Liputan6.com, Jakarta Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai kegiatan penuh makna. Selain upacara bendera, lomba rakyat, dan pawai budaya, membaca atau menciptakan puisi menjadi salah satu cara yang sarat nilai historis dan emosional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kemdikbud), puisi adalah gubahan bahasa yang terikat oleh irama, rima, serta penyusunan larik dan bait, dengan tujuan membangkitkan tanggapan emosional pembacanya.
Laman ditsmp.kemendikdasmen.go.id menegaskan bahwa puisi berperan penting dalam membentuk keterampilan bahasa, kreativitas, dan kepekaan emosional peserta didik. Hal ini sejalan dengan pandangan Padi (2013) bahwa puisi lahir dari pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individu maupun sosialnya.
Seiring perkembangan zaman, terutama di era Generasi Z, bahasa puitis menjadi media ekspresi yang bebas dan personal. Wulandari (2019) menyebut bahwa puisi modern cenderung bebas dari kaidah kaku, menjadi ruang kreativitas untuk menyuarakan cinta tanah air, kritik sosial, hingga doa bagi masa depan bangsa. Momentum 17 Agustus menjadi panggung tepat untuk menghidupkan karya puitis bernuansa kebangsaan. Berikut ulasan Liputan6.com selengkapnya tentang puisi 17 Agustus, Jumat (8/8/2025).
Advertisement
Puisi 17 Agustus Sebagai Bentuk Peringatan Hari Kemerdekaan
Puisi 17 Agustus merupakan salah satu wujud apresiasi terhadap perjuangan para pahlawan dan penghayatan makna kemerdekaan. Menurut Susanto (2016), karya sastra, termasuk puisi, adalah cerminan sosial yang merekam semangat zamannya. Puisi kemerdekaan tidak hanya mengulang kisah masa lalu, tetapi juga menyalakan kembali semangat persatuan, mengkritisi kondisi bangsa, dan mengajak pembaca untuk turut membangun negeri.
Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia pada 2025 mengusung tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” (Mensesneg RI, 2025). Tema ini dapat menjadi inspirasi penyair dalam menulis puisi yang menggabungkan penghormatan terhadap jasa pahlawan dengan visi masa depan bangsa.
Di sekolah, pembacaan puisi kemerdekaan sering menjadi bagian dari lomba 17 Agustus. Kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga wahana menanamkan nilai patriotisme kepada generasi muda. Lewat majas, simbol, dan diksi yang tepat, puisi mampu menyentuh hati pendengar dan membangkitkan kebanggaan nasional.
Advertisement
Tiga Contoh Puisi 17 Agustus dari Antologi Puisi
Dikutip dari buku Cakrawala: Antologi Puisi Karya Pelajar SMAN 1 Banjarmasin oleh Ahmad Rizky Ramadhan, dkk., berikut beberapa contoh puisi 17 Agustus.
1. Puisi 17 Agustus tentang Jasa-Jasa Pahlawan
"Perjalanan Kemerdekaan" – Annisa Fahma Maharani
Kobaran semangat sudah ada sejak tadi,
Serentak dengan langit yang kian membiru
Sang sinar pun juga mengiringi,
Seakan semua sudah siap menyambut itu.
Hari yang penuh dengan perjuangan sudah dilalui,
Pertumpahan darah sudah tidak lagi terlihat,
Menandakan semuanya sudah berlalu sejak saat itu.
17 Agustus 1945, semua emosional tertumpahkan,
Hari yang takkan pernah terlupakan,
Hari yang sudah membunuh banyak jiwa,
Namun tidak akan bisa membunuh semangat para pejuangnya.
Kini sudah 77 tahun Indonesiaku,
Sudah sebanyak 77 kali merasakan semangat yang sama,
Semangat yang takkan pernah pudar walaupun setitik darahku.
Kain itu, kain yang selalu membuat haru,
Kini sudah menaiki singgasana di atas sana,
Dengan kibaran merah putih yang sangat gagah di situ.
Tidak akan ada yang bisa menggantikannya,
Walaupun dengan jiwamu,
Tidak akan ada yang berani mengotorinya,
Walaupun dengan sebutir debu.
2. Puisi 17 Agustus Bertema Semangat Nasionalisme
"Semangat Merdeka" – Shandy
Di bawah mentari merah menyala,
Kita berdiri tegak tanpa cela.
Kemerdekaan, cita-cita kita semua,
Tak tergoyahkan oleh badai atau hujan.
Dulu dijajah, dirundung belenggu,
Namun semangat merdeka tak pernah pudar.
Bersatu, berjuang, dengan tekad yang kuat,
Kita raih kemerdekaan, tak terkalahkan.
Bendera merah putih berkibar tinggi,
Di angkasa biru lambang kebesaran jiwa.
Kita cinta tanah air, negara tercinta,
Kemerdekaan, anugerah yang abadi.
Kita merayakan kemerdekaan dengan bangga,
Menghormati warisan para pejuang kita.
Kita terus maju, berjuang untuk masa depan,
Kemerdekaan, harta yang tak ternilai harganya.
3. Puisi 17 Agustus Berisi Refleksi tentang Masa Depan Bangsa
"Negeriku" – Dwi Ayu Selapaningtiyas
Indonesiaku
Kau negeri yang sangat elok,
Negeri di mana aku berpijak sekarang.
Memiliki kekayaan alam yang sangat tak terbatas,
Sudah tujuh puluh tujuh tahun engkau merdeka,
Tapi penderitaan-penderitaan juga belum usai.
Ibu pertiwi menatap awan senja,
Luka-luka yang muncul karena manusia.
Wahai negeriku,
Semoga kedamaian jadi abadi,
Semoga keadaanmu selalu terjaga,
Semoga selalu menjadi negeri yang elok.
Kau,
Selalu kami lindungi dengan sepenuh jiwa,
Diiringi dengan rasa suka cita,
Tetap tumbuh sepanjang masa…
Padamu Indonesiaku,
Jiwaku dan segalaku untukmu selalu,
Dalam cengkeraman garudamu kami bersatu,
Berjanji akan selalu menjaga wibawamu.
FAQ Seputar Puisi
1. Apa yang dimaksud dengan puisi 17 Agustus?
Puisi 17 Agustus adalah karya sastra yang mengangkat tema kemerdekaan, patriotisme, perjuangan pahlawan, dan semangat membangun bangsa, biasanya dibacakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI.
2. Mengapa puisi menjadi media yang tepat untuk memperingati kemerdekaan?
Karena puisi mampu menyampaikan emosi dan pesan mendalam dengan bahasa yang indah dan simbolis, sehingga lebih mudah menyentuh hati pembaca atau pendengar.
3. Apakah puisi 17 Agustus harus berima dan berpola?
Tidak selalu. Puisi modern, termasuk yang dibuat oleh Generasi Z, sering kali berbentuk bebas tanpa rima baku, tetapi tetap mempertahankan kekuatan diksi dan makna.
4. Bagaimana cara menulis puisi bertema kemerdekaan?
Mulailah dengan menentukan pesan utama, gunakan diksi yang kuat dan simbol kebangsaan seperti merah putih atau garuda, serta sertakan perasaan pribadi terhadap perjuangan bangsa.
5. Apakah puisi kemerdekaan hanya membahas masa lalu?
Tidak. Selain mengenang sejarah, puisi kemerdekaan juga bisa mengkritisi kondisi saat ini dan memotivasi untuk masa depan yang lebih baik.
Sumber Rujukan
- Padi. (2013). Kumpulan Super Lengkap Sastra Indonesia. Jakarta: Pustaka Makmur.
- Susanto, D. (2016). Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: CAPS.
- Wulandari, F. (2019). Kemampuan Menulis Puisi Bebas dengan Tema Nilai-Nilai Karakter Bangsa. Jurnal Serunai Bahasa Indonesia, 16(1), 87–95.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Ayo, Kita Mengenal Puisi. https://ditsmp.kemendikdasmen.go.id
- Kementerian Sekretaris Negara RI. (2025). Tema HUT Ke-80 Kemerdekaan RI Tahun 2025. https://hut80ri.setneg.go.id
- KBBI Online. /kbbi.kemdikbud.go.id/entri/puisi
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258254/original/075445200_1781330306-Tugas__34_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263843/original/065734300_1782021578-Tugas__38_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370367/original/028709700_1759546468-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-04T093301.745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5305789/original/090851200_1754366430-Special_Content__1_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264181/original/054321300_1782097612-063_2282690679.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264068/original/012778200_1782078495-000_B7TT4GU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264045/original/061909400_1782061462-063_2282633998.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264088/original/090012000_1782087024-000_B7TY6Z7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264089/original/060388300_1782087027-000_B7TZ2WM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260275/original/078184800_1781584802-Hamza_Abdelkarim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)