Sujud Syukur, Amalan untuk Mengungkapkan Rasa Syukur dalam Islam

Sujud syukur adalah ibadah sunnah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat atau karunia yang diterima. Berikut tata cara dan keutamaannya.

Diterbitkan 08 Juli 2025, 15:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Setiap nikmat yang Allah SWT limpahkan kepada manusia, baik berupa keberhasilan, keselamatan, maupun rezeki yang tak terduga, sepatutnya disyukuri dengan sepenuh hati. Dalam Islam, salah satu bentuk ekspresi syukur yang paling dianjurkan adalah dengan sujud syukur. Amalan ini tidak hanya menjadi cerminan dari ketundukan kepada Allah, tetapi juga menunjukkan kesadaran spiritual atas karunia yang diberikan-Nya.

Sujud syukur merupakan tindakan ibadah yang dilakukan secara spontan sebagai wujud pengakuan seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT. Ia dilakukan di luar salat, tanpa terikat waktu atau tempat tertentu. Bahkan, Rasulullah SAW pun mencontohkan sujud syukur dalam berbagai kesempatan ketika mendapatkan kabar gembira atau keberhasilan dalam perjuangan.

Lantas, apa itu sebenarnya sujud syukur? Bagaimana tata cara melakukannya? Kapan waktu yang tepat untuk mengamalkannya? Liputan6.com akan mengulas pengertian, tata cara, keutamaan, waktu pelaksanaan, serta bacaan doanya secara lengkap, Selasa (8/7/2025).

Pengertian Sujud Syukur

Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan seorang muslim sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas nikmat atau keselamatan dari musibah. Dalam Fiqih Empat Madzhab Jilid 2 karya Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, dijelaskan bahwa sujud syukur dilakukan satu kali di luar salat ketika seseorang memperoleh kenikmatan besar atau selamat dari bencana. Ini mirip dengan sujud tilawah dari segi bentuk, tetapi berbeda dari segi sebab dan waktu pelaksanaannya.

Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah juga menyebutkan bahwa sujud syukur dilakukan ketika mendapatkan nikmat yang membahagiakan atau ketika terhindar dari suatu bahaya besar. Dalam kitab Fiqih karya Hasbiyallah, ditegaskan pula bahwa sujud syukur adalah bentuk pengakuan atas semua kebaikan yang datang dari Allah.

Hadis-hadis yang menjadi landasan sujud syukur antara lain:

  • Dari Abu Bakrah RA, "Bahwa kebiasaan Nabi SAW jika datang kepadanya sesuatu yang membahagiakan, maka beliau pun langsung sujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi)
  • Dari Abdurrahman bin Auf RA: "Sesungguhnya Malaikat Jibril telah datang kepadaku dengan membawa kabar gembira. Maka aku pun sujud sebagai tanda syukur kepada Allah." (HR Ahmad)
  • Dari Al Bara' bin Azib RA, ketika Rasulullah SAW menerima surat dari Ali bin Abi Thalib yang mengabarkan masuk Islamnya penduduk Yaman, beliau pun langsung sujud syukur. (HR Al-Baihaqi)

Tata Cara Sujud Syukur

Tata cara sujud syukur pada dasarnya serupa dengan sujud dalam salat, tetapi dilakukan hanya sekali, di luar salat. Dalam buku Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, dijelaskan bahwa sujud syukur dilakukan dengan:

  1. Menghadap kiblat (kecuali dalam kondisi darurat seperti sedang bepergian).
  2. Langsung bersujud seperti dalam salat: menempelkan dahi, hidung, telapak tangan, lutut, dan jari kaki ke tanah.
  3. Tidak ada keharusan takbir, wudhu, atau salam.
  4. Diiringi dengan bacaan doa dan tasbih.

Menurut Fiqih Ibadah karya Hasan Ayyub, meskipun lebih baik dilakukan dalam keadaan suci dan menghadap kiblat, syarat ini tidak mutlak, karena tidak ada ketentuan wajib dari Nabi SAW.

Beberapa bacaan doa yang dianjurkan saat sujud syukur:

Versi 1:

سُبْحَانَ اللهِ والْحَمْدُ لِلَّهِ ولا إِلَهَ إِلَّا اللهُ واللهُ أَكْبَرُ

Subhaanallaah wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar

Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar."

Versi 2:

سُبحانَ ربِّيَ الأعلَى وبحمدِه

Subhaana rabbiyal a'la wa bihamdihi

Artinya: "Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan segala puji bagi-Nya."

Versi 3:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Subhaanaka allahumma rabbanaa wa bihamdika allahummaghfirli

Artinya: "Maha Suci Engkau ya Allah, wahai tuhan kami, dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah aku,"

Versi 4:

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَا رَكَ اللهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

Sajada wajhiya lilladzii kholaqohu washowwarohu wasyaqo sam'ahu wa bashorohu bihaulili wa quwwatihi fatabaa ro kallaahu ahsanul khooliqiin.

Artinya: "Aku sujudkan wajahku kepada yang menciptakannya, membentuk rupanya, dan membuka pendengaran serta penglihatan. Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta."

 

Keutamaan Sujud Syukur

Sujud syukur bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi juga mencerminkan pengakuan spiritual terdalam seorang hamba atas karunia dan kebesaran Allah SWT. Amalan ini memiliki berbagai keutamaan yang sangat mulia, tidak hanya dari sisi spiritualitas individu, tetapi juga dalam memperkuat hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Berikut ini adalah uraian mendalam mengenai berbagai keutamaan sujud syukur sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an, hadis, dan pandangan para ulama.

1. Mendapatkan Tambahan Nikmat dari Allah SWT

Keutamaan paling utama dari sujud syukur adalah janji Allah SWT untuk menambah nikmat bagi siapa pun yang bersyukur. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"

Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa ekspresi syukur, termasuk dalam bentuk sujud syukur, merupakan jalan untuk memperoleh keberkahan tambahan. Dengan kata lain, sujud syukur adalah bentuk ibadah yang menjadi penyebab turunnya limpahan rahmat dan karunia Allah SWT.

2. Mendapat Kepuasan dan Ketenteraman Batin

Sujud syukur juga menghadirkan ketenangan jiwa yang mendalam. Ketika seseorang menyadari bahwa segala nikmat, kemenangan, keselamatan, dan kebaikan yang diterima bukanlah hasil usahanya semata, melainkan karunia dari Allah SWT, maka ia akan merasa lebih ringan menjalani hidup. Sujud syukur menjadi bentuk pelepasan ego dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Dalam kondisi ini, sujud syukur menjadi momen intim seorang hamba bersama Rabb-nya, yang memberi efek ketenteraman spiritual dan batiniah. Hal ini selaras dengan hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA:

"Paling dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa."

Sujud syukur menjadi sarana terdekat untuk berkomunikasi dengan Allah dan menyampaikan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan.

3. Menguatkan Keimanan dan Rasa Tunduk kepada Allah SWT

Keutamaan lainnya adalah meningkatnya keimanan dan rasa tunduk kepada Allah SWT. Sujud secara fisik adalah bentuk kerendahan diri. Seseorang menempelkan dahinya ke tanah, bagian tubuh yang paling mulia, untuk menunjukkan betapa kecilnya ia di hadapan Sang Pencipta. Dalam konteks sujud syukur, perasaan ini diperkuat dengan kesadaran bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang datang selain dari Allah.

Dengan melakukan sujud syukur secara konsisten setiap kali mendapat nikmat atau terhindar dari bahaya, seseorang akan semakin sadar akan kekuasaan Allah. Ini mendorong dirinya untuk terus mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, zikir, dan amal saleh lainnya.

4. Menjadi Bukti Nyata Syukur Seorang Hamba

Sujud syukur juga menjadi bukti konkret dari rasa syukur. Berbeda dari ucapan "Alhamdulillah" yang hanya berupa lisan, sujud syukur melibatkan seluruh tubuh dalam ekspresi terima kasih. Menurut Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq, sujud syukur disyariatkan ketika seseorang menerima kabar gembira atau selamat dari bahaya.

Contohnya adalah tindakan Nabi Muhammad SAW yang langsung bersujud ketika menerima kabar baik. Dalam hadis riwayat Ahmad, Abdurrahman bin Auf RA berkata:

"Rasulullah SAW pernah sujud dan lama sujudnya, lalu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda: 'Sesungguhnya Malaikat Jibril telah datang kepadaku dengan membawa kabar gembira, maka aku bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah.'"

Dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW, seorang muslim tidak hanya meniru tindakan beliau, tetapi juga menunjukkan bahwa ia menempatkan syukur sebagai prioritas utama dalam hidupnya.

5. Selamat dari Siksa dan Murka Allah SWT

Sebaliknya dari syukur adalah kufur nikmat. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah memperingatkan bahwa siapa yang mengingkari nikmat-Nya akan merasakan siksa yang sangat pedih. Oleh karena itu, sujud syukur juga bisa dimaknai sebagai upaya perlindungan diri dari kemurkaan Allah. Dengan bersujud syukur, seorang hamba menunjukkan bahwa ia menyadari dan menghargai nikmat yang diberikan, sehingga ia dijauhkan dari sifat kufur yang membawa pada azab.

Sujud syukur juga menjadi cara efektif untuk menahan diri dari sikap sombong atau membanggakan diri atas prestasi dan pencapaian. Seseorang yang baru saja mendapat kemenangan, menjadi juara, atau meraih rezeki melimpah sangat mungkin tergoda untuk membanggakan diri. Namun, dengan melakukan sujud syukur, ia mengakui bahwa semua itu terjadi semata karena pertolongan Allah SWT. Ini melatih dirinya untuk tetap rendah hati dan tidak melupakan asal segala kebaikan.

7. Menghidupkan Sunnah Nabi SAW

Sujud syukur adalah amalan yang dilakukan Rasulullah SAW. Dengan mengamalkannya, seorang muslim menghidupkan sunnah beliau. Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi dan asalnya dari Shahih Bukhari, disebutkan bahwa Nabi SAW sujud syukur saat menerima kabar masuk Islamnya penduduk Yaman.

Menghidupkan sunnah Rasul tidak hanya berpahala besar, tetapi juga memperkuat ikatan batin dan cinta kepada beliau. Bahkan dalam hadis lain dari Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi, Nabi sujud spontan setiap kali mendapat kabar gembira. Artinya, sujud syukur merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling langsung menggambarkan akhlak syukur Rasulullah SAW.

 

Waktu yang Dianjurkan untuk Sujud Syukur

Berdasarkan referensi dari Fiqih Madrasah Tsanawiyah Kelas VII dan beberapa kitab lainnya, sujud syukur dapat dilakukan dalam kondisi-kondisi berikut:

  1. Mendapat kemenangan atau juara.
  2. Menerima kabar gembira.
  3. Mendapat rezeki yang tak disangka.
  4. Sembuh dari sakit parah.
  5. Selamat dari musibah besar.

Tidak ada waktu tertentu yang mengikat. Sujud syukur adalah reaksi spontan atas suatu kenikmatan atau keselamatan.

FAQ Seputar Sujud Syukur

1. Apakah sujud syukur harus dalam keadaan berwudhu?

Tidak wajib, meskipun lebih utama jika dalam keadaan suci. Pendapat ini dikuatkan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah dan tidak ada dalil yang mewajibkan wudhu.

2. Apakah sujud syukur boleh dilakukan di atas kendaraan?

Boleh. Menurut Hasan Ayyub, cukup dengan isyarat ke arah kendaraan menghadap.

3. Apakah sujud syukur bisa dilakukan dalam salat?

Tidak boleh. Sujud syukur dilakukan di luar salat. Jika dilakukan dalam salat, maka salatnya tidak sah (Fiqih Empat Madzhab).

4. Apakah ada bacaan khusus dalam sujud syukur?

Tidak ada bacaan yang baku. Bacaan tasbih, tahmid, atau doa yang biasa dibaca saat sujud diperbolehkan.

5. Apakah sujud syukur harus dengan takbir dan salam?

Tidak wajib. Pendapat yang kuat menyatakan tidak perlu takbir dan salam karena tidak ada tuntunan dari Rasulullah SAW.