Liputan6.com, Jakarta - Kasus Nipah Virus Outbreak kembali menjadi sorotan setelah India melaporkan sedikitnya lima orang terinfeksi virus Nipah di negara bagian West Bengal. Sekitar 100 orang yang memiliki kontak erat dengan pasien kini menjalani karantina dan pemantauan ketat. Munculnya penularan antar manusia kembali memicu kekhawatiran publik, terutama soal potensi pandemi serta ketersediaan vaksin dan obat.Â
Epidemiolog dan peneliti kesehatan global Dicky Budiman menegaskan bahwa meski virus Nipah tergolong sangat berbahaya, potensi virus ini menjadi pandemi global masih relatif rendah jika dibandingkan dengan penyakit saluran pernapasan seperti COVID-19.
"Secara global, potensi virus Nipah menjadi pandemi itu tetap rendah dibandingkan penyakit saluran pernapasan seperti SARS-CoV-2," kata Dicky dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 27 Januari 2026.
Advertisement
Virus Nipah merupakan penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (fruit bat).Â
Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan yang terkontaminasi urine atau air liur kelelawar, serta kontak erat dengan cairan tubuh pasien.
Penularan Virus Nipah Antar Manusia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4961455/original/076151600_1728224007-fotor-ai-20241006205054.jpg)
Menurut Dicky, penularan virus Nipah antar manusia memang bisa terjadi, tetapi membutuhkan kontak yang sangat dekat.
"Transmisi virus Nipah antar manusia ini masih sangat rendah. Penularan biasanya terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh seperti droplet pernapasan, darah, atau urine, terutama saat perawatan pasien," tambahnya.
Secara epidemiologis, wabah virus Nipah cenderung bersifat klaster lokal. Artinya, penyebaran tidak meluas secara cepat dan masif seperti virus yang menular lewat udara.
"Jadi saya melihat potensi pandeminya rendah sekali," ujar Dicky.
Dari sisi klinis, gejala virus Nipah cukup beragam. Pada fase awal, pasien umumnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gejala mirip flu. Namun pada fase lanjut, kondisi dapat memburuk.
"Pasien bisa mengalami gangguan pernapasan seperti pneumonia hingga gangguan neurologis, termasuk radang otak atau ensefalitis yang dapat menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, bahkan koma," kata Dicky.
Advertisement
Angka Kematian Akibat Virus Nipah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4961440/original/032709700_1728222801-fotor-ai-20241006205048.jpg)
Hal senada juga disampaikan Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, yang menyebut bahwa angka kematian akibat virus Nipah tergolong tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen pada kasus berat.
"Pada ensefalitis, pasien dapat menunjukkan kebingungan, gangguan kesadaran, kejang, hingga koma. Jika sudah berat, angka kematian bisa sangat tinggi," kata Tjandra Yoga kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat.
Lantas, apakah ada vaksin atau obat virus Nipah? Hingga saat ini, jawabannya masih belum. Belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk mencegah atau mengobati infeksi virus Nipah.Â
Penanganan yang dilakukan masih bersifat suportif, dengan fokus pada perawatan intensif dan pencegahan komplikasi.
Indonesia Harus Waspada Virus Nipah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5032120/original/020113400_1733123995-fotor-ai-2024120214155.jpg)
Tjandra Yoga menegaskan bahwa kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, termasuk di Indonesia, mengingat virus Nipah telah masuk dalam WHO R&D Blueprint sebagai penyakit prioritas global.
"Indonesia perlu terus memantau perkembangan kasus, memperkuat deteksi dini, dan meningkatkan koordinasi dengan WHO serta ACPHEED ASEAN," ujarnya.
Meski risiko pandemi dinilai rendah, para ahli sepakat bahwa kewaspadaan, edukasi publik, dan penguatan sistem kesehatan menjadi kunci utama menghadapi ancaman Nipah Virus Outbreak ke depan.Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4967182/original/012810300_1728726814-fotor-ai-20241012164711.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257797/original/022434900_1781257127-South_Africa_s_Themba_Zwane__11__receives_a_red_card.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262509/original/033331100_1781827688-063_2282269735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257126/original/025840700_1781221894-AP26162777114808.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485457/original/070806700_1769507349-bgs_jkn.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8144207/original/009352100_1780996945-55322489703_f4223effd4_c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4301837/original/002335600_1674614987-tomek-baginski-EI3lexoBY60-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411293/original/086765200_1763010317-pregnant-woman-with-baby-shoes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225987/original/098481400_1599023065-Imunisasi-Campak5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5529198/original/048081600_1773311046-vaksin_campak.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5299507/original/054605100_1753842252-c86f471a-703b-49ed-bf9f-ea0e7d99f788.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5421680/original/029124600_1763956067-Vaksinasi_ibu_hamil.jpg)