Indonesia Harus Waspada Virus Nipah, Ini 5 Alasan Menurut Prof Tjandra Yoga

Virus Nipah kembali merebak di India. Prof Tjandra Yoga jelaskan 5 alasan Indonesia perlu waspada, termasuk risiko penularan antar manusia.

Diterbitkan 26 Januari 2026, 16:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus penyakit akibat virus Nipah yang kembali muncul di India menjadi peringatan serius bagi dunia, termasuk Indonesia. Penyakit Zoonotik yang dikenal sangat mematikan ini dilaporkan telah menular antar manusia di negara bagian West Bengal. Kondisi tersebut menegaskan bahwa virus Nipah bukan ancaman biasa dan membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menilai Indonesia perlu bersikap siaga terhadap potensi penyebaran virus Nipah. Setidaknya, ada lima alasan utama yang menjadi dasar kewaspadaan tersebut.

1. Virus Nipah Masuk Prioritas Global WHO

Sejak 2018, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan penyakit akibat virus Nipah ke dalam WHO R&D Blueprint, yakni daftar penyakit prioritas yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat.

"Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini memang menjadi perhatian serius hingga tingkat global," kata Tjandra Yoga dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 26 Januari 2026.

2. Terjadi Penularan Virus Nipah dari Manusia

Kasus di India memperlihatkan bahwa virus Nipah tidak hanya menular dari hewan ke manusia, tapi juga dapat menyebar antarmanusia.

"Sesuatu yang patut menjadi perhatian penting dalam pengendalian penyakit menular dunia," ujar Tjandra.

3. Banyak Negara Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah

Sejumlah negara telah mengambil langkah antisipatif. Thailand, misalnya, melakukan skrining di bandara bagi pendatang dari wilayah terdampak.

Taiwan, pada 16 Januari 2026, memasukkan penyakit akibat virus Nipah ke dalam kategori 5, yaitu penyakit langka yang sedang muncul (emerging), berisiko besar bagi kesehatan masyarakat, dan memerlukan deteksi serta pelaporan segera, disertai penanganan khusus.

Taiwan juga memberlakukan peringatan Level 2 (kuning) bagi warganya yang berencana bepergian ke wilayah Kerala.

4. Mobilitas Warga India ke Indonesia Cukup Tinggi

Tjandra Yoga, mengatakan, cukup banyaknya kunjungan warga India ke Indonesia sehingga diperlukan pengamatan khusus, setidaknya bagi mereka yang datang dari wilayah Kolkata dan West Bengal.

 

5. Indonesia Sebaiknya Terus Waspada

Indonesia sebaiknya terus waspada dan mengikuti secara ketat perkembangan penularan yang terjadi, baik di India maupun di negara-negara tetangga.

Koordinasi dengan WHO Asia Tenggara (SEARO) dan Pasifik Barat (WPRO) perlu ditingkatkan, termasuk pengaktifan kegiatan ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases).

Hal ini penting mengingat Indonesia memegang peran dalam deteksi dan asesmen risiko (Detection and Risk Assessment) di ACPHEED tersebut.

 

Masa Inkubasi Virus Nipah

Virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4 s.d 21 hari dengan gejala awal mirip flu, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot.

Namun, penyakit ini dapat berkembang menjadi gangguan paru berat dan ensefalitis. Pada kasus berat, angka kematian bahkan bisa mencapai 40–75 persen. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk penyakit akibat virus Nipah.

"Karena belum ada vaksin dan pengobatan khusus, maka kewaspadaan, deteksi dini, dan kesiapsiagaan sistem kesehatan menjadi langkah paling penting," pungkasnya.