Soal Virus Nipah, Prof Tjandra Yoga Sebut Vaksin dan Obat Spesifik Masih Belum Tersedia

Virus Nipah kembali mengancam dunia. Prof Tjandra Yoga menyebut vaksin dan obat spesifik belum tersedia hingga saat ini.

Diterbitkan 26 Januari 2026, 15:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus penyakit akibat virus Nipah yang kembali muncul di India menjadi peringatan serius bagi dunia, termasuk Indonesia. Penyakit Zoonotik yang tergolong sangat mematikan ini dilaporkan telah menular antar manusia di negara bagian West Bengal, India. Situasi tersebut menegaskan bahwa virus Nipah bukan sekadar ancaman teoritis, melainkan risiko nyata bagi kesehatan masyarakat global.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama menekankan bahwa hingga saat ini dunia masih menghadapi keterbatasan besar dalam menghadapi virus Nipah.

"Soal virus Nipah, perlu disampaikan bahwa sampai sekarang belum tersedia vaksin untuk pencegahan maupun obat spesifik untuk mengobati penyakit ini," ujar Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 26 Januari 2026.

Virus Nipah merupakan virus RNA dari famili Paramyxoviridae yang bersifat sangat patogenik. Virus ini awalnya menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar, babi, atau makanan yang terkontaminasi. Namun, dalam kondisi tertentu, virus ini juga dapat menular antar manusia, seperti yang kini terjadi di India.

Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4 hingga 21 hari. Gejala awal sering kali menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemah. Namun, kata Tjandra Yoga, penyakit ini dapat berkembang cepat dan menimbulkan dua komplikasi utama, yaitu gangguan paru dan gangguan otak.

Pada paru, pasien dapat mengalami pneumonia berat hingga gagal napas. Sementara pada otak, virus Nipah dapat menyebabkan ensefalitis yang ditandai dengan kebingungan, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma.

"Jika sudah terjadi ensefalitis berat, angka kematian akibat virus Nipah bisa mencapai 40 hingga 75 persen," tambahnya.

 

Skrining Ketat Virus Nipah di Bandara

Tingginya fatalitas inilah yang membuat virus Nipah masuk dalam daftar prioritas penelitian dan pengembangan WHO sejak 2018 melalui WHO R&D Blueprint.

Sejumlah negara telah meningkatkan kewaspadaan. Thailand dan Nepal melakukan skrining ketat di bandara, sementara Taiwan memasukkan virus Nipah sebagai penyakit emerging berisiko tinggi yang memerlukan pelaporan dan penanganan segera.

Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan dunia dalam mencegah penyebaran lebih luas.

Menurut Tjandra Yoga, Indonesia juga perlu bersikap waspada. Selain karena mobilitas internasional yang tinggi, Indonesia memiliki peran strategis dalam deteksi dan asesmen risiko kawasan melalui ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED).

"Koordinasi dengan WHO dan penguatan kewaspadaan nasional sangat penting untuk mendeteksi dini dan mencegah dampak yang lebih besar," ujarnya.

Dengan belum tersedianya vaksin dan obat spesifik, upaya pencegahan, deteksi dini, serta kesiapsiagaan sistem kesehatan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman virus Nipah.

Kesadaran masyarakat dan kerja sama lintas negara pun menjadi faktor penentu untuk mencegah wabah yang lebih luas.