Cara Membuat Pakan Ternak Berbasis Lingkungan, Solusi Efisien Peternakan Skala Rakyat

Pendekatan penyediaan pakan ternak berbasis lingkungan justru membuat peternak lebih tahan menghadapi fluktuasi harga pakan.

Diterbitkan 19 Januari 2026, 17:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan harga pakan ternak pabrikan dalam beberapa tahun terakhir mendorong peternak untuk mencari pola pemeliharaan yang lebih efisien. Ketergantungan penuh pada konsentrat dinilai semakin berisiko, terutama bagi peternak skala rumah tangga dan desa yang memiliki keterbatasan modal untuk menyediakan pakan ternak mereka.

Dalam konteks inilah, pemanfaatan pakan alternatif berbasis lingkungan kembali mendapat perhatian. Pendekatan ini menitikberatkan pada penggunaan bahan lokal, limbah pertanian, serta sisa hasil konsumsi yang masih memiliki nilai nutrisi bagi ternak. Strategi tersebut bukan sekadar solusi sementara, tetapi bagian dari pola peternakan berkelanjutan.

Strategi ini bukan hanya relevan untuk satu jenis ternak, tetapi dapat diterapkan pada berbagai komoditas seperti unggas, kambing, domba, hingga sapi, terutama pada skala rumahan hingga kecil-menengah.

Jika Anda memelihara ternak di pekarangan, kebun, atau kandang sederhana, pendekatan ini layak mulai diterapkan sekarang. Lebih jelasnya, berikut ini telah Liputan6 susun informasi lengkapnya, pada Senin (19/1/2026).

 

Pakan Alternatif sebagai Penopang Produksi

Secara umum, pakan alternatif dimaknai sebagai bahan pakan non-pabrikan yang tersedia di sekitar peternak. Bahan ini dapat berupa hijauan, limbah sayuran, dedak, ampas hasil olahan pangan, hingga sisa hasil panen. Dalam berbagai buku dan jurnal peternakan rakyat, pemanfaatan pakan lokal disebut mampu menekan biaya pakan hingga 30–50 persen, tergantung jenis ternak dan ketersediaan bahan.

Suranta, pensiunan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah, menyebut bahwa konsep ini telah lama diterapkan di tingkat desa.

“Dari dulu penyuluhan sudah mengarahkan peternak supaya tidak bergantung satu sumber pakan saja,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa pakan alternatif tidak dimaksudkan menggantikan seluruh kebutuhan nutrisi ternak, melainkan berfungsi sebagai penyeimbang dan penekan biaya produksi.

Prinsip Dasar Pengolahan Pakan Berbasis Lingkungan

Salah satu poin penting dalam pemanfaatan pakan alternatif adalah proses pengolahan. Bahan yang tersedia di alam umumnya memiliki struktur kasar dan kadar air tinggi, sehingga perlu perlakuan tertentu agar mudah dicerna ternak.

Literatur teknis peternakan menyebutkan beberapa prinsip dasar:

  • Bahan harus bersih dan bebas kontaminan
  • Ukuran partikel disesuaikan dengan jenis ternak
  • Kadar air dikontrol agar tidak memicu pembusukan
  • Pakan dicampur secara seimbang

Suranta menambahkan, “Kalau tidak diolah, ternak sering pilih-pilih. Akhirnya tidak efisien.”

Selain itu, sebelum memulai, penting untuk memahami konteks penerapannya. Strategi pakan alternatif berbasis lingkungan cocok untuk:

  • Ternak unggas lokal (ayam kampung, itik, entok)
  • Ternak ruminansia kecil (kambing, domba)
  • Sapi potong skala rakyat
  • Sistem kandang pekarangan atau semi-intensif

Kurang disarankan untuk:

  • Ternak industri intensif berskala besar
  • Ternak dengan kebutuhan nutrisi presisi tinggi tanpa pendampingan teknis

Pakan alternatif berfungsi sebagai penekan biaya dan penyeimbang, bukan pengganti total pakan utama.

Langkah-Langkah Umum Pengolahan Pakan Alternatif

Berikut tahapan yang umum digunakan dalam pengolahan pakan berbasis lingkungan, dirangkum dari panduan penyuluhan dan praktik lapangan:

1. Pengumpulan dan Seleksi Bahan

Kumpulkan bahan pakan dari kebun, lahan pertanian, pasar, atau dapur rumah tangga. Pastikan bahan tidak berjamur, tidak berlendir, dan tidak tercampur zat kimia. Bahan pakan alternatif bisa berupa hijauan, limbah sayuran, dedak, ampas hasil olahan pangan, hingga sisa hasil panen.

2. Pengecilan Ukuran (Size Reduction)

Batang, daun, atau bahan berserat perlu dicacah atau digiling. Tahap ini penting untuk meningkatkan konsumsi dan daya cerna, terutama pada ternak unggas dan ruminansia muda.

3. Formulasi Campuran

Campur pakan alternatif dengan sumber energi dan protein lain seperti dedak, bekatul, atau jagung giling. Formulasi ini bertujuan menjaga keseimbangan nutrisi.

4. Pengaturan Kelembapan

Campuran pakan dijaga agar tidak terlalu basah. Kelembapan ideal umumnya sekitar 30 persen, cukup lembap namun tidak menetes jika dikepal.

 

Fermentasi sebagai Teknik Penguatan Nutrisi

Fermentasi menjadi salah satu metode yang banyak dianjurkan dalam. Proses ini melibatkan mikroorganisme untuk menguraikan serat kasar menjadi senyawa yang lebih mudah diserap oleh ternak.

“Fermentasi membantu pakan lebih awet dan baunya lebih disukai ternak,” kata Suranta.

Secara teknis, fermentasi dilakukan dengan menciptakan kondisi anaerob menggunakan wadah tertutup dan starter mikroorganisme. Selain meningkatkan daya cerna, metode ini juga membantu menekan pertumbuhan bakteri patogen.

Penerapan pakan alternatif harus mempertimbangkan karakter ternak. Ternak ruminansia seperti sapi dan kambing lebih toleran terhadap serat kasar, sementara unggas membutuhkan pakan dengan tekstur lebih halus dan nutrisi lebih padat.

Dalam berbagai referensi teknis disebutkan bahwa pakan alternatif paling efektif digunakan sebagai pakan tambahan, bukan pakan tunggal. Suranta mengingatkan, “Jangan disamaratakan. Kebutuhan ternak berbeda-beda.”

Pemanfaatan pakan berbasis lingkungan tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga meningkatkan kemandirian peternak. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, peternak tidak sepenuhnya terikat pada fluktuasi harga pasar.

Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana sisa hasil pertanian dan konsumsi kembali masuk ke dalam sistem produksi ternak. Pola ini dinilai lebih adaptif untuk peternakan skala rakyat yang mengandalkan ketahanan jangka panjang.

“Ilmu peternakan itu bukan soal teknologi tinggi saja, tapi bagaimana memaksimalkan yang ada di sekitar.” tutup Suranta.

 

Tanya Jawab (Q&A)

Q: Apakah metode ini bisa menurunkan performa ternak?

A: Tidak, jika diterapkan dengan benar. Masalah biasanya muncul ketika pakan alternatif diberikan berlebihan atau tanpa campuran nutrisi lain. Ingat, tujuan metode ini adalah efisiensi, bukan memangkas nutrisi penting ternak.

Q: Berapa skala minimal ternak agar metode ini terasa manfaatnya?

A: Bahkan pada skala kecil, seperti 5–10 ekor ternak, penghematan sudah bisa dirasakan. Semakin besar skala ternak, semakin signifikan pula efisiensi biaya pakan yang diperoleh.

Q: Apakah metode ini cocok untuk peternak pemula?

A: Sangat cocok, karena bahannya mudah didapat dan prosesnya sederhana. Yang penting, ikuti langkah pengolahan dengan benar, jangan terburu-buru, dan selalu amati kondisi ternak setiap hari

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6