Liputan6.com, Jakarta - Flora dan fauna memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan manusia serta semua makhluk hidup yang ada di planet Bumi. Hal ini dapat dijelaskan dengan merujuk pada buku "Pelestarian Flora dan Fauna" karya Daryanto yang diterbitkan pada tahun 2020.
Benua Australia, dengan segala keunikan alamnya, memiliki dua alasan utama mengapa benua Australia memiliki banyak keunikan flora dan faunanya. Pengaruh geologis dan iklim menjadi salah satu faktor kunci dalam keberagaman makhluk hidup di Australia. Iklim dan kondisi geologis yang unik di benua ini telah menciptakan lingkungan yang mendukung evolusi spesies-spesies yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia.
Advertisement
Melansir dari World Wide Flora & Fauna Australia, mencatat bahwa Australia adalah rumah bagi 140 spesies marsupial yang tidak ditemukan di wilayah lain. Selain itu, terdapat 828 spesies burung di Australia, di mana setengahnya adalah jenis-jenis burung yang tidak bisa ditemui di tempat lain. Tak hanya itu, benua Australia juga menjadi habitat bagi 140 spesies ular, 300 spesies kadal, dan 238 spesies mamalia yang khas dan beragam.
Contoh-contoh marsupial mencakup kanguru, koala, walabi, wombat, serta harimau Tasmania yang kini telah punah. Ini merupakan bukti nyata dari kekayaan flora dan fauna yang dimiliki oleh Australia. Keberagaman ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi ilmuwan, peneliti, dan pecinta alam yang tertarik untuk memahami dan menjaga keberlanjutan ekosistem unik di Benua Australia ini.
Berikut Liputan6.com ulas lebih mendalam tentang alasan mengapa benua Australia memiliki banyak keunikan flora dan faunanya, Kamis (12/6/2025).
Dipengaruhi Faktor Geologisnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4500115/original/029416900_1689165651-20230712-Buah-Kaktus-Pir-Berduri-AFP-4.jpg)
Benua Australia, yang dikenal dengan keanekaragaman flora dan fauna yang luar biasa, adalah hasil dari sejarah geologis yang panjang dan kompleks yang melibatkan peristiwa yang terjadi puluhan juta tahun lalu. Untuk lebih memahami alasan mengapa benua australia memiliki banyak keunikan flora dan faunanya, mari menjelajahi perjalanan geologis yang membentuk Australia seperti yang dikenal saat ini.
Sekitar 250 juta tahun yang lalu, Bumi adalah satu benua besar yang tidak terpisahkan. Namun, seiring berjalannya waktu, sekitar 50 juta tahun kemudian, permukaan bumi mulai terpisah-pisah menjadi dua daratan besar yang dikenal sebagai Laurasia dan Gondwana. Gondwana adalah salah satu dari dua pecahan besar permukaan Bumi yang mencakup wilayah Australia, Amerika Selatan, Afrika, India, dan Antartika.
Selama beberapa waktu, Gondwana terus mengalami perpisahan dan pergerakan yang kompleks. Antartika dan Australia, meskipun masih bersatu, akhirnya terpisah sekitar 45 juta tahun yang lalu. Australia mulai bergerak ke utara dengan kecepatan sekitar 3 sentimeter per tahunnya. Perubahan ini, seperti yang dilaporkan oleh Live Science, mengubah iklim Australia dari lingkungan yang lebih dingin menjadi lebih hangat dan kering.
Menurut informasi yang dilansir dari World Wide Flora & Fauna Australia, setelah terpisah dari Antartika yang dingin, Australia mengalami perubahan iklim menjadi lebih hangat dan kering. Perubahan iklim ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan isolasi geografis di Australia, yang memaksa hewan dan tumbuhan yang ada di sana untuk berevolusi dan menyesuaikan diri dengan lanskap baru yang semakin kering.
Evolusi dalam penyesuaian diri inilah yang akhirnya menciptakan flora dan fauna yang unik dan eksklusif bagi Benua Australia. Hewan-hewan seperti kanguru, koala, walabi, wombat, dan banyak lagi, serta tumbuhan-tumbuhan yang tidak dapat ditemui di tempat lain, semuanya merupakan bukti dari proses evolusi yang unik ini.
Saat ini, Australia dikenal sebagai sebuah negara di belahan selatan yang terdiri dari berbagai wilayah, termasuk daratan utama Benua Australia, Pulau Tasmania, dan berbagai pulau kecil di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Letak geologisnya di bagian timur dan selatan Bumi menjadikan Australia sering disebut sebagai "benua bawah."
Secara geografis, Australia dapat dibagi menjadi tiga bagian utama.
- Di bagian timur, terdapat barisan pegunungan yang memanjang dari Tanjung York di utara hingga Pulau Tasmania di selatan.
- Di bagian barat, terdapat dataran tinggi yang sering disebut sebagai Perisai Australia. Mayoritas wilayah barat dan tengahnya adalah gurun pasir, seperti Gurun Gibson dan Gurun Victoria.
- Di daerah tengah, terdapat lembah Murray-Darling serta dataran rendah Danau Eyre, yang merupakan danau terbesar di Australia.
Semua kompleksitas geologis ini menjadikan Australia sebagai tempat yang sangat istimewa dan menjadi rumah bagi berbagai bentuk kehidupan yang telah beradaptasi dan berkembang selama jutaan tahun.
Advertisement
Dipengaruhi Faktor Iklimnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3064452/original/061747400_1583047741-20200301-Tunas-Kebakaran-Hutan-Australia-3.jpg)
Benua Australia adalah salah satu tempat yang penuh keunikan dalam hal flora dan fauna, dan salah satu alasan mengapa benua australia memiliki banyak keunikan flora dan faunanya adalah iklim yang sangat beragam. Letak geografis Australia, yang secara astronomis terletak pada 10°LU-44°LS dan 113°BT-154°BT, menciptakan keragaman iklim yang mencakup berbagai tipe kondisi cuaca. Mulai dari iklim gurun yang kering hingga iklim hutan hujan tropis yang lembap.
Keragaman iklim ini memiliki dampak signifikan pada kondisi flora dan fauna di Australia. Organisme hidup di sini harus mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca yang ada di wilayah mereka. Sebagai contoh, flora endemik Australia telah mengembangkan ketahanan terhadap kekeringan dan risiko kebakaran yang sering terjadi.
Melansir dari Sumber Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Australia dapat dibagi menjadi tiga wilayah iklim utama berdasarkan garis lintangnya:
1. Iklim Tropis
Terletak di antara 10 derajat LS hingga 23 derajat LS, wilayah iklim tropis ini meliputi bagian utara Australia. Daerah ini mencakup bagian ujung atas Northern Territory, termasuk tempat-tempat seperti Kakadu, Cairns, Darwin, dan Arnhem Land.
Iklim tropis di sini ditandai oleh dua musim yang kontras, yaitu musim kemarau dan musim hujan, masing-masing berlangsung selama enam bulan. Wilayah ini juga dikenal dengan kelembapan udara yang tinggi dan curah hujan yang melimpah.
2. Iklim Subtropis
Terletak di antara 23 derajat LS hingga 35 derajat LS, wilayah iklim subtropis ini terdapat di bagian timur Australia, sepanjang pesisir Queensland. Daerah ini dilintasi oleh sabuk udara bertekanan tinggi, sehingga memiliki tekanan udara yang tinggi, musim panas yang relatif kering dan hangat, serta musim dingin yang sejuk.
3. Iklim Sedang
Terletak di antara 35 derajat LS hingga 44 derajat LS, wilayah iklim sedang ini mencakup bagian selatan Victoria dan Tasmania. Wilayah ini memiliki iklim yang lebih moderat dengan musim panas yang hangat dan musim dingin yang sejuk.
Selain itu, bagian tengah Australia didominasi oleh iklim gurun. Iklim gurun mencakup sekitar 18 persen dari luas wilayah Australia, menjadikannya sebagai benua terkering kedua di dunia setelah Antartika. Di daerah ini, suhu siang hari dapat mencapai 35°C hingga 40°C, sementara suhu malamnya cenderung turun hingga 15°C hingga 20°C.
Iklim di Australia juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti arus samudra, jarak dari laut, dan bentang alam. Pantai utara, barat, dan timur Australia mendapatkan pengaruh suhu yang hangat karena adanya arus panas laut. Di sebaliknya, pantai selatan dan Tasmania memiliki udara yang lebih dingin karena adanya arus laut dingin. Daerah yang berdekatan dengan pantai cenderung memiliki kelembapan udara, sementara wilayah tengah Australia, yang jauh dari laut dan didominasi oleh gurun, memiliki udara yang sangat kering.
Semua faktor ini, mulai dari keragaman iklim hingga pengaruh arus laut dan kondisi geografis, memberikan ciri khas yang sangat kaya pada flora dan fauna Australia. Organisme hidup di sini telah berkembang dan beradaptasi dengan berbagai tantangan yang dihadapi di bawah berbagai kondisi cuaca yang unik ini.
Terisolasi Sejak Jutaan Tahun Lalu
Australia menjadi “ekor” dari superkontinen Gondwana sekitar 55 juta tahun yang lalu, tepat setelah terpisah dari Antarktika. Proses isolasi ini dijelaskan oleh Dr. Leo Joseph dalam publikasi CSIRO “Australia’s Biodiversity – Major Features”, bahwa “fauna dan flora… telah berevolusi dalam isolasi dari dunia lainnya”.
Tanpa pertukaran genetik atau spesies baru dari benua lain, evolusi di Australia berjalan secara mandiri, menghasilkan endemisitas tinggi dan garis keturunan makhluk purba seperti monotrem (platipus dan echidna), marsupial, serta tanaman yang memiliki akar adaptasi ke lingkungan lokal yang sangat khas.
Lebih jauh, garis Wallace—lexically pembatas biogeografis antara Asia dan Australasia memisahkan kelompok flora dan fauna dengan sangat tegas walaupun jarak antara pulau sangat kecil, dilansir dari australiapathways.com. Fakta bahwa mamalia placental hampir tidak pernah menyeberang ke Australia memperbolehkan marsupial berkembang bebas dan mengisi berbagai ceruk ekologi.
Contohnya, marsupial besar seperti kanguru dan wombat bisa menempati ceruk herbivora besar, sementara monotrem termasuk platipus tetap eksis sebagai mamalia yang beradaptasi untuk hidup mendekati perairan.
Proses isolasi ini juga menyebabkan munculnya fenomena island syndrome, biasanya dikenal di daratan terisolasi dan pulau, di mana spesies berkembang karakteristik adaptif seperti ukuran tubuh berubah, perilaku yang lebih lamban, serta adaptasi fisik lainnya. Misalnya, banyak mamalia dan reptil menjadi lebih besar atau lebih kecil dibandingkan kerabatnya di benua asal, dan tumbuhan menunjukkan strategi unik seperti serotini.
Maka bisa dipahami, isolasi sejak jutaan tahun lalu merupakan faktor fundamental dalam membentuk keunikan spesies Australia. Tidak ada spesies baru dari luar yang masuk dalam waktu panjang, predator luar tidak hadir untuk mengganggu ekosistem marsupial dan monotrem, serta kombinasi isolasi dan tekanan lokal memunculkan adaptasi unik seperti resistansi terhadap api dan sistem reproduksi eksentrik yang secara kolektif membuat floranya ranum dan faunanya sangat berbeda dibandingkan benua lain.
Advertisement
Minimnya Kompetitor Alami dari Luar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4730983/original/040000200_1706679455-fotor-ai-20240131123527.jpg)
Dikarenakan isolasi geografis selama puluhan juta tahun, ekosistem Australia berkembang tanpa adanya mamalia placental besar seperti serigala, beruang, atau kucing liar yang umum ditemukan di benua lain. Menurut “Australia’s surviving marsupial carnivores: threats and conservation” (Jones et al., 2011), kedatangan predator eksternal seperti dingo hanya dimulai sekitar 4.000 tahun lalu, dan kucing serta rubah baru masuk setelah kedatangan Eropa pada abad ke-19.
Akibatnya, marsupial dan monotrem berkembang tanpa gangguan, mengisi berbagai ceruk ekologis yang biasanya diisi mamalia placental. Tanpa pesaing alami, kelompok makhluk ini mengalami radiatif evolusi, menciptakan keanekaragaman tinggi seperti kanguru, wombat, koala, platipus, dan echidna.
Namun, saat predator bukan asli seperti red fox dan feral cat masuk, dampaknya sangat signifikan. Studi di "Impact of exotic generalist predators on the native fauna of Australia" (Batchelor et al., 1996) mencatat spesies endemik seperti wallaby dan numbat mengalami penurunan populasi drastis akibat predasi yang tidak adaptif. Banyak satwa asli tidak mengenali predator placental karena mereka tidak pernah menghadapi sebelumnya, sehingga tidak memiliki refleks pertahanan alami fenomena ini disebut predator naivety.
Melansir dari pmc.ncbi.nlm.nih.gov bahwa penelitian di PNAS memperkuat hal ini. Dinyatakan bahwa mamalia Australia "consistently recognize alien foxes as a predation threat," tapi ini terjadi setelah ribuan tahun mereka eksis tanpa predator mamalia besar.
Menariknya, kehadiran predator asli seperti dingo kadang justru membantu menjaga keseimbangan ekologi. Dalam “The Dingo – Australia’s Wildlife Watchdog” menunjukkan bahwa dingo sebagai predator puncak membantu mengendalikan populasi kucing dan rubah, sehingga mencegah kepunahan spesies marsupial kecil.
Secara keseluruhan, minimnya kompetisi alami dari luar didukung oleh isolasi panjang dan ketiadaan predator placental, mengizinkan flora dan fauna asli berkembang secara bebas dan unik. Kombinasi faktor-faktor ini menjelaskan mengapa Australia memiliki keunikan keanekaragaman hingga saat ini tetapi juga mengapa ia sangat rapuh terhadap perubahan makro ekologis.
Adaptasi Ekstrem terhadap Lingkungan Kering
Flora Australia dikenal karena sejumlah tumbuhan seperti Banksia dan Hakea mengalami proses serotiny, menahan biji di dalam kulit kayu atau kerucut sampai ada kebakaran sebagai strategi adaptasi terhadap kebakaran hutan. Studi oleh Pausas (2004) dalam jurnal Ecology, berjudul “Plant functional traits in relation to fire in crown-fire ecosystems”, mengonfirmasi bahwa serotiny sangat umum pada tumbuhan rendah seperti Banksia serrata, karena frekuensi kebakaran dan tanah kering memicu pelepasan biji segera setelah kebakaran.
Selain serotiny, kemampuan resprouting atau tumbuh kembali dari lignotuber juga menjadi strategi penting. Cowan dkk. (2023), dalam “Drivers of post-fire resprouting success in restored Banksia woodlands” (Austral Ecology), menjelaskan setelah kebakaran, beberapa spesies Banksia mampu tumbuh kembali dari organ bawah tanah terlindung. Organ ini berisi cadangan energi dan menjamin regenerasi awal saat kondisi luar masih keras, menjadikan tumbuhan ini tahan terhadap kondisi api yang bervariasi.
Kemampuan adaptasi ini bukan hanya milik tumbuhan. Fauna seperti wombat memainkan peran ekologis penting setelah kebakaran. Penelitian Grant Linley yang diterbitkan di Journal of Mammalogy melansir dari The Guardian, menjelaskan lubang wombat menjadi tempat perlindungan penting (refugia) bagi puluhan spesies kecil paska kebakaran, membantu mereka bertahan dan memulai kembali aktivitas setelah kebakaran besar. Ini menunjukkan bagaimana hewan asli berevolusi bukan hanya untuk bertahan secara individual, tetapi juga untuk mendukung ekosistem secara keseluruhan.
Maka bisa dipahami, adaptasi ekstrem terhadap kebakaran dan kondisi kering meliputi serotiny, resprouting, dan peran ekologis fauna, menghasilkan keunikan ekosistem Australia yang sangat berbeda dari benua lain. Strategi-strategi ini muncul karena tekanan lingkungan yang keras dan isolasi geografis, sehingga flora dan fauna mampu bertahan dan berkembang melalui cara yang luar biasa, tetapi juga menjadikan mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim dan gangguan ekologis yang cepat.
Advertisement
Q&A
1. Mengapa flora dan fauna di Australia sangat berbeda dibandingkan dengan benua lain?
Australia telah terisolasi secara geografis selama sekitar 45 juta tahun setelah terpisah dari superbenua Gondwana. Isolasi ini membuat flora dan fauna berevolusi secara unik tanpa banyak pengaruh dari spesies luar, menciptakan endemisme tinggi.
2. Apa yang dimaksud dengan endemik dalam konteks hewan dan tumbuhan Australia?
Endemik berarti hanya ditemukan secara alami di wilayah tertentu. Di Australia, banyak spesies seperti kanguru, koala, dan pohon Eucalyptus tidak ditemukan di tempat lain karena evolusi yang berlangsung terpisah dari benua lain.
3. Bagaimana kondisi geologis Australia memengaruhi keunikan flora dan faunanya?
Struktur tanah Australia sangat tua dan miskin unsur hara, sehingga tanaman seperti Banksia dan Acacia mengembangkan akar khusus yang mampu menyerap nutrisi secara efisien. Hal ini mendorong adaptasi khusus yang tidak ditemukan di ekosistem lain.
4. Apakah iklim Australia juga berperan dalam pembentukan flora dan fauna unik?
Ya. Sebagian besar wilayah Australia memiliki iklim kering hingga semi-kering. Tumbuhan seperti Spinifex dan hewan seperti wombat telah beradaptasi dengan lingkungan kering melalui mekanisme hemat air dan perilaku nokturnal.
5. Mengapa kebakaran justru menjadi faktor penting dalam evolusi tanaman Australia?
Banyak spesies tumbuhan Australia telah berevolusi dengan kebakaran sebagai bagian dari siklus hidupnya. Contohnya, pohon Banksia hanya akan melepaskan bijinya setelah terkena panas dari kebakaran. Ini membuat kebakaran menjadi pemicu regenerasi alami.
6. Apakah adaptasi hewan di Australia juga luar biasa?
Sangat. Contohnya, platipus adalah mamalia bertelur dengan paruh seperti bebek, dan echidna yang memiliki duri serta bertelur. Adaptasi semacam ini mencerminkan jalur evolusi yang sangat berbeda dari mamalia di benua lain.
7. Apa dampak perubahan iklim terhadap keunikan flora dan fauna Australia?
Karena banyak spesies Australia sangat khusus dan terbatas habitatnya, perubahan iklim, kebakaran ekstrem, dan perambahan manusia bisa menyebabkan ancaman besar terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati yang unik ini.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2108677/original/000151700_1524339518-australia-2680840_960_720.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)