Biografi Walisongo: Mengenal Sosok Penyebar Islam di Tanah Jawa

Peran walisongo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa tercatat dalam tinta emas sejarah. Banyak literatur-literatur menerangkan perihal pengaruh penyebaran Islam di tanah Jawa oleh walisongo.

Diperbarui 18 Juni 2025, 15:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Cilacap - Peran walisongo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa tercatat dalam tinta emas sejarah. Banyak literatur-literatur menerangkan perihal pengaruh penyebaran Islam di tanah Jawa pada abad XV dan XVI.

Wali songo yang berarti sembilan wali ini semuanya oleh masyarakat jawa dijuluki Sunan atau Suhusunan. Kata Sunan atau Susuhunan berasal dari kata suhun-kasuhun-sinuhun berarti yang dijunjung tinggi/dijunjung di atas kepala juga bermakna paduka yang mulia.

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, gelar Sunan untuk Walisongo disebabkan para wali itu dianggap memiliki karamah atau kemampuan-kemampuan di luar kelaziman.

Berikut adalah penjelasan mengenai biografi singkat walisongo dalam penyebaran Islam di tanah Jawa dan Indonesia, Rabu (18/6/2025).

Sunan Gresik-Sunan Bonang

1.  Syaikh Maulana Malik Ibrahim (w. 882 H/ 1419 M)

Ada perbedaan pendapat terkait asal usul Syaikh Maulana Malik Ibrahim, ada pendapat berasal dari Turki dan ada pendapat lain menyatakan berasal dari Kashan sebuah tempat di Persia (Iran) sebagaimana tercatat pada prasasti makamnya.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ahli tata negara yang menjadi penasehat raja, guru para pangeran dan juga dermawan terhadap fakir miskin. Menurut Babad ing Gresik beliau datang bersama kawan-kawan dekatnya dan berlabuh di Gresik pada tahun 1293/1371 M.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Ali Zainal Abidin cicit Nabi Muhammad SAW. Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik bermukim di Gresik untuk menyiarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya pada tanggal 12 Rabiul awwal 822 H, bertepatan dengan 8 April 1419 M dan di makamkan di desa Gapura kota Gresik.

Makamnya banyak diziarahi masyarakat hingga sekarang. Sunan Gresik dianggap sebagai penyiar Islam pertama di tanah Jawa, sehingga dianggap sebagai Ayah dari Walisanga.

2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat (w. 1406 M)

Raden Rahmat adalah putra cucu Raja Champa, ayahnya bernama Ibrahim As-Samarkandi yang menikah dengan Puteri Raja Champa yang bernama Dewi Candra Wulan. Raden Rahmat ke tanah Jawa langsung ke Majapahit, karena bibinya Dewi Dwara Wati diperistri Raja Brawijaya, dan istri yang paling disukainya.

Raden Rahmat berhenti di Tuban dan di tempat itu beliau berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, yang kemudian masuk Islam keduanya beserta keluarganya. Dengan masuk Islamnya Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, usaha Sunan Ampel semakin mudah dalam mendekati masyarakat dan melakukan dakwah Islam, sedikit demi sedikit mengajarkan Ketauhidan dan Ibadah.

Sunan Ampel wafat pada tahun 1406M. Beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Ampel, Surabaya. Sampai sekarang makam beliau banyak dikunjungi peziarah dari berbagai derah diseluruh pelosok Indonesia.

3. Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim (w.1525 M)

Raden Maulana Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel dari istri yang bernama Dewi Candrawati. Sunan Bonang dikenal sebagai ahli Ilmu Kalam dan Ilmu Tauhid. Maulana Makhdum Ibrahim banyak belajar di Pasai, kemudian sekembalinya dari Pasai, Maulana Makhdum Ibrahim mendirikan pesantren di daerah Tuban.

Santri yang belajar pada pesantren Maulana Makhdum Ibrahim, berasal dari penjuru daerah di tanah air. Dalam menjalankan kegiatan dakwahnya Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) mempunyai keunikan dengan cara mengubah nama-nama dewa dengan nama-nama malaikat sebagaimana yang dikenal dalam Islam.

Hal ini dimaksudkan sebagai upaya persuasif terhadap penganut ajaran Hindu dan Budha yang telah lama dipeluk sebelumnya. Sunan Bonang meninggal pada tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban, daerah pesisir utara Jawa yang menjadi basis perjuangan dakwahnya.

Sunan Kalijaga - Sunan Drajat

4. Sunan Kalijaga atau Raden Syahid (w. abad 15)

Sunan Kalijaga mempunyai nama kecil Raden Sahid, beliau juga dijuluki Syekh Malaya. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilwatikta keturunan Ranggalawe yang sudah Islam dan menjadi bupati Tuban, sedangkan ibunya bernama Dewi Nawangrum.

Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang asli orang Jawa. Sebutan Kalijaga menurut sebagian riwayat berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang artinya ‘pelaksana’ dan ‘membersihkan’.

Menurut pendapat masyarakat Jawa memberikan arti kata qadizaka dengan Kalijaga, yang berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kesucian atau kebersihan.

Sunan Kalijaga meninggal pada pertengahan abad XV dan makamnya ada di desa Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

5. Sunan Giri atau Raden ‘Ainul Yaqin (w. Abad 15)

Raden ‘Ainul Yaqin (Raden Paku) adalah putra dari Syekh Maulana Ishaq (murid Sunan Ampel). Raden ‘Ainul Yaqin dan dikenal dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri merupakan saudara ipar dari Raden Fatah, di karenakan istri mereka bersaudara.

Raden ‘Ainul Yaqin kecil di bawah asuhan seorang wanita kaya raya yang bernama Nyai Gede Maloka atau Nyai Ageng Tandes. Setelah menginjak dewasa, Raden ‘Ainul Yaqin menimba ilmu di Pesantren Ampel Denta (Surabaya) milik Sunan Ampel.

Di sini ia bertemu dan berteman baik dengan putra Sunan Ampel yang bernama Maulana Makdum Ibrahim. Ketika hendak melaksanakan ibadah haji bersama Sunan Bonang, keduanya menyempatkan singgah di Pasai untuk memperdalam ilmu keimanan dan tasawuf.

Pada sebuah kisah diceritakan bahwa Raden Paku bisa mencapai tingkatan ilmu laduni. Dengan prestasi yang dicapainya inilah, Raden Paku juga terkenal dengan panggilan Raden ‘Ainul Yaqin. Sunan Giri meninggal sekitar awal abad ke-16, makam beliau ada di Bukit Giri, Gresik.

6. Sunan Drajad atau Raden Qasim (w. 1522 M)

Sunan Drajad memiliki nama asli Raden Qasim. Disebut Sunan Drajad karena beliau berdakwah di daerah Drajad kecamatan Paciran Lamongan. Masyarakat juga menyebutnya sebagai Sunan Sedayu, Raden Syarifudin, Maulana Hasyim, Sunan Mayang Madu.

Raden Qasim adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua yang bernama Dewi Candrawati. Raden Qasim mempunyai enam saudara seayah-seibu, diantaranya Siti Syareat (istri R. Usman Haji), Siti Mutma’innah (istri R. Muhsin), Siti Sofiah (istri R. Ahmad, Sunan Malaka) dan Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).

Di samping itu, ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu, yaitu Dewi Murtasiyah (istri R. Fatah) dan Dewi Murtasimah (istri Sunan Giri). Sedangkan istri Sunan Drajad, yaitu Dewi Shofiyah putri Sunan Gunung Jati.

Sunan Kudus - Sunan Gunung Jati

7. Sunan Kudus atau Raden Ja’far Shadiq (w.1550 M)

Sunan Kudus biasa juga dikenal Ja’far Sadiq atau Raden Undung, beliau juga dijuluki Raden Amir Haji sebab ia pernah bertindak sebagai pimpinan Jama’ah Haji (Amir). Dikenal sebagai seorang pujangga cerdas yang luas dan mendalam keilmuannya.

Ja’far Sadiq (Sunan Kudus) merupakan putra Raden Usman Haji yang menyebarkan agama Islam di daerah Jipang Panolan, Blora, Jawa Tengah. Dalam silsilah, Sunan Kudus masih keturunan Nabi Muhammad Saw.

Tercatat detail dalam silsilah: Ja’far Sadiq bin R. Usman Haji bin RajaPendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadal Kubra bin Zaini al-Husein bin Zaini al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin binSayid Husein bin Ali ra.

Sunan Kudus juga dikenal dengan julukan wali al-ilmi, karena sangat menguasai ilmu-ilmu agama, terutama tafsir, fikih, usul fikih, tauhid, hadits, serta logika. Sunan Kudus juga dipercaya sebagai panglima perang Kesultanan Demak.

Ia mendapat kepercayaan untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus, sehingga ia menjadi pemimpin pemerintahan (Bupati) sekaligus pemimpin agama. Sunan Kudus meninggal di Kudus pada tahun 1550, makamnya berada di dalam kompleks Masjid Menara Kudus.

8. Sunan Muria atau Raden Umar Said (w. abad 15)

Sunan Muria adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya adalah Raden Umar Said, semasa kecil ia biasa dipanggil Raden Prawoto. Dikenal sebagai Sunan Muria karena pusat dakwah dan bermukim beliau di Bukit Muria.

Dalam dakwah, beliau seperti ayahnya. Ibarat mengambil ikan “tidak sampai keruh airnya”. Dalam sejarah tidak diketahui secara persis tahun meninggalnya dan menurut perkiraan, Sunan Muria meninggal pada abad ke-16 dan dimakamkan di Bukit Muria, Kudus.

9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (w. 1570 M)

Dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, nama asli beliau adalah Syarif Hidayatullah. Beliau adalah salah seorang dari Walisanga yang banyak memberikan kontribusi dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Barat. Syarif Hidayatullah dikenal sebagai pendiri Kesultanan Cirebon dan Banten.

Dalam bukunya Sadjarah Banten, Hoesein Djajadiningrat menyatakan kedua nama yaitu Fatahillah dan Nurullah merupakan nama satu orang. Nama aslinya adalah Nurullah, kemudian dikenal juga dengan nama Syekh Ibnu Maulana. Nurullah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati berasal dari Pasai.

Penguasaan Portugis atas Malaka pada 1511 dan akhirnya Pasai pada tahun 1521 membuat Nurullah tidak tinggal lama di Pasai. Beliau segera berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah kembali dari Tanah Suci pada tahun 1524, lalu langsung menuju Demak dan beristri adik Sultan Trenggana.

Atas dukungan dari Sultan Trenggana, beliau berangkatlah ke Banten untuk mendirikan sebuah pemukiman muslim. Kemudian dari Banten, Nurullah melebarkan pengaruhnya ke daerah Sunda Kelapa. Di sini, pada tahun 1526 dia berhasil mengusir bangsa Portugis yang hendak mengadakan kerja sama dengan Raja Padjajaran.

Berkat kemenangannya ini, Nurullah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Di Banten, beliau meninggalkan putranya yang bernama Hasanuddin untuk memimpin Banten. Sunan Gunung Jati wafat di Cirebon pada tahun 1570 dan usianya diperkiran sekitar 80 tahun. Makamnya terdapat di kompleks pemakaman Wukir Sapta Pangga di Gunung Jati, Desa Astana Cirebon, Jawa Barat.

(Sumber: Buku Sejarah Kebudayaan Islam, MA Kelas XII karya: M. Samsul Arifin, S.Pd.I)

Khazim Mahrur

Jejak Walisongo dan Tanggung Jawab Kita Menjaga Warisan Sejarah Islam

Walisongo merupakan tokoh nyata dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Mereka bukanlah tokoh fiktif, melainkan para ulama sekaligus pemimpin yang berperan penting dalam proses Islamisasi secara damai, edukatif, dan kontekstual terhadap budaya lokal. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul berbagai narasi yang cenderung membelokkan citra mereka menjadi tokoh-tokoh "sakti mandraguna" layaknya karakter dalam dunia persilatan. Narasi-narasi seperti bisa terbang, berubah wujud, atau hidup abadi sebenarnya justru mencoreng kemuliaan perjuangan para wali.

Menurut Ustadz Ahmad Sarwat dalam ulasannya di laman almanhaj.or.id, fenomena ini bukan sekadar keliru dalam penyampaian sejarah, melainkan merupakan bentuk pembunuhan karakter. Penggambaran Walisongo sebagai wali dalam arti sakral dan sakti juga merupakan kesalahan dalam pemahaman istilah. Dalam konteks sejarah, istilah "wali" lebih tepat dimaknai sebagai pemimpin atau pejabat pemerintahan Islam di tanah Jawa pada abad ke-13. 

Para Wali Songo ini tidak hanya menjalankan fungsi dakwah, tetapi juga administratif, memimpin wilayah-wilayah penting sekaligus membimbing umat melalui syariat Islam. Inilah esensi sesungguhnya dari kedudukan mereka: ulama sekaligus pemimpin negara.

Meski Islam tidak mengingkari adanya karamah (karunia luar biasa dari Allah kepada hamba-Nya), namun perlu dipahami bahwa karamah berbeda dari mukjizat para nabi. Karamah tidak untuk dipamerkan, dan tidak menjadi identitas tetap seseorang. Karenanya, menjadikan cerita khurafat sebagai representasi dari karamah para wali adalah kesalahan besar.

Karomah vs Sihir dan Perdukunan

Banyak orang menyamakan karomah wali dengan sihir atau kesaktian dukun. Padahal jelas perbedaannya. Karomah adalah perkara luar biasa yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang shalih sebagai bentuk pemuliaan. Sedangkan sihir dan perdukunan dilakukan oleh orang yang sesat, yang justru memanfaatkan bantuan setan.

As-Sa’ dalam kitab Tanbihat Al Lathifahimenekankan bahwa syarat karomah adalah keistiqamahan dalam iman dan syariat. Jika orang tersebut tidak mengikuti syariat, maka apapun yang tampak ajaib darinya adalah tipuan setan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab Liqa Baabil Maftuh jiga menjelaskan, karomah hanyalah diberikan kepada wali yang shalih dan lurus dalam agamanya, dan bukan pada orang yang menyimpang dari syariat. Jika karomah terjadi pada orang yang tidak menegakkan hak Allah dan sesama, maka itu bukan karomah, melainkan tipuan setan.

Demikian juga Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menyebutkan bahwa wali Allah adalah mereka yang mentauhidkan Allah, beriman, dan mengikuti syariat dengan ikhlas. Oleh karena itu, semakin kuat keimanan dan ketaqwaan seseorang, semakin tinggi pula kedudukannya sebagai wali di sisi Allah.

Sikap yang Sebaiknya Diambil Umat Islam Saat Ini

Bentuk penghargaan tertinggi kepada para wali bukan dengan terus menyebarluaskan dongeng tentang kesaktian mereka, melainkan dengan merekonstruksi sejarah mereka secara ilmiah dan bersih dari unsur tahayul.

Pembersihan ini bisa dimulai dari:

Penulisan ulang sejarah yang objektif dan rasional berdasarkan sumber-sumber valid.

Integrasi sejarah Islam yang benar ke dalam kurikulum pendidikan formal, khususnya di sekolah-sekolah Islam seperti SDIT dan SMPIT.

Menghindari glorifikasi sakral yang tidak berdasar, dan menggantinya dengan pemahaman bahwa kehebatan para wali terletak pada strategi dakwah, keilmuan, dan kemampuan mereka menyesuaikan Islam dengan budaya lokal secara bijaksana.

Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Sarwat, Lc, umat Islam tidak boleh merasa bangga dengan cerita karangan yang mencemari perjuangan para wali. Sebaliknya, kita harus prihatin dan sadar bahwa propaganda khurafat adalah bagian dari proyek pelemahan dakwah Islam itu sendiri.

Saksikan Video Pilihan Ini:

FAQ seputar Walisongo

1. Siapa itu Walisongo dan apa peran mereka dalam penyebaran Islam di Indonesia?

Walisongo adalah sembilan tokoh ulama yang dianggap sebagai penyebar Islam di tanah Jawa pada abad ke-14 hingga ke-16. Mereka memainkan peran penting dalam dakwah Islam dengan pendekatan damai, budaya, dan kearifan lokal. Walisongo dikenal menyebarkan ajaran Islam tanpa kekerasan, melalui pendidikan, seni, dan akulturasi budaya lokal seperti wayang, gamelan, dan kesenian tradisional.

2. Siapa saja nama-nama Walisongo yang terkenal dan di mana mereka berdakwah?

Anggota Walisongo yang paling dikenal antara lain:

  • Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) – berdakwah di Gresik.
  • Sunan Ampel (Raden Rahmat) – Surabaya.
  • Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) – Tuban.
  • Sunan Drajat (Raden Qosim) – Lamongan.
  • Sunan Kalijaga (Raden Said) – Demak dan sekitarnya.
  • Sunan Kudus (Ja'far Shadiq) – Kudus.
  • Sunan Muria (Raden Umar Said) – Gunung Muria.
  • Sunan Giri (Raden Paku) – Gresik.
  • Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) – Cirebon.

3. Apa metode dakwah yang digunakan oleh Walisongo?

Metode dakwah Walisongo sangat adaptif terhadap budaya lokal. Mereka menggunakan pendekatan kultural seperti wayang kulit, tembang Jawa, seni ukir, serta lembaga pendidikan seperti pesantren. Pendekatan ini membuat Islam diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat Jawa tanpa menghilangkan unsur budaya mereka.

4. Apakah Walisongo berasal dari luar Jawa atau keturunan lokal?

Sebagian Walisongo berasal dari keturunan Arab atau Persia, seperti Sunan Gresik yang disebut berasal dari wilayah Timur Tengah. Namun sebagian besar adalah keturunan campuran lokal yang sudah lama tinggal dan berbaur dengan masyarakat Nusantara. Misalnya, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria berasal dari kalangan bangsawan Jawa, sehingga mereka sangat memahami budaya lokal.

5. Apa peninggalan Walisongo yang masih bisa dilihat sampai sekarang?

Peninggalan Walisongo banyak berupa:

  • Makam dan kompleks ziarah seperti di Gresik (Sunan Gresik), Demak (Sunan Kalijaga), Kudus, dan Cirebon.
  • Masjid kuno seperti Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus.
  • Ajaran dan tradisi keislaman lokal, seperti tradisi tahlilan, slametan, dan tembang dakwah yang berkembang dari pengaruh mereka.