Cek Karies hingga Radang Gusi, Periksa Gigi Disarankan Tiap 6 Bulan

Karies atau gigi berlubang bisa tidak sampai parah bila seseorang rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan sekali.

Diterbitkan 20 Februari 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Karies atau gigi berlubang kerap jadi masalah masyarakat Indonesia. Sebenarnya untuk menghindari gangguan kesehatan seputar gigi dan mulut disarankan untuk secara rutin ke dokter gigi seperti disampaikan drg Rosalina Intan Saputri , M.Sc dari Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Maranatha Bandung.

"Sampai saat ini, kontrol kesehatan gigi dianjurkan untuk dilakukan setiap 6 bulan sekali. Tujuan kontrol dokter gigi tiap 6 bulan sekali adalah untuk melakukan evaluasi rutin dari kesehatan oral pasien," terang Rosalina dicuplik dari laman RSGM Maranatha, ditulis Bandung, Jumat (20/2/2026).

Rosalina mengatakan pemeriksaan gigi dan mulut 6 bulan sekali untuk menentukan apakah terdapat penyakit pada gigi dan rongga mulut yang memerlukan perawatan, atau terdapat risiko perkembangan penyakit seperti karies dental, penyakit periodontal, hingga oral cancer.

Evaluasi risiko ini diharapkan dapat mencegah munculnya berbagai penyakit gigi dan rongga mulut tersebut, sehingga insidensi penyakit dapat berkurang dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

"Banyak negara, terutama negara-negara maju, yang menerapkan frekuensi kontrol kesehatan gigi setiap 6 bulan sekali dalam sistem kesehatannya. Contohnya adalah Indonesia sendiri, yang melalui Kementerian Kesehatan memberikan promosi kesehatan untuk melakukan pemeriksaan gigi secara berkala sekurang-kurangnya setiap 6 bulan sekali," kata Rosalina.

 

 

Kontrol Gigi Berapa Bulan Sekali?

Beberapa negara telah menerapkan rekomendasi kontrol kesehatan gigi yang berbeda-beda berdasarkan risiko masing-masing individu atau risk-based.

Rosalina menyebut kunjungan risk-based (risk-based check-ups) adalah kunjungan atau kontrol kesehatan gigi yang waktunya diatur oleh dokter gigi sesuai dengan risiko penyakit gigi dan rongga mulut masing-masing individu.

"Interval kunjungan risk-based ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, berapa jumlah gigi dan permukaan gigi yang mengalami karies, keparahan dari penyakit gingiva (persentase dari bleeding sites dari gingiva), dan quality of life pasien yang dipengaruhi dari kesehatan gigi dan rongga mulut," ungkap Rosalina.

Rosalina menegaskan pemeriksaan kesehatan rongga mulut secara rutin dapat mendeteksi dini munculnya masalah kesehatan gigi dan mulut. Dengan menjalani deteksi dini, ketika masalah kesehatan gigi dan mulut ditemukan, diharapkan kondisinya belum terlalu parah, sehingga penanganannya akan lebih mudah.

"Pemeriksaan dan perawatan kesehatan rongga mulut secara rutin akan mencegah berbagai masalah kesehatan rongga mulut, yang bisa timbul kapan saja, termasuk saat kita sedang menjalankan ibadah puasa," ungkap Rosalina.

Menggosok Gigi 2 Kali Sehari

Rosalina menuturkan menggosok gigi adalah suatu tindakan membersihkan gigi dan rongga mulut dari debris makanan dan plak. Hal ini merupakan salah satu agar terhindar dari gangguan kesehatan gigi dan mulut.

Terdapat berbagai tujuan dari menggosok gigi, mulai dari memberikan rasa segar, menghilangkan bau mulut, mencegah gigi sensitif, hingga menghilangkan stain atau memutihkan gigi.

"Dalam kedokteran gigi, tujuan paling penting dari menggosok gigi adalah pencegahan berbagai penyakit dalam mulut, terutama karies dental dan penyakit periodontal," terang Rosalina.

Tujuan ini didapatkan dari dua mekanisme yang bekerja saat gosok gigi yaitu, pengangkatan plak secara mekanis dan pemberian agen terapi-kimia lewat pasta gigi, terutama fluoride.

Oleh karena itu, efektivitas menggosok gigi bergantung pada frekuensi, durasi, teknik, dan jenis sikat gigi yang digunakan.

"Jika hanya mempertimbangkan mekanisme pembersihan plak gigi secara mekanis, maka semakin sering frekuensi menggosok gigi akan semakin mengurangi akumulasi plak sehingga pencegahan penyakit periodontal dan karies dental lebih baik," jelas Rosalina.

Walaupun hasilnya sangat bergantung pada efektivitas tindakan gosok gigi yang dilakukan dan kerentanan tiap individu terhadap akumulasi plak yang berbeda-beda. Akan tetapi, secara praktis tidaklah tepat untuk menyarankan pasien untuk menggosok gigi sesering mungkin.

Pasalnya kata Rosalina, tindakan gosok gigi yang terlalu agresif dapat menyebabkan resesi gingiva dan abrasi gigi. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan untuk menyikat gigi dua kali sehari yaitu setelah sarapan atau makan pagi dan sebelum tidur.

"Anak-anak yang menggosok gigi dua kali sehari terbukti memiliki 15-20 persen lebih sedikit karies dibandingkan anak-anak yang menggosok gigi hanya satu kali atau kurang dari satu kali," ungkap Rosalina.

Kenapa Mesti Gosok Gigi 2 Kali Sehari?

Menggosok gigi waktu pagi hari setelah makan dan sebelum tidur bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang melekat pada permukaan gigi setelah makan.

Menggosok gigi sebelum tidur menjadi penting karena aktivitas bakteri dalam mulut meningkat dua kali lipat saat tidur di mana mulut tidak melakukan aktivitas sehingga kemampuan saliva yang berfungsi menetralisir bakteri dalam mulut berkurang.

"Ketika menjalankan ibadah puasa, waktu yang tepat untuk menggosok gigi agar tidak mengganggu ibadah puasa adalah pagi setelah makan sahur dan malam sebelum tidur. Dengan demikian tidak ada sisa makanan yang tertinggal di dalam rongga mulut selama berpuasa, artinya kondisi rongga mulut akan tetap bersih," tukas Rosalina.