Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mungkin penasaran mengapa Imlek selalu hujan. Setiap tahun, saat pernak-pernik merah dan lampion mulai menghiasi sudut kota, satu fenomena yang seolah tak pernah absen adalah turunnya hujan. Banyak masyarakat bertanya-tanya, mengapa Imlek selalu hujan? Apakah ini sekadar kebetulan cuaca, atau ada penjelasan yang lebih mendalam di baliknya?
Pertanyaan mengapa Imlek selalu hujan ini kerap muncul menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Artikel ini akan mengupas tuntas dua sisi dari fenomena tersebut: sisi ilmiah berdasarkan data meteorologi dan sisi budaya yang kaya makna dalam tradisi Tionghoa. Memahami kedua aspek ini akan membuat kita lebih bisa memaknai dan mempersiapkan diri menyambut tahun baru Imlek dengan lebih baik.
Fenomena hujan saat Imlek bukanlah sebuah kebetulan mistis, melainkan hasil dari siklus alam yang terjadi secara periodik di wilayah tropis seperti Indonesia. Ini juga memiliki interpretasi yang mendalam dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa. Jadi simak penjelasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (11/2/2026).
Advertisement
Puncak Musim Hujan di Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2999269/original/063981900_1576638463-thumbnail_large-1__1_.jpg)
Fenomena hujan saat Imlek memiliki dasar ilmiah yang kuat, terutama karena penanggalan Imlek selalu jatuh pada rentang bulan Januari hingga Februari. Periode ini merupakan puncak musim hujan di Indonesia, yang secara alami menerima massa udara basah yang sangat besar dari Samudra Hindia dan Laut China Selatan. Intensitas hujan meningkat tajam karena kondisi atmosfer yang sangat jenuh akan uap air di awal tahun.
Data historis menunjukkan bahwa Januari dan Februari adalah masa di mana intensitas hujan berada pada titik tertinggi dalam setahun. Siklus hidrologi pada waktu ini sedang berada dalam tahap yang sangat aktif, sehingga pembentukan awan hujan terjadi hampir setiap hari. Hal ini didukung oleh suhu permukaan laut yang hangat, yang mempercepat penguapan air ke atmosfer secara masif.
Angin Monsun Asia memegang peranan kunci mengapa curah hujan meningkat drastis tepat saat perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung setiap tahunnya. Angin ini bergerak dari daratan Asia menuju Australia, membawa banyak uap air saat melewati Samudra Pasifik serta Laut China Selatan yang luas. Pergerakan massa udara ini membuat kelembapan di wilayah Indonesia meningkat secara signifikan, sehingga potensi hujan menjadi sangat tinggi.
Posisi Indonesia yang berada tepat di garis khatulistiwa menjadikannya titik pertemuan angin dari belahan bumi utara dan selatan. Pertemuan ini menciptakan area yang disebut Intertropical Convergence Zone (ITCZ) atau daerah konvergensi antar tropik, yang memicu pertumbuhan awan konvektif. Saat Imlek tiba, posisi ITCZ ini biasanya berada tepat di atas wilayah kepulauan Indonesia, memicu hujan lebat hampir setiap hari.
Advertisement
Air atau Hujan sebagai Simbol Hoki dan Rezeki
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4739432/original/024832700_1707531268-20240210-Sembahyang_Imlek-ANG_10.jpg)
Beralih dari sains ke budaya, masyarakat Tionghoa telah lama memaknai fenomena hujan saat Imlek secara mendalam. Hujan saat Imlek tidak dianggap sebagai gangguan, melainkan simbol keberuntungan dan pembawa rezeki yang melimpah bagi siapa saja yang merayakannya. Dalam kepercayaan Tionghoa, hujan yang turun saat perayaan Imlek dianggap sebagai pertanda baik. Hujan melambangkan keberkahan, rezeki, dan kemakmuran.
Secara mendalam, arti hujan saat Imlek berkaitan dengan filosofi Feng Shui, di mana air melambangkan aliran energi dan kekayaan. Hujan yang turun dipercaya sebagai cara alam mengirimkan kesejahteraan dan membersihkan energi negatif. Turunnya hujan diyakini membawa kesuburan dan membersihkan sisa energi negatif dari tahun sebelumnya, membuka jalan bagi hal-hal positif di tahun yang baru.
Tingkatan makna hujan pun bervariasi. Banyak orang tua mempercayai bahwa Imlek hujan artinya doa-doa baik sedang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Semakin lebat hujan yang membasahi bumi, dipercaya semakin besar pula keberuntungan yang akan didapatkan sepanjang tahun. Ahli Feng Shui menyebutkan bahwa hujan deras saat Imlek dianggap membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi wilayah yang diguyur hujan.
Namun, terdapat pula penafsiran lain. Jika yang terjadi adalah hujan badai, maka artinya dapat menjadi pertanda kurang beruntung karena berpotensi menyebabkan musibah. Sementara itu, hujan gerimis dipercaya membawa keberuntungan dalam jumlah sedikit, namun jika gerimis terjadi seharian penuh, dipercaya akan membawa keberuntungan sepanjang tahun. Turunnya hujan ini juga dipercaya berkaitan dengan mitos turunnya Dewi Kwan Im untuk menyiram bunga Mei Hwa, yang melambangkan berkah dari langit.
Sains dan Tradisi dalam Hujan Imlek
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3917538/original/022218100_1643350868-henry-co-yxfGrQvLzJo-unsplash_1_.jpg)
Penjelasan ilmiah dan makna budaya ini tidak saling menafikan, tetapi justru saling melengkapi. Hujan yang turun saat perayaan Imlek memiliki dua sisi penafsiran: secara budaya dianggap sebagai pertanda keberuntungan dan kemakmuran, sementara secara ilmiah merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan musim hujan di Indonesia. Ini menunjukkan bagaimana fenomena alam dapat diinterpretasikan secara beragam.
Jawaban dari pertanyaan "mengapa Imlek selalu hujan" adalah sebuah koinsidensi yang bermakna. Secara kebetulan ilmiah, penanggalan Imlek selalu jatuh pada puncak musim hujan di Indonesia. Secara budaya, kebetulan ini kemudian dirajut menjadi narasi yang penuh harap dan doa, mengubah fenomena alam menjadi simbol pengharapan akan tahun yang lebih baik.
Fenomena ini adalah contoh indah bagaimana manusia memberi makna pada siklus alam, mengubah hal yang mungkin dianggap merepotkan menjadi pertanda baik yang dinantikan. Ini menunjukkan kekayaan budaya dan kearifan lokal dalam memahami serta beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Advertisement
FAQ
Q: Apakah benar setiap Imlek pasti hujan?
A: Secara statistik, peluang terjadinya hujan memang mencapai angka 80% hingga 90% di wilayah Indonesia karena Imlek selalu jatuh pada awal tahun masehi, yang bertepatan dengan puncak musim hujan. Namun, tidak mutlak setiap hari perayaan turun hujan di semua tempat, cuaca bisa bervariasi lokalitasnya, tetapi kondisi umumnya memang basah.
Q: Apa penjelasan BMKG tentang fenomena ini?
A: Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Imlek identik dengan hujan karena perayaan tersebut selalu jatuh pada periode puncak musim hujan di Indonesia (Januari-Februari), dipengaruhi oleh angin monsun Asia dan kondisi dinamika atmosfer tropis.
Q: Benarkah hujan saat Imlek pertanda rezeki?
A: Itu adalah keyakinan dan makna budaya dalam tradisi Tionghoa, khususnya dalam filosofi Feng Shui. Banyak orang mempercayainya sebagai simbol aliran rezeki dan pembersihan energi. Keyakinan ini telah dipegang turun-temurun dan menjadi bagian dari kekayaan tradisi perayaan Imlek.
Q: Apakah perubahan iklim mempengaruhi pola hujan saat Imlek?
A: Ya, perubahan iklim global memberikan kontribusi pada pola hujan yang terasa semakin intens dan tidak menentu saat periode Imlek berlangsung. Peningkatan suhu rata-rata global menyebabkan atmosfer mampu menampung lebih banyak uap air, sehingga curah hujan yang turun bisa menjadi jauh lebih ekstrem dan durasinya lebih panjang.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298964/original/044978900_1784188695-Screenshot_2026-07-15_123742bbbb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6454660/original/051756600_1779318782-1001276959.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288313/original/005703000_1783311841-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-06T103916.100.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/654632/original/hujan-140121b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5484506/original/024457200_1769435277-arsene.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300878/original/067363300_1784417747-000_C2JX6TP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298206/original/007801400_1784152342-063_2286278842.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260848/original/087679100_1781665562-063_2281975452.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5166509/original/037413000_1742274435-20250318-Latihan_Timnas_Prancis-AFP_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297435/original/065011900_1784091222-000_C27U8NQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2344293/original/044855700_1535517013-20180828-Trump-Dapat-Kartu-Merah-dari-Presiden-FIFA-AP20180828-Trump-Dapat-Kartu-Merah-dari-Presiden-FIFA-AP-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300875/original/054411300_1784416107-000_C2JW4HR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300879/original/072698600_1784417748-000_C2JX6TK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4350032/original/059095500_1678233390-AP23066634640543.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519332/original/086521200_1772547483-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5506360/original/083836500_1771434805-1000910580.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2558469/original/058386900_1546087109-new-years-eve-1953253_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5506236/original/029119400_1771417828-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5505090/original/097061700_1771326294-IMG_7039.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5505615/original/038123500_1771392065-sarwendah_q.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5234375/original/065384200_1748345467-IMG_9937.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499951/original/007117400_1770801695-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5505159/original/051820600_1771341763-WhatsApp_Image_2026-02-17_at_15.35.46.jpeg)