Apa Itu Penyakit ALS? Kisah Perjuangan Eric Dane Melawan Penyakit Neurodegeneratif

Apa itu penyakit ALS? Kenali gejala, penyebab, dan kisah perjuangan Eric Dane melawan penyakit saraf progresif mematikan ini.

Diterbitkan 20 Februari 2026, 13:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aktor Eric Dane meninggal dunia pada Kamis, 19 Februari 2026, di usia 53 tahun. Kepergian bintang serial populer Grey's Anatomy dan Euphoria ini disebabkan komplikasi Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), penyakit neurodegeneratif yang telah dia lawan dengan gigih.

Keluarga menyatakan Eric meninggal setelah berjuang dengan berani melawan penyakit tersebut. Pada April 2025, ia mengumumkan kepada publik bahwa dirinya didiagnosis ALS. Sejak saat itu, Eric aktif meningkatkan kesadaran dan mendukung penelitian terkait penyakit yang menyerang saraf otak dan sumsum tulang belakang itu.

"Saya tidak akan pernah melupakan tiga huruf itu," kata Eric kepada Diane Sawyer di acara Good Morning America.

"Saya bangun setiap hari, dan saya langsung teringat bahwa ini sedang terjadi. Ini bukan mimpi," ujarnya, seperti dikutip dari Vogue.

Apa Itu Penyakit ALS?

Apa itu penyakit ALS? ALS atau Amyotrophic Lateral Sclerosis adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang menyerang sel saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig.

Neuron motorik berfungsi mengirimkan sinyal dari otak ke otot untuk menghasilkan gerakan. Ketika sel-sel saraf ini rusak dan mati, sinyal tidak lagi sampai ke otot. Akibatnya, otot melemah, berkedut (fasikulasi), menyusut (atrofi), dan akhirnya lumpuh.

Pada kasus Eric Dane, ALS membuat sisi kanan tubuhnya berhenti berfungsi. Sisi kirinya masih bekerja, namun ia mengaku kesulitan mengendalikan gerakan yang sebelumnya terasa mudah.

"Saya berjuang sekuat tenaga. Ada begitu banyak hal yang di luar kendali saya," katanya.

Bagaimana ALS Menyerang Tubuh?

Seiring waktu, kerusakan neuron motorik membuat penderita secara bertahap kehilangan kemampuan untuk:

  • Berjalan
  • Menggerakkan tangan
  • Berbicara
  • Mengunyah dan menelan
  • Bernapas

ALS bersifat progresif, artinya gejala akan terus memburuk dari waktu ke waktu. Pada tahap lanjut, otot-otot pernapasan ikut melemah sehingga pasien berisiko mengalami gagal napas.

Meski demikian, penyakit ini umumnya tidak memengaruhi fungsi indra seperti penglihatan dan pendengaran. Banyak penderita tetap sadar penuh terhadap kondisi tubuhnya yang semakin melemah, menjadikan ALS sebagai penyakit yang sangat menantang secara fisik dan emosional.

Gejala Awal ALS yang Perlu Diwaspadai

Gejala ALS bisa berbeda pada setiap orang, tergantung saraf mana yang pertama kali terdampak. Namun, tanda-tanda awal yang sering muncul antara lain:

  • Kelemahan otot di lengan atau kaki
  • Sering tersandung atau menjatuhkan benda
  • Kram atau kekakuan otot (spastisitas)
  • Kedutan pada lengan, bahu, atau lidah
  • Bicara cadel atau lambat (disartria)
  • Kesulitan menelan (disfagia)
  • Kelelahan berlebihan

Dalam beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami perubahan emosional yang tidak terkendali, seperti tertawa atau menangis tiba-tiba (pseudobulbar affect), serta perubahan kognitif ringan.

Seiring perkembangan penyakit, kelemahan dan atrofi otot akan menyebar ke bagian tubuh lain hingga memengaruhi kemampuan bernapas.

 

Penyebab dan Faktor Risiko ALS

Hingga kini para peneliti tidak mengetahui penyebab amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Peneliti meyakini bahwa ini merupakan kombinasi dari faktor-faktor berikut:

  • Genetika : Sekitar 70 persen kasus familial dan 5 persen hingga 10 persen kasus sporadis melibatkan perubahan gen.
  • Lingkungan : Paparan racun (seperti timbal atau merkuri), virus, atau trauma juga dapat berperan.

"Yang peneliti ketahui adalah bahwa penyakit ini menyerang neuron motorik. Neuron ini mengatur gerakan seperti berbicara, mengunyah, menggerakkan anggota tubuh, dan bernapas," tulis Cleveland Clinic.

Di sis lain, ada beberapa faktor risiko seseorang mengalami amyotrophic lateral sclerosis (ALS) meliputi:

  1. Usia: Kemungkinan besar akan mengalami gejala antara usia 55 dan 75 tahun.
  2. Ras dan etnis: Orang kulit putih (non-Hispanik) paling mungkin terkena ALS.
  3. Jenis kelamin: Untuk kasus yang terjadi sebelum usia 55 tahun, pria memiliki risiko lebih tinggi.
  4. Pejuang: Veteran militer mungkin memiliki risiko lebih tinggi. Para peneliti menduga hal ini disebabkan oleh paparan lingkungan (seperti toksin atau pestisida) atau trauma fisik.

Proses Diagnosis ALS yang Kompleks

Mendiagnosis ALS bisa menjadi tantangan karena tidak ada satu tes tunggal yang dapat secara definitif mengonfirmasi penyakit ini, dan gejalanya dapat bervariasi antar individu.

Diagnosis ALS melibatkan evaluasi riwayat medis pasien, pemeriksaan fisik, dan serangkaian tes untuk menyingkirkan kondisi lain yang memiliki gejala serupa.

Proses diagnosis dapat meliputi:

1. Riwayat Medis dan Pemeriksaan Fisik

Dokter akan menanyakan tentang gejala, riwayat kesehatan, dan riwayat keluarga, serta melakukan pemeriksaan neurologis untuk menguji refleks, kekuatan otot, dan respons lainnya.

2. Elektromiografi (EMG) 

Tes ini mengukur aktivitas listrik otot dan dapat membantu membedakan antara masalah otot dan gangguan saraf.

3. Studi Konduksi Saraf (NCS)

Mengukur kemampuan saraf untuk mengirim impuls ke otot.

4. Tes Darah dan Urine

Untuk menyingkirkan penyebab lain dari gejala dan mendeteksi kelainan genetik.

5. Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI)

Digunakan untuk menghasilkan gambar detail otak dan sumsum tulang belakang, membantu menyingkirkan kondisi lain seperti tumor atau herniasi diskus.

6. Pungsi Lumbal (Spinal Tap) 

Pengambilan sampel cairan tulang belakang untuk analisis laboratorium, yang dapat membantu menyingkirkan penyebab lain dari gejala.

7. Biopsi Otot atau Saraf

Dilakukan jika dokter mencurigai adanya penyakit otot atau saraf lain.

8. Tes Genetik

Dapat memberikan informasi tentang mengapa ALS berkembang, apakah anggota keluarga berisiko, dan seberapa cepat penyakit dapat berkembang.

Pengobatan dan Manajemen ALS

Saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan ALS atau membalikkan kerusakan neuron motorik. Namun, beberapa pengobatan tersedia untuk memperlambat perkembangan penyakit, mengelola gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan memperpanjang harapan hidup.

Pendekatan pengobatan ALS seringkali melibatkan tim multidisiplin dan dapat mencakup:

  • Obat-obatan:
    • Riluzole (Rilutek, Tiglutik, Exservan): Obat oral yang diyakini mengurangi kerusakan neuron motorik dengan menurunkan kadar glutamat. Dapat memperpanjang kelangsungan hidup beberapa bulan.
    • Edaravone (Radicava): Dapat memperlambat laju penurunan fungsi fisik dan perkembangan ALS dengan mencegah kerusakan saraf.
    • Tofersen (Qalsody): Terapi yang ditargetkan secara genetik yang disetujui untuk ALS yang terkait dengan mutasi gen SOD1, yang mencakup sekitar 2% kasus ALS.
    • Obat lain dapat diresepkan untuk mengelola gejala seperti kram otot, kekakuan, air liur berlebihan, dan perubahan emosional.
  • Terapi dan Rehabilitasi:
    • Terapi Fisik: Membantu menjaga fungsi dan gerakan, mengurangi risiko jatuh, dan memaksimalkan kemandirian.
    • Terapi Okupasi: Membantu menemukan cara untuk tetap mandiri meskipun ada kelemahan tangan dan lengan, serta menggunakan alat bantu.
    • Terapi Wicara: Membantu penderita berbicara lebih keras dan jelas, serta mempertahankan kemampuan berkomunikasi.
  • Dukungan Nutrisi: Penderita ALS mungkin kesulitan mengunyah dan menelan, sehingga dukungan nutrisi penting untuk menjaga berat badan dan asupan gizi yang cukup.
  • Dukungan Pernapasan: Seiring melemahnya otot pernapasan, penderita ALS mungkin memerlukan bantuan pernapasan, seperti ventilasi non-invasif (NIV) atau ventilator mekanis melalui trakeostomi.
  • Dukungan Psikologis dan Sosial: Tim perawatan juga dapat menyediakan dukungan psikologis dan sosial untuk membantu penderita dan keluarga menghadapi tantangan penyakit ini.