Negara Terkuat di Asia Tenggara: Peringkat Militer, Faktor Penentu dan Dinamika Kawasan

Daftar negara terkuat di Asia Tenggara berdasarkan Global Firepower 2026. Indonesia memimpin, diikuti Vietnam dan Thailand. Simak peringkat lengkapnya.

Diterbitkan 26 Juni 2026, 15:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pembahasan mengenai negara terkuat di Asia Tenggara selalu menarik perhatian publik, terutama di tengah dinamika geopolitik kawasan yang kian kompleks. Indonesia berdiri sebagai kekuatan militer terkuat di Asia Tenggara, menempati peringkat ke-13 secara global dengan skor Power Index (PwrIndx) 0,2582, didukung oleh geografi kepulauan yang luas, populasi besar, serta kehadiran angkatan laut yang terus berkembang.

Kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan belanja militer tercepat di dunia. Antara 2009 dan 2018, total belanja militer kawasan ini meningkat sebesar 33 persen, dari 30,8 miliar dolar AS menjadi 41,0 miliar dolar AS.

Pemeringkatan negara terkuat di Asia Tenggara umumnya mengacu pada Global Firepower Index, sebuah laporan tahunan yang menilai kekuatan militer konvensional berbagai negara. Daftar GFP menggunakan lebih dari 60 faktor dalam formula internalnya untuk menentukan skor Power Index suatu negara, sehingga memungkinkan negara yang lebih kecil namun canggih secara teknologi bersaing dengan negara yang lebih besar.

Dilansir dari ⁠Lowy Institute Asia Power Index, kekuatan negara-negara besar Asia Tenggara terus meningkat, dan Indonesia menjadi negara yang mengalami pertumbuhan kekuatan paling signifikan di antara semua negara dalam indeks tersebut sejak 2018. Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com pada Jumat (26/6/2026). 

Apa Itu Negara Terkuat di Asia Tenggara?

Istilah "negara terkuat di Asia Tenggara" mengacu pada negara-negara di kawasan ASEAN yang memiliki kapabilitas pertahanan dan militer paling unggul dibandingkan negara tetangganya. Kekuatan ini tidak semata dinilai dari jumlah tentara atau senjata, melainkan dari kombinasi banyak indikator strategis yang mencerminkan kemampuan suatu negara dalam mempertahankan kedaulatan dan menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Penilaian ini didasarkan pada lebih dari 60 indikator individual, termasuk personel aktif, aset udara dan angkatan laut, kemampuan logistik, sumber daya alam, anggaran pertahanan, dan geografi, serta menekankan tidak hanya pada jumlah mentah tetapi juga seberapa efisien suatu negara dapat mengerahkan pasukannya. Dengan demikian, negara kecil berteknologi tinggi seperti Singapura bisa bersaing dengan negara besar seperti Indonesia atau Vietnam dalam aspek tertentu.

Mengacu pada GlobalFirepower, terdapat total 9 negara yang masuk dalam tinjauan pertahanan tahunan peringkat kekuatan militer Asia Tenggara edisi 2026. Dalam peringkat Global Firepower 2024, tujuh negara Asia Tenggara berhasil masuk ke dalam jajaran 50 kekuatan militer terkuat di dunia. Ini menunjukkan bahwa kawasan ini semakin diperhitungkan dalam lanskap pertahanan global.

Pembangunan kekuatan militer di Asia Tenggara telah menjadi tren yang nyata, meskipun tidak selalu diiringi oleh kehendak politik untuk meningkatkan efektivitas militer. Fenomena ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perlindungan kepentingan ekonomi, kemandirian di tengah berkurangnya komitmen AS di kawasan, hingga kebutuhan mengganti peralatan era kolonial.

Baca juga: Peran Alutsista dalam Pertahanan Negara, Ketahui Faktor Penting Lainnya

Peringkat Negara Terkuat di Asia Tenggara Berdasarkan Global Firepower 2026

Berikut daftar peringkat negara terkuat di Asia Tenggara berdasarkan data terbaru dari GlobalFirepower edisi 2026. Peringkat ini disusun berdasarkan skor PowerIndex, di mana semakin kecil angkanya, semakin kuat kekuatan militer negara tersebut.

  1. Indonesia (Peringkat 13 Dunia, PwrIndx: 0,2582) — Indonesia berdiri sebagai kekuatan militer terkuat di Asia Tenggara. Kekuatan militernya didorong oleh geografi kepulauan yang luas, populasi besar yang mampu mendukung jumlah personel militer signifikan, serta kehadiran angkatan laut yang terus berkembang. Angkatan bersenjata Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI), memiliki kumpulan personel melebihi satu juta individu, termasuk pasukan aktif, cadangan, dan paramiliter.
  2. Vietnam (Peringkat 23 Dunia, PwrIndx: 0,4066) — Vietnam menempati posisi kedua sebagai negara terkuat di Asia Tenggara. Kemampuan pertahanan Vietnam dibangun dari kombinasi cadangan personel yang besar, tradisi pelatihan militer yang panjang, dan inventaris senjata konvensional yang memadai. Vietnam secara historis berfokus pada pertahanan teritorial dan perlindungan pantai dengan kekuatan angkatan laut serta sistem rudal yang dirancang untuk mengamankan batas maritimnya.
  3. Thailand (Peringkat 24 Dunia, PwrIndx: 0,4458) — Thailand berada di urutan ketiga dengan keuntungan dari program modernisasi selama berpuluh-puluh tahun, kerangka pelatihan yang kuat, dan kemitraan strategis dengan berbagai mitra pertahanan internasional. Angkatan bersenjata Thailand mengoperasikan armada pesawat, kendaraan lapis baja, dan kapal perang yang beragam.
  4. Singapura (Peringkat 29 Dunia, PwrIndx: 0,5272) — Meskipun ukurannya relatif kecil, Singapura memiliki salah satu angkatan bersenjata paling canggih secara teknologi di kawasan ini. Strategi militer Singapura mengutamakan teknologi mutakhir, termasuk jet tempur canggih, kemampuan pertahanan siber, sistem persenjataan presisi, dan platform angkatan laut modern.
  5. Myanmar (Peringkat 35 Dunia, PwrIndx: 0,6265) — Kekuatan militer Myanmar sebagian besar berasal dari jumlah pasukan yang besar dan struktur komando yang mapan. Meskipun tengah dilanda konflik internal, negara ini tetap mempertahankan posisinya dalam daftar.
  6. Filipina (Peringkat 41 Dunia, PwrIndx: 0,6993) — Filipina terus meningkatkan kemampuannya melalui program modernisasi yang berfokus pada pertahanan angkatan laut dan udara.
  7. Malaysia (Peringkat 42 Dunia PwrIndx: 0,7379)  — Malaysia meskipun terbatas dalam jumlah, memiliki militer yang terstruktur baik dan terlibat dalam modernisasi berkelanjutan. Malaysia mempertahankan kehadiran angkatan laut yang kuat mengingat garis pantainya yang luas, serta aktif dalam inisiatif kerja sama regional.
  8. Kamboja (Peringkat 8 di ASEAN) dan Laos (Peringkat 9 di ASEAN) — menempati posisi terbawah dalam peringkat militer kawasan.

Baca juga: 10 Negara dengan Kekuatan Militer Terlemah, Apakah Indonesia Salah Satunya?

 

Indonesia sebagai Negara Terkuat di Asia Tenggara: Modernisasi dan Tantangan

Posisi Indonesia sebagai negara terkuat di Asia Tenggara bukan tanpa alasan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menaruh perhatian khusus pada pertahanan maritim, berinvestasi besar-besaran dalam modernisasi angkatan laut, kapal patroli, kapal selam, dan sistem pertahanan pantai. Negara ini juga meningkatkan investasi pada industri pertahanan dalam negeri, termasuk pemeliharaan pesawat, pembuatan kapal perang, dan produksi kendaraan lapis baja.

Sebagaimana dilaporkan Defense News, Prabowo Subianto, yang memulai dorongan tersebut saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada 2019 dan kini menjadi Presiden, terus mendorong modernisasi militer berskala besar dan peningkatan belanja pertahanan. Collin Koh, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies yang berbasis di Singapura, menyatakan bahwa Indonesia secara konsisten membangun pertahanannya sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.

Selama berpuluh-puluh tahun, Indonesia mengalokasikan dana yang relatif kecil untuk militernya dibandingkan standar global. Sumber daya yang tersedia lebih banyak diarahkan ke angkatan darat daripada angkatan laut atau udara. Investasi dalam dua matra terakhir ini bersifat sporadis, dan bagi sebuah negara yang mencakup jutaan kilometer persegi wilayah laut beserta ribuan pulau terpencil, Indonesia memiliki relatif sedikit kemampuan angkatan laut dan udara. Namun, kondisi ini tengah berubah signifikan. Indonesia kini mengembangkan alutsista andalan secara masif.

Mengacu pada International Institute for Strategic Studies (IISS), Indonesia telah melakukan gelombang pembelian peralatan pertahanan besar-besaran, dari pesawat tempur hingga fregat. Pembelian ini merupakan bagian dari rencana Minimum Essential Force (MEF) Indonesia, sebuah cetak biru modernisasi jangka panjang yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan hampir lima belas tahun lalu, dirancang untuk memodernisasi perangkat keras militer yang menua. Saat ini, kecanggihan alutsista TNI semakin ditakuti dunia.

Baca juga: 5 Jenis Pesawat Tempur Indonesia, Dukung Pertahanan NKRI

Faktor Penentu Kekuatan Militer di Kawasan Asia Tenggara

Kekuatan militer suatu negara di Asia Tenggara tidak bisa dinilai hanya dari satu aspek saja. Terdapat sejumlah faktor krusial yang menentukan mengapa satu negara lebih kuat dari yang lain dalam konteks pertahanan dan keamanan. Berikut adalah faktor-faktor utamanya:

  1. Anggaran Pertahanan — Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), beberapa negara Asia Tenggara secara signifikan meningkatkan atau mempertahankan anggaran pertahanan yang substansial pada 2025. Singapura menempati posisi sebagai negara dengan belanja militer terbesar di Asia Tenggara pada 2025, mengalokasikan sekitar 17 miliar dolar AS untuk pertahanan. Meskipun ukurannya relatif kecil, Singapura telah lama memiliki angkatan bersenjata paling canggih secara teknologi di Asia.
  2. Jumlah Personel Militer — Negara dengan populasi besar seperti Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan dalam jumlah personel aktif maupun cadangan. Indonesia saat ini memiliki sekitar 450.000 personel militer aktif, sementara Vietnam unggul dalam jumlah total cadangan.
  3. Aset Persenjataan dan Alutsista — Keberagaman dan kecanggihan alutsista memengaruhi peringkat secara signifikan. Negara yang memiliki jet tempur generasi keempat atau kelima, kapal selam, dan sistem rudal canggih cenderung memperoleh skor lebih baik.
  4. Kemampuan Logistik dan Geografis — Lokasi strategis Thailand di daratan Asia Tenggara memberikan keuntungan logistik dalam mobilitas dan koordinasi. Sementara Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan logistik tersendiri namun memiliki kedalaman strategis yang besar.
  5. Modernisasi Teknologi — Tren modernisasi yang menonjol di Asia Tenggara mencakup perolehan kecanggihan teknologi seperti amunisi berpemandu, serta investasi dalam sistem komando, kontrol, komunikasi, komputasi, dan intelijen, pengawasan, serta rekognisi (C4ISR).
  6. Industri Pertahanan Dalam Negeri — Negara-negara seperti Indonesia dan Singapura tengah mengembangkan industri pertahanan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Modernisasi militer menjadi prioritas utama bagi banyak negara di kawasan ini.
  7. Kemitraan dan Aliansi Pertahanan — Kerja sama militer dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, dan Korea Selatan turut memengaruhi kekuatan relatif setiap negara.

Xiao Liang, peneliti di program SIPRI Military Expenditure and Arms Production, dikutip dari SIPRI menyatakan, "Belanja militer global kembali meningkat pada 2025 seiring negara-negara merespons perang, ketidakpastian, dan gejolak geopolitik dengan dorongan persenjataan berskala besar."

Baca juga: Kekuatan Militer Indonesia Nomor 1 di ASEAN, Bandingkan Anggaran Pertahanan di Wilayah Ini

Anggaran Pertahanan dan Tren Belanja Militer Asia Tenggara

Tren belanja militer di Asia Tenggara menunjukkan peningkatan yang konsisten dalam satu dekade terakhir. Belanja militer dunia mencapai 2.887 miliar dolar AS pada 2025, meningkat 2,9 persen secara riil dibandingkan 2024. Belanja militer menurun di Amerika Serikat tetapi melonjak 14 persen di Eropa dan 8,1 persen di kawasan Asia dan Oseania. Angka ini menunjukkan bahwa Asia Tenggara turut menjadi bagian dari gelombang peningkatan ini.

Singapura menjadi anomali menarik dalam perbandingan militer kawasan. Selama periode 2009 hingga 2018, negara kota ini mengalokasikan persentase PDB untuk belanja militer yang tidak berubah. Singapura merupakan importir senjata terbesar di kawasan, dan menempati empat besar Global Militarization Index oleh Bonn International Center for Conversion sejak 2007. Negara ini memiliki industri persenjataan yang berkembang baik dengan kemampuan memproduksi kendaraan lapis baja, artileri, dan kapal secara lokal.

Di sisi lain, Indonesia tengah melakukan lompatan besar. Sebagai persentase dari PDB, belanja pertahanan Indonesia bertahan di bawah satu persen selama beberapa dekade, menempatkan Jakarta jauh di belakang ekonomi besar lainnya di kawasan. Hal ini sebagian mencerminkan kenyataan bahwa negara Indonesia mengumpulkan pendapatan yang relatif sedikit dibandingkan rasio PDB-nya. Namun, dengan anggaran pertahanan 2025 yang mencapai sekitar Rp 245 triliun, tren ini mulai bergeser.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dikutip dari Military pada forum Shangri-La Dialogue di Singapura, menyatakan, "Kata-kata tanpa kemampuan untuk mendukungnya dengan tindakan adalah kosong." Pernyataan ini menegaskan pentingnya investasi pertahanan nyata bagi negara-negara di kawasan.

Baca juga: TNI AL Jadi Militer Terkuat ke-4 di Dunia

 

Sengketa Laut China Selatan sebagai Pemicu Penguatan Militer di Asia Tenggara

Kebangkitan China sebagai kekuatan militer regional dan agresinya di Laut China Selatan disebut sebagai motif utama peningkatan belanja militer di kawasan ini, dan negara-negara yang menjadi pihak dalam sengketa mengalami peningkatan terbesar. Dinamika ini menjadikan Laut China Selatan sebagai faktor penentu mengapa banyak negara di Asia Tenggara gencar memperkuat militernya.

Sebagaimana dikutip dari Radio Free Asia, Isha Gharti, profesor kebijakan publik di Universitas Chiang Mai Thailand, menyatakan, "ASEAN bisa memperkuat daya tawar kolektifnya dengan menyelaraskan kepentingan negara-negara anggotanya dan berbicara dengan satu suara dalam negosiasi dengan kekuatan eksternal seperti China." Sementara itu, negosiasi mengenai Kode Etik (COC) di Laut China Selatan masih berjalan lambat.

Negara-negara Asia Tenggara merespons dengan cara yang beragam dan bernuansa. Indonesia dan Malaysia sebagian besar menerapkan pendekatan strategic hedging, menyeimbangkan keterlibatan ekonomi dengan China sambil mempertahankan hubungan keamanan dengan Amerika Serikat. Sementara Kamboja mempererat hubungan militer dengan China, Filipina justru menguatkan aliansi dengan Barat.

Filipina, sebagai negara kepulauan, baru-baru ini memfokuskan upaya pertahanannya pada kesadaran domain maritim dan modernisasi angkatan laut serta udara. Investasi pada pertahanan pantai dan sistem radar terus bertambah, sejalan dengan peningkatan partisipasi dalam latihan pelatihan internasional. Bagi Indonesia, modernisasi angkatan laut menjadi prioritas utama mengingat posisi strategis Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan klaim China.

Collin Koh dari S. Rajaratnam School of International Studies, dikutip dari Defense News, menjelaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki daftar aset dan kemampuan spesifik dalam kebijakan MEF-nya, "Indonesia tidak memberikan spesifikasi yang cukup bagi para perencana untuk memajukan tujuan negara secara lebih jauh." Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam akselerasi modernisasi militer Indonesia.

Baca juga: Militer Indonesia Terkuat di Asia Tenggara

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Negara Terkuat di Asia Tenggara

Negara mana yang menjadi negara terkuat di Asia Tenggara saat ini?

Indonesia berdiri sebagai kekuatan militer terkuat di Asia Tenggara, menempati peringkat ke-13 secara global dengan skor Power Index 0,2582 berdasarkan data Global Firepower 2026. Posisi ini telah dipertahankan Indonesia secara konsisten selama beberapa tahun terakhir, didukung oleh jumlah personel yang besar, keberagaman alutsista, serta program modernisasi militer yang terus berjalan.

Bagaimana cara Global Firepower menentukan peringkat kekuatan militer?

Global Firepower menggunakan lebih dari 60 faktor dalam formula internalnya untuk menentukan skor Power Index suatu negara. Formula ini memungkinkan negara yang lebih kecil namun lebih canggih secara teknologi untuk bersaing dengan negara yang lebih besar. Beberapa bonus dan penalti ditambahkan untuk memberikan pandangan yang tidak bias terhadap potensi kekuatan militer konvensional. Faktor yang dihitung meliputi jumlah personel, aset militer, anggaran pertahanan, kondisi geografis, hingga kemampuan logistik.

Mengapa negara-negara Asia Tenggara gencar memperkuat militernya?

Sengketa Laut China Selatan menjadi salah satu pemicu utama peningkatan kekuatan militer di kawasan. Meskipun proporsi belanja militer terhadap PDB masing-masing negara relatif tetap, pola aksi-reaksi dan rendahnya kepercayaan di antara negara-negara membuat risiko kesalahpahaman di masa depan tetap terbuka. Selain itu, kebutuhan modernisasi peralatan militer yang sudah menua juga mendorong negara-negara ASEAN untuk terus berinvestasi dalam sektor pertahanan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6