Liputan6.com, Jakarta Dalam pandangan Islam, setiap perilaku manusia tidak lepas dari kecenderungan pada kebaikan atau keburukan. Salah satu sifat batin yang sering menjerumuskan manusia ke dalam kesalahan adalah shabwah. Shabwah adalah sifat jiwa yang condong pada pelanggaran dan kebodohan, bahkan seringkali membungkus dirinya dalam bentuk keinginan yang tampak menyenangkan namun menjauhkan seseorang dari jalan lurus. Sifat ini bisa tumbuh secara halus dalam diri seseorang, terutama ketika hawa nafsu lebih dominan daripada akal dan keimanan.
Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam karya klasiknya Raudhatul Muhibbin, menjelaskan bahwa shabwah adalah kecenderungan jiwa pada sesuatu yang bertentangan dengan akal dan syariat, serta lebih dekat kepada kebodohan daripada hikmah. Dalam hal ini, shabwah bukan sekadar kesalahan fisik, tetapi lebih kepada arah condongnya hati pada keburukan, yang perlahan mengikis nurani dan akhlak. Ini menjelaskan mengapa seseorang yang terjerumus dalam shabwah bisa terus mengulangi kesalahan tanpa merasa bersalah.
Sementara itu, dalam buku Penjara Suci untuk Jiwa karya Zhalsadilla Putri, dijelaskan bahwa orang yang terjebak dalam shabwah akan mengabaikan rasa malu dan kebenaran, karena yang menjadi tujuan utamanya hanyalah kenikmatan sesaat meskipun salah secara moral dan agama. Maka, shabwah adalah akar dari banyak penyimpangan moral dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kesadaran dan kontrol spiritual, sifat ini bisa berkembang menjadi karakter yang sulit diperbaiki. Oleh sebab itu, penting bagi setiap Muslim untuk mengenali dan memahami sifat ini agar mampu menahan diri dari godaan yang merusak keimanan.
Advertisement
Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Jum’at (18/7/2025).
Shabwah Adalah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3131350/original/094401000_1589779881-Portrait_Of_Middle_Eastern_Man_With_Children.jpg)
Shabwah adalah sifat dasar manusia yang mencerminkan kecenderungan untuk melakukan pelanggaran, terutama yang didorong oleh hawa nafsu, ketidaktahuan, atau ketidakmampuan mengendalikan diri. Dalam kitab Raudhatul Muhibbin karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, dijelaskan bahwa bentuk-bentuk perubahan kata dari Ash-shabwah seperti tashaabaa, shabaa, yashbuu, shabwah, hingga shubuww menggambarkan makna yang berkaitan dengan kecenderungan menuju kebodohan atau kelemahan akal. Kata-kata ini menegaskan bahwa shabwah adalah keadaan jiwa yang terombang-ambing oleh keinginan duniawi dan terputus dari bimbingan akal serta nilai-nilai agama.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ
Artinya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah" (HR. Ahmad).
Lebih jauh, dalam buku Penjara Suci untuk Jiwa karya Zhalsadilla Putri, disebutkan bahwa individu yang berada dalam kondisi shabwah tidak lagi mengindahkan rasa malu atau etika, karena yang menjadi pusat perhatian hanyalah pemenuhan kesenangan pribadi, meski harus melanggar norma dan kebenaran. Bahkan, cinta dalam konteks tertentu juga dikaitkan dengan istilah shabwah, sebab seseorang yang sedang jatuh cinta seringkali kehilangan kendali dan selalu condong terhadap orang yang dicintainya. Dalam hal ini, kata tahsaaba yang berarti saling condong satu sama lain menunjukkan hubungan timbal balik yang memperkuat keterikatan emosional dan keinginan, yang bisa membawa kepada jalan yang salah jika tidak diarahkan dengan benar. Oleh karena itu, memahami shabwah bukan hanya dari sisi linguistik, tetapi juga dari dimensi spiritual dan psikologis, menjadi sangat penting dalam membentuk kepribadian yang kokoh dalam Islam.
Advertisement
7 Golongan yang Dapat Naungan Allah SWT
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3120673/original/067346100_1588740345-Hand_Puting_Coins_In_Money_Bag_For_Saving_On_Table_Background.jpg)
Berikut ini terdapat 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah SWT adalah:
1. Pemimpin yang Adil
Golongan pertama adalah pemimpin yang adil, yaitu orang yang memiliki kekuasaan atau tanggung jawab kepemimpinan dan menggunakannya dengan benar, jujur, dan penuh tanggung jawab. Pemimpin seperti ini tidak memihak, tidak korup, dan selalu memperhatikan keadilan sosial dalam setiap kebijakannya. Keadilan yang dimaksud bukan hanya dalam pengadilan atau hukum, tetapi juga dalam kepemimpinan keluarga, lembaga, organisasi, dan pemerintahan.
Keadilan dalam kepemimpinan menjadi begitu mulia karena pemimpin memiliki dampak besar terhadap kehidupan banyak orang. Bila ia berlaku zalim, maka kebinasaan menyebar. Tetapi bila ia adil, maka rahmat dan kebaikan akan turun dari langit.
2. Pemuda yang Tumbuh dalam Ibadah kepada Allah
Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT adalah orang yang sejak usia muda konsisten dalam melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan Allah SWT. Di usia muda, biasanya seseorang dipenuhi dengan semangat, godaan dunia, dan keinginan besar terhadap kenikmatan, namun pemuda ini justru mengarahkan kekuatannya untuk mencari ridha Allah SWT.
Menahan nafsu dan menjaga komitmen dalam ibadah sejak remaja adalah tanda keistimewaan akhlak. Itulah mengapa Allah SWT memberikan penghargaan khusus berupa naungan-Nya di hari kiamat, ketika tidak ada perlindungan lain.
3. Lelaki yang Hatinya Terpaut pada Masjid
Golongan ini adalah mereka yang senantiasa mencintai masjid. Hatinya selalu ingin kembali ke rumah Allah SWT, bahkan jika sedang berada jauh dari masjid, ia merasa rindu dan gelisah. Ia bukan hanya datang untuk sholat, tetapi juga menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan spiritualnya.
Rasa cinta kepada masjid menunjukkan ketulusan iman. Orang seperti ini biasanya juga aktif memakmurkan masjid dengan dzikir, membaca Al-Qur’an, belajar agama, dan mengajak orang lain untuk hadir dalam majelis kebaikan.
4. Dua Orang yang Saling Mencintai Karena Allah
Golongan keempat adalah dua orang sahabat yang saling mencintai karena Allah SWT, bukan karena kepentingan duniawi. Mereka menjalin persahabatan dalam keimanan, saling menguatkan dalam kebaikan, dan berpisah pun tetap dalam kecintaan kepada Allah SWT.
Persahabatan yang dibangun atas dasar keimanan bukan hanya bermanfaat di dunia, tetapi akan dibalas dengan perlindungan di akhirat. Mereka saling mengingatkan dalam ibadah, mencegah dosa, serta menjaga akhlak satu sama lain.
5. Lelaki yang Menolak Rayuan Wanita Cantik dan Terhormat Karena Takut kepada Allah SWT
Ini adalah salah satu ujian yang sangat berat. Seseorang dirayu oleh wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia menolak karena takut kepada Allah SWT. Penolakan ini bukan karena tidak tertarik, tapi karena keimanan yang kuat dan rasa takut terhadap murka Allah SWT lebih besar daripada nafsu sesaat.
Dalam konteks ini, laki-laki tersebut mengendalikan syahwatnya dan menjaga kehormatan dirinya maupun orang lain. Keteguhan seperti ini sangat dicintai oleh Allah SWT karena termasuk bentuk jihad terhadap nafsu.
6. Orang yang Bersedekah dengan Sembunyi-Sembunyi
Salah satu bentuk sedekah paling mulia adalah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan ikhlas. Hingga tangan kiri tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan, ungkapan ini menunjukkan tingkat kerahasiaan dan keikhlasan yang tinggi.
Allah mencintai amal yang dilakukan tanpa pamrih dan tanpa niat riya (ingin dipuji). Sedekah seperti ini menunjukkan bahwa pelakunya benar-benar berharap pahala hanya dari Allah SWT, bukan pengakuan dari manusia.
7. Orang yang Mengingat Allah dalam Kesendirian dan Menangis
Orang terakhir adalah yang dalam kesendiriannya mengingat Allah SWT, lalu menangis karena takut kepada-Nya atau karena haru dalam mengenang rahmat dan karunia-Nya. Tangisan ini bukan karena kesedihan dunia, melainkan dari hati yang lembut dan penuh iman.
Menangis karena takut kepada Allah merupakan bentuk kepekaan ruhani yang sangat tinggi. Ia sadar akan dosa-dosanya dan kecilnya dirinya di hadapan kebesaran Allah SWT. Maka, tangisan itu menjadi sebab dia mendapatkan naungan Ilahi kelak di hari yang tiada perlindungan selain dari-Nya.
Cara Mengendalikan Shabwah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4316162/original/072425600_1675753930-man-2612549_1920.jpg)
Dikutip dari Kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali, telah disebutkan bahwa sudah ada tiga cara untuk mengendalikan shabwah atau hawa nafsu. Berikut rinciannya:
1. Mengekang Syahwat dan Keinginan
Cara mengendalikan yang pertama yaitu dengan rutin berpuasa. Abu Sulaiman Ad-Darani juga pernah mengatakan bahwa kunci dunia merupakan kenyang dan kunci akhirat adalah lapar. Allah SWT sendiri telah memberikan hikmah kepada orang-orang yang berpuasa. Selain itu, juga menjadikan kebodohan atau maksiat pada orang yang kenyang. Dalam hal tersebut, makan kenyang dan nafsu merupakan dua komponen yang sampai saat ini saling terhubung.
2. Memperbanyak Ibadah
Tindakan ini sebenarnya bisa dilakukan dengan mengurangi jam tidur dan memperbanyak dzikir, munajat kepada Allah SWT, sholat malam, serta ibadah lainnya.
3. Memohon Pertolongan Allah
Seorang Muslim telah dianjurkan untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT agar dijinakkan hawa nafsunya. Sehingga, kita juga bisa menghindari maksiat serta perbuatan dosa.
Advertisement
QnA Seputar Shabwah
Q: Dari mana asal istilah shabwah dan apa makna bahasa Arabnya?
A: Istilah shabwah berasal dari bahasa Arab ash-shabwah, yang memiliki akar kata shabaa, yashbuu, shubuww, dan tashaabaa. Menurut Ibnul Qayyim dalam kitab Raudhatul Muhibbin, kata-kata ini menggambarkan kecenderungan jiwa pada kebodohan atau kecondongan yang tidak terkendali, terutama dalam hal cinta, syahwat, dan kemewahan dunia. Secara linguistik, shabwah berarti "kecenderungan jiwa pada sesuatu yang tidak semestinya."
Q: Apakah shabwah selalu bermakna negatif?
A: Secara umum, dalam konteks akhlak Islam, shabwah adalah sifat negatif karena berkaitan dengan ketertarikan pada hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran. Namun, shabwah juga bisa muncul dalam bentuk cinta yang kuat, yang jika tidak diarahkan dengan benar, bisa menyesatkan. Sebagai contoh, cinta yang berlebihan kepada seseorang hingga melanggar batas agama termasuk dalam kategori shabwah.
Q: Apa perbedaan antara syahwat dan shabwah?
A: Syahwat adalah hasrat atau keinginan (baik seksual, makan, duniawi, dll.) yang bersifat naluriah dan bisa dibenarkan dalam Islam jika dikendalikan. Sementara itu, shabwah adalah bentuk penyimpangan atau kecondongan jiwa yang mengikuti syahwat tanpa kendali. Jadi, syahwat adalah energi dasar, sedangkan shabwah adalah arah yang salah ketika energi tersebut tidak dijaga.
Q: Bagaimana cara seseorang terjerumus dalam shabwah?
A: Seseorang terjerumus dalam shabwah ketika ia tidak menjaga hawa nafsu, tidak memperkuat keimanan, serta terbiasa mengikuti keinginan duniawi tanpa pertimbangan syariat. Contohnya adalah ketika seseorang mengejar cinta, harta, atau kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, mengabaikan akhlak, bahkan meninggalkan ibadah.
Sumber:
- Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim. 1329. Raudhatul Muhibbin. Jakarta: Pustaka Azzam.
- Putri, Zhalsadilla. 2021. Penjara Suci untuk Jiwa. Jakarta: GUEPEDIA.
- Ghazali, Imam. 2013. Kitab Minhajul Abidin. Jakarta: Khatulistiwa Press.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572710/original/034284200_1777866003-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-05-04T103851.830.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297860/original/099954200_1784109220-cek_fakta_-_purbaya_kuis_tebak_nama_kota.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3377629/original/079741500_1613436248-pray-4536313_640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296658/original/081223500_1784019662-000_B9YV49G.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288624/original/094450800_1783327932-000_B9C996W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295937/original/029239400_1783995735-000_A6DQ92Z.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297435/original/065011900_1784091222-000_C27U8NQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4893064/original/098068400_1721122752-FotoJet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5936533/original/005039500_1778833892-063_2276293040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297036/original/087342800_1784067028-fran2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3082774/original/037721700_1584860118-Pelatih_Jebolan_Serie_A_05.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297029/original/052747100_1784066633-Spain_s_Pedro_Porro_celebrates_scoring_their_second_goal_with_Pau_Cubarsi__22_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297082/original/028669700_1784076848-000_C27U6KD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297076/original/040450300_1784075378-barton_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297070/original/029757400_1784071679-Players_of_France_and_Spain.jpg)