Cat Terkelupas di Rumah Tingkatkan Risiko Timbal Tinggi pada Anak hingga 61 Persen

Cat terkelupas di rumah tingkatkan risiko timbal tinggi pada anak hingga 61 persen, paparan timbal mengancam kesehatan dan tumbuh kembang.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak yang tinggal di rumah dengan cat tembok terkelupas memiliki risiko jauh lebih tinggi terpapar timbal. Data menunjukkan bahwa risiko kadar timbal darah tinggi pada anak meningkat hingga 61 persen dibandingkan anak yang tinggal di rumah dengan kondisi cat yang baik.

Temuan ini terungkap dalam Hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) Tahap Pertama yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Survei tersebut mencatat bahwa sekitar 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal darah di atas 5 mikrogram per desiliter (µg/dL), yakni ambang batas yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai dasar intervensi klinis dan lingkungan.

"Anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas berisiko 61 persen lebih tinggi memiliki kadar timbal darah hingga 25 µg/dL," kata Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, saat diseminasi hasil SKTD di Jakarta pada Rabu, 21 Januari 2026.

Paparan timbal pada anak tidak hanya berasal dari cat tembok rumah. Cat pada mainan anak juga berpotensi meningkatkan kadar timbal darah, terutama karena anak-anak cenderung memasukkan mainan ke dalam mulut. Risiko ini diperparah oleh kondisi biologis anak.

Selain itu, tubuh anak diketahui menyerap timbal empat hingga lima kali lebih banyak dibandingkan orang dewasa, sehingga dampak paparan bisa lebih serius meski jumlahnya relatif kecil.

 

 

Sumber Paparan Timbal Lainnya

 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Yayasan Pure Earth Indonesia, Budi Susilorini, menjelaskan, paparan timbal juga dapat terjadi melalui orang tua. Misalnya, orang tua yang bekerja di lingkungan berisiko seperti bengkel atau tempat pengolahan aki bekas dapat membawa partikel timbal ke rumah.

"Orang tua yang bekerja di bengkel atau berhubungan dengan aki bekas bisa membawa timbal di pakaian atau tubuhnya. Kalau langsung bercengkrama dengan anak tanpa ganti baju atau mandi, paparan bisa terjadi," kata Budi.

Dia juga menyoroti penggunaan alat masak berbahan logam sebagai sumber paparan lain. Beberapa peralatan masak tidak terbuat dari aluminium murni dan dicampur dengan bahan lain seperti besi, yang berpotensi mengandung timbal.

"Alat masak itu ada yang tidak 100 persen dari aluminium, ada yang bahannya dicampur besi," ujar Budi.

Selain itu, kosmetik juga menjadi sumber paparan yang kerap luput dari perhatian. Beberapa produk kosmetik yang digunakan orang tua, atau dimainkan dan dipakai anak, diketahui mengandung timbal.

"Penggunaan bedak atau kosmetik berhubungan dengan kadar timbal darah yang 7 sampai 10 persen lebih tinggi pada anak," tambahnya.

Sebaliknya, hasil SKTD menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih baik cenderung memiliki kadar timbal darah yang lebih rendah.

Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan berbasis keadilan (equity) untuk melindungi seluruh anak Indonesia dari paparan timbal, tanpa terkecuali.

Bahaya Timbal bagi Kesehatan

Paparan timbal tak boleh dianggap sepele, pajanan timbal ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti anemia, gangguan ginjal, hipertensi, dan gangguan imun.

Pajanan timbal juga dapat memicu risiko terkait kehamilan seperti keguguran, prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Diikuti pula dengan risiko gangguan otak dan saraf, menurunkan IQ, hiperaktivitas, agresivitas, kejang, koma (pada kasus yang parah).

Anak juga berisiko mengalami keterlambatan tumbuh kembang, gangguan fisik, gangguan pendengaran dan keterlambatan bicara.

Tips Hindari Paparan Timbal

Guna menghindari paparan timbal, ada beberapa tips yang bisa dilakukan, yakni:

  • Bersihkan rumah dengan kain basah secara rutin
  • Mencuci tangan sebelum makan
  • Ganti pakaian setelah bekerja
  • Buka alas kaki sebelum masuk rumah
  • Konsumsi makanan kaya kalsium, zat besi, vitamin C
  • Gunakan produk dengan standar pemerintah seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Standar Nasional Indonesia (SNI)
  • Periksa anak secara rutin ke posyandu.