Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Nonton, Dokter Ungkap Dampaknya bagi Tumbuh Kembang

Dokter anak ingatkan bahaya anak makan sambil nonton. Bisa ganggu tumbuh kembang, interaksi, dan kebiasaan makan sehat sejak dini.

Diterbitkan 30 April 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan anak makan sambil menonton televisi atau gawai masih sering ditemui di banyak keluarga. Padahal, menurut Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Banten, Dewi Kartika Suryani, kebiasaan ini dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, terutama di usia dini.

Dewi menegaskan bahwa pola makan anak sebaiknya dibentuk sejak awal melalui rutinitas yang sehat, salah satunya dengan makan bersama keluarga.

"Saat ini masih banyak orang tua yang membiarkan anak makan sambil menonton. Padahal, pada usia dini anak belum memiliki kebiasaan makan yang baik, kecuali dibentuk melalui rutinitas yang konsisten. Membiasakan anak makan bersama adalah kuncinya," Dewi dikutip Antara pada Kamis, 30 April 2026.

Kenapa anak tidak boleh makan sambil nonton? Makan sambil menonton membuat anak cenderung pasif. Fokus anak terbagi antara makanan dan layar, sehingga proses makan tidak disertai interaksi yang penting untuk perkembangan.

Menurut Dewi, stimulasi menjadi hal krusial, terutama pada dua tahun pertama kehidupan hingga usia lima tahun. Anak membutuhkan interaksi aktif dengan lingkungan sekitar, bukan sekadar hiburan pasif dari layar.

"Jika anak makan sambil menonton, tidak ada interaksi yang terjadi. Padahal, interaksi itu penting untuk melatih respons, komunikasi, dan perkembangan sosial anak," tambahnya.

Sebaliknya, saat makan bersama keluarga, anak dapat belajar dari lingkungan sekitarnya. Mereka cenderung meniru kebiasaan makan orang tua, mencoba makanan baru, hingga menjadi lebih lahap.

 

Bahaya Lain Makan Sambil Nonton

Kebiasaan makan bersama juga berkontribusi pada kualitas asupan nutrisi anak. Anak yang makan tanpa distraksi lebih mampu mengenali rasa lapar dan kenyang, sehingga pola makan menjadi lebih teratur.

Selain itu, anak juga lebih terbuka untuk mencoba variasi makanan baru ketika melihat anggota keluarga lain melakukannya.

Hal ini penting untuk mencegah masalah makan seperti picky eater atau sulit makan yang kerap dikeluhkan orang tua.

Tak hanya soal makan, Dewi juga menyoroti pentingnya kelekatan (attachment) antara anak dan pengasuh. Anak membutuhkan sosok yang konsisten agar merasa aman dan nyaman.

"Pergantian pengasuh yang terlalu sering dapat membuat anak merasa tidak percaya dan sulit bereksplorasi. Rasa aman ini penting untuk perkembangan emosional," ujarnya.

Lingkungan yang mendukung, baik di rumah maupun di luar, juga menjadi faktor penting dalam tumbuh kembang anak.

Selain nutrisi dan stimulasi, faktor kesehatan seperti tidur juga berperan besar. Anak yang memiliki pola tidur cukup cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik.

"Dalam kondisi yang sama, anak dengan pola tidur dan makan yang baik biasanya lebih cepat pulih saat sakit," kata Dewi.

Dia menambahkan bahwa tidur siang, khususnya pada anak di bawah empat tahun, sangat penting untuk membantu proses konsolidasi memori dan perkembangan otak.

Kunci Tumbuh Kembang OptimalPada akhirnya, tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari nutrisi, stimulasi, kelekatan, hingga lingkungan yang aman dan sehat.

"Makan bersama keluarga adalah langkah sederhana, tapi dampaknya besar. Ini bukan hanya soal makan, tapi juga soal membangun kebiasaan dan hubungan yang sehat," pungkasnya.