Liputan6.com, Jakarta - Memasuki tahun 2026, optimisme masyarakat Indonesia terhadap masa depan ekonomi dan kesehatan terus menguat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 4,9 persen s.d 5,3 persen pada 2026 tak hanya menjadi angka di atas kertas, tapi juga tercermin dalam keyakinan individu untuk memperbaiki kualitas hidup secara menyeluruh.
Optimisme tersebut terekam dalam Survei Health and Economic Empowerment Asia Pacific (APAC) 2025 yang dilakukan Herbalife. Hasil survei menunjukkan lebih dari delapan dari sepuluh orang Indonesia atau sekitar 81 persen responden optimistis terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka dalam 12 bulan ke depan.
Untuk mengejar tujuan ekonomi tersebut, masyarakat Indonesia mulai melakukan langkah-langkah konkret. Sebanyak 67 persen responden berencana mengurangi pengeluaran non-esensial, sementara 47 persen menyatakan ingin memulai usaha. Faktor keluarga (76 persen) dan tujuan pribadi (66 persen) menjadi pengaruh utama dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Advertisement
Tak hanya soal finansial, optimisme juga tercermin pada aspek kesehatan dan kesejahteraan. Survei yang sama mencatat 86 persen responden di Indonesia optimistis kondisi kesehatan mereka akan membaik dalam setahun ke depan. Sebanyak 58 persen responden bahkan merasa cukup berdaya untuk mewujudkan gaya hidup yang lebih sehat.
Upaya yang direncanakan pun cukup beragam. Mayoritas responden berniat meluangkan lebih banyak waktu untuk berolahraga (64 persen), menghentikan kebiasaan tidak sehat (61 persen), serta mulai menyiapkan makanan yang lebih sehat (45 persen). Meski demikian, tantangan tetap ada. Kurangnya disiplin (59 persen) dan keterbatasan waktu (41 persen) masih menjadi hambatan utama.
Director & General Manager of Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, menilai temuan ini menunjukkan kesadaran masyarakat Indonesia yang semakin matang dalam memandang hubungan antara kesehatan dan kesejahteraan ekonomi.
"Survei ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat optimisme yang tinggi di kawasan Asia Pasifik. Mayoritas responden merasa pencapaian tujuan kesehatan relatif mudah, dan ini berjalan seiring dengan keyakinan ekonomi yang juga kuat," ujar Oktrianto.
Kelola Kesehatan Lebih Gampang Kalau Ada Uang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4697750/original/023841900_1703490841-20231225-Taman-Margasatwa-Ragunan-Herman-6.jpg)
Dia, menambahkan, di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, semakin banyak individu mencari cara untuk menjaga kesehatan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan.
"Herbalife berkomitmen mendukung komunitas agar tetap sehat dan bugar, sekaligus menyediakan kesempatan membangun usaha independen sebagai Distributor Herbalife," katanya.
Survei APAC 2025 ini dilakukan pada Oktober 2025 dengan melibatkan 8.505 responden di 11 negara, termasuk Indonesia. Menariknya, tingkat optimisme terhadap kesehatan dan ekonomi tercatat lebih tinggi di kalangan pengusaha dibandingkan non-pengusaha.
"Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara pemberdayaan ekonomi dan kesehatan. Ketika seseorang percaya diri dalam mengambil keputusan finansial, biasanya ia juga lebih yakin dalam mengelola kesehatan pribadinya," pungkas Oktrianto.
Advertisement
Cara Bijak Memilih Suplemen di Tengah Tren Label Alami
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5475941/original/080465900_1768701346-vit_c.jpg)
Cara bijak memilih suplemen penting di tengah tren hidup sehat yang terus meningkat. Di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, produk berlabel “alami” makin diminati karena dianggap bebas bahan sintetis dan lebih aman. Namun, anggapan ini bisa menyesatkan jika tidak disertai pemahaman yang tepat.
Director Research Development and Scientific Affairs Asia Pacific di Herbalife, Alex Teo, mengingatkan bahwa konsumen harus cermat. "Label 'alami' tidak selalu berarti aman atau efektif. Baik alami maupun sintetis harus dipilih berdasarkan ilmu, bukan asumsi," ujarnya.
Suplemen alami memang berasal dari tumbuhan atau sumber organik lain. Tapi jika dikonsumsi tanpa dosis yang tepat, bisa menimbulkan risiko.
Contohnya akar licorice yang dikenal dalam pengobatan tradisional. Bila dikonsumsi berlebihan dalam bentuk suplemen, dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan gangguan elektrolit.
"Banyak senyawa alami bisa berbahaya jika tidak digunakan dengan hati-hati," tambah Teo.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4561340/original/050427400_1693711631-20230903-CFD-Herman-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260720/original/014464000_1781645481-HK9wcDqXAAAOMgO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258188/original/054428500_1781325475-AP26164102653511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4891677/original/000043600_1721008752-10_AP24196756280349.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8504143/original/019730100_1782424741-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/934935/original/034536700_1437647124-AP_173328494831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8529068/original/035999300_1782460827-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519469/original/045941300_1782446317-Menhut_Konservasi.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8490227/original/032200000_1782404178-Raja_Juli_Inggris.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8484279/original/013090500_1782396796-mail.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8477151/original/045829100_1782388030-LGE_04__Choi_Minho_bersama_Jaeseung_Kim_dan_Hyoeun_Kim_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8455681/original/009109900_1782353718-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459914/original/018350300_1782359142-BMKG_Gempa_Jepang.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414226/original/064953200_1782298844-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_17.44.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3617284/original/010929700_1635503741-20211029-Neraca-perdagangan-RI-alamai-surplus-ANGGA-1.jpg)