5 Jenis Ular Kecil yang Ternyata Berbisa, Patut Diwaspadai

Beberapa jenis ular kecil yang ternyata berbisa memiliki racun mematikan yang dapat mengancam nyawa.

Diterbitkan 05 November 2025, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Mengetahui jenis ular kecil yang ternyata berbisa sangat penting meski ukurannya mungil, karena racun mereka tetap berpotensi berbahaya bagi manusia maupun hewan peliharaan. Ular kecil sering kali luput dari perhatian karena tubuhnya yang ringkas, tetapi efek gigitan bisa serius jika tidak segera ditangani.

Habitat jenis ular kecil yang ternyata berbisa biasanya tersembunyi di semak, tumpukan daun, atau area lembap di sekitar rumah. Kesadaran terhadap keberadaan mereka membantu mengurangi risiko gigitan dan memastikan kita dapat bertindak cepat saat menemui ular di lingkungan sekitar.

Untuk menjaga keamanan, kebersihan halaman, pengurangan tempat persembunyian, dan penerapan langkah pencegahan sederhana sangat dianjurkan. Dengan begitu, risiko kontak dengan jenis ular kecil yang ternyata berbisa dapat diminimalkan tanpa harus membahayakan ular itu sendiri.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang jenis ular kecil yang ternyata berbisa patut diwaspadai, Rabu (5/11/2025).

Jenis Ular Kecil yang Ternyata Berbisa

Mengutip kajian di Jurnal Biologi Papua Volume 6, Nomor 2, Oktober 2014, beberapa jenis ular berbisa di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia umumnya termasuk dalam famili Elapidae, Viperidae dan Colubridae.

Jenis ular berbisa yang termasuk dalam famili Elapidae umumnya memiliki tipe gigi proterglypha termasuk didalamnya ular kobra, king kobra, krait, ular koral, dan ular laut.

Berikut ini jenis ular kecil yang ternyata berbisa:

1. Ular Karang (Coral Snake)

Ular karang termasuk salah satu ular kecil yang paling berbisa di dunia. Ciri khasnya adalah pola warna cincin merah, kuning, dan hitam yang kontras, sehingga mudah dikenali. Meski ukurannya biasanya kurang dari satu meter, bisa neurotoksik yang dimilikinya sangat kuat dan mampu menyerang sistem saraf.

Gigitan ular karang dapat menyebabkan kelumpuhan otot pernapasan, kesulitan bernapas, dan jika tidak ditangani segera dengan antivenom, berisiko fatal. Ular ini umumnya hidup di hutan, semak, dan area berumput, sehingga interaksi dengan manusia dapat terjadi secara tak sengaja saat aktivitas luar ruangan.

2. Ular Laut (Sea Snake)

Beberapa spesies ular laut termasuk ular kecil hingga sedang, dengan panjang tubuh jarang melebihi satu meter. Meskipun tampak jinak, ular laut memiliki bisa yang sangat berbahaya, bersifat neurotoksik dan miotoksik. Bisa ini dapat melumpuhkan otot dan merusak jaringan tubuh secara cepat.

Mereka biasanya ditemukan di perairan tropis Samudra Hindia dan Pasifik, terutama di dekat terumbu karang, muara, atau dasar laut dangkal. Meski jarang menggigit manusia, pertemuan dengan nelayan atau penyelam tetap berpotensi menimbulkan risiko tinggi karena bisa yang dimiliki sangat kuat.

3. Ular Berbisa Kerdil (Dwarf Vipers)

Ular berbisa kerdil merupakan ular kecil yang sering diremehkan karena ukurannya. Contohnya adalah spesies dari genus Bitis di Afrika, yang panjangnya bahkan bisa kurang dari 30 cm. Meskipun kecil, bisa hemotoksik mereka sangat mematikan bagi mangsa kecil dan dapat menyebabkan nyeri hebat, pembengkakan lokal, serta kerusakan jaringan serius pada manusia.

Spesies terkenal termasuk Bitis peringueyi (Peringuey’s Adder) dan Bitis schneideri (Namaqua Dwarf Adder). Gigitan mereka jarang fatal, tetapi tetap membutuhkan penanganan medis cepat untuk menghindari komplikasi.

4. Ular Cincin Emas (Boiga dendrophila)

Ular cincin emas merupakan ular arboreal yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Meskipun beberapa individu muda relatif kecil, mereka sudah memiliki bisa yang cukup efektif. Bisa ular ini bersifat ringan hingga sedang, terutama menyebabkan gejala lokal seperti nyeri, pembengkakan, dan iritasi pada area gigitan.

Ular cincin emas dikenal agresif jika terancam, dan kemampuannya bergerak di pepohonan membuat pertemuan dengan manusia di kebun atau hutan dekat pemukiman menjadi mungkin. Meski jarang fatal, gigitannya tetap memerlukan perhatian medis untuk mencegah infeksi dan reaksi komplikasi.

5. Ular Cabai Kecil (Rhabdophis subminiatus / Lesser Keelback Snake)

Ular cabai kecil, meskipun memiliki ukuran tubuh yang relatif mungil dengan panjang sekitar 30–50 cm, ternyata termasuk salah satu jenis ular kecil yang berbisa. Tubuhnya biasanya berwarna hijau atau kecokelatan, dan sering ditemukan di lingkungan lembap seperti tepi sungai, sawah, atau hutan.

Ular ini bersifat pemalu dan lebih cenderung menghindari manusia, namun bila merasa terancam, ia dapat menggigit. Bisa dari ular cabai kecil bersifat hemotoksik ringan, yang dapat menimbulkan pembengkakan, kemerahan, dan rasa nyeri di area gigitan. Meskipun jarang menimbulkan kematian, gigitan tetap memerlukan perhatian medis untuk mencegah komplikasi.

Jenis Ular Kecil Tidak Berbisa

Ketahui ciri-ciri ular berbisa dan tidak berbisa agar lebih waspada. Mengutip buku berjudul Ensiklopedia Hewan Ovipar (2024) oleh M. Sumarto, Ciri-ciri ular berbisa adalah mempunyai gigi taring yang kecil, ular berbisa memiliki bentuk kepala segitiga, ular berbisa umumnya berwarna terang dan mencolok, ular berbisa memiliki mata lonjong, biasanya ular berbisa memiliki satu baris sisik.

Sementara ciri ular tak berbisa beberapa diantaranya, memiliki dua gigi taring besar di bagian rahang atas, ular tanpa bisa mempunyai bentuk dan sisik sederhana, ular tidak berbisa memiliki mata berbentuk bulat.

Berikut ini jenis ular kecil yang tidak berbisa:

1. Ular Sanca Kembang (Python reticulatus juvenil)

Ular sanca kembang sering ditemukan di pekarangan atau taman rumah, terutama ketika masih berukuran kecil. Meski tampak menakutkan karena pola tubuh yang menarik, ular ini tidak memiliki bisa.

Mereka termasuk ular pembelit, yang menangkap mangsa dengan cara melilit, bukan melalui gigitan berbisa. Pada ukuran kecil, mereka umumnya memangsa tikus atau hewan kecil lainnya. Meskipun tidak berbisa, tetap penting untuk tidak mengganggu mereka karena gigitan defensif dapat menimbulkan luka ringan.

2. Ular Tikus (Pantherophis atau Lycodon spp.)

Ular tikus dikenal luas sebagai ular kecil yang ramah lingkungan karena membantu mengendalikan populasi tikus di sekitar rumah. Ular ini tidak berbisa bagi manusia dan umumnya menghindari kontak langsung. Gigitan ular tikus jarang terjadi dan biasanya hanya menyebabkan rasa nyeri ringan.

Warna dan pola tubuhnya yang sederhana seringkali membuat mereka sulit dikenali, tetapi mereka merupakan sahabat bagi rumah karena fungsinya sebagai pengendali hama alami.

3. Ular Kadut (Coelognathus spp.)

Ular kadut adalah jenis ular kecil yang sering terlihat di halaman rumah atau kebun. Mereka tidak memiliki bisa berbahaya bagi manusia. Ular kadut memakan hewan kecil seperti kadal, katak, dan tikus.

Meski bersifat non-berbisa, ular kadut dapat menggigit jika merasa terancam, sehingga sebaiknya tetap diberikan ruang aman. Keberadaan mereka justru bermanfaat untuk menjaga keseimbangan ekosistem mikro di sekitar rumah.

Meski tidak berbisa, tetaplah menjaga jarak dan memperlakukan semua ular dengan hati-hati. Hal ini untuk menghindari stres pada ular dan mencegah gigitan defensif.

4. Ular Kawat (Ramphotyphlops braminus)

Ular Kawat (Ramphotyphlops braminus)Ular kawat merupakan salah satu ular terkecil di dunia, dengan panjang tubuh hanya 10–20 cm, sehingga sering disalahartikan sebagai cacing tanah. Mereka biasanya ditemukan di tanah lembap, taman, atau pot tanaman. Sebagian besar ular kawat dianggap tidak berbisa, namun beberapa spesies memiliki kelenjar bisa rudimenter atau bisa yang sangat ringan.

Bisa ini jarang menimbulkan efek serius pada manusia, tetapi tetap sebaiknya diwaspadai karena kulit mereka tipis dan kontak langsung bisa menyebabkan iritasi ringan atau reaksi alergi. Ular kawat sangat lincah dan sulit ditangkap, sehingga mengenali mereka adalah langkah pertama untuk menghindari gigitan.

Pertolongan Pertama saat Digigit Ular

Menurut Warrell (2010) masih mengutip di Jurnal Biologi Papua Volume 6, Nomor 2, Oktober 2014, bisa ular (venoms) dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan lokal, nekrosis sel, pendarahan dalam (hemorragi), hilangnya fungsi dari otot (paralisis), pembekakan (edema), tekanan darah turun (hypotensi), kerusakan pada daerah kornea (corneal ulceration), bengkak dan iritasi pada daerah uvea, lapisan tengah dari mata (anterior uveitis), dan pecahnya sel darah merah (hemolisis).

Berikut ini pertolongan pertama saat digigit ular:

1. Tetap Tenang dan Segera Pindah dari Area Bahaya

  • Jangan panik karena stres dapat mempercepat penyebaran bisa dalam tubuh.
  • Pastikan korban menjauh dari ular agar tidak terkena gigitan kedua.

2. Batasi Pergerakan Bagian Tubuh yang Digigit

  • Posisi yang tenang dan stabil membantu memperlambat aliran bisa.
  • Gunakan bidai atau gendongan untuk menahan area yang tergigit tetap lurus dan tidak banyak bergerak.

3. Bersihkan Luka Secara Ringan

  • Cuci luka dengan air bersih dan sabun ringan, jangan digosok keras.
  • Hindari mengisap bisa atau memotong luka, karena dapat memperburuk kondisi.

4. Jangan Gunakan Es atau Tourniquet

  • Penggunaan es atau ikatan ketat (tourniquet) justru dapat merusak jaringan dan memperlambat aliran darah, berisiko lebih tinggi.

5. Catat Ciri-ciri Ular

  • Jika memungkinkan, amati warna, pola, dan ukuran ular tanpa mendekat.
  • Informasi ini akan sangat membantu tenaga medis menentukan penanganan anti-bisa yang tepat.

6. Segera Minta Bantuan Medis

  • Hubungi rumah sakit atau layanan gawat darurat.Anti-bisa (antivenom) hanya bisa diberikan oleh tenaga medis terlatih.
  • Selama perjalanan ke rumah sakit, pertahankan posisi tenang dan luka tetap rendah dari jantung jika memungkinkan.

Q & A Seputar Topik

Apa saja contoh jenis ular kecil yang berbisa?

Beberapa contoh ular kecil berbisa meliputi ular karang (Coral Snake), ular laut, ular berbisa kerdil (Dwarf Viper), dan ular cincin emas (Boiga dendrophila). Meskipun ukurannya relatif kecil, bisa mereka sangat berpotensi membahayakan manusia jika tidak ditangani dengan cepat.

Apakah ular kecil selalu berbahaya bagi manusia?

Tidak semua ular kecil berbisa secara mematikan, namun sebagian memiliki bisa yang cukup berbahaya. Misalnya, bisa ular karang bersifat neurotoksik yang dapat menyebabkan kelumpuhan pernapasan, sedangkan ular cincin emas memiliki bisa ringan hingga sedang yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan. Tetap berhati-hati dan jangan menganggap ular kecil aman secara otomatis.

Bagaimana cara mengenali ular kecil berbisa?

Beberapa ciri ular kecil berbisa biasanya terlihat dari pola warna khas, bentuk kepala, atau habitatnya. Contohnya, ular karang memiliki pola cincin merah, kuning, dan hitam yang khas, sedangkan beberapa ular laut memiliki tubuh mengkilap dan panjang meski kecil. Mengamati dari jarak aman sangat dianjurkan.

Apa risiko jika digigit ular kecil berbisa?

Gigitan ular kecil berbisa bisa menimbulkan gejala lokal maupun sistemik. Misalnya, pembengkakan, nyeri, mual, pusing, hingga kelumpuhan otot dan gangguan pernapasan tergantung jenis ular dan jumlah bisa yang masuk ke tubuh. Penanganan cepat sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi serius.

Apa langkah pertolongan pertama saat digigit ular kecil berbisa?

Tetap tenang, hindari pergerakan berlebihan pada bagian tubuh yang digigit, cuci luka ringan dengan air bersih, jangan mengisap atau memotong luka, dan segera cari bantuan medis. Catat ciri-ciri ular jika memungkinkan agar tenaga medis dapat memberikan antivenom atau penanganan yang tepat.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6