I'tidal Adalah Gerakan Berdiri Tegak Setelah Rukuk, Begini Bacaan Doanya

I'tidal adalah gerakan berdiri tegak setelah rukuk dalam salat, merupakan rukun penting. Pahami makna, hukum, bacaan doa, dan tata cara i'tidal agar salat sempurna.

Diterbitkan 30 Juli 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta I'tidal adalahĀ gerakan dalam salat, tepatnya berdiri tegak setelah ruku' dan sebelum sujud. Memahami esensi dan tata cara i'tidal sangat penting untuk memastikan keabsahan dan kesempurnaan salat seorang Muslim.

Gerakan i'tidalĀ merupakan bagian integral dari rukun fi'li dalam salat, yang berarti wajib dilaksanakan. Tanpa i'tidal yang benar, salat seseorang dapat dianggap tidak sah atau batal, sebagaimana dijelaskan oleh jumhur ulama.

Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami tidak hanya gerakan i'tidal seperti apa, tetapi juga bacaan doa i'tidal serta bagaimana melaksanakannya dengan benar sesuai syariat. Pengetahuan ini akan membantu meningkatkan kekhusyukan dan kualitas ibadah. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (30/7/2025).

Pengertian I'tidal

I'tidal adalah salah satu rangkaian ibadah salat yang ditandai dengan berdiri kembali setelah melakukan rukuk. Secara etimologi, i'tidal memiliki arti keseimbangan atau keselarasan. Dalam konteks salat, istilah ini mencerminkan momen ketika seorang Muslim berdiri dengan tegak usai menyelesaikan gerakan rukuk dengan tenang.

Lebih dari sekadar postur fisik biasa, i'tidal adalah salah satu bentuk amal ibadah yang ditujukan kepada Allah SWT. Saat i'tidal, umat Islam tidak hanya mengatur tubuh secara fisik, tetapi juga dianjurkan untuk membersihkan pikiran dengan membaca doa i'tidal.

Jumhur ulama sepakat bahwa i'tidal menjadi bagian dari rukun sholat yang harus dikerjakan. Apabila seseorang menunaikan sholat tanpa i'tidal, maka ibadah sholatnya menjadi batal atau tidak sah.

Hukum Membaca Doa I'tidal

Hukum membaca doa i'tidal adalah wajib bagi imam, makmum, atau orang yang melaksanakan salat secara individu. Doa i'tidal merupakan bagian yang penting dalam salat dan membacanya merupakan rukun fi'li yang wajib dilakukan dalam salat. Selain itu, doa i'tidal juga merupakan sunah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Kewajiban ini ditegaskan dalam berbagai riwayat dan menjadi konsensus ulama. Tanpa membaca doa i'tidal, kesempurnaan salat dapat terganggu, bahkan dapat membatalkan salat jika tidak dilakukan sama sekali. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya doa ini dalam setiap rakaat salat.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ubaid bin al-Hasan dari Abu Aufa, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW ketika mengangkat kepala dari rukuk membaca,Ā "Sami'allahu liman hamidah" dan membaca doa "Rabbana lakal hamdu mil 'us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil'u maa syi'ta min syai'in ba'du".Ā 

Dengan demikian, membaca doa i'tidal merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dalam pelaksanaan salat. Ini bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian tak terpisahkan dari rukun salat yang memastikan ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Bacaan Doa I'tidal

Doa i'tidal adalah bacaan yang dilafalkan saat berdiri tegak setelah rukuk sebelum sujud dalam salat. Bacaan doa i'tidal terdiri dari dua versi, yakni versi pendek dan panjang yang keduanya memiliki keutamaan dan dapat diamalkan sesuai pilihan.

Doa I'tidal Pendek

Dalam versi pendek, doa i'tidal dibaca dalam bentuk bacaan berikut ini:

Ų±ŁŽŲØŁŽŁ‘Ł†ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁƒŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŁ…Ł’ŲÆŁ

(Rabbana wa laka al-hamdu)

Artinya: "Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian."

Bacaan ini merupakan bentuk pujian dan pengakuan atas kebesaran Allah SWT, yang singkat namun padat makna. Ini adalah bacaan minimal yang dianjurkan untuk diucapkan saat i'tidal.

Doa I'tidal Panjang

Selain bacaan doa i'tidal pendek, umat Islam juga bisa membaca doa i'tidal panjang, yakni:

Ų±ŁŽŲØŁŽŁ‘Ł†ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁƒŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŁ…Ł’ŲÆŁ Ł…ŁŁ„Ł’Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ų³ŁŽŁ‘Ł…ŁŽŁˆŁŽŲ§ŲŖŁ ŁˆŁŽŁ…ŁŁ„Ł’Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶Ł ŁˆŁŽŁ…ŁŁ„Ł’Ų”ŁŽ Ł…ŁŽŲ§ Ų“ŁŲ¦Ł’ŲŖŁŽ مِنْ Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų”Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁ

(Rabbana lakal hamdu mil 'us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil'u maa syi'ta min syai'in ba'du.)

Artinya: "Ya Allah Ya Tuhan kami, bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu."

Doa i'tidal panjang adalah doa yang disunahkan dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bacaan ini lebih komprehensif dalam mengungkapkan pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT, meliputi seluruh alam semesta.

Keutamaan Membaca Doa I'tidal

Membaca doa i'tidal dalam salat memiliki keutamaan yang diakui dalam ajaran Islam. Keutamaan ini tidak hanya memperkaya ibadah, tetapi juga membentuk karakter spiritual seorang Muslim. Berikut adalah beberapa keutamaan penting dari pengamalan doa i'tidal:

  • Mengakui Kepemilikan Allah

    Doa i'tidal merupakan ungkapan syukur dan pengakuan bahwa segala pujian hanya layak diberikan kepada Allah SWT. Ini mengajarkan umat Islam untuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT sebagai Sang Pencipta, menyadari bahwa semua nikmat berasal dari-Nya.

  • Menunjukkan Kesadaran akan Ketergantungan kepada Allah

    Doa i'tidal mencerminkan kesadaran umat Islam akan ketergantungan mereka kepada Allah SWT. Dengan membaca doa ini, umat Islam mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan mereka hanya mampu berbuat dengan izin-Nya, menumbuhkan rasa tawakal.

  • Meningkatkan Konsentrasi dan Khusyuk dalam Salat

    Membaca doa i'tidal juga dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan kekhusyukan dalam salat. Doa ini mengajarkan pentingnya meresapi makna setiap gerakan salat dengan penuh perhatian dan rasa takut kepada Allah SWT, menjauhkan dari kelalaian.

  • Mengokohkan Ketaatan dalam Ibadah

    Doa i'tidal menjadi sarana untuk mengokohkan ketaatan umat Islam dalam menjalankan ibadah salat. Dengan membaca doa ini, umat Islam menegaskan niat tulus dan ketaatan mereka kepada Allah SWT dalam setiap langkah salat, memperkuat komitmen beribadah.

  • Memperoleh Keberkahan dalam Ibadah

    Doa i'tidal merupakan salah satu bentuk doa yang dianjurkan dalam salat. Dengan melibatkan doa ini, umat Islam berharap memperoleh keberkahan dari Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik di dunia maupun di akhirat, sebagai bentuk rahmat-Nya.

Tata Cara Melakukan I'tidal Menurut Syariat

I'tidal adalah gerakan salat yang tidak dilakukan secara sembarangan. Terdapat beberapa aturan menurut syariat Islam yang menuntun untuk melaksanakan i'tidal dengan tepat. Memahami tata cara ini penting untuk memastikan salat yang sah dan diterima.

Bangkit dari Rukuk dengan Perlahan

Setelah menyelesaikan gerakan rukuk, penting untuk bangkit dengan mengangkat kepala hingga setiap ruas tulang punggung berada di posisinya semula. Langkah ini menegaskan keseimbangan antara gerakan salat sebagaimana makna dari i'tidal itu sendiri, dilakukan secara tenang dan tidak tergesa-gesa.

Berdiri Tegak dan Tenang

Penting untuk berdiri dengan tegak dan tenang setelah bangkit dari rukuk. Postur tubuh yang benar mencerminkan ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah salat. Ketika hendak berdiri tegak dan mengangkat tangan, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa berikut ini:

Ų³ŁŽŁ…ŁŲ¹ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ł„ŁŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų­ŁŽŁ…ŁŲÆŁŽŁ‡Ł

(Sami Allahu liman hamidah)Ā 

Artinya: "Allah Maha Mendengar orang-orang yang memuji-Nya,"Ā 

Angkat Tangan dengan Tertib

Umat Islam dianjurkan untuk mengangkat tangan dengan tertib. Langkah ini melibatkan mengangkat kedua tangan setinggi telinga untuk laki-laki atau setinggi dada untuk perempuan. Hal ini sesuai dengan tata cara yang diajarkan dalam hadis, menunjukkan tanda keseriusan dan ketaatan dalam melaksanakan i'tidal.

Setelah mengangkat tangan, ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai posisi kedua tangan saat gerakan i'tidal dalam salat. Menurut beberapa sumber, Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya hingga setengah dengan kedua pundaknya.

Setelah itu, posisi kedua tangan disunahkan untuk dilepas (irsal) dan tidak diletakkan di bawah dada seperti saat berdiri membaca surat Al-Fatihah. Dalam Madzhab Syafi'i, posisi kedua tangan disunahkan untuk dilepas (irsal).Ā  Di sisi lain, menurut Madzhab Hanafi, kondisi kedua tangan saat i'tidal adalah irsal. Riwayat hadis dari Imam Nasa'i menyebutkan bahwa Wa'il bin HujrĀ RA mengatakan:

Ų±ŁŽŲ£ŁŽŁŠŁ’ŲŖŁ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ’Ł„ŁŽ اللهِ ŲµŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ…ŁŽ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ų¦ŁŁ…Ł‹Ų§ فِي Ų§Ł„ŲµŁ‘ŁŽŁ„ŁŽŲ§Ų©Ł Ł‚ŁŽŲØŁŽŲ¶ŁŽ ŲØŁŁŠŁŽŁ…ŁŁŠŁ’Ł†ŁŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų“ŁŁ…ŁŽŲ§Ł„ŁŁ‡ŁĀ 

Artinya: "Aku melihat Rasulullah ŲµŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ…ŁŽ ketika berdiri dalam shalat, beliau menggenggam dengan tangan kanannya pada tangan kirinya." Oleh karena itu, posisi kedua tangan saat gerakan i'tidal dalam salat dapat disesuaikan dengan masing-masing madzhab yang dianut.

Bacalah Doa I'tidal

Selanjutnya, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa i'tidal sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, baik versi pendek maupun panjang. Doa ini menjadi ungkapan syukur dan pengakuan terhadap keagungan Allah SWT, menguatkan koneksi spiritual saat beribadah.

Lakukan Gerakan dengan Tuma'ninah

Dalam melaksanakan i'tidal, penting untuk melibatkan tuma'ninah, yaitu gerakan dengan posisi tubuh yang berdiri tegak dan tetap diam di tempat serta dalam kondisi yang tenang. Dengan melaksanakan i'tidal dengan tuma'ninah dapat menciptakan suasana yang tenang dan khidmat ketika salat, memastikan setiap rukun dilakukan dengan sempurna dan penuh kesadaran.

Dengan mempraktikkan i'tidal sesuai dengan tata cara yang benar, salat yang kita laksanakan diharapkan menjadi sah dan diterima oleh Allah SWT. Ikuti langkah-langkah di atas untuk memastikan pelaksanaan i'tidal dalam ibadah salat sesuai dengan ajaran yang telah ditetapkan.

Daftar Sumber

  • antaranews.com | "gerakan dalam sholat, tepatnya berdiri tegak setelah ruku', sebelum sujud." |Ā 16 Februari 2025 | https://mataram.antaranews.com/berita/424973/bacaan-dan-panduan-sholat-lengkap-beserta-urutannya
  • Muhammadiyah.orgĀ | "Tuntunan Bacaan Sholat Menurut Pemahaman Muhammadiyah" |Ā 6 Januari 2022 |Ā https://muhammadiyahsemarangkota.org/tuntunan-bacaan-sholat-menurut-pemahaman-muhammadiyah/

FAQ

1. Apa itu I’tidal dalam sholat?

I’tidal adalah gerakan bangkit dari rukuk dan berdiri tegak dengan tenang (thuma’ninah) setelah rukuk.

2. Doa apa yang dibaca saat I’tidal?

Setelah bangkit dari rukuk dianjurkan membaca Sami'Allahu liman hamidah lalu dilanjutkan doa tahmid Rabbanaa wa lakal hamdu.

3. Apakah ada versi panjang bacaan tahmid saat I’tidal?

Ya, versi panjangnya: Rabbanaa lakal‑hamdu mil’us‑samaawaati wa mil’us‑ardhi wa mil’u maa syi’ta min sya’in ba’du.

4. Apakah I’tidal wajib atau sunnah?

I’tidal termasuk rukun sholat yang wajib dilakukan, sedangkan doa tahmid-nya sunnah muakkadah atau wajib bagi imam bila sendirian.

5. Bolehkah memperpanjang durasi berdiri setelah rukuk?

Dalam mazhab Syafi’i diperbolehkan memperlama berdiri saat I’tidal selama diisi dengan dzikir dan tidak melebihi lama berdiri saat membaca Al‑Fatihah.

6. Bagaimana posisi tangan saat I’tidal?

Pendapat mayoritas ulama menyarankan tangan dibiar terbuka di samping (irsāl), namun ada juga yang berpendapat boleh bersedekap seperti posisi berdiri antara takbir dan ruku’.

7. Apa keutamaan membaca Sami'Allahu liman hamidah dan Rabbanaa wa lakal hamdu bersamaan dengan para malaikat?

Menurut hadits, bagi yang mengucapkan ā€œSami’Allahu liman hamidahā€ dan ā€œRabbanaa wa lakal hamduā€ bersamaan dengan malaikat, dosa-dosanya yang lalu diampuni dan malaikat berlomba mencatat amalnya.