Mengenal Kue Keranjang Imlek dan Filosofinya, Simbol Harapan di Tahun Baru Imlek

Selami kelezatan dan makna mendalam kue keranjang Imlek, tradisi hidangan manis yang melekat dalam perayaan.

Diterbitkan 15 Februari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu menghadirkan nuansa kebudayaan penuh makna simbolik serta tradisi turun-temurun. Salah satu elemen kuliner paling menonjol pada momen tersebut ialah kue keranjang imlek, hidangan manis bertekstur khas yang manjadi penanda dimulainya siklus tahun baru. Kehadiran pangan tradisional ini dipahami sebagai lambang harapan, doa, juga optimisme bagi kehidupan mendatang.

Dalam praktik budaya masyarakat Tionghoa, kue keranjang imlek menempati posisi terhormat pada rangkaian perayaan. Sajian ini tidak hanya berfungsi sebagai makanan penutup, melainkan media simbolis bagi penyampaian nilai-nilai kebersamaan, keharmonisan dan penghormatan terhadap leluhur. Tradisi penyajiannya mencerminkan keterikatan kuat antara identitas budaya dan kehidupan keluarga.

Nilai filosofis mendalam turut melekat pada kue keranjang imlek melalui proses pengolahan panjang serta penuh ketelatenan. Setiap tahapan pembuatan menggambarkan semangat ketekunan, kesabaran dan kerja keras sebagai bekal menghadapi perjalanan hidup sepanjang tahun. Makna tersebut menjadikan kue ini lebih dari sekadar konsumsi, melainkan sarana refleksi kehidupan.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (9/2/2026).

Mengenal Kue Keranjang Imlek yang Melegenda

Kue Keranjang yang dalam tradisi masyarakat Tiongkok dikenal dengan nama Nian Gao, merupakan salah satu makanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang memiliki cita rasa manis. Kue ini dibuat dari campuran tepung beras ketan dan gula, kemudian diolah hingga menghasilkan tekstur yang padat dan lengket. Dalam bahasa Mandarin, Kue Keranjang disebut Nian Gao (年糕). Kata nian (年) berarti “tahun”, sementara gao (糕) berarti “kue”. Menariknya, pelafalan kata gao (糕) sama dengan karakter gao (高) yang bermakna “tinggi”. Kesamaan bunyi inilah yang membuat Nian Gao memiliki makna simbolis yang sangat kuat dalam budaya Tionghoa.

Secara tradisional, proses pembuatan Kue Keranjang membutuhkan waktu yang cukup lama. Adonan yang terdiri dari tepung beras ketan, air dan gula dikukus selama berjam-jam hingga gula mengalami proses karamelisasi. Proses ini menghasilkan warna cokelat tua yang khas serta tekstur kenyal dan lengket. Setelah matang, kue ini biasanya dicetak dalam bentuk silinder atau balok, sehingga mudah disimpan dan disajikan. Penyebutan Kue Keranjang di Indonesia berkaitan erat dengan bentuk cetakannya.

Pada masa lalu, kue ini dicetak menggunakan wadah yang menyerupai keranjang kecil, sehingga masyarakat lokal menyebutnya sebagai Kue Keranjang. Secara visual, kue ini memiliki warna cokelat kemerahan dengan rasa manis yang cukup kuat. Teksturnya yang lengket menjadi ciri khas utama yang membedakannya dari kue tradisional lainnya. Hingga kini, Kue Keranjang tetap menjadi sajian wajib dalam perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia.

Menjelang perayaan Imlek, keluarga Tionghoa biasanya membeli Kue Keranjang dalam jumlah yang cukup banyak. Kue-kue tersebut tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang-orang terdekat, seperti keluarga besar, sahabat, tetangga, rekan kerja, hingga atasan. Tradisi berbagi Kue Keranjang ini dimaknai sebagai ungkapan kasih sayang serta niat baik untuk mempererat hubungan sosial dengan orang-orang di sekitar.

 

 

Filosofi Kue Keranjang

Kue keranjang mengandung beragam makna simbolis penting dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Hidangan tradisional ini tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga sebagai media penyampai doa, harapan, dan nilai kehidupan. Berikut beberapa filosofi utama yang terkandung dalam kue keranjang:

  • Keberuntungan dan Kemakmuran: Istilah Nian Gao dalam bahasa Mandarin memiliki pelafalan yang menyerupai ungkapan peningkatan dari tahun ke tahun. Kesamaan bunyi tersebut kemudian dimaknai sebagai simbol harapan agar kehidupan seseorang terus mengalami perkembangan positif. Kue keranjang pun dipandang sebagai lambang doa untuk memperoleh keberuntungan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang terus bertambah pada tahun yang baru.
  • Kerekatan dan Persatuan Keluarga: Bentuk kue keranjang umumnya bulat atau utuh tanpa terputus, sehingga melambangkan kebulatan dan keutuhan sebuah keluarga. Tradisi menikmati kue keranjang bersama saat Imlek mencerminkan harapan agar hubungan antaranggota keluarga tetap terjalin erat. Makna ini menekankan pentingnya kebersamaan, keharmonisan, dan rasa saling mendukung dalam lingkungan keluarga.
  • Kegigihan dan Ketekunan: Proses pembuatan kue keranjang memerlukan waktu yang panjang serta kesabaran tinggi. Tahapan pengolahan yang tidak singkat tersebut menjadi simbol nilai kegigihan dan ketekunan. Filosofi ini mengajarkan bahwa keberhasilan dalam kehidupan membutuhkan usaha berkelanjutan, kesabaran, dan semangat pantang menyerah saat menghadapi berbagai tantangan di tahun mendatang.
  • Keberuntungan dan Rezeki yang Berlimpah: Warna cokelat khas pada kue keranjang sering dikaitkan dengan unsur tanah, yang dalam banyak kepercayaan dianggap sebagai sumber kehidupan dan penghidupan. Oleh sebab itu, kue keranjang diyakini melambangkan kelimpahan rezeki dan stabilitas ekonomi. Mengonsumsinya saat Imlek dipahami sebagai simbol harapan atas rezeki yang cukup dan berkelanjutan sepanjang tahun.
  • Kesuksesan dan Kenaikan Jabatan: Tekstur kue keranjang yang lengket memiliki makna simbolis tersendiri, yaitu harapan agar kesuksesan, pencapaian, dan posisi dalam pekerjaan dapat terus melekat dan meningkat. Filosofi ini sering dikaitkan dengan keinginan meraih kemajuan karier, peningkatan jabatan, serta keberhasilan dalam bidang profesional.

Kue keranjang tidak hanya dikenal sebagai hidangan manis bercita rasa khas, tetapi juga memiliki peran penting dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat Tionghoa. Kehadirannya menjadi pengingat akan nilai-nilai kehidupan seperti kebersamaan keluarga, kerja keras, ketekunan, serta sikap optimis dalam menyambut datangnya tahun baru.

Resep Kue Keranjang di Indonesia

Kue Keranjang Imlek Tradisional

Bahan-bahan:

  • 200 gram gula merah, disisir halus
  • 100 mililiter air bersih
  • 225 gram tepung beras ketan
  • 50 gram tepung beras
  • 200 mililiter santan cair
  • ½ sendok teh garam
  • ½ sendok makan air jahe
  • 1 lembar daun pisang sebagai alas cetakan

Langkah Pembuatan:

  1. Rebus gula merah bersama air menggunakan api sedang hingga gula larut sempurna. Setelah itu, angkat dari kompor dan biarkan larutan gula mendingin pada suhu ruang.
  2. Dalam wadah terpisah, masukkan tepung ketan, tepung beras, santan cair, garam, dan air jahe. Aduk seluruh bahan hingga tercampur rata dan tidak menggumpal.
  3. Siapkan cetakan, lalu lapisi bagian dalamnya menggunakan daun pisang agar aroma lebih harum dan adonan tidak lengket. Tuangkan adonan ke dalam cetakan tersebut.
  4. Panaskan panci kukusan, lalu kukus adonan selama kurang lebih 30 menit hingga matang sempurna. Setelah matang, angkat dan biarkan dingin pada suhu ruang selama sekitar satu jam sebelum disajikan.

Kue Keranjang Santan

Bahan-bahan:

  • 1 buah kue keranjang siap pakai seberat kurang lebih 300 gram
  • 300 mililiter santan kental
  • 1 sendok makan tepung beras
  • ¼ sendok teh garam
  • 1–2 lembar daun pandan

Langkah Pembuatan:

  1. Cuci bersih daun pandan, kemudian potong kecil-kecil. Kue keranjang juga dipotong sesuai selera agar mudah ditata dan disantap.
  2. Campurkan santan kental, tepung beras, dan garam dalam satu wadah. Aduk hingga larut dan tercampur merata, lalu sisihkan.
  3. Siapkan wadah tahan panas, susun daun pandan di bagian dasar, lalu tata potongan kue keranjang di atasnya. Siram seluruh permukaan kue menggunakan campuran santan, kemudian tambahkan potongan daun pandan sebagai aroma tambahan.
  4. Panaskan kukusan hingga air mendidih, lalu kukus adonan selama kurang lebih 20 menit. Setelah matang, angkat dan biarkan agak dingin sebelum disajikan. Hidangan ini dapat dinikmati dalam keadaan hangat maupun dingin sesuai selera.

FAQ Seputar Topik

Apa itu kue keranjang Imlek?

Kue keranjang Imlek, atau Nian Gao, adalah hidangan manis legit yang terbuat dari tepung ketan dan gula, menjadi simbol harapan dan doa baik dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

Bagaimana sejarah singkat kue keranjang Imlek?

Kue keranjang Imlek memiliki sejarah ribuan tahun, awalnya dibuat sebagai persembahan kepada dewa dan leluhur di Tiongkok kuno, serta terkait legenda Dewa Dapur dan kisah perang Wu Zixu.

Apa makna filosofis di balik kue keranjang Imlek?

Kue keranjang melambangkan harapan peningkatan hidup setiap tahun ("Nian Gao"), kebersamaan keluarga (tekstur lengket), keutuhan dan umur panjang (bentuk bulat), serta keberuntungan dan kebahagiaan (warna dan rasa manis).

Bagaimana kue keranjang Imlek dikenal di Indonesia?

Di Indonesia, kue keranjang dikenal dengan berbagai nama lokal seperti "kue bakul", "dodol Cina", atau "ti kwe", dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek serta diadaptasi dalam penyajiannya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6