7 Baju Adat Kalimantan Selatan yang Unik, Sejarah dan Ciri Warisan Luhur Tanah Banjar

Baju adat Kalimantan Selatan dikenal dengan detail mewah dan simbol budaya Banjar yang khas, digunakan dalam berbagai acara adat dan pernikahan tradisional.

Diterbitkan 11 Desember 2025, 04:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Baju adat Kalimantan Selatan adalah salah satu warisan budaya Nusantara yang sarat makna. Makna, motif, hingga bentuk pakaian adat ini mencerminkan identitas suku Banjar. Tidak hanya dipakai pada upacara adat, baju adat Kalimantan Selatan sering ditampilkan saat acara kebudayaan, pertunjukan seni, hingga pernikahan.

Berdasarkan literatur Mengenal Seni dan Budaya Indonesia karya R. Rizky Wibisono (2012: hlm. 77), pakaian adat yang digunakan suku Banjar di Kalimantan Selatan memiliki ciri khas sulaman emas, sarung khas Banjar, hingga hiasan kepala berornamen kembang goyang.

Kaum pria umumnya mengenakan baju berlengan panjang, celana panjang yang disebut selawar, sarung yang melingkar rapi di pinggang, serta tutup kepala. Sementara itu, kaum wanitanya tampil anggun dengan baju berlengan panjang, kain bersulam emas yang mewah, serta tutup kepala yang berhias kembang goyang atau disebut sumping.

Selain itu, ada beberapa jenis baju adat suku Banjar dengan ciri khas yang berbeda pada pria dan wanita.

 

 

1. Bagajah Gamuling Baular Lulut

Jenis baju adat ini sangat kental dengan nuansa Hindu. Nama Bagajah Gamuling Baular Lulut punya makna filosofis yang menggambarkan gerakan gajah gemulai namun kuat. Ciri Khas utama busana ini ada pada dominasi bunga melati dan mawar.

Pria: Pada zaman dahulu, pengantin pria seringkali tampil bertelanjang dada (tanpa baju atasan) untuk memamerkan kegagalan, hanya berkalung rangkaian bunga melati. Namun seiring waktu dan norma kesopanan, kini banyak yang memadukannya dengan kemeja atau manset warna kulit. Bawahannya dikenakan celana panjang bermotif halilipan.

Wanita: Sedangkan kaum wanita mengenakan kemben menutupi dada, dilengkapi dengan selendang dan bawahan kain panjang. Hiasan kepalanya paling mencolok berkat kembang goyang dan untaian melati segar dan aroma wangi khas.

 

 

 

 

2. Baamar Galung Pancar Matahari

Pancar Matahari, busana ini memancarkan kilau yang luar biasa. Busana ini lahir pada masa transisi masuknya pengaruh Islam namun tetap mempertahankan kemewahan gaya kerajaan Hindu.

Desain: Baju ini biasanya terbuat dari bahan beludru mewah terang, seperti hijau, merah, dan kuning. Busana ini dihias dengan payet atau manik-manik emas berkilau saat terkena cahaya.

Aksesori: Ciri khas jenis baju adat Kalimantan Selatan ini ada pada mahkota yang disebut Amar. Pengantin wanita mengenakan mahkota lebih kecil namun berkilau. Selain tu, kida-kida (penutup dada) yang berhias emas.

 

 

 

 

3. Babaju Kun Galung Pacinan

Baju adat Kalimantan Selatan ini bernuansa oriental atau Tiongkok yang kental. Babaju Kun Galung Pacinan menjadi bukti sejarah hubungan dagang masyarakat Banjar dengan Pedagang Tiongkok di masa lampau.

Pria: Bajunya mirip gamis atau baju koko dengan kancing khas Cheongsam. Dipadukan dengan kopiah alpe atau kopiah haji yang dihias dengan ornamen permata.

Wanita: Bajunya berupa kebaya lengan panjang dengan kerah tinggi khas Tiongkok. Rok atau bawahannya seringkali dibordir naga atau burung hong yang disulam pakai benang emas. Warnanya merah menyala atau kuning emas, simbol keberuntungan dan kemakmuran.

 

 

 

 

4. Babaju Kubaya Panjang

Jenis baju adat Kalimantan Selatan ini jadi representasi kuat pengaruh Islam. Dikenal juga dengan nama Ba'alik", busana ini lebih tertutup dan sopan dibandingkan jenis Bagajah Gamuling.

Desain: Pengantin wanita mengenakan kebaya panjang menjuntai hingga ke lutut dan terbuat dari beludru atau sutra

Aksesori: Kain bawahannya dari Tapih atau sarung khas Banjar dengan motif tenun Pagatan yang mewah. Hiasan kepala tetap menggunakan sumping namun tidak sepadat jenis Begajah Gamuling.

5. Baju Layang

Pakaian ini memiliki desain unik dan fungsional. Baju Layang adalah baju kurung berbahan tipis dengan belahan di samping bahu. Desain ini memungkinkan sirkulasi udara yang baik.

Berkat sifatnya yang ringan dan anggun, Baju Layang sering dikenakan oleh perempuan remaja dalam acara adat atau yang paling sering terlihat adalah pada penari Tari Radap Rahayu. Tarian ini adalah tarian penyambutan tamu kehormatan, di mana para penari bergerak gemulai layaknya bidadari yang turun dari kayangan.

 

 

 

 

6. Baju Kubaya Rangkap Dua

Jenis ini banyak digunakan oleh ibu-ibu suku Banjar saat menghadiri acara sosial seperti syukuran, kenduri, atau pertemuan adat. Dinamakan "Rangkap Dua" karena pemakaiannya yang terlihat berlapis, menghasilkan siluet yang sopan dan berwibawa. Baju ini biasanya disandingkan dengan kain sarung batik atau Sasirangan yang serasi, serta selendang yang disampirkan di bahu sebagai pelengkap keanggunan.

 

 

 

 

7. Sasirangan

Membahas baju adat Kalimantan tak lengkap jika tidak menyinggung Sasirangan. Jika Jawa punya Batik, Sumatera punya Songket, maka Banjar punya Sasirangan. Kain Sasirangan tak lepas dari baju adat Banjar.

Mengutip dari laman resmi Kampung KB BKKBN, kata "Sasirangan" berasal dari kata "sirang" atau "menyirang" yang berarti menjelujur. Pasalnya, proses pembuatannya memakai teknik tusuk jelujur yang diikat tali rafia sebelum dicelupkan ke pewarna.

Pada baju adat, motif-motif Sasirangan seperti Gigi Haruan (ikan gabus), Hiris Gagatas (kue wajik), atau Kambang Sakaki sering digunakan sebagai bawahan (sarung) atau selendang pelengkap pada Baju Kubaya Panjang dan pakaian resmi pria.

Saat ini, penggunaan kain Sasirangan sebagai bahan kemeja kerja atau gaun malam juga turut mengangkat pamor budaya lokal ke kancah nasional.

Sejarah dan Filosofi Baju Adat Kalimantan Selatan

Baju adat Kalimantan Selatan menjadi bukti warisan leluhur tanah Banjar. Tradisi berpakaian suku Banjar tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Banjar masa lampau. Pengaruh budaya Melayu, Jawa, dan Tiongkok turut membentuk karakter pakaian adat ini. Menurut beberapa catatan sejarah, perpaduan tersebut terlihat dari penggunaan rompi, selawar, hingga hiasan sumping dan kembang goyang.

Variasi busana ini cukup beragam tergantung pada konteks pemakaiannya. Buku Ensiklopedia Pelajar dan Umum oleh Gamal Komandoko (2010: hlm. 180), dijelaskan detail lain yang menarik. Untuk pria, terdapat variasi pakaian yang terdiri dari baju tanpa lengan atau rompi. Padanannya tetap menggunakan selawar, namun ditambah sarung sebatas lutut, tutup kepala atau destar, dan sebilah keris yang terselip gagah di depan perut.

Sedangkan untuk waninta, Selain sumping pada penutup kepala, wanita Banjar mengenakan baju dan kain bersulam emas, serta perhiasan lengkap berupa kalung, anting-anting, pending (ikat pinggang hias), dan gelang tangan. Perpaduan emas dan kain berkualitas tinggi menggambarkan masyarakat Banjar sangat menghargai keindahan dan kemakmuran.

Ciri Khas Baju Adat Kalimantan Selatan

Pakaian adat Kalimantan Selatan sangat mudah dikenali karena memiliki ciri khas pada bahan, warna, dan perhiasannya. Karakteristik utamanya antara lain:

Menggunakan kain bersulam emas atau perakSarung dan selawar khas Banjar Kombinasi warna merah, hitam, dan emasBagian kepala seperti destar, sumping, dan kembang goyangMemakai perhiasan seperti kalung, pending, gelang, dan ating. Motif Flora yang melambangkan keindahan alam Kalimantan.

 

Q&A Seputar Baju Adat Kalimantan Selatan

1. Apa yang menjadi ciri khas utama baju adat Kalimantan Selatan?

Ciri khasnya terlihat pada sulaman emas, sarung khas Banjar, serta tutup kepala seperti sumping dan destar yang penuh ornamen.

2. Baju adat Kalimantan Selatan digunakan untuk acara apa saja?

Busana ini dipakai untuk pernikahan adat, upacara kebudayaan, pertunjukan tari, hingga penyambutan tamu kehormatan.

3. Apa perbedaan pakaian adat Banjar untuk pria dan wanita?

Pria mengenakan rompi, selawar, sarung dan destar, sedangkan wanita memakai kain bersulam emas, kebaya panjang, sumping, serta perhiasan lengkap.

4. Mengapa baju adat Kalimantan Selatan banyak menggunakan sulaman emas?

Sulaman emas melambangkan kemuliaan, kejayaan budaya Banjar, serta simbol penghormatan dalam acara penting.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6