41 Contoh Tembung Saroja dalam Bahasa Jawa, Miliki Arti Unik dan Kreatif

Tembung Saroja adalah sebuah konsep linguistik, yang digunakan untuk menggambarkan penggunaan campuran kata-kata dari bahasa Jawa kuno (bahasa Jawa Kawi) dan bahasa Jawa modern dalam satu kalimat.

Diperbarui 13 Juni 2025, 14:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa kuno, yang seiring dengan perkembangan zaman penggunaannya mulai merosot, terutama di kalangan generasi muda. Untuk menjaga keberlanjutan dan keberagaman bahasa Jawa, banyak upaya telah dilakukan oleh para ahli bahasa, pemerintah, dan komunitas lokal.

Salah satu upaya yang paling menarik adalah penggunaan "tembung saroja," yang merupakan sebuah inovasi untuk mempopulerkan, dan mempertahankan bahasa Jawa. Sebelum mengetahui apa saja contoh tembung saroja, maka sangat penting memahami artinya.

Menurut seorang ahli bahasa, Padmosoekatjo (1953:24), arti harfiah dari tembung saroja adalah kata ganda atau dua kata yang sama atau hampir sama artinya, dan biasanya dipakai bersamaan. Contoh tembung saroja biasanya memadukan unsur-unsur tradisional, dan kontemporer dalam bahasa Jawa.

Melansir jurnal yang dipublikasikan di TransLing Journal: Translation and Linguistics Vol 1, No 1 (January 2013) pp 36-52, kata saroja yaitu dua buah kata yang memiliki arti sama yang digunakan secara serentak dan berdekatan dalam posisi. Perangkat repetisi, yaitu penggunaan bentuk-bentuk pengulangan baik repetisi bentuk maupun repetisi makna. Repetisi bentuk terdiri atas repetisi bunyi dan repetisi kata, sedangkan repetisi makna yaitu bentuk-bentuk pengulangan makna dengan menggunakan bentuk yang berbeda. 

Contoh tembung saroja dan penggunaannya, merupakan upaya kreatif untuk mempertahankan dan mempopulerkan bahasa Jawa, di tengah perkembangan bahasa-bahasa lain yang lebih dominan, seperti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Berikut ini contoh tembung saroja yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (13/6/2025).

Contoh dan Artinya

Menurut Mulyana (2008: 234) dikutip dari jurnal ayng dipublikasikan di METAHUMANIORA Volume 11 Nomor 2, September 2021, bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang digunakan sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan sehari-hari antaraseseorang dengan orang lain oleh masyarakat Jawa”. Artinya, bahasa jawa digunakan olehsebagian masyarakat Jawa untuk berkomunikasi dalam menjalankan interaksi sosial sesamapengguna bahasa Jawa. Didalam bahasa Jawa dikenal dengan berbagai tingkat tutur.

Mengutip jurnal berjudul Eksistensi Bahasa Jawa Bagi Masyarakat Jawa di Era Westernisasi Bahasa dipublikasikan di Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 06, No.01, Juni 2021, Bahasa Jawa memang masih eksis di kalangan masyarakat Jawa, karena memang Bahasa Jawa masih digunakan dalam interaksi sehari-hari masyarakat Jawa. Namun, pengecualian untuk Bahasa Jawa halus, jika dilihat di lingkungan sekitar kita Bahasa Jawa halus penggunaannya sudah sangat jarang sekali.

Dikutip dari buku berjudul Kamus Praktis Berbahasa Jawa Keseharian dijelaskan bahwa dalam bahasa Jawa terdapat 3 tingkatan bahasa yang memiliki perbedaan pada penggunaannya yakni Ngoko, Madya, dan Krama. 

Berikut ini contoh tembung saroja :

1. Amrik minging = bau wangi

2. Gagah prakosa = gagah perkasa

3. Akal budi = pemikiran

4. Teguh santosa = kuat

5. Tata krama = tata krama

6. Edi peni = indah sekali

7. Njungkir walik = jungkir balik

8. Babak bundhas = terluka parah

9. Tindak tanduk = tingkah laku

10. Padhang jingglang = terang benderang

11. Tandang grayang = melakukan pekerjaan

12. Sabar darana = sabar sekali

 

13. Arum wangi = bau wangi

14. Kongas ngambar = semerbak baunya

15. Nistha dama = nista atau jelek

16. Kukuh bakuh = kuat

17. Sinuba sinukarta = sangat dihormati

18. Watak wantu = sikap

19. Baya pakewuh = rintangan

20. Andhap asor = rendah hati

21. Tumpang tindhih = tumpang tindih

22. Bunder seser = bulat sekali

23. Putih memplak = putih sekali

24. Tingkah laku = perilaku

25. Sumbang surung = sumbangan atau andil

26. Nungsang jempalik = jungkir balik

27. Solah bawa = tingkah laku

28. Wadya bala = bala tentara

29. Godha rencana = godaan

30. Lalu lungse = sudah berlalu

Contoh Tembung Saroja

1. Dhawuh timbalan = perintah

2. Lagak lageyan = perilaku

3. Rame gumuruh = ramai sekali

4. Sayuk rukun = rukun sekali

5. Sih tresna = belas kasih

6. Solah tingkah = tingkah laku

7. Mukti wibawa = kedudukan tinggi

8. Gepok senggol = bersentuhan

9. Endah peni = indah sekali

10. Adi luhung = bernilai tinggi

11. Mula buka = permulaan

12. Angkara murka = sikap jahat

13. Budi pekerti = perilaku

14. Sri narendra = raja

15. Suka rena = senang sekali

16. Dhawuh timbalan = perintah

17. Glogok sok = dituang semua

18. Tata trapsila = norma kesusilaan

19. Sinuba sinukarta = sangat dihormati

20. Japa mantra = mantra atau doa

21. Tepa tuladha = contoh

22. Gepok senggol = bersentuhan

23. Tepa palupi = contoh

24. Rahayu slamet = selamat

26. Sato kewan = hewan

27. Babak bundhas = terluka parah

28. Tata trapsila = norma kesusilaan

29. Japa mantra = mantra atau doa

30. Tepa tuladha = contoh

31. Tepa palupi = contoh

32. Dowo Tangane = suka mencuri

33. Rahayu slamet = selamat

34. Sato kewan = hewan

35. Tambal sulam = tambal atau melengkapi

 

Contoh dalam Percakapan

1. Gegere Sigit abang mbranang amarga dikeroki esuk mau = Punggung Sigit terlihat merah sekali karena dikeroki tadi pagi. (Artinya: Punggung Sigit terlihat sangat merah karena dia mendapat pukulan keras pagi tadi)

2. Urip nang deso kuwi luwih ayem tentrem mbangane urip nang kutho = Hidup di desa lebih terasa damai dibandingkan hidup di perkotaan. (Artinya: Kehidupan di desa lebih tenang dan damai dibandingkan dengan hidup di kota)

3. Pak Tukiyo seneng nandur kembang ing plataran omahe. Omahe dadi tansah katon edi peni. = Pak Tukiyo suka menanam bunga di halaman rumahnya. Rumahnya menjadi terlihat indah sekali. (Artinya: Pak Tukiyo senang menanam bunga di halaman rumahnya. Hal ini membuat rumahnya terlihat sangat indah)

4. Bondan durung isoh lila lan legawa nrima kasunyatan Bapakke sik sedo. = Bondan belum bisa secara ikhlas merelakan kepergian ayahnya yang sudah meninggal. (Artinya: Bondan belum bisa menerima dengan ikhlas kepergian ayahnya yang telah meninggal)

5. Bubar diganti lampu-lampune, ing wayah dalu kantor kelurahan Gumul katon padhang njingglang = Setelah diganti lampu-lampunya, di malam hari kantor kelurahan Gumul terlihat sangat terang. (Artinya: Setelah lampu-lampu diganti, pada malam hari, kantor kelurahan Gumul terlihat sangat terang)

6. Bubar ngerti tumindake gawe kerugian sing akeh. Wong-wong banjur podho nunjang palang siji lan sijine = Setelah memahami bahwa tindakannya menyebabkan banyak kerugian, orang-orang saling menunjuk satu sama lain. (Artinya: Setelah memahami bahwa tindakannya telah menyebabkan banyak kerugian, orang-orang saling menyalahkan satu sama lain)

 

Q & A

Apa yang dimaksud dengan tembung saroja dalam bahasa Jawa? 

Tembung saroja adalah gabungan dua kata atau lebih dalam bahasa Jawa yang memiliki arti baru atau makna khusus, biasanya digunakan untuk memperindah bahasa, menunjukkan keragaman makna, atau menambah kekuatan ungkapan.

Apa ciri khas dari tembung saroja? 

Ciri khas tembung saroja adalah adanya pengulangan kata atau padanan kata yang maknanya berdekatan atau saling melengkapi. Biasanya digunakan dalam bentuk rangkaian kata yang terdengar indah dan puitis.

Apa tujuan penggunaan tembung saroja? 

Tembung saroja digunakan untuk memperkaya gaya bahasa, menambah variasi dalam komunikasi, serta memberikan penekanan atau kesan estetik dalam percakapan atau tulisan dalam bahasa Jawa.

Bisakah diberikan contoh tembung saroja dan artinya? 

Tentu, berikut beberapa contohnya:

- Lemah teles → artinya tanah yang basah

- Gigir gunung → artinya lereng gunung

- Wani nekat → artinya sangat berani hingga cenderung nekat

- Bengok bengik → artinya teriak-teriak dengan suara keras

- Gela lan nelangsa → artinya sangat sedih atau pilu

Apakah tembung saroja memiliki nilai budaya dalam masyarakat Jawa? 

Ya, tembung saroja mencerminkan kekayaan bahasa dan budaya Jawa. Penggunaannya menggambarkan keluwesan dalam berbahasa, serta menyiratkan nilai-nilai sastra, etika, dan estetika dalam komunikasi.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6