5 Barang Bekas yang Bisa Dipakai untuk Sistem Self Watering Kebun di Rumah

Barang bekas yang bisa dipakai untuk sistem self watering ternyata sangat mudah ditemukan di rumah.

Diterbitkan 09 April 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Apakah Anda sering merasa kesulitan membagi waktu antara kesibukan sehari-hari dan hobi berkebun? Atau mungkin Anda sering bepergian dan khawatir tanaman kesayangan di rumah akan layu karena kekurangan air? Jangan khawatir, ada solusi inovatif yang tidak hanya praktis tetapi juga ramah lingkungan dengan menggunakan barang bekas yang bisa dipakai untuk sistem self-watering.

Perlu diketahui,  sistem self watering dikenal sebagai metode penyiraman otomatis sederhana yang memanfaatkan cadangan air agar tanaman tetap lembap lebih lama. Jadi menggunakan barang bekas yang bisa dipakai untuk sistem self watering,  memungkinkan tanaman Anda mendapatkan pasokan air yang konsisten tanpa perlu disiram setiap hari, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mengurangi limbah plastik yang kian menumpuk.

 Selain lebih hemat, penggunaan barang bekas juga membantu mengurangi sampah rumah tangga. Berikut dipaparkan barang bekas yang bisa dipakai untuk sistem self watering, sebagaimana dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber pada Rabu (8/4/2026).

1. Botol Plastik Bekas Air Mineral

Botol plastik bekas adalah salah satu material paling umum dan mudah ditemukan di setiap rumah tangga. Ukurannya bervariasi, mulai dari 600 ml hingga 1,5 liter, bahkan galon air mineral 9 liter juga sangat berguna.

  • Cara Pemanfaatan:
    • Sistem Tetes Sederhana: Botol dapat dilubangi pada tutupnya atau bagian bawahnya, kemudian diisi air dan ditancapkan terbalik ke dalam tanah pot. Air akan menetes perlahan dan menyiram tanaman secara otomatis, memberikan kelembaban yang stabil.
    • Sistem Sumbu (Wick System): Botol dipotong menjadi dua bagian. Bagian atas yang berisi tanaman dibalik dan diletakkan di atas bagian bawah yang berfungsi sebagai reservoir air. Keduanya dihubungkan dengan sumbu (misalnya kain flanel atau tali katun) yang akan menyerap air dari reservoir ke media tanam. Galon air mineral bekas juga bisa dipotong dan digunakan sebagai pot yang lebih besar, menampung lebih banyak tanah dan air, sehingga penyiraman lebih jarang.
  • Keunggulan: Sangat mudah didapat, ringan, dan transparan sehingga mudah memantau volume air yang tersisa.

2. Wadah Plastik Bekas Lainnya

Selain botol air mineral, wadah plastik seperti kaleng cat plastik, botol minyak bekas, wadah bumbu, atau wadah es krim juga bisa dimanfaatkan. Pastikan wadah-wadah ini bersih dari residu berbahaya.

  • Cara Pemanfaatan: Wadah-wadah ini dapat berfungsi sebagai reservoir air atau bahkan sebagai pot utama dalam sistem self-watering, mirip dengan penggunaan botol plastik yang dipotong. Penting untuk memastikan wadah bersih dan tidak mengandung residu bahan kimia berbahaya yang dapat merusak tanaman.
  • Keunggulan: Lebih kokoh dan seringkali memiliki kapasitas yang lebih besar, cocok untuk tanaman yang membutuhkan lebih banyak air atau untuk jangka waktu penyiraman yang lebih panjang.

3. Kain Bekas atau Sumbu

Kain flanel, kain kaos bekas, atau tali katun/poliester dapat digunakan sebagai sumbu dalam sistem self-watering. Material ini berfungsi sebagai jembatan pengantar air.

  • Cara Pemanfaatan: Sumbu ini berfungsi mengalirkan air dari reservoir ke media tanam melalui prinsip kapilaritas. Pastikan bahan sumbu memiliki daya serap air yang baik agar proses penyaluran air berjalan efektif.
  • Keunggulan: Murah, mudah didapat, dan efektif dalam mendistribusikan air secara merata ke seluruh media tanam.

4. Pipa PVC Bekas

Untuk sistem self-watering skala yang lebih besar atau vertikultur, pipa PVC bekas dapat menjadi pilihan yang sangat baik. Pipa ini menawarkan struktur yang kokoh.

  • Cara Pemanfaatan: Pipa PVC dapat dipotong dan dilubangi untuk menanam beberapa tanaman sekaligus, dengan sistem irigasi tetes terintegrasi. Ini ideal untuk menciptakan kebun vertikal yang hemat lahan.
  • Keunggulan: Tahan lama, kokoh, dan sangat cocok untuk penanaman vertikal atau berjajar, memaksimalkan ruang tanam.

5. Ember Bekas

Ember bekas, baik plastik maupun logam (jika tidak berkarat), dapat digunakan sebagai reservoir air yang lebih besar untuk beberapa pot atau tanaman yang membutuhkan banyak air. Kapasitasnya yang besar sangat menguntungkan.

  • Cara Pemanfaatan: Mirip dengan sistem sumbu, ember dapat menjadi penampung air utama yang dihubungkan ke pot-pot tanaman melalui sumbu. Ini memungkinkan penyiraman beberapa tanaman sekaligus dari satu sumber air.
  • Keunggulan: Kapasitas besar, cocok untuk tanaman yang haus air atau untuk periode ditinggal lama, mengurangi frekuensi pengisian ulang air.

Panduan Membuat Sistem Self-Watering Sederhana

Berikut adalah langkah-langkah mudah untuk membuat sistem self-watering menggunakan barang bekas yang paling umum, yaitu botol plastik. Kedua model ini sangat praktis dan bisa diaplikasikan di rumah.

Model 1: Sistem Tetes Sederhana (untuk penyiraman langsung ke tanah)

  1. Siapkan Bahan: Botol plastik bekas (ukuran 600 ml hingga 1,5 L), jarum atau paku kecil, lilin atau korek api, dan gunting/cutter.
  2. Bersihkan Botol: Cuci bersih botol plastik dari sisa-sisa minuman atau kotoran lainnya untuk memastikan kebersihan air yang akan digunakan.
  3. Buat Lubang: Panaskan jarum atau paku kecil dengan lilin/korek api, lalu buat beberapa lubang kecil pada tutup botol. Anda juga bisa membuat lubang di bagian bawah botol jika ingin menancapkannya terbalik tanpa tutup.
  4. Isi Air: Isi botol dengan air bersih. Jika diinginkan, tambahkan sedikit pupuk cair sesuai kebutuhan nutrisi tanaman.
  5. Tancapkan: Tutup botol rapat-rapat (jika lubang di tutup), lalu tancapkan botol secara terbalik ke dalam tanah pot, dekat dengan pangkal tanaman. Pastikan lubang berada di bawah permukaan tanah. Air akan merembes perlahan melalui lubang, menjaga kelembaban tanah secara konstan.

Model 2: Sistem Sumbu (Wick System) (untuk pot mandiri)

  1. Siapkan Bahan: Dua botol plastik bekas (ukuran sama, misalnya 1,5 L), gunting/cutter, kain flanel atau tali katun/poliester sebagai sumbu (sekitar 15-25 cm), dan media tanam.
  2. Potong Botol: Potong satu botol menjadi dua bagian. Bagian atas akan menjadi tempat tanaman, dan bagian bawah sebagai reservoir air.
  3. Buat Lubang untuk Sumbu: Pada bagian atas botol yang sudah dipotong (bagian leher botol), buat lubang kecil di bagian tutupnya atau di sisi leher botol untuk memasukkan sumbu.
  4. Pasang Sumbu: Masukkan salah satu ujung kain flanel atau tali ke dalam lubang yang sudah dibuat, pastikan sebagian besar sumbu menjuntai ke bawah (ke arah reservoir air) dan sebagian kecil menjulur ke atas (ke dalam media tanam).
  5. Rakit Sistem: Balikkan bagian atas botol (yang sudah ada sumbunya) dan letakkan di atas bagian bawah botol. Pastikan sumbu menyentuh dasar bagian bawah botol agar air dapat terserap dengan baik.
  6. Isi Media Tanam dan Tanaman: Isi bagian atas botol dengan media tanam dan tanam bibit atau tanaman Anda. Pastikan sumbu tertanam dengan baik di media tanam untuk distribusi air yang optimal.
  7. Isi Reservoir: Isi bagian bawah botol (reservoir) dengan air. Air akan meresap naik melalui sumbu ke media tanam, menyediakan kelembaban yang stabil.

Tips Tambahan untuk Keberhasilan Sistem Self-Watering

Agar sistem self-watering Anda berfungsi secara maksimal, ada beberapa tips tambahan yang perlu diperhatikan. Penerapan tips ini akan membantu menjaga tanaman tetap sehat dan sistem bekerja efisien.

Pertama, Pilih Tanaman yang Tepat. Sistem ini cocok untuk sebagian besar tanaman hias, sayuran, dan herbal yang menyukai kelembaban konsisten. Namun, beberapa tanaman yang tidak menyukai tanah terlalu lembab, seperti sukulen atau kaktus, mungkin kurang cocok. Kedua, Perhatikan Ukuran Sumbu. Pastikan sumbu memiliki ukuran dan daya serap yang cukup untuk mengalirkan air dari reservoir ke media tanam. Kain flanel atau tali katun biasanya bekerja dengan baik karena sifatnya yang mudah menyerap air.

Selanjutnya, Jaga Kebersihan Reservoir. Bersihkan reservoir secara berkala untuk mencegah pertumbuhan alga atau lumut yang dapat menyumbat sumbu atau mencemari air. Kebersihan air sangat penting untuk kesehatan tanaman. Jika Anda menggunakan sistem ini untuk tanaman yang membutuhkan nutrisi, Anda bisa Tambahkan Nutrisi berupa pupuk cair ke dalam air di reservoir. Terakhir, perhatikan Penempatan sistem self-watering. Letakkan di tempat yang tidak langsung terkena sinar matahari terik untuk memperlambat penguapan air dari reservoir, sehingga air lebih awet.

Manfaat Lingkungan dan Ekonomi dari Pemanfaatan Barang Bekas

Pemanfaatan barang bekas yang bisa dipakai untuk sistem self-watering tidak hanya memberikan keuntungan praktis bagi tanaman, tetapi juga dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan dan ekonomi. Inisiatif ini merupakan contoh nyata dari ekonomi sirkular, di mana limbah diubah menjadi sumber daya yang bernilai.

Dari sisi lingkungan, setiap botol plastik atau wadah bekas yang diubah menjadi komponen self-watering berarti satu item sampah plastik berkurang di tempat pembuangan akhir. Ini secara langsung mengurangi volume limbah plastik yang sulit terurai dan mencemari lingkungan. Selain itu, sistem self-watering juga menghemat penggunaan air, sebuah sumber daya vital yang semakin langka. Dengan meminimalkan penguapan dan penyiraman berlebih, kita turut berkontribusi pada konservasi air.

Secara ekonomi, membuat sistem self-watering dari barang bekas sangat hemat biaya. Anda tidak perlu membeli pot atau alat penyiraman otomatis yang mahal. Material yang dibutuhkan seringkali sudah tersedia di rumah, sehingga mengurangi pengeluaran. Ini juga mendorong kreativitas dan keterampilan DIY (Do It Yourself) di kalangan masyarakat, menciptakan nilai tambah dari benda-benda yang tadinya dianggap tidak berguna. Dengan demikian, pemanfaatan barang bekas yang bisa dipakai untuk sistem self-watering adalah solusi cerdas yang menguntungkan semua pihak.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apa itu sistem self-watering?

Sistem self-watering adalah metode pengairan tanaman otomatis di mana tanaman mengambil air dari reservoir melalui prinsip kapilaritas, menjaga kelembaban tanah yang konsisten.

2. Apa manfaat utama menggunakan sistem self-watering?

Manfaat utamanya meliputi efisiensi air, kenyamanan karena tidak perlu menyiram setiap hari, kesehatan tanaman yang lebih baik karena pasokan air yang konsisten, dan ramah lingkungan karena mengurangi limbah.

3. Barang bekas apa saja yang bisa dipakai untuk sistem self-watering?

Barang bekas yang umum digunakan antara lain botol plastik bekas air mineral, wadah plastik bekas (kaleng cat, botol minyak), kain flanel atau tali katun sebagai sumbu, pipa PVC bekas, dan ember bekas.

4. Bagaimana cara kerja sistem self-watering dengan sumbu?

Sistem ini bekerja dengan menempatkan reservoir air di bawah pot tanaman, di mana air diserap oleh sumbu (kain flanel atau tali) dan dialirkan ke media tanam melalui prinsip kapilaritas, sehingga tanaman dapat mengambil air sesuai kebutuhannya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6