Sukses

Contoh Teks Ulasan Produk, Film, dan Buku

Liputan6.com, Jakarta Sebelum membeli produk secara online, pernahkan kamu melihat video review tentang produk tersebut agar lebih yakin untuk membeli produk tersebut? Jika pernah, video tersebut merupakan salah satu contoh dari teks ulasan. Hanya saja itu disampaikan secara lisan oleh host atau orang yang ada dalam video tersebut.

Contoh teks ulasan juga dapat ditemukan di kolom ulasan produk-produk yang dijual di e-commerce. Kolom ulasan tersebut jadi tempat para pembeli untuk membagikan pengalaman berbelanja di suatu toko online.

Setelah barang diterima, pembeli biasanya diminta memberikan ulasan mengenai produk yang mereka beli. Adapun contoh teks ulasan yang dibuat oleh pembeli biasanya membahas mengenai layanan penjual mulai dari kecepatan tanggapan, kecepatan dalam memproses transaksi, serta bagaimana produk dikemas sebelum dikirim.

Dalam contoh teks ulasan di e-commerce, pembeli juga bisa membahas mengenai produk yang telah mereka beli. Mereka bisa membahas mengenai harganya, kualitas produk, dan lain sebagainya.

Tidak hanya hal-hal positif saja yang bisa disampaikan dalam contoh teks ulasan, hal-hal negatif yang menjadi kekurangan produk, baik dalam bentuk barang atau layanan juga bisa dibahas. Yang jelas, dalam contoh teks ulasan akan ditemukan banyak penilaian tentang mutu sesuatu. Tidak hanya terbatas pada produk dan layanan, contoh teks ulasan membahas hal lain, seperti film, buku, musik, dan sebagainya.

Selanjutnya dalam artikel ini akan menunjukkan sejumlah contoh teks ulasan, baik yang mengulas produk dan layanan, film, dan buku. Namun sebelum itu, berikut adalah pengertian, struktur, dan jenis teks ulasan, seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (13/10/2022).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 7 halaman

Pengertian Teks Ulasan

Daripada review, teks ulasan mungkin lebih terdengar asing. Teks ulasan merupakan  suatu teks yang berisi ulasan, penilaian, atau review terhadap suatu karya baik itu buku, drama, musik, film, bahkan produk dan layanan. Teks ulasan buku lebih sering disebut resensi.

Untuk dapat membuat teks ulasan, diperlukan daya kritis. daya kritis ini diperlukan, karena selain untuk menunjukkan kelebihan atau keunggulan dari sesuatu yang diulas, teks ulasan juga harus dapat menunjukkan kekurangannya.

Menurut Gerot & Wignell, pengertian teks ulasan adalah teks yang memiliki fungsi untuk mengukur, menilai dan memikirkan kritik mengenai karya atau kejadian yang diulas tersebut.

Hal ini tidak jauh beda dengan pendapat dari Hyland & Diani, yang mengutarakan jika pengertian teks ulasan adalah teks yang mengupas serta menilai sebuah karya sastra yang sebagian besar menjadi tolak ukur untuk meningkatkan sebuah karya kepada pembaca itu sendiri.

3 dari 7 halaman

Struktur Teks Ulasan

Jika melihat contoh teks ulasan yang dapat ditemukan di kolom-kolom ulasan produk yang dipasarkan di e-commerce, tampak tidak ada struktur yang baku. Hal itu memang tidak masalah, mengingat ulasan produk di e-commerce tidak termasuk tergolong dalam situasi formal.

Namun jika melihat contoh teks ulasan yang dimuat di surat kabar atau situs di internet, teks ulasan biasanya memiliki struktur yang terdiri atas orientasi, tafsiran, evaluasi, dan rangkuman.

Orientasi adalah bagian pertama yang menjelaskan gambaran umum sebuah karya atau produk yang akan diulas. Orientasi memberi penjelasan pada pembaca apa yang akan diulas.

Jika yang diulas adalah buku, maka perlu dijelaskan pula siapa penulisnya, penerbitnya, jenis buku (fiksi atau nonfiksi), jumlah halaman, cetakan keberapa, dan tahun terbit. Jika yang diulas adalah produk seperti ponsel, bisa disebutkan merk ponsel dan serinya, spesifikasi yang meliputi dimensi, processor yang digunakan, ukuran RAM dan ROM, daya baterai, dan sebagainya.

Setelah orientasi ada bagian tafsiran. Tafsiran adalah bagian yang berisi penjelasan detail tentang sebuah karya yang diulas. Biasanya berisi bagian-bagian suatu karya, keunikan, keunggulan, kualitas, dan lain sebagainya.

Dalam contoh teks ulasan, tafsiran juga dapat berupa cerita mengenai pengalaman pengulas ketika menonton film, membaca buku, mendengarkan musik, atau ketika menggunakan produk dalam kurun waktu tertentu.

Selanjutnya ada evaluasi. Evaluasi adalah bagian yang berisi pandangan pengulas tentang hasil karya yang diulas. Di bagian ini pengulas akan menyebutkan bagian-bagian mana saja yang memiliki kelebihan dari karya tersebut. Serta bagian mana saja yang kurang dari karya tersebut.

Yang terakhir adalah rangkuman. Rangkuman adalah bagian berisi kesimpulan dari ulasan yang dibuat terhadap sebuah karya atau produk. Rangkuman memuat komentar penulis yang menyebutkan apakah hasil karya tersebut layak atau tidak untuk dinikmati. Dalam contoh teks ulasan produk, biasanya pengulas juga akan memberikan penilaian apakah produk tersebut layak dibeli atau tidak.

4 dari 7 halaman

Jenis Teks Ulasan

Ada banyak contoh teks ulasan yang bisa kita temukan di internet, baik itu dalam bentuk ulasan produk atau karya. Dari banyaknya contoh teks ulasan, jenis teks yang satu ini masih dapat dibagi lagi menjadi tiga jenis, yakni teks ulasan informatif, teks ulasan deskriptif, dan teks ulasan kritis.

Teks Ulasan Informatif

Teks ulasan ini memiliki gambaran singkat, padat, dan umum sebuah karya. Ulasan jenis ini tidak menyampaikan isi karya secara keseluruhan, melainkan hanya menyampaikan bagian yang penting saja serta lebih menekankan kelebihan atau kekurangan karya tersebut.

Teks Ulasan Deskriptif

Teks ulasan ini berisi gambaran detail tiap bagian karya. Teks ulasan ini sering dilakukan pada karya fiksi untuk mendapat gambaran jelas tentang manfaat, pentingnya informasi, serta kekuatan argumentatif yang dituangkan penulis pada sebuah karya.

Teks Ulasan Kritis

Kemudian jenis teks ulasan ini berisi ulasan suatu karya yang terperinci dan mengacu pada metode atau pendekatan ilmu pengetahuan tertentu. Biasanya teks ulasan ini ditulis secara objektif dan kritis, serta tidak berdasar pandangan subyektif dari penulis ulasan.

Setelah memahami pengertian, struktur, dan jenis-jenis ulasan, berikut adalah sejumlah teks ulasan sebagai tambahan referensi.

5 dari 7 halaman

Contoh Teks Ulasan Buku (Resensi)

Berikut ini adalah contoh teks ulasan buku berjudul "Indonesia Rumah Kita." Contoh resensi ini telah dipublikasikan sebelumnya di Liputan6.com pada 27 Desember 2019.

Resensi Buku Indonesia Rumah Kita: Potret Keberagaman di Rumah Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Pemilu 2019 boleh dibilang peristiwa besar di Republik ini yang memakan anggaran besar sekaligus menjadi momen terberat dalam ujian keberagaman kita. Masa-masa pra dan pascapemilu pertama Pilpres, cukup sering terjadi pertikaian sebab pilihan berbeda yang kemudian merembet ke ragam isu SARA. Hingga sekarang, Republik ini masih diuji dengan isu-isu keberagamaan dan usaha-usaha untuk membuat homogen.

Di tengah itu, muncul beragam respons masyarakat. Mulai dari anak-anak muda yang giat menyuarakan keberagaman dalam berbagai aktivitas, hingga banyak pemikir yang tampil di publik. Dan salah satunya adalah hadirnya buku Indonesia Rumah Kita (Liputan 6, 2019).

Boleh disimpulkan bahwa keberagaman yang dipotret dalam banyak tulisan buku ini adalah keelokan ragam budaya dan anomali gesekan akibat keelokan tersebut.

Fokus yang dibahas Agni Malagina adalah potret keberagaman Indonesia dari sepotong kain batik Tiga Negeri. Batik tiga warna yang memadukan pola batik dari Lasem, Pekalongan, dan Solo. Pun tiga warga: merah, biru, dan cokelat sogan. Perpaduan tiga kawasan ini juga yang dijadikan potret betapa cair budaya Indonesia, khususnya batik. Sepotong wastra tersebut mampu mengadopsi khazanah masing-masing daerah. Lebih dari itu Batik Tiga Negeri juga menjadi cawan peleburan atas budaya Nusantara, Tiongkok, dan Belanda.

Tiga ciri warna dipercaya memiliki arti merah getih pitik (merah darah) cerminan tradisi Tionghoa dari Lasem, biru indigo Belanda Pekalongan, dan cokelat sogan yang sarat makna filosofi Jawa (hlm 20).

Selain wastra, negara kita juga kaya akan bahasa daerah. Ini yang dipotret oleh Joni Endardi. Kepala Bidang Pengembangan Strategi Kebahasaan, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemedikbud ini mengutarakan perihal betapa kayanya bahasa daerah kita.

Sumpah Pemuda memang memproklamirkan bahwa rumpun-rumpun bahasa itu akan menjungjung hormat pada bahasa kesatuan Bahasa Indonesia. Tampak bahwa itu kelak akan menafikan bahasa-bahasa daerah demi unggulnya bahasa persatuan. Namun ternyata, peristiwa paling sastrawi dalam sejarah Indonesia itu--meminjam kalimat Butet Kartarejasa--menyediakan ruang netral untuk saling berinteraksi, tanpa melukai, dan merasa bahasanya lebih tinggi dari bahasa lain.

Endardi membuktikan dengan kosakata malam dan mata saja bisa memunculkan banyak sekali lema dari bahasa daerah. Keberagamaan ini adalah kekayaan linguistik yang bila tidak dirawat dapat musnah dan digerus bahasa-bahasa prokem dan bahasa asing.

Kebudayaan Indonesia beragam bukan hanya dalam perkara wastra dan bahasa. Beberapa esai dalam buku ini memaparkan pundi-pundi kebudayaan yang harus diterima beragam. Mulai dari kesenian daerah, teater, atau ritual-ritual kebudayaan dari penjuru Indonesia. Namun, bila boleh yang sepertinya belum banyak dibahas adalah hal kuliner. Hanya satu esai membahas makna toleransi agama Islam dan Hindu dari semangkuk soto Kudus.

Urusan soto, sambal, satai, misalnya, memiliki ragam dan wujud asimilasi budaya di setiap daerah. Keberagaman racikan tidak kemudian memunculkan pertikaian antarpenggemar masing-masing soto. Pelajaran menghargai perbedaan dari ragam kuliner akan membuat pembicaraan dalam buku semakin komprehensif. Dan ketidakhabisan kekayaan Indonesia untuk dibahas dalam kerangka keberagaman justru menguatkan klausa di awal bahwa Indonesia memang lahir untuk heterogen.

Menarik adalah mencermati dua esai milik Faisal Oddang dan Linda Christanty. Dua esai cukup panjang ini tidak berusaha membeberkan keberagaman lewat data maupun jawaban-jawaban sekadar formalitas dan normatif. Keduanya justru mengambil sisi lain dari indahnya keragaman: bahwa muncul konflik yang entah sengaja atau tidak dibiarkan begitu saja.

Di balik kebudayaan bissu di Toraja, muncul persoalan lain, yaitu musnahnya bissu sebab muncul kecenderungan homogen dalam masyarakat juga soal kepentingan ekonomi. Eksistensi bissu sebagai produk kebudayaan Toraja dewasa mulai terkikis oleh budaya lain yang tampil lebih dominan.

Gesekan-gesekan lain akibat perbedaan juga ditengarai menjadi sebab banyak peristiwa berdarah. Linda Christanty mencoba membalik fakta di balik keragamaan bernama Indonesia ada banyak kasus berdarah yang sengaja disimpan di bawah permadani zamrud khatulistiwa. Perbedaan bila diperlakukan keliru terbukti menjadi bahan bakar konflik horizontal, hingga berdarah.

Topik-topik pembahasan dalam buku sejatinya adalah tamparan halus kepada kelompok-kelompok yang berusaha membuat wajah Indonesia homogen. Fakta-fakta lapangan yang diejawantahkan penulis dalam buku ini bukti telak hal tersebut. Hingga tidak sekadar menjadi bangsa besar yang menghargai sejarah, juga memberikan perbedaan.

Jelas di luar buku ini, masih banyak unsur-unsur di tengah masyarakat yang menyuratkan keragaman Indonesia. Buku ini sekelumit dari lautan perbedaan dalam kehidupan bangsa kita. Mengutip kalimat Gus Dur dalam tulisan Alissa Wahid: yang sama, jangan dibeda-bedakan. Yang beda, jangan disama-samakan. Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa ada perbedaan (hlm. 39).

Namun, menjaga kemajukan bukan sekadar dengan peneriman. Gus Dur mengajukan syarat utama penopang hal tersebut, yakni kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan.

Bangsa kita mau tidak mau harus diakui belum sepenuhnya memenuhi tiga syarat tersebut. Bangsa kita masih terus mengupayakan. Oleh sebab itu, buku ini hadir tatkala bangsa ini diuji kekuatan dalam menjaga kesatuan di tengah perbedaan.

 

Informasi Buku:

Judul: Indonesia Rumah Kita

Penulis: Ahmad Syafi’i Maarif, Mahfud MD, Benny Susetyo, Alissa Wahid, Faisal Oddang, dkk.

Penerbit: Liputan Enam

Edisi: Pertama, 2019

Tebal: 255 halaman

ISBN: 978623918509

6 dari 7 halaman

Contoh Teks Ulasan Film (Resensi)

Berikut ini adalah contoh teks ulasan film yang berjudul "Kalian Pantas Mati." Contoh teks ulasan ini pernah dipublikasikan sebelumnya di Liputan6.com pada 12 Oktober 2022.

Resensi Film Kalian Pantas Mati: Horor Paket Komplet Dengan Unsur Romansa, Komedi dan Tema Bullying

Liputan6.com, Jakarta Kalian Pantas Mati akan meneror bioskop mulai Kamis (13/10/2022). Karya sineas Ginanti Rona ini adaptasi resmi dari film Korea Selatan Sonyeogoedam, yang dirilis dengan judul internasional Mourning Grave.

Film Kalian Pantas Mati menempatkan sejumlah bintang baru di garis depan maupun lini pemeran pendukung. Kesan pertama menyaksikan film rilisan Paragon Pictures ini, segar dan berhasil menjadi paket komplet.

Dibintangi Emir Mahira dan Zee JKT48, sensasi horor yang jadi nyawa film ini terasa hingga menit akhir dipayungi tema besar bullying alias perundungan di lingkungan sekolah. Agar tak monoton, sejumlah nuansa dibangun.

Nuansa yang dimaksud adalah kisah romantis, semburat komedi di beberapa titik, dan tentu saja akar drama. Berikut resensi film atau review film Kalian Pantas Mati. Selamat menyimak dan selamat menonton.

Kalian Pantas Mati dibuka dengan keputusan Rakka (Emir Mahira) untuk pindah sekolah dari Jakarta ke Bogor. Ia tak betah menimba ilmu di Ibu Kota karena merasa tak diterima lingkungan sekitar.

Maklum, Rakka anak indigo. Ia bisa merasakan kehadiran bahkan melihat makhluk tak kasat mata. Dalam perjalanan menuju Bogor, ia melihat Dini (Zee JKT48). Rakka kesengsem dan jatuh hati.

Apes. Hanya ia yang bisa melihat Dini. Dengan kata lain, Dini sebenarnya almarhumah. Di sekolahnya yang baru, Rakka melihat hantu perempuan memakai masker bersimbah darah.

Siang itu, Rakka membuat sketsa sang hantu masker. Sejumlah siswa tak nyaman dengan gambaran Rakka. Sonya (Angel Sianturi) dan Dodit (Andrew Barrett) paling vokal melawan Rakka.

Keadaan makin mengerikan kala satu per satu siswa di sekolah itu menghilang secara misterius. Rakka menceritakan keadaan ini kepada Dini. Di tengah jalan, Emir mendapati fakta mengerikan.

Drama dan horor adalah dua pilar utama yang susah payah dibangun penulis naskah Alim Sudio lalu divisualkan Ginanti Rona. Romantisme mencuat dari interaksi karakter Rakka dan Dini.

Pilar komedi dipercayakan kepada pelawak tunggal Randhika Djamil yang memerankan Ajat. Baru muncul di layar, kita sudah bisa merasakan akan ada jokes segar dalam adegan berikutnya.

Menariknya, interaksi Emir dan Randhika tak bermaksud melucu. Situasi dan aksi reaksilah yang membuat adegan demi adegan terasa renyah tanpa terjebak dalam kemasan fragmen atau sketsa komedi.

Sebagai pemeran utama, Emir punya karisma yang sulit ditepis. Zee JKT48 mampu mengimbangi performa aktor peraih Piala Citra tersebut. Makin ke tengah cerita, pertalian keduanya solid. Walhasil, penonton merasa memiliki kedua tokoh ini.

Yang juga patut diapresiasi, Kalian Pantas Mati bukan sekadar mengumbar kekagetan lewat penampakan atau dentuman musik menggelegar. Ada tema perundungan alias bullying yang disajikan secara tebal.

Ini menjadikan Kalian Pantas Mati sebagai horor yang peka pada dunia remaja. Penuturannya enggak sok rumit, membuatnya jadi paket komplet yang lumayan enak diikuti juga menghibur. Versi Indonesia ini lebih asyik dari aslinya.

Pemain: Emir Mahira, Zee JKT48, Andrew Barrett, Angel Sianturi, Iszur Mochtar, Randhika Djamil

Produser: Robert Ronny

Sutradara: Ginanti Rona

Penulis: Alim Sudio

Produksi: Ideosource Entertainment, Newko Global Entertainment, Paragon Pictures

Durasi: 107 menit

7 dari 7 halaman

Contoh Teks Ulasan Produk Ponsel

Ini adalah salah satu contoh teks ulasan yang mengulas produk ponsel merk Realme C25s. Contoh teks ulasan produk ponsel ini pernah dipublikasikan sebelumnya di Liputan6.com pada 24 Juli 2021.

Review Realme C25s, Smartphone Terjangkau dengan Baterai 6.000mAh Cocok untuk Belajar Online

Liputan6.com, Jakarta - Realme baru saja memperkenalkan smartphone terbarunya untuk pasar Indonesia, yakni Realme C25s. Sesuai namanya, smartphone ini merupakan penerus Realme C25 yang diperkenalkan beberapa bulan lalu.

Hadir sebagai perangkat entry level, Realme membekali smartphone ini dengan chipset MediaTek Helio G85 yang dipadukan RAM 4GB/ROM 128GB. Selain itu, smartphone ini juga didukung baterai berkapasitas 6.000mAh.

Berbekal spesifikasi tersebut, Marketing Director Realme Indonesia, Palson Yi pun mengatakan Realme C25s dapat menjadi support system sekaligus teman bagi siswa memasuki tahun ajaran baru.

Untuk mengetahui klaim tersebut, Tekno Liputan6.com pun berkesempatan menjajal smartphone ini. Nah, seperti apa pengalamannya? Simak ulasan kami berikut ini.

Desain

Secara keseluruhan, desain Realme C25s mirip dengan saudaranya Realme C25. Smartphone ini memiliki bodi belakang bertekstur gelombang dan finishing doff.

Kombinasi keduanya membuat smartphone ini tidak licin dan tak mudah kotor oleh sidik jari saat pemakaian. Lalu, kamera belakangnya disusun mirip dengan mata dadu di sisi kiri atas bodi dan ada logo Realme yang sejajar di bawahnya.

Realme C25s memiliki layar 6,5 inci dengan desain waterdrop notch dan beresolusi HD Plus. Selama pemakaian, kami merasa layar smartphone ini terbilang cukup bagus, baik saat digunakan bermain game, menonton video, termasuk pemakaian di luar ruangan

Smartphone ini memiliki port USB Type-C, speaker, dan headphone jack 3,5mm yang ada di bodi bagian bawah. Sisi kiri bodi diletakkan tombol power dan volume, sedangkan pemindai sidik jari ada di bagian belakang dekat kamera.

Performa

Berbekal chipset MediaTek Helio G85 dengan RAM 4GB, kami merasa performa Realme C25s sebagai sebuah perangkat entry-level terbilang dapat diandalkan. Perpindahan antar aplikasi mampu dilakukan dengan baik dan tidak ada masalah.

Realme C25s menjalankan Realme UI 2.0 berbasis Android 11. Selama pemakaian, kami merasa pengalaman yang ditawarkan tampilan antarmuka ini terbilang mudah dipelajari dan digunakan, terutama mereka yang memang sudah akrab dengan Android.Tombol pemindai sidik jari ada di bagian belakang, dekat dengan kamera. Saat mencobanya, proses pemindaian sidik jari ini terbilang cepat dan cukup akurat.

Meski hanya memiliki satu speaker, keluaran audio Realme C25s terbilang lantang dan jelas. Kami sempat mencobanya untuk menonton film, mendengarkan musik, maupun melakukan panggilan video.

Beralih ke performa gaming, kami sempat mencobanya untuk memainkan PUBG Mobile dengan pengaturan grafis HD. Hasilnya, game tersebut dapat dimainkan dengan lancar dan minim lag.

Realme C25s juga sudah mendapatkan sertifikasi TÜV Rheinland yang membuatnya lebih tangguh dan tahan banting. Selain itu, dengan baterai 6.000mAh, daya tahan smartphone ini harus diakui sangat mumpuni.

Kami mencobanya dalam situasi pemakaian normal, seperti chatting, mendengar lagu, menonton video sesekali, hingga bermain game sekitar kurang dari satu jam, Realme C25s mampu bertahan seharian.

Kemampuan baterai ini ditunjang pula dengan fast charging 18W. Hanya perlu diingat, dengan kapasitas baterai yang jumbo, pengisian daya smartphone ini membutuhkan waktu cukup lama.

Kendati demikian, kami merasa hal tersebut sebenarnya wajar, karena kompensasi yang diberikan Realme C25s adalah daya tahan baterai yang memuaskan.

Kamera

Realme C25s hadir dengan tiga kamera belakang yang memiliki lensa utama 48MP. Selain lensa utama, ada pula lensa makro dan lensa B&W yang sama-sama beresolusi 2MP.

Menurut kami, kemampuan kamera smartphone ini terbilang baik, meskipun tidak istimewa. Tak hanya itu, Realme juga sudah membekalinya dengan kemampuan Night Mode untuk mengambil gambar di malam hari.

Untuk mengetahui seperti apa hasil tangkapan gambar dari Realme C25s, berikut ini adalah beberapa hasilnya.

Kesimpulan

Dengan banderol harga di kisaran Rp 2,3 jutaan, kami merasa Realme C25s mampu memberikan pengalaman apik untuk para penggunanya.

Hal itu tidak lepas dari performa yang ditawarkannya. Mulai dari baterai besar, kemampuan chipset yang bisa diandalkan, termasuk kamera yang terbilang baik.

Oleh sebab itu, smartphone ini bisa menjadi pilihan untuk pelajar yang membutuhkan perangkat belajar online dengan harga ramah di kantong.

Belum lagi smartphone ini sudah dibekali dengan sertifikasi TÜV Rheinland. Dengan sertifikasi itu, Realme pun menjanjikan daya tahan lebih baik di Realme C25s.

Selain bisa menjadi perangkat yang dapat diandalkan untuk kebutuhan belajar online, kami merasa perangkat ini dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mulai beralih ke smartphone Android.

Hanya perlu diketahui, fitur NFC masih absen di smartphone ini. Karenanya, bagi mereka yang mungkin membutuhkan fitur NFC, Realme C25s memang belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun jika fungsi itu dirasa tidak terlalu penting, Realme C25s layak menjadi pertimbangan bagi kamu yang membutuhkan perangkat entry-level dengan kemampuan apik.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS