuksesan Kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq
Kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq, meskipun singkat, berhasil membangun fondasi yang kokoh bagi pemerintahan Islam. Beliau berhasil menjaga kesatuan negara Islam yang baru terbentuk dari ancaman pecah belah dan keruntuhan dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, seperti yang diuraikan dalam El-Dusturie: Jurnal Hukum dan Perundang-undangan oleh Rifda Zulfia dan Dzulkifli Hadi Imawan.
Salah satu kesuksesan utamanya adalah melanjutkan ekspedisi pasukan Usamah bin Zaid ke perbatasan Syiria, meskipun banyak sahabat yang meragukan keputusan tersebut karena kondisi internal yang tidak stabil.
Kemenangan ekspedisi ini memberikan pandangan positif dan mengembalikan kesetiaan suku-suku yang tadinya meninggalkan Islam. Abu Bakar juga menunjukkan keahlian luar biasa dalam menghancurkan gerakan kaum riddah (murtad) dan menumpas nabi-nabi palsu. Beliau berhasil memberantas kelompok yang menolak membayar zakat, sehingga Islam dapat diselamatkan dan zakat mulai mengalir kembali, menurut Sejarah Peradaban Islam oleh Siti Zubaidah.
Keberhasilan ini menghadapi kekuatan Bizantium dan Sasania, membuka jalan bagi perkembangan Islam yang lebih luas. Selain itu, Abu Bakar melakukan pengembangan wilayah Islam keluar Arabia dengan membentuk kekuatan di bawah komando Khalid bin Walid yang dikirim ke Irak dan Persia, serta Syiria. Ekspedisi ini membuahkan hasil gemilang dalam penaklukan wilayah-wilayah tersebut.
Kontribusi besar lainnya adalah pengumpulan Al-Qur'an menjadi satu jilid, yang merupakan upaya krusial untuk menjaga keaslian dan kesatuan kitab suci Islam setelah banyak penghafal Al-Qur'an gugur dalam pertempuran, seperti yang disebutkan dalam The Early Chaliphate (Khulafa-ur-Rasyidin) oleh Maulana Muhammad Ali.
Advertisement
DAFTAR SUMBER
- Ali Muhammad Ash-Shalabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq: Syakhshiyatu Wa 'Asruhu.
- Rifda Zulfia & Dzulkifli Hadi Imawan, El-Dusturie: Jurnal Hukum dan Perundang-undangan.
- Ali Ath-Thanthawi, Abu Bakar Ash-Shiddiq.
- Majdi Fathi As-Sayyid, Sirah wa Hayah Ash-Shiddiq.
- Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam.
- Haidar Putra Daulay, Zaini Dahlan, & Sri Suharti, BUNAYYA, Vol I No. 4 Oktober-Desember 2020.
- Miftahul Ula, dkk., Sejarah Kebudayaan Islam.
- Nasrulloh & Akhmad Roja Badrus Zaman, Peradaban Islam Pasca Nabi SAW: Studi Kepemimpinan Abu Bakar dan Umar Perspektif Good Governance.
- Ahmad Yani, Khulafah Al-Rasyidun: Menelaah Kepemimpinan Abu Bakar Al-Shiddiq.
- Zaki Fuad, Sejarah Peradaban Islam.
- Ogi Habibi, Sistem Demokrasi dan Kekhilafaan dalam Syariat Islam.
- Maruli Tumangger, Tinjauan Sejarah Terhadap Dinamika dan Sistem Pemerintahan.
- Marwan Gultom, Administrasi dalam Pemerintahan Islam.
- Dzulkifli Hadi Imawan, Sejarah Peradaban & Dinamika Sosial Intelektual Hukum Islam Periode Rasulullah & Al-Khulafa Al-Rasyidin.
- Ainul Mardhiah & Hasbi Umar, Ijtihad Perspektif Sosio Historis.
- Ali Hamzah, Pengaruh Faktor-Faktor Sosial Terhadap Ijtihad Abu Bakar Al-Shiddiq.
- Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam.
- Maulana Muhammad Ali, The Early Chaliphate (Khulafa-ur-Rasyidin).
FAQ
1. Apa nama asli Abu Bakar As Siddiq Adalah?
Nama asli Abu Bakar As Siddiq adalah Abdullah bin Utsman. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi. Sebelum memeluk Islam, nama beliau adalah Abdul Ka'bah, yang kemudian diganti oleh Rasulullah SAW menjadi Abdullah.
2. Mengapa beliau lebih dikenal dengan nama Abu Bakar?
"Abu Bakar" adalah kuniyah atau panggilan kehormatan yang diberikan kepadanya. Nama ini berasal dari kata "Al-Bakr" yang berarti unta muda dan kuat. Selain itu, beliau juga dikenal dengan panggilan ini karena merupakan salah satu orang yang paling dini memeluk Islam.
3. Apa arti dari julukan "Ash-Shiddiq"?
Julukan "Ash-Shiddiq" berarti "yang membenarkan" atau "yang sangat jujur". Julukan ini diberikan langsung oleh Rasulullah SAW karena Abu Bakar selalu membenarkan dan mempercayai Nabi Muhammad SAW dalam setiap peristiwa, termasuk Isra' Mi'raj.
4. Apakah Abu Bakar memiliki julukan lain selain Ash-Shiddiq?
Ya, Abu Bakar juga memiliki julukan "Al-'Atiq", yang berarti "hamba yang dimerdekakan dan dibebaskan Allah dari neraka". Julukan ini juga diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang berpendapat julukan "Al-'Atiq" diperoleh Abu Bakar karena ketampanan wajahnya dan tindakannya membebaskan budak.
5. Bagaimana nasab Abu Bakar As-Siddiq terhubung dengan Nabi Muhammad SAW?
Nasab Abu Bakar As-Siddiq bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakek keenam, yaitu Murrah bin Ka'ab. Beliau berasal dari suku Taim ibn Murrah bin Ka'ab, yang bersatu dalam darah Adnan dengan keluarga Nabi Muhammad SAW.
6. Kapan nama asli Abu Bakar As Siddiq Adalah Abdullah bin Utsman diganti menjadi Abdullah bin Abu Quhafah?
Menurut buku Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah, setelah masuk Islam, Rasulullah SAW mengubah nama Abu Bakar menjadi Abdullah bin Abu Quhafah, yang berarti hamba Allah putra Quhafah Utsman.
7. Apa peran penting Abu Bakar As-Siddiq dalam sejarah Islam?
Abu Bakar As-Siddiq adalah khalifah pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Beliau berperan penting dalam menjaga persatuan umat Islam, memberantas kemurtadan dan nabi palsu, mengumpulkan Al-Qur'an, serta memulai ekspansi wilayah Islam.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327596/original/000770900_1782197299-cek_fakta_-_dishub_lowongan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471300/original/019987800_1768283249-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-13T124627.766.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3112742/original/001374400_1587956308-20200427-Masjid-Agung-Sanaa-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258677/original/006830300_1781400870-000_B6Z639C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261507/original/086752300_1781723618-063_2282082971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261500/original/047650500_1781713643-bosnia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263929/original/069841500_1782033777-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262977/original/095515100_1781855197-20260616HK_Latihan_Timnas_Prancis_01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262514/original/049328500_1781828863-Canada_s_Jonathan_David__left__and_Stephen_Eustaquio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261544/original/016069100_1781743382-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8275504/original/022503000_1782129376-Untitled-1-04.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261718/original/051731600_1781755469-IMG-20260618-WA0022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261448/original/088941000_1781704030-000_B7CB6XU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327170/original/046346200_1782196768-AP26174048235003.jpg)