Kenapa Anak Langsung BAB Setelah Makan? Ternyata Ini yang Terjadi di Tubuhnya

Anak langsung BAB setelah makan bisa normal apabila tanda-tanda yang dialami Si Kecil seperti ini.

Diterbitkan 06 April 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tua merasa khawatir saat melihat anak langsung buang air besar (BAB) setelah makan. Kondisi ini sering dianggap sebagai tanda gangguan pencernaan. Padahal, dalam banyak kasus, hal tersebut masih tergolong normal dan berkaitan dengan mekanisme alami tubuh.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A(K), Subsp. G.H., menjelaskan bahwa fenomena ini dikenal sebagai gastrocolic reflex atau refleks gastrokolik.

"Jadi, tubuh itu menerima makanan yang masuk ke dalam lambung, lalu sistem saraf akan memberi sinyal bahwa ada makanan baru. Akibatnya, usus besar akan terstimulasi untuk mengeluarkan sisa makanan yang lama," kata Frieda dalam diskusi media 'Monitor Kesehatan Pencernaan Anak dengan AI Poop Tracker' belum lama ini.

Refleks ini merupakan respons alami tubuh yang menghubungkan lambung, usus, dan sistem saraf. Saat makanan masuk, sistem pencernaan langsung bekerja, termasuk mendorong isi usus untuk segera dikeluarkan. "Inilah yang membuat anak terlihat langsung BAB setelah makan," tambahnya.

Menurut Frieda, kondisi ini umumnya tidak perlu dikhawatirkan selama anak tetap sehat dan tumbuh dengan baik.

"Selama tumbuh kembang anak bagus, berat badan naik sesuai usianya, dan tidak ada keluhan lain, maka gastrocolic reflex ini masih dianggap normal," ujarnya.

Namun, orang tua tetap perlu waspada jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus dan disertai gejala lain. Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan, seperti:

  • Frekuensi BAB yang terlalu sering
  • Tekstur feses yang cair
  • Berat badan anak yang tidak naik, serta
  • Keluhan sakit perut yang berulang.

"Kalau anak terus-terusan seperti itu, pup-nya cair, berat badan tidak naik, atau sering sakit perut hingga mengganggu kesehariannya, itu perlu diperiksa lebih lanjut,” ujar Frieda.

Dalam kondisi tersebut, dokter biasanya akan mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan lain, seperti malabsorpsi, infeksi saluran cerna, atau alergi makanan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Selain itu, orang tua juga disarankan untuk tidak hanya memperhatikan frekuensi BAB, tapi juga bentuk dan warna feses anak. Hal ini penting sebagai indikator kesehatan saluran cerna.

"Tidak hanya frekuensinya saja yang dilihat, tapi juga bentuk dan warna feses. Itu bisa menjadi petunjuk penting apakah kondisi anak masih normal atau tidak," tambahnya.

Arti Bentuk dan Warna Feses Anak

Bentuk dan warna feses bisa menjadi 'sinyal awal' kondisi kesehatan saluran cerna anak. Mulai dari yang berbentuk seperti sosis hingga menyerupai marshmallow, semuanya punya arti tersendiri.

Oleh sebab itu, Frieda mengingatkan para orang tua untuk lebih peka dalam memerhatiakn feses Si Kecil. "Hal yang harus kita lihat pertama dari bentuk, ukuran, warna, dan frekuensi," kata Frieda.

Pada anak usia di atas satu tahun, bentuk feses umumnya diklasifikasikan menjadi tujuh tipe. Dari sinilah orang tua bisa mengetahui apakah kondisi pencernaan anak normal atau tidak.

Feses tipe 3 dan 4 yang berbentuk seperti sosis, baik dengan retakan maupun permukaan halus, dianggap sebagai bentuk ideal. "Ini menandakan sistem pencernaan anak bekerja dengan baik," kata Frieda.

Sementara itu, feses yang menyerupai marshmallow (tipe 5) tergolong borderline atau batas antara normal dan tidak. Kondisi ini biasanya masih aman, tetapi bisa menjadi tanda anak perlu tambahan asupan serat.

"Marshmallow itu sebenarnya masih di borderline. Kadang normal, kadang tidak, tapi kita boleh memasukkan serat yang lebih mencukupi," kata Frieda.

Di sisi lain, orang tua perlu waspada jika feses anak berbentuk keras seperti kacang atau terpisah-pisah (tipe 1 dan 2). Ini bisa menjadi tanda konstipasi atau sembelit.

Sebaliknya, jika feses anak cenderung lembek hingga cair (tipe 6 dan 7), kondisi ini mengarah pada diare yang perlu segera ditangani.

Selain bentuk, warna feses anak juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Warna kuning atau oranye biasanya normal, terutama pada bayi yang mengonsumsi ASI atau susu formula.

Sementara warna hijau atau cokelat umumnya dipengaruhi oleh makanan pendamping ASI (MPASI) yang dikonsumsi anak.

Namun, ada beberapa warna yang perlu diwaspadai. Feses berwarna pucat bisa menjadi indikasi adanya gangguan pada empedu, seperti penyumbatan.

"Kalau mendapati feses anak berwarna pucat, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter," kata Frieda.

Selain itu, feses berwarna merah atau hitam juga perlu perhatian khusus. Meski bisa disebabkan oleh makanan tertentu, kondisi ini juga dapat menandakan adanya perdarahan di saluran cerna.