Liputan6.com, Jakarta Dalam tradisi Jawa, kematian bukan sekadar akhir kehidupan biologis, tetapi dianggap sebagai pintu menuju alam selanjutnya. Tradisi peringatan hari wafat seperti hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, hingga ke-1000 menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat.
Untuk itu, masyarakat menggunakan tabel hitungan orang meninggal yang berisi prediksi hari pasaran (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) untuk setiap peringatan, agar pelaksanaan tahlilan atau selamatan berjalan sesuai adat dan waktu yang diyakini membawa keberkahan.
Dalam Potret Tradisi Keagamaan Islam Jawa karya Mark R. Woodward, dijelaskan bahwa masyarakat Jawa menyerap unsur-unsur Islam dalam balutan adat dan simbolisme lokal. Tahlilan dan perhitungan hari kematian mencerminkan akulturasi antara Islam dengan sistem kosmologi Jawa. Melalui tabel hitungan orang meninggal, keluarga dapat memastikan waktu yang tepat untuk menggelar doa bersama demi kebaikan almarhum.
Advertisement
Sementara itu, menurut Muhammad Solikhin dalam bukunya Tradisi Keagamaan Islam Jawa (2010), menegaskan bahwa praktik ini bukan hanya bersifat spiritual, melainkan juga sosial. Selamatan untuk orang meninggal memperkuat jaringan sosial, sekaligus melanggengkan nilai-nilai religius yang hidup dalam Masyarakat.
Dengan kata lain, pemahaman terhadap tabel ini bukan semata untuk mengikuti budaya, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan silaturahmi yang dijalankan dengan kesungguhan. Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Rabu (2/7/2025).
Tabel Hitungan Orang Meninggal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4375976/original/099547200_1680077181-muslims-reading-from-quran.jpg)
Berikut ini terdapat table hitungan orang meninggal yang bisa anda jadikan acuan, yakni:
Meninggal 3 Hari 7 Hari 40 Hari 100 Hari 1 Tahun 2 Tahun 1000 Hari
Jum'at Kliwon Minggu Paing Kamis Legi Selasa Wage Sabtu Wage Senin Pon Sabtu Pon Rabu Wage
Sabtu Legi Senin Pon Jum'at Paing Rabu Kliwon Minggu Legi Selasa Wage Minggu Wage Kamis Legi
Minggu Paing Selasa Wage Sabtu Pon Kamis Legi Senin Kliwon Rabu Pon Senin Pon Jum'at Kliwon
Senin Pon Rabu Kliwon Minggu Wage Jum'at Paing Selasa Legi Kamis Kliwon Selasa Kliwon Sabtu Legi
Selasa Wage Kamis Legi Senin Kliwon Sabtu Pon Rabu Paing Jum'at Legi Rabu Legi Minggu Paing
Rabu Kliwon Jum'at Paing Selasa Legi Minggu Wage Kamis Pon Sabtu Paing Kamis Paing Senin Pon
Kamis Legi Sabtu Pon Rabu Paing Senin Kliwon Jum'at Wage Minggu Pon Jum'at Pon Selasa Wage
Jum'at Paing Minggu Wage Kamis Pon Selasa Legi Sabtu Kliwon Senin Wage Sabtu Wage Rabu Kliwon
Sabtu Pon Senin Legi Jum'at Kliwon Rabu Paing Minggu Pon Selasa Kliwon Minggu Kliwon Kamis Pon
Minggu Wage Selasa Kliwon Sabtu Wage Kamis Pon Senin Wage Rabu Kliwon Senin Kliwon Jum'at Wage
Senin Kliwon Rabu Pon Minggu Kliwon Jum'at Wage Selasa Kliwon Kamis Pon Selasa Pon Sabtu Kliwon
Selasa Pon Kamis Wage Senin Pon Sabtu Kliwon Rabu Pon Jum'at Wage Rabu Wage Minggu Pon
Rabu Wage Jum'at Legi Selasa Wage Minggu Pon Kamis Wage Sabtu Legi Kamis Legi Senin Kliwon
Advertisement
Cara Menghitung Slametan Orang Meninggal
1. Menghitung Hari Ke-3
Dalam adat Jawa, selamatan hari ke-3 dikenal dengan sebutan nelung dina. Upacara ini dilakukan untuk menyempurnakan unsur nafsu yang terdapat dalam jasad manusia, yaitu air, angin, api, dan tanah. Perhitungannya dilakukan berdasarkan hari ketiga dan pasaran ketiga dari hari wafat.
Misalnya, jika seseorang meninggal pada Kamis Legi, maka perhitungan nelung dina jatuh pada Sabtu Kliwon. Selamatan ini diyakini sebagai wujud penghormatan awal terhadap ruh dan jasad yang ditinggalkan.
2. Menghitung Hari Ke-7
Selamatan hari ke-7 disebut metung dina, dan tujuannya adalah untuk menyempurnakan bagian luar jasad seperti kulit dan rambut. Tradisi ini dilakukan tepat tujuh hari sejak hari wafat, termasuk hari meninggal sebagai hari pertama.
Jadi, jika seseorang meninggal pada Sabtu Pahing, maka hari ke-7 jatuh pada Kamis Pahing atau malam Jumat. Momentum ini juga digunakan untuk mendoakan agar ruh diberi ketenangan dan dihindarkan dari siksa kubur.
3. Menghitung Hari Ke-40
Selamatan hari ke-40 dalam tradisi Jawa disebut matangpuluh dina. Tujuan dari peringatan ini adalah menyempurnakan anggota tubuh yang merupakan titipan dari kedua orang tua.
Penghitungannya dilakukan dengan mengambil satu siklus pasaran selama satu bulan, ditambah tiga hari. Misalnya, bila hari meninggal adalah Sabtu Pahing, maka selamatan matangpuluh dina jatuh pada Selasa Wage atau malam Rabu. Tradisi ini menunjukkan bahwa perjalanan ruh telah mencapai fase penguatan.
4. Menghitung Hari Ke-100
Tahapan selanjutnya adalah nyetatus dina, yakni selamatan hari ke-100. Ini adalah salah satu selamatan paling besar setelah 40 hari. Penghitungan dilakukan selama tiga bulan sejak hari meninggal, kemudian ditambahkan sepuluh hari.
Tujuannya adalah untuk menyempurnakan seluruh bentuk fisik jasad, sekaligus menjadi pengingat bahwa ruh telah menjalani perjalanan panjang di alam kubur. Acara ini biasanya melibatkan keluarga besar dan masyarakat sekitar untuk mempererat hubungan sosial.
5. Menghitung 1 Tahunnya
Selamatan satu tahun dikenal dengan istilah pendhak siji. Dalam pengamalannya, pendhak siji dimaksudkan untuk menyempurnakan kulit, daging, dan isi tubuh secara spiritual.
Perhitungannya menggunakan rumus patsarpa, yaitu hari keempat dan pasaran keempat setelah hari wafat. Jadi, misalnya seseorang meninggal di bulan Sura, maka selamatan pendhak siji dilaksanakan tepat satu tahun berikutnya di bulan Sura, dengan mencocokkan kembali hari dan pasaran kematiannya.
6. Menghitung 2 Tahunnya
Selamatan dua tahun atau pendhak loro dilaksanakan sebagai bentuk penyempurnaan seluruh anggota badan kecuali tulang. Perhitungannya dilakukan dengan rumus rosarpat, yaitu hari pertama dan pasaran ketiga dari hari meninggal.
Satu tahun dalam penanggalan Jawa adalah 354 hari, sehingga dua tahun dihitung selama 708 hari. Pada hari itulah, keluarga kembali melaksanakan doa bersama untuk menyempurnakan penghormatan terakhir secara adat kepada orang yang telah meninggal.
7. Menghitung 1000 Hariannya
1000 harian orang meninggal, atau dikenal sebagai nyewu, adalah selamatan terakhir dalam rangkaian tradisi kematian masyarakat Jawa. Perhitungannya dilakukan sejak hari wafat, dengan menambahkan 1000 hari ke depan. Karena kalender Jawa bersifat lunar seperti Hijriah, 1000 hari kurang lebih setara dengan 2 tahun 9 bulan 10 hari.
Biasanya keluarga menggunakan tabel hitungan orang meninggal untuk mencocokkan hari dan pasaran kematian, kemudian melihat padanan hari ke-1000. Misalnya, jika seseorang meninggal pada Senin Pon, maka hari ke-1000 menurut tabel akan jatuh pada Rabu Wage.
Selamatan nyewu dipercaya sebagai puncak masa transisi ruh menuju alam baka. Dalam kepercayaan Jawa, setelah 1000 hari, ruh dianggap telah mencapai ketenangan sepenuhnya.
Oleh karena itu, acara ini umumnya diadakan lebih besar dari selamatan lainnya sebagai bentuk penghormatan dan doa terakhir dari keluarga. Perhitungan yang tepat diyakini membawa keberkahan, baik bagi almarhum maupun keluarga yang ditinggalkan.
QnA Seputar Tabel Hitungan Orang Meninggal
Q: Apa itu tabel hitungan orang meninggal dalam tradisi Jawa?
A: Tabel hitungan orang meninggal adalah panduan yang digunakan masyarakat Jawa untuk menentukan hari-hari penting setelah seseorang meninggal, seperti hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, hingga hari ke-1000. Tabel ini menggabungkan sistem hari (Senin–Minggu) dan pasaran Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) agar selamatan dilakukan tepat waktu sesuai adat.
Q: Mengapa hari ke-3, 7, 40, 100, dan 1000 dianggap penting?
A: Hari-hari ini dianggap sebagai titik-titik perjalanan ruh dalam alam kubur. Selamatan dilakukan untuk mendoakan almarhum, mempererat hubungan keluarga, serta menjaga keseimbangan spiritual. Dalam budaya Jawa, setiap fase ini punya makna khusus, seperti menyempurnakan nafsu, kulit, anggota tubuh, dan ruh.
Q: Bagaimana cara menggunakan tabel hitungan orang meninggal?
A: Penggunaannya dimulai dengan mencatat hari dan pasaran saat seseorang meninggal, misalnya “Jum’at Kliwon.” Lalu, lihat pada kolom tabel untuk menemukan pasangan hari dan pasaran pada hari ke-3, ke-7, dan seterusnya. Tabel ini mempermudah keluarga dalam menyiapkan tahlilan atau selamatan secara tepat.
Q: Apa yang terjadi jika salah menghitung hari selamatan?
A: Secara adat, salah hitung dianggap kurang tepat dalam penghormatan kepada arwah, meskipun secara syariah tidak berdosa. Karena itu, masyarakat Jawa sangat menjaga ketepatan dengan bantuan tabel ini agar tidak melanggar harmoni antara waktu, tradisi, dan nilai spiritual.
Q: Apakah tabel ini ada hubungannya dengan Islam?
A: Ya, dalam konteks Islam Nusantara, praktik seperti tahlilan dan selamatan adalah bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Meskipun tak wajib secara agama, tradisi ini diperbolehkan selama tidak mengandung syirik, seperti ditegaskan dalam buku Tradisi Keagamaan Islam Jawa karya Muhammad Solikhin (Pustaka Pelajar, 2015).
Q: Apakah tabel ini berlaku juga untuk wanita atau hanya pria?
A: Tabel hitungan orang meninggal berlaku untuk siapa saja, baik pria maupun wanita. Yang penting adalah mengetahui hari dan pasaran wafatnya, karena sistem kalender Jawa tidak membedakan jenis kelamin dalam hitungan selamatan.
Q: Bagaimana jika seseorang meninggal pada malam hari? Apakah hitungannya dimulai hari itu atau besoknya?
A: Umumnya, jika seseorang meninggal setelah magrib, maka hitungan hari dimulai sejak malam itu karena dalam tradisi Jawa, hari dimulai sejak matahari terbenam (mirip kalender Hijriah). Namun dalam praktiknya, keluarga bisa berkonsultasi dengan sesepuh atau tokoh adat untuk menentukan lebih pasti.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2378469/original/055253400_1737413276-IMGE9883.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5188533/original/007722600_1744696829-download__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)