Liputan6.com, Jakarta - Istilah posesif adalah bentuk perasaan mengikat berlebihan. Dalam sebuah hubungan, apa itu posesif adalah rasa cemburu yang kelewat batas. Hal sama ditegaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apa itu posesif adalah sifat merasa menjadi pemilik serta mempunyai sifat cemburu.
Menurut para ilmuwan, posesif adalah awal dari sikap mengontrol, mengatur, atau menguasai orang lain. Kenyataan yang ada, apa itu posesif adalah menggambarkan perasaan cemburu yang disertai dengan bumbu rasa insecure berlebihan. Apa itu posesif juga ditandai dengan kebiasaan controlling behaviour atau perilaku suka mengatur berlebihan.
Advertisement
Banyak pelaku posesif mengaku perilaku tersebut ditujukan sebagai bentuk kasih sayang, apakah benar?
Apa itu posesif memang menggambarkan perilaku tidak sehat dalam sebuah hubungan, karena ada satu pihak yang terlihat begitu dominan. Kenyataannya, perilaku apa itu posesif adalah bukan berakar dari perasaan kasih sayang mendalam tetapi dari rasa takut kehilangan dan tidak percaya diri atau insecure seperti yang disebutkan sebelumnya.
Bagian dari emosi, apa itu posesif dianggap sebagai perilaku yang membahayakan dalam sebuah hubungan. Kembali lagi kepada perilaku mengekang dan menjadi paling dominan, itulah sebab apa itu posesif harus segera dihindari.
Berikut Liputan6.com ulas tentang apa itu posesif lebih dalam, Minggu (8/6/2025).
Ciri-Ciri Perilaku Posesif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3173328/original/082621400_1594179504-10172.jpg)
Possesif seringkali berakar dari rasa takut kehilangan pasangan dan diwarnai oleh kecemasan serta kebutuhan untuk mengontrol. Misalnya, WebMD menjelaskan bahwa “Possessiveness is fundamentally a fear of loss. Possessive people worry that their partners will leave them. This creates feelings of fear, anger, and sadness.”
Disebutkan ciri-ciri umum termasuk kecemburuan, ketergantungan emosional, kebiasaan memantau komunikasi pasangan, dan dorongan untuk membatasi interaksi pasangan dengan orang lain .
Menurut Psychologs.com, orang yang posesif cenderung memiliki insecure dan pengalaman trauma masa lalu, yang menyebabkan mereka berusaha mengontrol pasangan hingga mengisolasi pasangan dari lingkungan sosialnya psychologs.com.
Dengan demikian, tanda-tandanya mencakup keterbatasan kebebasan individu pasangan, intervensi pada aktivitas harian maupun jejaring sosial, serta tuntutan konstan agar pasangan selalu melapor dan mempertanggungjawabkan pergerakan mereka.
Bagaimana ciri-ciri perilaku posesif?
1. Melakukan Pengawasan Sepanjang Waktu
Jika pasangan Anda terus menerus menelepon dan menanyakan di mana dan bersama siapa, mungkin itu salah satu ciri mereka bersikap posesif. Tak hanya menghubungi via telepon, hal ini kerap ditunjukkan dengan mengawasi atau memata-matai melalui semua akun media sosial.
2. Mengatur Sosialiasi dengan Orang Lain
Ciri-ciri orang posesif adalah suka mengontrol juga mulai mengatur dengan siapa saja Anda atau pasangan boleh bergaul. Bukan untuk melindungi, hal ini dilakukan karena bersikap cemburu. Sebagai contoh, pasangan Anda akan melarang Anda untuk bertemu dengan teman-teman karena perhatian Anda menjadi kurang saat berkumpul bersama orang lain.
3. Melakukan Kritik pada Pendapat Pasangan
Bila pasangan terus menerus mengkritik atau menentang pendapat Anda tentang suatu masalah, ini bisa menjadi ciri bahwa ia berusaha mengontrol diri Anda. Apalagi jika ia melakukannya secara sengaja agar Anda terus berada di bawah kontrolnya dan tidak membiarkan Anda melakukan apa yang diinginkan. Ia akan menentang dan mengkritik dari hal yang kecil agar bisa memengaruhi Anda hingga ke hal yang besar.
4. Ahli Membuat Pasangan Merasa Bersalah
Orang yang suka mengontrol mencoba membuat Anda merasa bersalah, atau terus mencari kesalahan bila Anda tidak bersikap sesuai dengan keinginannya. Padahal, apa yang diinginkannya tidak selalu benar. Demikian, Anda akan terus meminta maaf dan ia akan selalu bisa mengendalikan Anda.
5. Emosinya Tidak Stabil
Ciri-ciri orang posesif adalah emosi dan suasana hati yang tidak stabil. Seringkali, orang yang suka mengontrol menjadi mudah marah bila Anda melakukan sesuatu yang tidak sesuai atau yang menurutnya salah. Bahkan terkadang, ancaman, seperti ingin bunuh diri, atau kekerasan fisik mungkin saja dilakukan agar Anda bisa mematuhinya.
Advertisement
Cara Menghadapi Perilaku Posesif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2971501/original/015049000_1574145526-seth-reese-lsUg188m92c-unsplash.jpg)
Rasa ingin memiliki yang terlalu berlebihan atau posesif dalam sebuah hubungan tentu tidak baik. Sikap mendominasi dan mengontrol pasangan dengan dalih sayang dan takut kehilangan tentu akan membuat hubungan Anda berada di jurang perpisahan.
Untuk menghadapi perilaku posesif pada pasangan, langkah pertama adalah mengakui akar emosionalnya dan membuka komunikasi. Psychology Today merekomendasikan agar individu fokus pada hidup sendiri dengan mengejar hobi atau aktivitas yang membuat diri merasa berdaya, lalu berdiskusi secara terbuka tentang insecurities dan kontrol yang muncul, tanpa menyalahkan pasangan.
Marriage.com juga menegaskan bahwa membentuk kebiasaan komunikasi yang sehat—seperti menanyakan perasaan pasangan, menjaga ketenangan saat mendengar kritik, dan menetapkan batasan privasi—merupakan kunci regangan hubungan kembali ke arah yang positif.
Selain itu, pentingnya introspeksi atas akar kecemburuan (mis. trauma sebelumnya) sangat ditekankan sebagai langkah awal untuk menghentikan pola posesif .
Bagaimana cara menghadapi perilaku posesif itu?
1. Jangan Berupaya Merubah Sifat Pasangan
Setiap pasangan tentu memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda. Jadi, coba untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan Anda. Nah, jika ada sifat pasangan yang tidak Anda suka, coba dibicarakan secara baik-baik sehingga tidak timbul perpecahan dan pasangan kalian bisa mengerti dan bagaimana memahaminya.
2. Mencoba Percaya kepada Pasangan
Menjadi pasangan yang posesif tidak terlepas dari kurangnya kepercayaan Anda terhadap pasangan. Padahal, belajar untuk percaya dengan pasanganmu akan memperkuat hubungan dan dapat melihat kedepan masa depan berdua.
Anda harus percaya bahwa ia melakukan hal yang sama, mempertahankan hubungan bersama. Anda juga harus meyakini dan mempercayai dirimu bahwa Anda bisa lepas dari sifat posesif dan percaya kepadanya.
3. Selesaikan dengan Diskusi
Menjalani hubungan tidak bisa lepas dari masalah dan kesalahpahaman. Masalah inilah yang menjadi tolak ukur bagaimana kerja sama kalian berdua mempertahankan hubungan kalian dan berusaha untuk menyelesaikan masalah secara bersama. Janganlah terburu-buru terbakar rasa amarah dan memutuskan sesuatu yang dapat membahayakan hubunganmu.
4. Jangan Menjadi Paranoid
Paranoid atau rasa ketakutan berlebihan ini akan membawa dampak buruk padamu dan juga pasanganmu. Sebaliknya, biarkanlah pasanganmu bebas melakukan aktivitasnya. Cobalah untuk percaya dengan apa yang pasanganmu lakukan. Maka pasanganmu juga akan menghormati dan makin menyayangimu.
5. Hindari Masa Lalu
Mengetahui masa lalu pasangan adalah hal yang wajib dilakukan. Jika Anda terlalu melakukannya secara berlebihan maka hal itu menjadi tidak sehati di dalam hubungan. Fokuslah terhadap masa depanmu dengan pasangan.
Jika pasangan Anda masih berhubungan baik dengan sang mantan, janganlah terburu-buru terbakar api cemburu. Komunikasikanlah hal ini secara terbuka dengan pasanganmu.
Dampak Perilaku Posesif
Perilaku posesif dalam hubungan sering kali memicu pelemahan kepercayaan diri secara bertahap pada pasangan yang dikontrol. Mereka merasa tidak layak, terbiasa meminta izin untuk menjalani kegiatan sehari-hari, dan seolah-olah perlu terus membuktikan cinta demi menjaga hubungan.
Menurut The Journal Experience, posesif dapat menyebabkan “emotional abuse” dan “fear and loss of independence”, di mana korban mengalami kekhawatiran tinggi serta ketergantungan emosional akibat pengawasan konstan dan pembatasan kebebasan. Akibatnya, tertanamnya rasa takut dan ketidakberdayaan yang merusak harga diri serta kemampuan membuat keputusan secara mandiri.
Selain itu, posesif bisa berkembang menjadi lingkaran kekerasan emosional bahkan fisik, jika dibiarkan tanpa intervensi. Penelitian dari Inquiretalk memperingatkan bahwa posesif dapat menimbulkan “emotional distress”, isolasi sosial, dan dalam kasus ekstrem bisa memicu “physical, emotional, or sexual abuse.”
Lebih jauh lagi, Heartful Haven menyebutkan efek beratnya berupa kelelahan emosional, kecemasan kronis, dan keretakan hubungan karena pengawasan dan manipulasi yang terus-menerus heartfulhaven.com. Jika tidak segera ditangani, posesif dapat menimbulkan trauma jangka panjang dan menghancurkan fondasi cinta yang semula sehat.
- Penurunan Kepercayaan Diri – Pasangan yang dikontrol cenderung merasa tidak berdaya dan kehilangan rasa harga diri akibat terus-menerus diawasi dan dikekang .
- Isolasi Sosial – Seseorang posesif bisa membatasi interaksi pasangan dengan teman dan keluarga, menyebabkan pasangan jadi kesepian dan terputus dari dukungan sosial .
- Meningkatkan Kecemasan dan Depresi – Jealousy dan tindakan monitoring menciptakan pola pikir paranoid, memicu kecemasan, stres, bahkan depresi .
- Menghambat Pertumbuhan Individu – Ketergantungan emosional dan pengendalian membatasi eksplorasi diri seperti karier, hobi, dan relasi lain .
- Risiko Kekerasan – Posesif dapat menjadi gerbang kekerasan emosional bahkan fisik. Tindakan seperti memantau, marah jika tidak dihubungi, hingga isolasi adalah bentuk coercive control .
- Konflik Berulang – Ketidakpercayaan yang terus-menerus menimbulkan argumen berkepanjangan dan membuat hubungan goyah .
- Gaslighting dan Manipulasi Emosional – Tindakan seperti menyoboting pesan pasangan dan menuduh tanpa bukti merupakan bentuk gaslighting yang merusak realitas psikologis pasangan .
- Trauma Jangka Panjang – Paparan terhadap posesif kronis bisa meninggalkan luka emosional seperti kepercayaan yang hancur dan ketakutan akan hubungan masa depan .
- Runtuhnya Hubungan – Akhirnya, kontrol yang ekstrem menyebabkan pasangan memilih menjauh demi kesehatan mentalnya .
- Mempengaruhi Lingkar Sosial – Dampak bukan hanya di dalam rumah tangga; lingkungan pertemanan dan keluarga bisa rusak karena konflik dan tekanan terhadap pasangan .
Advertisement
Cara Mencegah Perilaku Posesif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5092585/original/046032800_1736778514-pasangan_posessif.jpg)
Menghindar dari posesif membutuhkan kesadaran diri, pembentukan kebiasaan sehat, dan pengembangan kepercayaan. Strategi yang efektif meliputi:
1. Bangun rasa aman pada diri sendiri
Sesuai MindBodyGreen, akarnya adalah mengatasi “self-abandonment”—mengambil tanggung jawab atas kebahagiaan dan harga diri sendiri, bukan menjadikannya tugas pasangan. Dengan membangun harga diri dan menumbuhkan citra diri positif, kebutuhan untuk mengendalikan pun berkurang secara signifikan.
2. Terapkan komunikasi terbuka dan asertif
Dikutip dari Marriage.com dan Psychology Today, menyuarakan perasaan dengan tenang, menanyakan perasaan pasangan, membuka dialog tanpa menyalahkan, dan membangun kesepakatan tentang batasan adalah fondasi mencegah posesif.
3. Penuhi hari-hari dengan aktivitas mandiri
Memfokuskan energi pada pengembangan diri—hobi, teman, kegiatan profesional—membantu mengurangi perasaan kosong yang sering memicu posesif, dilansir dari janetlansbury.com.
4. Latih teknik pengendalian kecemasan
Psychology Today menyarankan mindfulness dan latihan pernapasan sebagai metode efektif menenangkan pikiran saat rasa takut kehilangan muncul.
5. Cari dukungan profesional jika diperlukan
Bila posesif sudah mengakar dalam pola perilaku, terapis atau konselor dapat membantu mengurai dan mereformasi pola emosional menjadi lebih sehat. Pendekatan ini penting untuk mencegah tindakan ekstrem di masa datang.
Q & A
Apa artinya posesif dalam hubungan?
Posesif adalah perilaku di mana seseorang ingin mengontrol pasangan karena rasa takut kehilangan atau insecure, seperti memantau komunikasi atau membatasi kebebasan.
Apa perbedaan antara posesif dan perhatian?
Perhatian sehat menunjukkan kepedulian tanpa pembatasan, sementara posesif melibatkan kontrol, kecemburuan ekstrem, dan tuntutan terus-menerus.
Mengapa seseorang bisa menjadi posesif?
Umumnya karena insecurity, pengalaman trauma masa lalu, atau attachment style yang cemas menyebabkan dorongan mengendalikan pasangan.
Bagaimana tahu kalau pasangan mulai posesif?
Tanda awal: sering menanyakan keberadaan, membaca pesan pribadi, atau marah jika diminta ruang, serta mengurangi kontak sosial pasangan.
Apakah posesif selalu negatif?
Jika terjadi moderation, posesif bisa dimaknai sebagai rasa memiliki; namun jika berlebihan, berpotensi membahayakan dan menjadi toxic relationship.
Bagaimana cara menghadapi pasangan yang posesif?
Fokus pada k-hidup sendiri, komunikasikan rasa tidak nyaman, tetapkan batasan, dan bila perlu libatkan tenaga profesional.
Bisakah posesif disembuhkan?
Ya, melalui introspeksi, terapi, membangun kepercayaan diri, dan keterbukaan dalam komunikasi, individu bisa mengubah kebiasaan posesif menjadi lebih sehat.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133170/original/047444800_1589943036-woman-in-white-dress-shirt-sitting-beside-woman-in-white-4098219.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260101/original/022902800_1781568480-063_2281783911.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260720/original/014464000_1781645481-HK9wcDqXAAAOMgO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)