BPOM Masuk Daftar Otoritas Rujukan WHO, Kado Istimewa Usia 25 Tahun

BPOM meraih status WHO Listed Authority di usia 25 tahun, jadi otoritas rujukan global pertama dari negara berkembang. Pengakuan bergengsi dunia.

Diterbitkan 01 Februari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) mencatatkan tonggak sejarah penting di usia peraknya. Tepat pada peringatan 25 tahun pengabdian, BPOM resmi masuk dalam daftar World Health Organization (WHO) Listed Authority (WLA). Capaian ini menjadikan BPOM sebagai national regulatory authority (NRA) negara berkembang pertama yang diakui sebagai otoritas rujukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyebut pengakuan dari WHO ini sebagai hadiah istimewa bagi institusi yang telah melalui perjalanan panjang dalam mengawal keamanan obat dan makanan di Indonesia. Status WLA menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas pengawas dari negara-negara maju di tingkat global.

"Salah satu hadiah terindah pada ulang tahun ke-25 BPOM adalah pencapaian sebagai WHO Listed Authority. BPOM menjadi NRA negara berkembang pertama yang masuk dalam daftar tersebut," ujar Taruna seperti dikutip dari Antara pada Jumat, 30 Januari 2026.

Dia, menegaskan, capaian ini tidak datang secara instan. Pengakuan WHO merupakan hasil evaluasi ketat terhadap sistem regulasi BPOM, mulai dari standar pengawasan, kapasitas kelembagaan, hingga konsistensi dalam melindungi kesehatan publik.

Di sisi lain, meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap keamanan produk juga menjadi tantangan yang terus dihadapi BPOM.

Masuknya BPOM ke dalam daftar otoritas rujukan WHO sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta pengawasan obat dan makanan global.

Status ini membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas, termasuk pengakuan timbal balik dalam registrasi produk dan penguatan sistem kesehatan nasional.

 

BPOM Jalin Sinergi dengan Pendidikan dan Riset

Dalam rangka memperkuat ekosistem tersebut, BPOM juga menjalin sinergi dengan dunia pendidikan dan riset.

Kepala BPOM Taruna Ikrar bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menandatangani nota kesepahaman untuk mendorong kolaborasi pengawasan obat dan makanan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Menteri Brian Yuliarto menekankan besarnya potensi Indonesia dengan lebih dari 4.000 perguruan tinggi, sekitar 300 ribu dosen, dan lebih dari 12 ribu profesor.

Menurutnya, kolaborasi antara BPOM dan institusi pendidikan menjadi kunci memperkuat kemandirian nasional di sektor obat-obatan dan kesehatan.

Sebagai penutup rangkaian peringatan usia 25 tahun, BPOM juga memberikan BPOM Award kepada mitra dari kalangan akademisi, dunia usaha, dan pemerintah.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas sinergi lintas sektor yang selama ini berperan penting dalam menjaga keamanan obat dan makanan bagi masyarakat Indonesia.

Pengakuan WHO ini bukan hanya menjadi pencapaian institusional, tetapi juga penegasan bahwa sistem pengawasan obat dan makanan Indonesia kini semakin dipercaya di mata dunia.