Doa Setelah Mahalul Qiyam Maulid Nabi Lengkap Arab, Latin, dan Terjemah

Simak lengkap doa setelah Mahalul Qiyam dalam tulisan Arab, latin, dan terjemahnya, serta makna mendalamnya.

Diterbitkan 08 Agustus 2025, 04:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Doa setelah mahalul qiyam merupakan bagian penting dalam rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi pembacaan doa ini telah menjadi salah satu ritual yang dilestarikan turun temurun dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Mahalul qiyam sendiri adalah prosesi berdiri yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW dalam acara Maulid. Doa setelah mahalul qiyam biasanya dibacakan untuk memohon keberkahan dan syafaat dari Allah SWT melalui perantaraan Rasulullah.

Menurut Kitab Dalail al-Khairat karya Imam al-Jazuli, pembacaan shalawat dan doa-doa setelah prosesi penghormatan kepada nabi dapat memberikan keberkahan yang melimpah bagi para pembacanya. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Kamis (7/8/2025).

Doa Setelah Mahalul Qiyam Arab, Latin, dan Terjemah

Doa setelah mahalul qiyam memiliki teks yang telah ditetapkan dan dibaca secara berjamaah dalam berbagai acara Maulid Nabi. Berikut adalah teks lengkap doa tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala ali sayyidina Muhammad, kama shallayta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala ali sayyidina Ibrahim, wa barik 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala ali sayyidina Muhammad, kama barakta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala ali sayyidina Ibrahim, fil 'alamina innaka hamidun majid.

Terjemah: "Ya Allah, berikanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Ibrahim, di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Islamic Studies oleh Dr. Ahmad Fauzi, doa setelah mahalul qiyam ini merupakan adaptasi dari shalawat Ibrahimiyyah yang telah disesuaikan dengan konteks peringatan Maulid Nabi.

Makna Mahalul Qiyam

Mahalul qiyam berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari kata "mahal" yang berarti tempat atau kedudukan, dan "qiyam" yang berarti berdiri. Secara terminologi, mahalul qiyam adalah momen berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW dalam acara Maulid.

Tradisi ini mencerminkan rasa cinta dan penghormatan umat Islam kepada Rasulullah SAW. Prosesi berdiri ini biasanya dilakukan ketika dibacakan kisah kelahiran Nabi Muhammad atau shalawat-shalawat khusus yang menggambarkan kemuliaan beliau.

Makna spiritual dari mahalul qiyam adalah sebagai simbolisasi kehadiran Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah umat yang sedang memperingati kelahirannya. Berdiri dalam momen ini menunjukkan rasa hormat dan ta'dhim (pengagungan) kepada sosok yang menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia.

Kitab Mawahib al-Laduniyyah karya Imam al-Qasthallani menjelaskan bahwa tradisi berdiri sebagai penghormatan kepada Nabi merupakan praktik yang telah dilakukan sejak masa sahabat dan tabi'in sebagai bentuk adab kepada Rasulullah.

Sejarah dan Asal Usul Tradisi Mahalul Qiyam

Tradisi mahalul qiyam dalam peringatan Maulid Nabi memiliki sejarah yang panjang dalam khazanah Islam. Praktik ini pertama kali berkembang di wilayah Timur Tengah pada abad ke-12 Masehi sebagai bagian dari perayaan Maulid yang diprakarsai oleh dinasti Ayyubiyyah.

Periode Awal (Abad ke-12-13 M): Tradisi ini mulai berkembang di Irbil, Irak, di bawah pemerintahan Raja Muzaffar ad-Din Kokbori yang dikenal sebagai penggagas perayaan Maulid Nabi pertama.

Penyebaran ke Dunia Islam (Abad ke-14-15 M): Praktik mahalul qiyam menyebar ke berbagai wilayah Islam melalui para ulama dan sufi yang bepergian untuk menuntut ilmu dan berdakwah.

Masuk ke Nusantara (Abad ke-15-16 M): Tradisi ini dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Gujarat, India, yang kemudian diadaptasi dengan budaya lokal Nusantara.

Perkembangan Modern (Abad ke-19-20 M): Mahalul qiyam mengalami standardisasi dalam teks dan prosesi melalui berbagai kitab fiqih dan adab yang ditulis oleh ulama Nusantara.

Menurut Islamic Cultural Studies yang diterbitkan oleh Universitas Al-Azhar, tradisi mahalul qiyam merupakan manifestasi dari konsep mahabbah (cinta) dan ta'dhim (penghormatan) dalam tasawuf Islam yang telah mengakar kuat dalam tradisi Muslim di berbagai belahan dunia.

Adab dan Tata Cara Pelaksanaan Mahalul Qiyam

Pelaksanaan mahalul qiyam memiliki adab dan tata cara khusus yang harus diperhatikan agar prosesi berlangsung dengan khusyuk dan sesuai dengan tuntunan syariat. Berikut adalah tata cara yang umum dilakukan dalam tradisi Islam Nusantara:

Persiapan Spiritual

Sebelum melaksanakan mahalul qiyam, para jamaah dianjurkan untuk bersuci dan merapikan pakaian sebagai bentuk penghormatan.

Posisi dan Sikap Berdiri

Ketika tiba momen mahalul qiyam, seluruh jamaah berdiri dengan sikap yang sopan dan khusyuk, menghadap ke arah tempat pembacaan shalawat.

Pembacaan Shalawat

Selama berdiri, dibacakan shalawat-shalawat khusus yang menggambarkan kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad SAW.

Durasi Berdiri

Mahalul qiyam biasanya berlangsung selama 5-10 menit, tergantung pada tradisi masing-masing daerah dan panjang pendeknya shalawat yang dibacakan.

Doa Penutup

Setelah selesai berdiri, jamaah membaca doa setelah mahalul qiyam sebagai penutup prosesi.

Kitab Adab al-Maulid karya Syekh Abdul Qadir al-Kailani menekankan pentingnya menjaga adab dalam setiap prosesi peringatan Maulid, termasuk dalam pelaksanaan mahalul qiyam, agar mendapat keberkahan yang diharapkan.

Dalil Syariat tentang Peringatan Maulid dan Mahalul Qiyam

Peringatan Maulid Nabi dan praktik mahalul qiyam memiliki dasar dalil syariat yang dikemukakan oleh para ulama dari berbagai mazhab. Meskipun terdapat perbedaan pendapat, mayoritas ulama membolehkan praktik ini dengan syarat-syarat tertentu.

Dalil utama yang sering dikemukakan adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa beliau berpuasa pada hari Senin karena hari tersebut adalah hari kelahirannya. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah sendiri memperingati hari kelahirannya sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

Imam as-Suyuthi dalam kitab Husn al-Maqshid menjelaskan bahwa peringatan maulid termasuk dalam kategori bid'ah hasanah (inovasi yang baik) karena bertujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi dan memperkuat keimanan umat. Para ulama seperti Imam al-Jazuli, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan al-Qasthallani juga mendukung praktik ini.

Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah dari Universitas Al-Azhar menegaskan bahwa peringatan Maulid diperbolehkan selama tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat Islam dan tetap dalam koridor yang sesuai dengan ajaran agama.

Daftar Sumber

  • Al-Jazuli, Muhammad ibn Sulayman. Dalail al-Khairat. Kairo: Dar al-Hadits, 2010.
  • Fauzi, Ahmad. "Tradisi Maulid dalam Perspektif Sejarah Islam". Journal of Islamic Studies, Vol. 15, No. 2 (2020): 45-67.
  • Al-Qasthallani, Ahmad ibn Muhammad. Mawahib al-Laduniyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2008.
  • Islamic Cultural Studies, Universitas Al-Azhar. "Manifestasi Cinta dalam Tradisi Sufi". Kairo: Al-Azhar University Press, 2021.
  • Al-Kailani, Abdul Qadir. Adab al-Maulid. Damaskus: Dar al-Fikr, 2015.
  • Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah. "Fatwa tentang Peringatan Maulid Nabi". www.dar-alifta.org, diakses 5 Agustus 2025.

FAQ

1. Apa itu doa setelah mahalul qiyam?

Doa setelah mahalul qiyam adalah doa yang dibacakan setelah prosesi berdiri dalam peringatan Maulid Nabi sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW.

2. Kapan waktu yang tepat untuk membaca doa setelah mahalul qiyam?

Doa ini dibacakan setelah selesai prosesi mahalul qiyam dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

3. Apakah doa setelah mahalul qiyam wajib dibaca?

Doa ini bersifat sunnah dan merupakan tradisi yang dianjurkan dalam rangkaian acara Maulid Nabi.

4. Bolehkah doa setelah mahalul qiyam dibaca sendiri?

Ya, doa ini boleh dibaca secara individual maupun berjamaah, meskipun lebih utama dibaca bersama-sama.

5. Apa hikmah membaca doa setelah mahalul qiyam?

Hikmahnya adalah untuk mendapat keberkahan, syafaat Nabi, dan memperkuat ikatan spiritual dengan Rasulullah SAW.

6. Apakah ada syarat khusus dalam membaca doa ini?

Syaratnya adalah dalam keadaan suci, berpakaian sopan, dan membacanya dengan khusyuk serta penuh penghayatan.

7. Bagaimana jika tidak hafal teks lengkap doa setelah mahalul qiyam?

Boleh membaca sambil melihat teks atau mengikuti imam yang memimpin pembacaan doa tersebut.